Etika Komunikasi, Melewati Tangga, dan Kesalahan Fatal Saat Mendampingi Tunanetra
- Penulis
- Dimas P. Muharam
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 4 menit baca
- Jumlah pembaca
- 0 kali dibaca
Kategori: Kamus Disabilitas
Kartunet - Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas dasar-dasar menjadi pendamping awas (sighted guide) bagi penyandang tunanetra, mulai dari cara menggandeng yang tepat, teknik melewati pintu, hingga cara sopan menunjukkan tempat duduk. Namun, interaksi inklusif di ruang publik tidak berhenti pada panduan dasar tersebut.
Sering kali, tantangan terbesar bagi masyarakat awam saat berinteraksi dengan penyandang tunanetra bukanlah cara memandu fisiknya, melainkan kecanggungan dalam berkomunikasi. Selain itu, ada beberapa medan jalan yang membutuhkan teknik khusus, seperti lorong sempit dan anak tangga, di mana kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Mari kita lengkapi pemahaman kita dengan panduan interaksi lanjutan berikut ini.
1. Etika Bertemu, Menyapa, dan Berkomunikasi
Komunikasi adalah kunci dari interaksi yang setara. Sering kali orang merasa serba salah atau terlalu berhati-hati saat berbicara dengan penyandang tunanetra. Padahal, etika dasarnya sangatlah sederhana:
- Sapa dan perkenalkan diri: Saat mendekat, sapalah dengan suara wajar dan sebutkan nama Anda. Jangan bermain tebak-tebakan suara seperti, "Hayo, tebak ini siapa?".
- Bicara langsung kepadanya: Jika penyandang tunanetra sedang bersama pendampingnya, tetaplah berbicara dan menatap wajah sang tunanetra secara langsung, bukan malah berbicara kepada pendampingnya (pihak ketiga) seolah-olah sang tunanetra tidak ada di sana.
- Gunakan kosakata normal: Jangan canggung menggunakan kata-kata visual yang umum seperti "melihat", "menonton", atau "membaca". Tunanetra juga menggunakan kosakata tersebut dalam konteks keseharian mereka.
- Gunakan petunjuk arah yang jelas: Hindari menggunakan kata ganti penunjuk yang ambigu seperti "di sana", "di situ", atau "di sebelah sini". Gunakan arah yang pasti, misalnya "tiga langkah di sebelah kanan Anda" atau "tepat di depan Anda sejauh dua meter".
- Beritahu saat Anda pergi: Jangan pernah meninggalkan penyandang tunanetra pergi secara diam-diam. Selalu pamit atau beri tahu jika Anda harus meninggalkannya, agar ia tidak kebingungan atau berbicara sendiri.
2. Kesalahan Fatal dalam Memandu (Jangan Lakukan Ini!)
Niat baik yang dieksekusi dengan cara yang salah justru bisa membahayakan penyandang tunanetra. Berikut adalah beberapa larangan keras yang pantang dilakukan oleh seorang pendamping:
- Jangan menarik tongkatnya: Tongkat putih adalah "mata" sekaligus perluasan dari indra peraba tunanetra. Menarik atau memegang tongkatnya sama saja dengan merampas alat navigasi utama mereka.
- Jangan mendorong dari belakang: Mendorong punggung atau bahu tunanetra untuk mengarahkannya berjalan sangat berbahaya karena dapat membuat mereka kehilangan keseimbangan.
- Jangan menarik tangan atau bajunya: Menarik tangan, ujung lengan baju, atau pakaian tunanetra secara tiba-tiba adalah tindakan yang tidak sopan dan membuat mereka merasa diseret. Ingat, biarkan tunanetra yang memegang lengan Anda di atas siku, bukan sebaliknya.
3. Teknik Melewati Ruang atau Celah Sempit
Saat Anda sedang mendampingi tunanetra dan harus melewati lorong kecil, jalanan sempit, atau kerumunan orang yang tidak memungkinkan untuk dilalui secara berdampingan, Anda harus mengubah posisi.
Caranya: pindahkan posisi lengan Anda yang sedang dipegang oleh tunanetra ke belakang punggung Anda. Merasakan gerakan lengan Anda yang pindah ke belakang, penyandang tunanetra secara otomatis akan merespons dengan berjalan persis di belakang Anda (berbaris). Setelah celah sempit berhasil dilalui, kembalikan posisi lengan Anda ke sisi tubuh seperti semula agar ia bisa kembali berjalan berdampingan di samping Anda.
4. Panduan Aman Melewati Tangga atau Undakan
Melewati tangga membutuhkan komunikasi yang baik antara pendamping dan penyandang tunanetra. Terapkan langkah-langkah berikut:
- Berhentilah sejenak tepat sebelum anak tangga pertama.
- Informasikan kepadanya apakah tangga tersebut arahnya naik atau menurun.
- Jika tangga tersebut memiliki pegangan (handrail), ubah posisi Anda bila diperlukan agar tunanetra dapat memegang handrail tersebut demi keamanan ekstra.
- Mulailah berjalan hanya ketika ia sudah siap. Anda harus berjalan satu anak tangga lebih dulu di depan penyandang tunanetra.
- Saat anak tangga sudah habis, berhentilah sejenak untuk memberitahu bahwa tangga sudah selesai dan jalan kembali datar.
Kesimpulan
Menjadi masyarakat yang inklusif dimulai dari kemauan untuk belajar dan menghilangkan rasa canggung. Dengan mempraktikkan etika komunikasi yang wajar, menghindari kesalahan saat memandu, serta menguasai teknik melewati berbagai medan jalan, kita telah berkontribusi menciptakan ruang publik yang aman, nyaman, dan ramah bagi penyandang disabilitas.
Referensi:
- Dimas P. Muharam / BEAT Indonesia. Panduan Mendampingi dan Interaksi dengan Tunanetra.
- Dewan Pengurus Pusat Persatuan Tunanetra Indonesia (DPP Pertuni). Panduan Perekrutan & Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Tunanetra.
Tentang Penulis
Editor-in-chief Kartunet.com. Hobi baca, menulis, dan mendengarkan audiobook.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Artikel Terkait
Dari Jalanan ke Sektor Formal: Mengurai Benang Kusut Ketenagakerjaan Tunanetra
Fenomena musisi jalanan tunanetra yang kerap terjaring razia adalah bukti kegagalan sistem menyerap mereka ke sektor formal. Temukan bagaimana teknologi adaptif, pelatihan *soft skills* pra-kerja, dan penerapan kuota kerja 1%-2% dapat menjadi solusi pemberdayaan yang memanusiakan penyandang disabilitas. **Opsi 2 (Fokus Media Sosial / Pengantar Artikel):** Sering melihat musisi jalanan tunanetra ditertibkan aparat? Turun ke jalan sering kali bukan pilihan, melainkan jalan terakhir akibat tingginya stigma di dunia kerja. Padahal, dengan bantuan teknologi *screen reader* dan pelatihan *soft skills*, tunanetra terbukti mampu bersaing menjadi ASN, *programmer*, hingga pekerja kantoran. Artikel ini mengupas benang kusut ketenagakerjaan tunanetra dan mengapa penerapan kuota kerja inklusif (1%-2%) adalah solusi mutlak untuk mengangkat mereka dari kerasnya jalanan menuju kemandirian ekonomi. Baca selengkapnya!
Apa Low Vision juga Tunanetra?
Menjelaskan apa Low Vision juga Tunanetra. Sebuah kerancuan yang kerap dialami oleh seseorang yang memiliki sisa penglihatan sangat minim tapi tidak merasa bahwa dirinya adalah tunanetra.