Lompat ke Konten Utama

Filosofi F.A.T (Flexible, Adaptable, Teachable) sebagai Kunci Resiliensi Perempuan Disabilitas

Ilustrasi artikel: Filosofi F.A.T (Flexible, Adaptable, Teachable) sebagai Kunci Resiliensi Perempuan Disabilitas tentang Inspirasi
Ilustrasi artikel: Filosofi F.A.T (Flexible, Adaptable, Teachable) sebagai Kunci Resiliensi Perempuan Disabilitas tentang Inspirasi
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
3 menit baca
Jumlah pembaca
5 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: Inspirasi

Kartunet - Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas memandatkan pentingnya upaya pemberdayaan dari negara dan masyarakat. Dalam regulasi tersebut, pemberdayaan didefinisikan secara tegas sebagai upaya penumbuhan iklim dan pengembangan potensi agar penyandang disabilitas mampu tumbuh menjadi individu yang tangguh dan mandiri. Ketangguhan atau resiliensi mental ini menjadi fondasi utama, terutama bagi mereka yang harus berhadapan dengan perubahan hidup yang drastis akibat kondisi disabilitas di usia dewasa.

Sebuah kerangka resiliensi mental yang sangat kuat dan relevan dibagikan oleh Dr. Sri Melati, seorang dokter umum yang menamatkan pendidikannya di Universitas Sumatera Utara, namun kehilangan penglihatannya secara mendadak pada tahun 2011 akibat komplikasi Meningitis Tuberkulosis. Mengadaptasi konsep dari pakar kepemimpinan John C. Maxwell serta meneladani semangat juang R.A. Kartini, ia merumuskan prinsip ketangguhan mental bagi penyandang disabilitas yang disingkat menjadi F.A.T (Flexible, Adaptable, Teachable).

1. Flexible (Fleksibel Terhadap Keadaan)

Menjadi fleksibel berarti memiliki kelenturan hati dan pikiran ketika realitas kehidupan tidak berjalan sesuai dengan rencana semula. Ketika dihadapkan pada keterbatasan ruang gerak akibat kondisi disabilitas, individu yang fleksibel tidak akan mudah patah.

Alih-alih meratapi hilangnya karier medis yang telah dibangunnya bertahun-tahun, Dr. Sri Melati memilih untuk melenturkan egonya. Ia tidak membiarkan kondisi ketunanetraannnya menghentikan langkahnya untuk berkarya, melainkan mencari celah dan jalan yang baru untuk tetap bisa memberikan dampak dan manfaat positif bagi masyarakat.

2. Adaptable (Mampu Beradaptasi)

Setelah bersikap fleksibel untuk menerima kenyataan hidup, langkah krusial selanjutnya adalah beradaptasi. Adaptasi menuntut kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan identitas barunya serta tantangan lingkungan yang ada.

Dr. Melati membuktikan kemampuan adaptasinya yang luar biasa dengan beralih haluan dari seorang praktisi kesehatan (dokter) menjadi seorang pendidik. Bersama rekan-rekannya di Medan, ia bahkan mendirikan SLB G Harapan Baru, sebuah sekolah yang dikhususkan bagi anak-anak dengan disabilitas berat ganda. Keterbatasan visual ternyata tidak menghalanginya untuk beradaptasi dan menciptakan ruang belajar yang penuh harapan bagi anak-anak marginal.

3. Teachable (Selalu Mau Belajar)

Prinsip terakhir, namun yang paling esensial, adalah teachable. Sikap ini bermakna kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita tidak tahu segalanya, namun selalu memiliki semangat tanpa henti untuk belajar mencari tahu. Menyadari adanya kekurangan diri tidak lantas membuat seseorang merasa rendah diri atau menyerah pada keadaan.

Berbekal semangat teachable inilah, Dr. Melati tidak berhenti pada pencapaiannya membangun sekolah. Ia terus melanjutkan studinya hingga berhasil meraih gelar Master of Arts (M.A.) dalam bidang Special and Inclusive Education di University College London (UCL). Bahkan dalam kesehariannya, ia selalu menempatkan dirinya sebagai murid kehidupan, yang terus belajar langsung dari anak-anak didiknya serta bertukar wawasan dengan sesama rekan disabilitas.

Kesimpulan

Filosofi F.A.T membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir dari sebuah perjalanan kehidupan. Dengan mengadopsi sikap yang lentur (flexible), mudah menyesuaikan diri dengan hambatan (adaptable), dan haus akan ilmu (teachable), penyandang disabilitas dapat meruntuhkan stigma ketidakberdayaan sekaligus membangun masa depan yang cemerlang. Sebagaimana moto hidup yang selalu dipegang teguh oleh Dr. Sri Melati: "From the world of colors to the world of dim lights, but brighter future"—berpindah dari dunia yang penuh warna menuju dunia yang temaram, namun dengan pencapaian masa depan yang jauh lebih terang. (DPM)


Referensi:

  • Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
  • "Webinar Habis Gelap Terbitlah Terang" (Peringatan Hari Kartini 2025). YouTube Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni).

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik tokoh, kisah hidup, pemberdayaan, filosofi, kesehatan mental, pengembangan diri, dan isu perempuan.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika