Mendobrak Mitos: Panduan Praktis HRD Merekrut Karyawan Tunanetra
- Penulis
- Dimas P. Muharam
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 4 menit baca
- Jumlah pembaca
- 1 kali dibaca
Masih banyak perusahaan dan instansi pemerintah yang ragu untuk merekrut penyandang disabilitas netra (tunanetra) sebagai karyawan di sektor formal. Keraguan ini umumnya berakar pada ketidaktahuan mengenai cara tunanetra bekerja dan mitos bahwa penyandang tunanetra hanya mampu menjalani profesi tradisional tertentu. Padahal, seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi, batasan tersebut kini telah runtuh.
Di era digital, penyandang tunanetra—baik yang buta total (totally blind) maupun yang berpenglihatan lemah (low vision)—dapat menggunakan komputer dan telepon pintar layaknya orang tanpa disabilitas. Dengan bantuan aplikasi pembaca layar (screen reader) yang membacakan tampilan teks pada layar menjadi suara, mereka mampu menjalankan berbagai posisi seperti staf administrasi, penulis konten (content writer), analis, hingga staf call center. Pada dasarnya, semua pekerjaan yang tidak mengandalkan fungsi visual secara mutlak dapat dikerjakan oleh penyandang tunanetra.
Jika perusahaan Anda berencana membangun lingkungan kerja yang inklusif dan merekrut karyawan tunanetra, berikut adalah panduan praktis yang bisa diterapkan oleh tim HRD mulai dari tahap pendaftaran hingga penempatan.
1. Modifikasi Tahap Pendaftaran dan Pengumuman
Proses perekrutan yang inklusif harus dimulai dari penyampaian informasi yang aksesibel. Jika tim HRD menggunakan poster elektronik (e-poster) berbasis gambar untuk mempublikasikan lowongan, pastikan untuk selalu menyertakan teks keterangan (caption). Aplikasi pembaca layar tidak dapat membaca tulisan yang ada di dalam format gambar (JPG/PNG), sehingga teks deskripsi sangat krusial agar pelamar tunanetra bisa menangkap informasi tersebut.
Bila menggunakan formulir pendaftaran daring (online), pastikan laman website dirancang dengan prinsip desain universal yang memenuhi standar WCAG. Tim HRD juga disarankan untuk menambahkan kolom isian "Jenis Disabilitas" dan "Alat Bantu yang Digunakan". Informasi ini sangat penting agar panitia rekrutmen dapat menyiapkan penyesuaian atau "akomodasi yang layak" pada tahapan seleksi berikutnya.
2. Akomodasi yang Layak pada Tahap Tes Seleksi
Pelamar tunanetra membaca soal ujian menggunakan bantuan audio dari aplikasi pembaca layar, yang tentu prosesnya tidak bisa secepat membaca dengan mata. Oleh karena itu, HRD dapat memberikan dua alternatif penyesuaian saat tes tertulis atau tes kompetensi:
- Memberikan tambahan waktu: Waktu ekstra yang biasa diberikan adalah 50% dari total waktu pengerjaan normal.
- Mengurangi jumlah soal: HRD dapat mengurangi kuantitas soal tanpa mengurangi bobot kompetensi yang diujikan. Misalnya, dari lima soal sejenis, pelamar tunanetra cukup mengerjakan dua soal saja yang dapat merepresentasikan kemampuan analitisnya.
Selain itu, jika terdapat soal ujian yang berupa gambar, grafik, atau bangun ruang, panitia harus melakukan substitusi. Soal berbasis visual tersebut harus diganti dengan soal lain yang setara, atau diubah menjadi bentuk deskripsi naratif. Jika tes dilakukan secara tatap muka dengan kertas (hard copy), pastikan perusahaan menyediakan staf pendamping yang bertugas membacakan soal dan menuliskan jawaban, atau sediakan soal dalam bentuk fail MS Word (soft copy) agar bisa dikerjakan menggunakan laptop pelamar.
3. Wawancara dan Tes Keterampilan
Proses wawancara dapat dilakukan baik secara daring menggunakan aplikasi panggilan video (seperti Zoom, Google Meet, atau WhatsApp) maupun luring. Apabila dilakukan secara luring di kantor, pastikan pelamar diinformasikan dua hari sebelumnya agar mereka memiliki waktu melakukan orientasi lokasi. Sediakan pula staf untuk memandu pelamar dari lobi menuju ruangan wawancara.
Bagi pewawancara, kunci utamanya adalah bersikap terbuka dan membuang stigma negatif. Jangan ragu untuk melakukan tes keterampilan langsung (praktik). Misalnya, meminta kandidat untuk mendemonstrasikan bagaimana mereka mengoperasikan komputer, memproses dokumen, atau menggunakan aplikasi perkantoran dengan screen reader. Hal ini akan memecah keraguan perusahaan mengenai potensi mereka secara nyata.
4. Penempatan dan Orientasi Kerja (Onboarding)
Setelah pelamar tunanetra dinyatakan lulus dan diterima, dukungan perusahaan tidak berhenti pada tanda tangan kontrak. Pastikan draf kontrak kerja diberikan dalam format MS Word agar dapat mereka baca secara mandiri. Tahap krusial selanjutnya adalah proses orientasi (onboarding).
Berikan waktu khusus bagi karyawan tunanetra untuk melakukan orientasi fisik di lingkungan kantor. Mereka perlu dibantu untuk mengenali rute dari meja kerja ke toilet, lift (ajari cara menggunakan tombol dan kartu akses), mesin absensi, hingga ruang manajer. Selanjutnya, lakukan orientasi proses kerja untuk memastikan aplikasi atau software internal perusahaan dapat diakses oleh aplikasi pembaca layar mereka.
5. Menyelenggarakan Disability Sensitizing Session
Untuk membangun kekompakan tim, sangat disarankan bagi tim HRD untuk menyelenggarakan sesi Disability Sensitizing atau pengenalan disabilitas bagi karyawan lainnya. Dalam sesi ini, staf yang tidak memiliki disabilitas diajarkan bagaimana cara yang benar saat menggandeng, menegur, atau membantu rekan kerja yang tunanetra. Bahkan, sesi ini bisa diisi dengan simulasi menutup mata (blindfold) untuk menumbuhkan rasa empati. Kegiatan semacam ini sangat efektif untuk mencairkan kebekuan komunikasi dan menumbuhkan semangat saling mendukung antar sesama karyawan.
Kesimpulannya, merekrut karyawan tunanetra bukanlah sebuah beban asalkan perusahaan memahami prinsip akomodasi yang layak. Dengan adaptasi sistem perekrutan yang tepat, perusahaan tidak hanya menggugurkan kewajiban kuota pekerja disabilitas yang diamanatkan undang-undang, tetapi juga mendapatkan talenta luar biasa yang memiliki loyalitas dan etos kerja yang tinggi.
Referensi:
- Dewan Pengurus Pusat Persatuan Tunanetra Indonesia (DPP Pertuni). Panduan Perekrutan & Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Tunanetra.
Tentang Penulis
Editor-in-chief Kartunet.com. Hobi baca, menulis, dan mendengarkan audiobook.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.