Anak Berbakat dan Kebermanfaatan Sosial
- Penulis
- dwityasobat
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 2 menit baca
- Jumlah pembaca
- 8 kali dibaca
Kategori: Opini
Hakikatnya anak berbakat merupakan anak yang dapat membuktikan kemampuan berprestasi tinggi dalam berbagai bidang tertentu seperti intelektual, maupun akademik spesifik. Anak berbakat memiliki beberapa karakteristik potensi yang apabila dikembangkan optimal akan memberikan kebermanfaatan bagi diri sendiri dan orang lain. Ironisnya, kemampuan luar biasa yang dimiliki belum tentu disertai perkembangan emosi yang tinggi. Anak berbakat seringkali menunjukkan harapan yang tinggi terhadap dirinya maupun orang lain dan tidak disertai dengan kesadaran diri. Maka tidak jarang membawa dirinya menjadi frustrasi apabila mengalami kegagalan. Apabila hal tersebut tidak diakomodasi, maka perilaku bermasalah akan muncul.
Kemampuan kognitif yang tinggi dan persepsi masyarakat yang menganggap anak berbakat sebagai anak unggulan kadang menyebabkan ia cenderung perfeksionis. Hal ini menyebabkan munculnya karakteristik yang tampak dalam segi sosialnya, seperti sensitif, kemampuan sosial yang kurang, cepat tersinggung, merasa dikucilkan teman-temannya, dan kurang dapat bergaul dengan teman sebaya. Apalagi dengan bermunculan RSBI/SBI yang dirasa kurang cocok dengan sistem kultur indonesia, anak berbakat akan semakin terisolasi dari lingkungan sosial.
Padahal, kemampuan sosial merupakan hal yang sangat penting. Manusia pasti akan membutuhkan orang lain, baik untuk pekerjaan, bertahan hidup, dan untuk dirinya sendiri. Di dalam beberapa pekerjaanpun manusia dituntut untuk mampu bekerja dalam tim dan tidak bekerja secara individual. Untuk itu seorang anak berbakat harus dibekali kemampuan bekerjasama yang memadai.
Penerapan pendidikan bagi anak berbakat seharusnya dapat memfasilitasi mereka akan kebutuhan untuk mengembangkan kemampuan sosial sehingga diharapkan dapat berinteraksi dengan individu lain dan bermanfaat bagi lingkungan. Pendidikan yang seringkali terlalu eksklusif dan mengakibatkan mereka tidak mampu mengimplementasikan sepenuhnya pengetahuan yang didapat di sekolah harus diminimalisasi. Merujuk pada realitas di atas, maka pendidikan bagi anak berbakat seharusnya dapat berperan aktif dalam mengembangkan aspek sosialnya sehingga potensi yang ada dapat digunakan bagi kemaslahatan masyarakat.
Tentang Penulis
Bio penulis belum tersedia.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Artikel Terkait
Belajar dari Certificate of Visual Impairment untuk Tata Kelola Layanan Disabilitas di Inggris
Birokrasi layanan disabilitas di Indonesia masih rumit dan sering kali salah sasaran. Pelajari bagaimana sistem Certificate of Visual Impairment (CVI) di Inggris mengintegrasikan data rumah sakit langsung ke layanan sosial, dan mengapa sistem ini penting diadopsi untuk memperbaiki pendataan disabilitas (DTKS) di Indonesia.
Pentingnya Profesi Pendamping Klinik Mata (ECLO): Menjembatani Pasien Tunanetra dari Rumah Sakit ke Layanan Sosial
Setelah didiagnosa kehilangan penglihatan, pasien kerap bingung mencari rehabilitasi. Kenali profesi Eye Clinic Liaison Officer (ECLO) dari sistem CVI Inggris yang bertugas menjembatani medis dan layanan sosial, serta pentingnya adaptasi peran ini di rumah sakit Indonesia.