Lompat ke Konten Utama

Mengapa Perusahaan Anda Wajib Menggelar Disability Sensitizing Session?

Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
3 menit baca
Jumlah pembaca
15 kali dibaca
WhatsApp X

Kartunet - Kewajiban mempekerjakan penyandang disabilitas—dengan kuota 1% untuk perusahaan swasta dan 2% untuk instansi pemerintah atau BUMN/BUMD—telah diamanatkan secara tegas oleh negara. Banyak perusahaan yang kini mulai membuka pintu rekrutmen inklusif. Namun, perjalanan membangun tempat kerja yang ramah disabilitas tidak berhenti pada penandatanganan kontrak kerja saja.

Salah satu tantangan terbesar ketika seorang penyandang disabilitas netra (tunanetra) bergabung di sebuah perusahaan adalah kecanggungan sosial. Sering kali, karyawan yang tidak menyandang tunanetra merasa bingung, ragu, atau terlalu berhati-hati saat berinteraksi dengan rekan kerja baru mereka. Untuk menjembatani hal ini, perusahaan wajib menyelenggarakan sebuah program orientasi khusus yang dikenal dengan istilah Disability Sensitizing Session (Sesi Pengenalan Disabilitas).

Apa Itu Disability Sensitizing Session?

Jika perusahaan Anda baru pertama kali menerima karyawan penyandang tunanetra, Disability Sensitizing Session adalah kegiatan yang sangat krusial untuk diselenggarakan bagi seluruh karyawan umum (yang tidak menyandang disabilitas). Kegiatan ini bukan sekadar seminar teori, melainkan ruang interaksi dan simulasi langsung untuk menumbuhkan pemahaman yang benar mengenai disabilitas.

Sesi ini dirancang untuk menyelaraskan budaya kerja inklusif dengan mencapai beberapa tujuan utama:

  • Memecah Kekakuan (Official Ice Breaking): Sesi ini menjadi jembatan resmi untuk mencairkan suasana canggung antara karyawan umum dan karyawan tunanetra, sehingga mereka bisa berinteraksi secara lebih kasual dan natural di masa depan.
  • Membangun Rasa Empati: Membantu karyawan umum merasakan dan memahami tantangan serta cara kerja tunanetra secara langsung, bukan berdasarkan asumsi atau belas kasihan.
  • Menumbuhkan Semangat Saling Mendukung: Sesi ini menanamkan kesadaran bahwa penyandang tunanetra di tempat kerja tidak hanya hadir untuk dibantu, tetapi mereka juga merupakan talenta profesional yang bisa diandalkan dan mampu membantu rekan kerja lainnya.

Simulasi Praktis: Dari Blindfold hingga Sighted Guide

Agar efektif, Disability Sensitizing Session sangat disarankan untuk diisi dengan kegiatan simulasi interaktif. Beberapa simulasi yang umum dilakukan antara lain:

1. Menjadi Pendamping Awas (Sighted Guide) yang Benar
Banyak orang awas yang salah kaprah saat membantu menuntun tunanetra, misalnya dengan menarik tongkatnya, mendorong bahunya, atau memegang tangannya dengan canggung. Dalam sesi ini, karyawan diajarkan teknik yang benar, yaitu membiarkan tunanetra memegang area di atas siku pendamping, sehingga tunanetra dapat mengikuti gerak tubuh pendampingnya dengan aman.

2. Simulasi Menutup Mata (Blindfold)
Untuk menumbuhkan empati yang nyata, karyawan umum diminta untuk bekerja berpasangan. Satu orang ditutup matanya menggunakan kain (blindfold) untuk berperan sebagai tunanetra, sementara pasangannya menjadi pendamping. Karyawan yang matanya tertutup kemudian diminta melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berjalan menyusuri lorong, menaiki tangga dengan digandeng, hingga simulasi makan dan minum.

3. Demonstrasi Penggunaan Teknologi Komputer
Banyak karyawan awas yang penasaran bagaimana tunanetra bisa menyelesaikan tugas administratif. Sesi ini bisa digunakan untuk mendemonstrasikan bagaimana tunanetra mengoperasikan komputer dengan cepat menggunakan bantuan screen reader (aplikasi pembaca layar). Hal ini sangat ampuh untuk mendobrak keraguan mengenai produktivitas kerja penyandang disabilitas.

Langkah Kecil Berdampak Besar

Menyelenggarakan Disability Sensitizing Session merupakan bukti komitmen nyata dari manajemen dan tim HRD dalam merawat keberagaman di tempat kerja. Apabila perusahaan merasa belum memiliki keahlian untuk memfasilitasi sesi ini, perusahaan dapat bekerja sama dengan lembaga atau organisasi penyandang disabilitas yang berkompeten untuk merancang dan memandu sesi tersebut.

Kesimpulannya, inklusi di tempat kerja tidak akan terwujud hanya dengan memenuhi angka kuota rekrutmen. Inklusi sejati terjadi ketika seluruh ekosistem di perusahaan memiliki pemahaman yang benar, saling berempati, dan siap berkolaborasi tanpa melihat keterbatasan fisik sebagai penghalang. (DPM)


Referensi:

  • Dewan Pengurus Pusat Persatuan Tunanetra Indonesia (DPP Pertuni). Panduan Perekrutan & Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Tunanetra.

Tentang Penulis

Dimas P. Muharam

Editor-in-chief Kartunet.com. Hobi baca, menulis, dan mendengarkan audiobook.

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.