Etika dan Cara Tepat Mendampingi Tunanetra: Dari Melewati Pintu hingga Menunjukkan Tempat Duduk
- Penulis
- Dimas P. Muharam
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 4 menit baca
- Jumlah pembaca
- 0 kali dibaca
Kategori: Kamus Disabilitas
Kartunet - Penyandang disabilitas netra (tunanetra) berasal dari latar belakang yang sangat beragam. Di era modern ini, ketunanetraan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Banyak dari mereka yang sukses berprofesi sebagai guru, pengacara, operator telepon, pengusaha, penulis, ahli komputer (programmer), hingga pekerja sosial. Dengan bantuan tongkat putih dan teknologi pembaca layar, mereka mampu bermobilitas dan bekerja secara mandiri.
Namun, ada saat-saat di mana mereka berada di lingkungan yang benar-benar baru—seperti saat melakukan orientasi di tempat kerja baru, mengakses fasilitas publik, atau menggunakan sarana transportasi—di mana mereka akan sangat berterima kasih atas bantuan dan pendampingan yang Anda berikan. Sayangnya, masih banyak masyarakat awam maupun staf pelayanan publik yang berniat baik untuk membantu, tetapi justru melakukannya dengan cara yang keliru, canggung, atau bahkan membahayakan.
Menawarkan bantuan kepada penyandang tunanetra bukanlah bentuk belas kasihan (charity), melainkan wujud nyata penyediaan aksesibilitas sosial di masyarakat. Agar niat baik Anda tersampaikan dengan aman dan nyaman, berikut adalah panduan dan etika dasar menjadi pendamping awas (sighted guide) yang tepat.
1. Etika Menawarkan Bantuan dan Cara Menggandeng yang Benar
Langkah pertama sebelum membantu adalah selalu bertanya terlebih dahulu. Jangan pernah langsung menarik tongkatnya, mendorong bahunya dari belakang, atau menarik tangannya secara tiba-tiba. Cukup sapa dengan ramah, sentuh punggung tangannya dengan lembut agar ia tahu Anda sedang berbicara dengannya, lalu tawarkan bantuan, "Bisa saya bantu tunjukkan jalannya?"
Jika ia menerima bantuan Anda, terapkan teknik sighted guide yang benar. Biarkan penyandang tunanetra yang memegang lengan Anda, bukan sebaliknya. Arahkan tangannya untuk memegang lengan Anda persis di atas siku, dengan posisi ibu jarinya di bagian luar dan empat jari lainnya di bagian dalam. Dengan posisi ini, ia akan berjalan setengah langkah di belakang Anda dan dapat dengan mudah merasakan serta mengikuti setiap gerak tubuh Anda—kapan Anda berbelok, berhenti, atau melangkah naik-turun.
2. Langkah-Langkah Melewati Pintu
Melewati pintu bisa menjadi tantangan jika tidak dikomunikasikan dengan baik, terutama jika pintu tersebut menggunakan pegas yang bisa menutup sendiri (door closer). Saat menghampiri pintu, beri tahu penyandang tunanetra apakah pintu tersebut ditarik ke arah Anda atau didorong ke depan.
Jika engsel pintu berada di sisi lengan yang sedang dipegang oleh tunanetra, mintalah ia berpindah ke lengan Anda yang lain. Saat Anda membuka pintu, pandu tangan tunanetra tersebut (tangan yang tidak memegang lengan Anda) untuk menyentuh gagang atau knop pintu. Dengan cara ini, ia dapat menahan pintu agar tidak membentur tubuhnya sekaligus menutup pintu tersebut secara mandiri setelah Anda berdua melewatinya.
3. Cara Tepat Mengarahkan Tempat Duduk
Kesalahan fatal yang paling sering terjadi di fasilitas publik maupun ruang tunggu wawancara kerja adalah memutar tubuh penyandang tunanetra dan menekan bahunya dari belakang untuk memaksanya duduk. Hal ini sangat tidak sopan dan dapat membuatnya kehilangan orientasi keseimbangan.
Cara yang benar sangatlah sederhana. Bimbing penyandang tunanetra mendekati kursi. Lalu, ambil tangannya dan letakkan di sandaran kursi atau di bagian dudukan kursi. Setelah ia menyentuh bagian kursi tersebut, ia akan dapat mengukur sendiri tinggi kursi, memosisikan tubuhnya, dan duduk dengan aman dan anggun tanpa perlu didorong.
Membangun Inklusi Melalui Disability Sensitizing
Bagi perusahaan atau instansi pemerintah yang baru merekrut karyawan tunanetra, pemahaman akan teknik-teknik di atas merupakan aspek krusial dari pemenuhan "akomodasi yang layak". Perusahaan sangat disarankan untuk menyelenggarakan Disability Sensitizing Session (Sesi Pengenalan Disabilitas) bagi karyawan umum.
Dalam sesi ini, karyawan dapat melakukan simulasi menutup mata (blindfold) dan mempraktikkan langsung bagaimana rasanya digandeng serta menggandeng tunanetra menggunakan teknik sighted guide, melewati pintu, dan duduk di kursi. Edukasi semacam ini terbukti efektif mencairkan kekakuan komunikasi, menghilangkan stigma, dan menciptakan lingkungan kerja yang aman serta inklusif.
Kesimpulannya, kemandirian penyandang tunanetra dan bantuan dari masyarakat sekitar adalah dua hal yang saling melengkapi. Dengan memahami etika dan cara pendampingan yang tepat, kita tidak hanya menjaga keselamatan fisik mereka, tetapi juga menghormati martabat dan hak asasi mereka sebagai sesama warga negara di ruang publik. (DPM)
Referensi:
- Dimas P. Muharam / BEAT Indonesia. Panduan Mendampingi dan Interaksi dengan Tunanetra.
- Dewan Pengurus Pusat Persatuan Tunanetra Indonesia (DPP Pertuni). Panduan Perekrutan & Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Tunanetra.
- Kementerian PPN/Bappenas & AIPJ2 (2021). Memantau Pemenuhan Hak-Hak Disabilitas.
Tentang Penulis
Editor-in-chief Kartunet.com. Hobi baca, menulis, dan mendengarkan audiobook.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Artikel Terkait
Apa Low Vision juga Tunanetra?
Menjelaskan apa Low Vision juga Tunanetra. Sebuah kerancuan yang kerap dialami oleh seseorang yang memiliki sisa penglihatan sangat minim tapi tidak merasa bahwa dirinya adalah tunanetra.