Lompat ke Konten Utama

Mengapa Perusahaan Anda Wajib Menggelar Disability Sensitizing Session?

Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
3 menit baca
Jumlah pembaca
52 kali dibaca
WhatsApp X
Unduh Artikel PDF

Kartunet - Kewajiban mempekerjakan penyandang disabilitas—dengan kuota 1% untuk perusahaan swasta dan 2% untuk instansi pemerintah atau BUMN/BUMD—telah diamanatkan secara tegas oleh negara. Banyak perusahaan yang kini mulai membuka pintu rekrutmen inklusif. Namun, perjalanan membangun tempat kerja yang ramah disabilitas tidak berhenti pada penandatanganan kontrak kerja saja.

Salah satu tantangan terbesar ketika seorang penyandang disabilitas netra (tunanetra) bergabung di sebuah perusahaan adalah kecanggungan sosial. Sering kali, karyawan yang tidak menyandang tunanetra merasa bingung, ragu, atau terlalu berhati-hati saat berinteraksi dengan rekan kerja baru mereka. Untuk menjembatani hal ini, perusahaan wajib menyelenggarakan sebuah program orientasi khusus yang dikenal dengan istilah Disability Sensitizing Session (Sesi Pengenalan Disabilitas).

Apa Itu Disability Sensitizing Session?

Jika perusahaan Anda baru pertama kali menerima karyawan penyandang tunanetra, Disability Sensitizing Session adalah kegiatan yang sangat krusial untuk diselenggarakan bagi seluruh karyawan umum (yang tidak menyandang disabilitas). Kegiatan ini bukan sekadar seminar teori, melainkan ruang interaksi dan simulasi langsung untuk menumbuhkan pemahaman yang benar mengenai disabilitas.

Sesi ini dirancang untuk menyelaraskan budaya kerja inklusif dengan mencapai beberapa tujuan utama:

  • Memecah Kekakuan (Official Ice Breaking): Sesi ini menjadi jembatan resmi untuk mencairkan suasana canggung antara karyawan umum dan karyawan tunanetra, sehingga mereka bisa berinteraksi secara lebih kasual dan natural di masa depan.
  • Membangun Rasa Empati: Membantu karyawan umum merasakan dan memahami tantangan serta cara kerja tunanetra secara langsung, bukan berdasarkan asumsi atau belas kasihan.
  • Menumbuhkan Semangat Saling Mendukung: Sesi ini menanamkan kesadaran bahwa penyandang tunanetra di tempat kerja tidak hanya hadir untuk dibantu, tetapi mereka juga merupakan talenta profesional yang bisa diandalkan dan mampu membantu rekan kerja lainnya.

Simulasi Praktis: Dari Blindfold hingga Sighted Guide

Agar efektif, Disability Sensitizing Session sangat disarankan untuk diisi dengan kegiatan simulasi interaktif. Beberapa simulasi yang umum dilakukan antara lain:

1. Menjadi Pendamping Awas (Sighted Guide) yang Benar
Banyak orang awas yang salah kaprah saat membantu menuntun tunanetra, misalnya dengan menarik tongkatnya, mendorong bahunya, atau memegang tangannya dengan canggung. Dalam sesi ini, karyawan diajarkan teknik yang benar, yaitu membiarkan tunanetra memegang area di atas siku pendamping, sehingga tunanetra dapat mengikuti gerak tubuh pendampingnya dengan aman.

2. Simulasi Menutup Mata (Blindfold)
Untuk menumbuhkan empati yang nyata, karyawan umum diminta untuk bekerja berpasangan. Satu orang ditutup matanya menggunakan kain (blindfold) untuk berperan sebagai tunanetra, sementara pasangannya menjadi pendamping. Karyawan yang matanya tertutup kemudian diminta melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berjalan menyusuri lorong, menaiki tangga dengan digandeng, hingga simulasi makan dan minum.

3. Demonstrasi Penggunaan Teknologi Komputer
Banyak karyawan awas yang penasaran bagaimana tunanetra bisa menyelesaikan tugas administratif. Sesi ini bisa digunakan untuk mendemonstrasikan bagaimana tunanetra mengoperasikan komputer dengan cepat menggunakan bantuan screen reader (aplikasi pembaca layar). Hal ini sangat ampuh untuk mendobrak keraguan mengenai produktivitas kerja penyandang disabilitas.

Langkah Kecil Berdampak Besar

Menyelenggarakan Disability Sensitizing Session merupakan bukti komitmen nyata dari manajemen dan tim HRD dalam merawat keberagaman di tempat kerja. Apabila perusahaan merasa belum memiliki keahlian untuk memfasilitasi sesi ini, perusahaan dapat bekerja sama dengan lembaga atau organisasi penyandang disabilitas yang berkompeten seperti BEAT Indonesia, untuk merancang dan memandu sesi tersebut.

Kesimpulannya, inklusi di tempat kerja tidak akan terwujud hanya dengan memenuhi angka kuota rekrutmen. Inklusi sejati terjadi ketika seluruh ekosistem di perusahaan memiliki pemahaman yang benar, saling berempati, dan siap berkolaborasi tanpa melihat keterbatasan fisik sebagai penghalang. (DPM)


Referensi:

  • Dewan Pengurus Pusat Persatuan Tunanetra Indonesia (DPP Pertuni). Panduan Perekrutan & Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Tunanetra.

Tentang Penulis

Dimas P. Muharam

Editor-in-chief Kartunet.com. Hobi baca, menulis, dan mendengarkan audiobook.

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Suka artikelnya?

Bantu sebarkan agar makin banyak orang mendapatkan manfaatnya.

WhatsApp X
  • Dari Jalanan ke Sektor Formal: Mengurai Benang Kusut Ketenagakerjaan Tunanetra

    Fenomena musisi jalanan tunanetra yang kerap terjaring razia adalah bukti kegagalan sistem menyerap mereka ke sektor formal. Temukan bagaimana teknologi adaptif, pelatihan *soft skills* pra-kerja, dan penerapan kuota kerja 1%-2% dapat menjadi solusi pemberdayaan yang memanusiakan penyandang disabilitas. **Opsi 2 (Fokus Media Sosial / Pengantar Artikel):** Sering melihat musisi jalanan tunanetra ditertibkan aparat? Turun ke jalan sering kali bukan pilihan, melainkan jalan terakhir akibat tingginya stigma di dunia kerja. Padahal, dengan bantuan teknologi *screen reader* dan pelatihan *soft skills*, tunanetra terbukti mampu bersaing menjadi ASN, *programmer*, hingga pekerja kantoran. Artikel ini mengupas benang kusut ketenagakerjaan tunanetra dan mengapa penerapan kuota kerja inklusif (1%-2%) adalah solusi mutlak untuk mengangkat mereka dari kerasnya jalanan menuju kemandirian ekonomi. Baca selengkapnya!

    Dimas P. Muharam
  • Apa Low Vision juga Tunanetra?

    Menjelaskan apa Low Vision juga Tunanetra. Sebuah kerancuan yang kerap dialami oleh seseorang yang memiliki sisa penglihatan sangat minim tapi tidak merasa bahwa dirinya adalah tunanetra.

    Dimas P. Muharam

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.