Lompat ke Konten Utama

Nabila: Tunanetra 22 Tahun yang Membuktikan Diri Layak Menjadi Staf Ahli Walikota Makassar

Seorang wanita berhijab pink dan headphone sedang berbicara di mikrofon. Di latar belakang terlihat tirai hijau dengan logo Pertuni 'TAT TWAM ASI'.
Seorang wanita berhijab pink dan headphone sedang berbicara di mikrofon. Di latar belakang terlihat tirai hijau dengan logo Pertuni 'TAT TWAM ASI'.
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
4 menit baca
Jumlah pembaca
4 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: Inspirasi

Unduh Artikel PDF

Kartunet - Menjadi staf ahli di sebuah institusi pemerintahan sering kali diidentikkan dengan figur-figur senior, berpengalaman puluhan tahun, atau memiliki gelar akademis setingkat profesor. Namun, stereotipe tersebut berhasil dipatahkan oleh Nabila Mywita (akrab disapa Lala), seorang perempuan tunanetra berusia 22 tahun yang kini menjabat sebagai Staf Ahli Walikota Makassar. Kisahnya adalah bukti nyata bahwa jika diberi kesempatan, penyandang disabilitas mampu berkontribusi di level pembuat kebijakan.

Strategi Kuliah dan Lelucon yang Menjadi Nyata

Perjalanan Lala tidaklah mudah sejak awal. Awalnya, ia tidak diizinkan oleh orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tahu bahwa orang tuanya berlatar belakang politisi, Lala memutar otak dan akhirnya memilih jurusan Ilmu Politik di Universitas Hasanuddin (Unhas) dengan harapan orang tuanya luluh melihat ia mengikuti jejak sang ayah. Berawal dari alasan iseng tersebut, Lala ternyata menemukan kenyamanan dan tekun mendalami bidang politik.

Kariernya sebagai staf ahli juga bermula dari ketidaksengajaan. Saat itu, Lala ikut dalam sebuah audiensi organisasi disabilitas dengan Walikota Makassar. Di mobil, ia iseng mengutarakan niatnya, "Enggak apa-apalah aku ikut, barangkali dapat loker (lowongan kerja)". Tanpa disangka, Walikota Makassar secara khusus meminta kontak Lala melalui asisten pribadinya. Sekitar dua hari setelah Lala menyelesaikan ujian skripsinya, ia dihubungi dan diminta membantu Walikota untuk merealisasikan visi misi "Makassar Kota Inklusi".

Sempat Ingin Mundur di Bulan Pertama

Memasuki dunia kerja di kantor pemerintahan ternyata menjadi beban mental tersendiri. Pada bulan pertama menjabat, Lala sempat merenung dan berniat untuk mengundurkan diri. Ketakutan itu muncul karena ia merasa menjadi staf ahli termuda di antara jajaran pakar lainnya yang sudah memiliki gelar pendidikan tinggi dan jam terbang mumpuni. Belum lagi, ia juga mendengar keraguan dari beberapa teman sesama disabilitas di luar sana yang mempertanyakan mengapa anak yang baru lulus kuliah yang dipilih.

Titik balik Lala terjadi ketika seorang kenalannya memberikan nasihat yang sangat mendalam. Ia diingatkan bahwa tidak ada profesor di manapun yang lebih ahli mengenai disabilitas dibandingkan penyandang disabilitas itu sendiri. Pengalaman hidup dan interaksinya dengan teman-teman disabilitas lain telah menjadikannya seorang "ahli" sejati di bidang tersebut. Nasihat inilah yang menguatkan Lala untuk terus bertahan dan memberikan sumbangsih terbaiknya.

Mematahkan Stigma Biaya Mahal Pekerja Disabilitas

Banyak perusahaan atau instansi enggan merekrut penyandang disabilitas karena menganggap hal tersebut akan memakan biaya (cost) ekstra untuk penyediaan infrastruktur maupun perangkat lunak khusus. Lala mematahkan stigma tersebut. Untuk menunjang pekerjaannya membaca ratusan lembar dokumen dalam semalam, ia murni menggunakan telepon pintar (smartphone) pribadinya yang dilengkapi dengan aplikasi pembaca layar (screen reader).

Ia menyadari keterbatasan fasilitas dari kantor dan memilih berinvestasi pada gawai yang mumpuni untuk memastikan ia bisa bekerja secara mandiri. "Salah kalau berpikir mempekerjakan disabilitas itu menuntut kita mengeluarkan cost yang ekstra. Teman-teman disabilitas itu sangat adaptif, kita bisa menyesuaikan diri dengan keadaan," tutur Lala.

Kerja Nyata Mengawal Hak Disabilitas

Sebagai staf ahli, tugas utama Lala adalah memastikan bahwa perencanaan, penganggaran, hingga tahap evaluasi pemerintah sejalan dengan visi misi inklusi kota Makassar. Ia tidak segan untuk merekomendasikan pembatalan program yang dinilainya tidak relevan bagi disabilitas, atau menolak pemberian dana hibah jika melihat adanya potensi penyelewengan, demi menjaga integritas.

Lala juga mengapresiasi sikap Walikota Makassar yang sangat profesional. Ia tidak pernah diperlakukan sebagai "boneka politik" atau sekadar pajangan untuk dipamerkan bahwa pemerintah kota telah bersikap inklusif karena mempekerjakan tunanetra. Ia benar-benar dinilai dari kapasitas dan hasil kerjanya.

Kesimpulan dan Pesan untuk Dunia Kerja

Kisah Nabila Mywita menunjukkan betapa besarnya potensi penyandang disabilitas ketika mereka diberikan ruang. Di akhir ceritanya, Lala berpesan agar perusahaan maupun instansi pemerintah berhenti berasumsi tentang ketidakmampuan disabilitas. "Kerjakan dulu disabilitasnya, jangan berasumsi dulu. Karena setelah mereka kerja, kita bakalan sadar bahwa ternyata disabilitas bisa berkontribusi dengan sangat baik kalau diberikan kesempatan yang sama," pungkasnya. (DPM)


Referensi:

  • "Sempat Ingin Resign di Bulan Pertama, nabila Buktikan Layak Jadi Staf Ahli Walikota! | Media Pertuni" (YouTube).

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik motivasi, isu perempuan, dan politik.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.