Lompat ke Konten Utama

Kehilangan Penglihatan, bukan Akhir dari Dunia

Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
4 menit baca
Jumlah pembaca
3 kali dibaca
WhatsApp X

Kehilangan penglihatan, terutama jika terjadi secara perlahan atau mendadak pada usia dewasa, bukanlah sekadar perubahan kondisi fisik semata, melainkan sebuah guncangan emosional yang sangat besar. Pada fase-fase awal, individu yang mengalami kebutaan kerap dihadapkan pada perasaan tidak berdaya, cemas akan masa depan, dan penurunan harga diri yang drastis. Di Indonesia, kerentanan yang dialami oleh penyandang disabilitas sering kali merupakan sebuah proses pemerentanan panjang yang terjadi sejak usia kanak-kanak dan berlanjut hingga usia remaja, dewasa, bahkan usia lanjut. Hal ini diperparah apabila lingkungan sosial masih menggunakan cara pandang usang yang mengabaikan atau meminggirkan keberadaan mereka dari ruang publik.

Belajar dari Sistem CVI di Inggris

Dalam mengatasi guncangan psikologis tersebut, kehadiran sistem dukungan yang terstruktur sangatlah vital. Di Inggris, hal ini dijembatani melalui mekanisme Certificate of Visual Impairment (CVI). Sertifikat ini bukan sekadar secarik dokumen medis yang menyatakan tingkat ketajaman penglihatan seseorang, melainkan sebuah akses langsung menuju layanan rehabilitasi sosial. Dukungan praktis yang diberikan pasca-penerbitan CVI terbukti sangat penting dalam membantu memulihkan dan membangun kembali kepercayaan diri pasien saat mereka harus mulai beradaptasi hidup dengan hambatan penglihatan. Dengan adanya rujukan langsung ke pekerja sosial atau tim sensorik daerah, pasien tidak dibiarkan berjuang sendirian melawan kebingungan dan depresi.

Pentingnya Pendekatan Psikologis dan Soft Skills di Indonesia

Di Indonesia, jembatan antara diagnosa medis di rumah sakit dan pemulihan psikologis sering kali masih terputus. Oleh karena itu, inisiatif pemberdayaan yang menggunakan pendekatan psikologis menjadi sangat krusial untuk diterapkan. Salah satu praktik baik yang telah dijalankan di Indonesia adalah penyelenggaraan Pelatihan Soft Skills Pra-Kerja bagi penyandang tunanetra yang diinisiasi oleh lembaga seperti Mitra Netra dan Pertuni, yang dalam pengembangannya turut berkolaborasi dengan pakar dari Fakultas Psikologi. Pelatihan ini pada dasarnya menggunakan pendekatan psikologis terapan untuk membekali generasi muda tunanetra agar siap secara mental menghadapi tantangan sosial dan dunia kerja.

Bagi penyandang tunanetra, menyadari dan membangun kembali identitas diri yang positif adalah fondasi utama. Melalui kurikulum pelatihan tersebut, para tunanetra diajak untuk mendalami materi pengenalan Konsep Diri (Self-Concept), Penentuan Tujuan (Goal Setting), penyusunan Rencana Aksi (Action Plan), hingga Manajemen Waktu (Time Management). Sesi-sesi ini bukan sekadar pelatihan keterampilan biasa, melainkan sebuah bentuk terapi kognitif yang memampukan mereka untuk menetapkan tujuan hidup yang terarah di balik hambatan yang ada.

Kisah Kebangkitan: Menemukan Kembali Potensi Diri

Dampak dari dukungan psikologis dan pelatihan soft skills ini sangatlah nyata dalam membangun kepercayaan diri. Sebagai contoh, seorang peserta pelatihan bernama Juwita menceritakan bagaimana ia mulai bisa melihat sisi positif di dalam dirinya setelah mengikuti sesi-sesi pelatihan tersebut. Melalui tugas-tugas kelompok di kampusnya dan interaksi sosial yang terarah, ia mulai menyadari bahwa teman-temannya memercayainya untuk menyelesaikan tanggung jawab tertentu, yang pada akhirnya menjadi bukti nyata bagi dirinya sendiri bahwa ia mampu dan bisa diandalkan. Pergeseran cara pandang dari merasa "terbatas" menjadi merasa "mampu" inilah yang menjadi esensi sejati dari pemulihan psikologis seorang tunanetra.

Kesimpulan: Integrasi Medis dan Sosial Adalah Kunci

Disabilitas sejatinya adalah hasil interaksi antara kondisi hambatan fisik (impairment) seseorang dengan sikap masyarakat serta kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung. Oleh karena itu, menyelesaikan masalah kehilangan penglihatan tidak bisa hanya berhenti pada tahap diagnosa di meja dokter mata. Indonesia perlu mengadopsi sistem yang terintegrasi seperti CVI, di mana diagnosa medis secara otomatis terhubung dengan dukungan rehabilitasi psikologis dan sosial. Hanya dengan sistem dukungan yang komprehensif, penyandang tunanetra dapat bangkit dari keterpurukan, membangun kembali kepercayaan diri mereka, dan kembali berpartisipasi secara penuh di tengah masyarakat.


Referensi:

  • Kanal YouTube Thomas Pocklington Trust, "Eye Care and You: What is a CVI and how can it support you?"
  • Kementerian PPN/Bappenas & AIPJ2 (2021). Memantau Pemenuhan Hak-Hak Disabilitas.
  • Dewan Pengurus Pusat Persatuan Tunanetra Indonesia / DPP Pertuni. Panduan Perekrutan dan Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Tunanetra.
  • ICEVI & The Nippon Foundation (2022). Transition to Employment: Lessons from the Philippines, Indonesia & Vietnam.

Tentang Penulis

Dimas P. Muharam

Editor-in-chief Kartunet.com. Hobi baca, menulis, dan mendengarkan audiobook.

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.