Lompat ke Konten Utama

Pentingnya Profesi Pendamping Klinik Mata (ECLO): Menjembatani Pasien Tunanetra dari Rumah Sakit ke Layanan Sosial

Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
4 menit baca
Jumlah pembaca
0 kali dibaca
WhatsApp X

Leeds, Kartunet - Momen ketika seseorang didiagnosa mengalami kehilangan penglihatan permanen adalah salah satu titik paling traumatis dalam hidupnya. Di ruang periksa, dokter spesialis mata telah menjalankan tugas utamanya: menyampaikan kondisi medis, prognosis, dan upaya pengobatan yang bisa dilakukan. Namun, setelah vonis tersebut dijatuhkan, sebuah pertanyaan besar sering kali menggantung di benak pasien: "Lalu, saya harus bagaimana untuk melanjutkan hidup?"

Di Indonesia, banyak pasien yang terpaksa pulang membawa kebingungan ini sendirian. Waktu konsultasi dokter yang terbatas sering kali tidak memungkinkan mereka untuk memberikan pendampingan psikologis yang mendalam atau menjelaskan ke mana pasien harus mencari layanan rehabilitasi. Akibatnya, ada ruang kosong atau "jembatan yang terputus" antara intervensi medis di rumah sakit dengan rehabilitasi sosial di masyarakat.

Belajar dari Sistem CVI di Inggris: Kehadiran ECLO

Kesenjangan ini berhasil diatasi di Inggris melalui sistem Certificate of Visual Impairment (CVI) yang mengintegrasikan sebuah profesi krusial di dalam rumah sakit, yaitu Eye Clinic Liaison Officer (ECLO) atau Petugas Penghubung Klinik Mata.

ECLO bukanlah dokter atau perawat yang menangani aspek klinis mata, melainkan tenaga profesional khusus—sering kali berlatar belakang pekerja sosial medis—yang ditempatkan secara strategis di klinik atau rumah sakit mata. Tugas utama mereka adalah menangkap "jatuhnya" mental pasien setelah menerima diagnosa dari dokter. Mereka menyediakan waktu, ruang yang tenang, dan telinga untuk mendengarkan keluh kesah serta ketakutan pasien beserta keluarganya.

Lebih dari sekadar dukungan emosional, ECLO bertindak sebagai navigator. Mereka menjelaskan apa itu sistem CVI, membantu pasien mengisi formulir sertifikasi, dan yang paling penting, menghubungkan rekam medis pasien dengan layanan sosial di dewan kota (pemerintah daerah) serta lembaga swadaya masyarakat. Dengan adanya ECLO, pasien tahu persis langkah apa yang harus diambil selanjutnya untuk mendapatkan tongkat putih, pelatihan mobilitas, atau modifikasi lingkungan rumah.

Urgensi Posisi Serupa di Fasilitas Kesehatan Indonesia

Mengadopsi profesi setara ECLO di fasilitas kesehatan Indonesia, khususnya di rumah sakit mata dan rumah sakit umum daerah (RSUD), adalah sebuah urgensi. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas secara tegas telah mengamanatkan hak atas kesehatan, serta hak atas habilitasi dan rehabilitasi yang berkesinambungan bagi penyandang disabilitas.

Pemerintah Indonesia sebenarnya memiliki fondasi untuk mewujudkan hal ini. Instrumen pemantauan pemenuhan hak-hak disabilitas menggarisbawahi pentingnya fasilitas kesehatan dasar maupun rujukan (seperti PUSKESMAS dan rumah sakit) untuk memiliki sistem deteksi dini dan mekanisme rujukan layanan yang terintegrasi. Hal ini mencakup proporsi ketersediaan petugas kesehatan yang memiliki keahlian teknis terkait disabilitas dan pemahaman tentang tata cara berinteraksi dengan pasien disabilitas.

Sayangnya, keberadaan pekerja sosial medis di rumah sakit di Indonesia saat ini umumnya masih difokuskan pada urusan administrasi pembiayaan pasien kurang mampu, bukan pada intervensi psikososial dan rujukan rehabilitasi disabilitas. Jika rumah sakit di Indonesia memiliki konselor atau pekerja sosial yang dilatih khusus dengan keterampilan setara ECLO, maka pemenuhan hak atas habilitasi dan rehabilitasi akan berjalan jauh lebih efektif. Pasien tunanetra baru tidak akan lagi dibiarkan tersesat dalam birokrasi, melainkan langsung diarahkan ke panti rehabilitasi sosial, Unit Layanan Disabilitas (ULD), maupun organisasi seperti Pertuni untuk mendapatkan dukungan sebaya (peer support).

Kesimpulan

Menyembuhkan atau mempertahankan sisa penglihatan memang merupakan ranah ilmu kedokteran, namun mengembalikan kualitas hidup seorang pasien tunanetra agar dapat kembali mandiri adalah ranah dukungan sosial. Kehadiran profesi penghubung klinik mata memastikan bahwa saat tugas dokter selesai, negara tetap hadir mendampingi warganya. Sudah saatnya sistem layanan kesehatan di Indonesia tidak hanya berfokus pada organ yang sakit, tetapi juga secara utuh merawat manusia yang menyandangnya.


Referensi:

  • Kanal YouTube Thomas Pocklington Trust, "Eye Care and You: What is a CVI and how can it support you?"
  • Kanal YouTube Macular Society, "What is a Certificate of Visual Impairment and how can it help me?"
  • Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) / Kementerian PPN/Bappenas & AIPJ2 (2021), Memantau Pemenuhan Hak-Hak Disabilitas.

Tentang Penulis

Dimas P. Muharam

Editor-in-chief Kartunet.com. Hobi baca, menulis, dan mendengarkan audiobook.

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

  • Evolusi JAWS, Aplikasi Pembaca Layar yang Mengubah Hidup Tunanetra

    JAWS adalah salah satu aplikasi pembaca layar yang sangat populer dan telah mengubah kehidupan tunanetra di seluruh dunia. Penggunaannya sangat luas dari mulai pendidikan hingga ke pekerjaan. Bagaimana software besutan FreedomScientific ini mengubah hidup tunanetra?

    Dimas P. Muharam

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.