Jika kita menyebut nama Coach Justin, apa gambaran yang pertama kali terbentuk di benak Anda? Bagi sebagian besar orang, ia adalah figur di layar kaca yang bersuara lantang, komentator sepak bola yang tak pernah ragu melontarkan kritik pedas, dan sosok analitis yang sering kali memancing perdebatan panas di media sosial. Di mata publik, ia adalah representasi dari ketegasan tanpa kompromi.
Namun, manusia selalu menyimpan lapisan-lapisan tak terlihat di permukaan. Di balik persona keras dan meledak-ledak yang sering ia tampilkan, tersimpan sebuah buku kehidupan yang sarat makna. Saat ia duduk berhadapan dengan dr. Tirta dalam sebuah siniar berjudul Tirta PengPengPeng, topeng sang komentator sejenak ditanggalkan. Obrolan yang bergulir bukan lagi sekadar membahas taktik di atas lapangan hijau, melainkan beralih menjadi perbincangan mendalam tentang realita, benturan nasib, dan filosofi bertahan hidup yang jarang ia perlihatkan kepada dunia.
Tulisan ini bukan tentang sepak bola. Tulisan ini adalah refleksi panjang tentang bagaimana seorang manusia menghadapi badai dalam hidupnya, dan bagaimana kita—termasuk para pembaca di Kartunet—bisa memetik kebijaksanaan dari perjalanan yang jauh dari kata mulus ini.
Keberanian Melangkah ke dalam Ketidakpastian
Kisah ini berawal dari keputusan gila di tahun 1999. Bagi banyak orang, berada di negara maju seperti Belanda adalah kemapanan tak ternilai harganya. Semuanya teratur, sistem berjalan rapi, dan hari tua pun terjamin. Namun, jiwa manusia kadang tak bisa dipenjara oleh keteraturan. Di tengah kondisi Indonesia yang saat itu masih tertatih memulihkan diri dari krisis hebat, Coach Justin justru memilih pulang.
Ia tidak pulang dengan jaminan karier gemilang. Ia terbang melintasi benua hanya dengan membawa dua koper dan uang saku seribu dolar. Ia membuat perjanjian dengan dirinya sendiri yang terdengar seperti taruhan nyawa: jika dalam dua bulan ia tak menemukan pekerjaan di tanah air, ia tamat.
Masa-masa itu jauh dari kemewahan. Ia menempati kamar indekos sempit berukuran 3x3 meter di kawasan Pengadegan Selatan. Setiap malam, sebelum merebahkan diri, ia harus mendinginkan badannya terlebih dahulu karena tak ada kipas angin yang menemani tidurnya. Namun, di sanalah letak seninya. Ia sadar betul bahwa itu adalah fase perjuangan, kawah candradimuka yang harus dilewati. Keberaniannya untuk masuk ke dalam penderitaan demi mencari peluang di tengah kesemrawutan adalah bukti bahwa pertumbuhan sering kali bersembunyi di balik ketidakpastian yang paling kita hindari.
Runtuh oleh Utang 4 Miliar dan Seni Merengkuh Tanggung Jawab
Hidup tak ubahnya roda yang berputar tanpa memedulikan siapa yang sedang digilasnya. Pada tahun 2016, badai besar itu datang. Kegagalan bisnis menyeretnya jatuh ke dalam jurang utang yang sangat dalam, menembus angka 4 miliar rupiah. Bagi kebanyakan orang, angka sebesar itu sudah cukup untuk membunuh kewarasan, memicu keputusasaan, atau bahkan menjadi alasan untuk melarikan diri dari kenyataan.
Namun, cara Coach Justin menghadapi krisis ini sungguh di luar dugaan. Saat banyak orang memilih menghindar dari kejaran debt collector, ia justru menghadapi mereka dengan dada membusung, bukan dengan arogansi, melainkan dengan empati dan tanggung jawab. Ia memahami realita sederhana: para penagih utang itu juga manusia yang sedang mencari nafkah, mereka butuh komisi untuk menyambung hidup.
Alih-alih bersitegang, ia mengajak mereka berdialog. Ia memberikan kepastian kapan ia bisa mencicil pembayarannya. Hubungan yang biasanya penuh teror itu perlahan berubah menjadi hubungan manusiawi. Selama enam hingga tujuh tahun, ia mengurai benang kusut itu perlahan. Ia pernah berada di titik nadir, hanya makan dua kali sehari dengan uang lima puluh ribu rupiah. Namun, ia tak pernah lari. Ia memeluk masalahnya hingga akhirnya seluruh utang raksasa itu lunas tak bersisa. Pelajaran mahal bahwa lari dari masalah tak akan pernah menjadi solusi, dan tanggung jawab adalah obat penawar paling mujarab.
Ironi Kemewahan, Ego, dan Frugal Living Sang Miliarder
Kini, roda itu telah membawanya ke puncak. Melalui saluran YouTube yang sukses besar dengan ribuan anggota berbayar, hingga berbagai tawaran kerja sama dengan merek besar, kemapanan finansial bukan lagi masalah baginya. Secara logika, ia bisa dengan mudah membeli mobil mewah bernilai miliaran atau mempekerjakan banyak asisten rumah tangga untuk melayaninya.
Tetapi, realita hidupnya sungguh berbeda. Ia menolak keras ide membeli mobil mewah seharga dua miliar hanya demi gengsi. Baginya, kendaraan mewah tak lebih dari sekadar tumpukan logam yang nilainya akan terus menyusut dimakan waktu. Ia memilih untuk menyimpan uangnya, mengonversinya ke mata uang asing, atau berinvestasi pada hal-hal yang memiliki daya tahan lebih lama.
Bahkan, untuk urusan keseharian, ia tak ragu menanggalkan status sosialnya. Pulang dari siaran yang melelahkan, ia tak segan mencuci dan merendam jersey miliknya sendiri untuk dipakai kembali keesokan harinya. Ia mengabaikan ego dan pandangan orang tentang "citra" seorang figur publik yang sukses. Mengapa? Karena ia memiliki kesadaran biologis yang tajam: semakin bertambah usia, tubuh dan otot harus terus dipaksa bergerak agar tidak melemah. Menyerahkan segala urusan kepada asisten hanya akan membuat tubuhnya manja dan pada akhirnya rapuh.
Namun, ia tak pelit pada dirinya sendiri. Uang yang ia hemat dari gaya hidup sehari-hari, ia alokasikan untuk sesuatu yang tak ternilai harganya: waktu dan pengalaman. Saat bepergian ke luar negeri, ia rela membayar mahal untuk terbang dengan kelas bisnis dan menginap di hotel bintang lima di pusat kota seperti Central Park, New York. Alasannya sangat rasional: menginap di pusat kota menghemat waktunya untuk bepergian. Baginya, waktu dan kenyamanan batin adalah kemewahan sejati, bukan barang-barang berlabel mahal yang dipakai sekadar untuk validasi dari mata orang lain.
Menjadi Pelita bagi Generasi yang Kehilangan Arah
Ada fenomena menarik yang terungkap dalam obrolan tersebut. Saluran YouTube Coach Justin memiliki fitur membership berbayar seharga tiga puluh ribu rupiah, yang secara konsisten dipertahankan oleh ribuan orang dari berbagai belahan dunia. Pertanyaannya: apa yang membuat Gen Z dan milenial rela menyisihkan uang mereka setiap bulan?
Jawabannya ternyata bukan sekadar ulasan taktik sepak bola. Di balik hiruk-pikuk olahraga, Coach Justin rutin menyuguhkan konten berjudul Just Life—sesi di mana ia berbicara jujur tentang pahit-manisnya kehidupan. Ada ironi yang mengiris hati ketika terungkap bahwa banyak pengikutnya meminta agar ia tidak pernah berhenti membuat konten tentang kehidupan tersebut. Mereka menemukan sosok ayah dalam diri Coach Justin. Di tengah riuhnya dunia modern, nyatanya banyak jiwa-jiwa muda yang tumbuh secara fisik, namun yatim secara emosional. Mereka memiliki ayah, namun tak memiliki kelekatan. Melalui layar kaca, nasihat-nasihat keras namun jujur dari Coach Justin hadir mengisi ruang-ruang hampa itu, menjadi pelita bagi mereka yang sedang mencari arah.
Menolak Tunduk pada Konsep Pensiun
Saat dr. Tirta mengutarakan impiannya untuk pensiun, berlari maraton, dan hidup tenang di luar negeri, Coach Justin menyodorkan paradigma yang memutarbalikkan logika konvensional. Baginya, pensiun adalah konsep yang menjebak. Ia berargumen, jika seseorang pensiun ke luar negeri lalu menghabiskan hari dengan mengurus peternakan dan bangun pagi setiap hari, bukankah itu juga sebuah pekerjaan?
Ia memilih untuk terus bekerja dan berkarya selama raganya mampu, dan ia memilih untuk melakukannya di Indonesia. Ia bercermin pada tokoh-tokoh besar seperti Sofjan Wanandi yang di usia 84 tahun masih aktif mengurus kebun anggrek demi menjaga agar otaknya tidak tumpul dan terhindar dari demensia. Bagi Coach Justin, bekerja bukan lagi soal menumpuk pundi-pundi kekayaan, melainkan cara untuk merawat api kehidupan, menjaga pikiran agar tetap tajam, dan merawat eksistensi sebagai manusia yang bermanfaat.
Sebuah Epilog: Sesuai Kemampuan, Bukan Kemauan
Pada akhirnya, seluruh kisah perjalanan berliku ini bermuara pada satu mantra sederhana namun teramat dalam: "Hidup itu sesuai dengan kemampuan, bukan kemauan".
Kita sering kali terjebak pada ilusi bahwa hidup adalah deretan rumus pasti. Seolah-olah di usia 20 kita harus sarjana, di usia 30 harus mapan dan menikah, dan seterusnya. Padahal, hidup adalah panggung misteri yang membentang tak terbatas. Coach Justin mengingatkan kita bahwa tidak ada yang salah dengan mencoba dan kemudian gagal. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari prosa panjang kehidupan yang harus kita terima.
Jika kita mampu berdamai dengan kenyataan bahwa hal-hal buruk bisa (dan akan) terjadi dalam hidup kita, maka kita telah memegang kunci menuju kedamaian sejati. Berjalanlah dengan tegak, hadapi penderitaan jika itu memang datang, dan temukan bahagiamu sendiri dalam kesederhanaan, tanpa perlu riuh meminta pengakuan dari dunia.

