Lompat ke Konten Utama

Menjaga "Tangki Emosi", Panduan Resiliensi Mental bagi Perempuan Disabilitas Menghadapi Diskriminasi Ganda

Ilustrasi artikel: Menjaga "Tangki Emosi", Panduan Resiliensi Mental bagi Perempuan Disabilitas Menghadapi Diskriminasi Ganda tentang Info & Peluang
Ilustrasi artikel: Menjaga "Tangki Emosi", Panduan Resiliensi Mental bagi Perempuan Disabilitas Menghadapi Diskriminasi Ganda tentang Info & Peluang
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
4 menit baca
Jumlah pembaca
5 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: Info & Peluang

Kartunet - Menjadi seorang perempuan sekaligus menyandang disabilitas bukanlah hal yang mudah. Dalam siklus kehidupannya, perempuan penyandang disabilitas terbukti secara sosiologis rentan mengalami diskriminasi berganda dan kerentanan yang berlapis. Negara pun menyadari hal ini, sehingga dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 secara khusus diamanatkan bahwa perempuan penyandang disabilitas berhak mendapatkan pelindungan lebih dari perlakuan diskriminasi berlapis tersebut.

Namun, di luar pelindungan hukum, ada satu benteng pertahanan yang harus dibangun dari dalam diri perempuan itu sendiri, yakni resiliensi atau ketangguhan mental. Ibu Maria Wirastari, M.Psi., Psikolog, yang juga merupakan seorang perempuan dengan disabilitas netra, membagikan panduan berharga mengenai bagaimana perempuan disabilitas dapat mengelola kesehatan mentalnya di tengah gempuran stigma masyarakat.

Menghadapi Komentar Negatif dengan "Rasa Berharga"

Komentar negatif, peremehan, dan keraguan atas kemampuan perempuan disabilitas ibarat "makanan sehari-hari", yang ironisnya terkadang juga datang dari lingkungan keluarga sendiri. Menghadapi hal tersebut, Ibu Maria menekankan bahwa senjata utama yang harus dimiliki adalah ketenangan dan kepercayaan diri.

Kepercayaan diri ini berakar pada konsep "rasa berharga". Jika seorang perempuan disabilitas sendiri merasa dirinya tidak mampu atau negatif, maka akan sangat sulit meyakinkan orang lain bahwa ia bisa berdaya. Oleh karena itu, kita harus terlebih dahulu membangun konsep diri yang positif, mengenali kelebihan yang dimiliki, dan berdamai dengan kondisi disabilitas agar tidak mudah goyah ketika berhadapan dengan komentar yang menjatuhkan. Jika keluarga terbukti memberikan pengaruh yang beracun (toxic) atau negatif, individu yang sudah dewasa berhak mengambil keputusannya sendiri dan menentukan sikap untuk membatasi pengaruh buruk tersebut.

Validasi Emosi: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Berlarut

Banyak perempuan disabilitas, khususnya para ibu, yang memendam rasa bersalah karena keterbatasannya. Memiliki emosi negatif seperti merasa lelah, sedih, kecewa, atau marah adalah hal yang sangat wajar dan manusiawi. Kita diizinkan untuk memvalidasi perasaan tersebut.

Namun, yang tidak sehat adalah membiarkan diri berlarut-larut dalam kesedihan tanpa mencari jalan keluar. Pendekatan psikologis yang sehat adalah menyadari, menerima, dan memahami perasaan kecewa tersebut, lalu segera "move on" untuk mencari solusi dan mengatasi hambatan yang ada di depan mata. Anak-anak dan keluarga tidak membutuhkan ibu yang sempurna secara fisik, melainkan ibu yang bisa hadir secara penuh dan bahagia.

Mengisi Ulang "Tangki Emosi" dan Tidak Sok Kuat

Seorang perempuan sering kali dituntut menjadi pilar emosional keluarga. Jika ibunya bahagia, lingkungan sekitarnya akan ikut hangat; sebaliknya jika ibunya stres, seisi rumah bisa menjadi tidak nyaman. Oleh sebab itu, penting bagi perempuan untuk terus mengisi ulang "tangki emosi"-nya.

Caranya adalah dengan menyisihkan waktu untuk diri sendiri (me time), bergabung dengan komunitas yang suportif untuk saling berbagi, serta tidak memaksakan diri terlihat selalu kuat. Meminta bantuan kepada teman atau profesional bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa kita cerdas mencari strategi untuk menjadi lebih berdaya.

Teknik Grounding Saat Stres Melanda

Ketika stres atau rasa cemas memuncak, Ibu Maria membagikan satu teknik praktis yang sangat mudah dilakukan oleh perempuan disabilitas untuk mengembalikan pikiran menjadi tenang, yaitu teknik kesadaran indra (grounding). Cobalah duduk tenang dan lakukan langkah berikut:

  • Fokuskan pendengaran untuk mengenali tiga suara di sekitar Anda.
  • Fokuskan penciuman untuk mengenali dua aroma yang bisa tercium.
  • Gunakan perabaan untuk merasakan tekstur di sekitar, misalnya tekstur pakaian atau kursi yang diduduki.
  • Gunakan pengecapan untuk merasakan apa yang ada di dalam mulut.

Teknik ini akan membantu membawa pikiran yang sedang kalut atau melayang-layang kembali membumi (fokus pada masa kini), sehingga stres dapat lebih terkendali.

Kesimpulan

Menjadi perempuan disabilitas berarti bersiap menghadapi berbagai lapisan tantangan ganda. Namun, kerentanan itu bisa ditaklukkan dengan membangun resiliensi mental yang kuat. Dengan merasa diri berharga, mengelola emosi secara sehat, dan tidak ragu mencari bantuan, perempuan penyandang disabilitas dapat terus berkarya dan membangun kehidupan yang bahagia dan bermakna.


Referensi:

  • Bappenas, KSP, AIPJ2, & JPODI (2021). Buku Memantau Pemenuhan Hak-Hak Disabilitas.
  • Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
  • "Webinar Spesial Hari Ibu 2025 (DPP Pertuni)" (YouTube).

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik gender, psikologi, kesehatan mental, pengembangan diri, anti-diskriminasi, disabilitas ganda, dan isu perempuan.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika