Lompat ke Konten Utama

Ini tentang mimpi, langkah, dan ribuan cahaya diujung langit

Layar pengumuman FLS2N 2026 menampilkan 'Peraih Penghargaan Juara 1 Musabaqah Tilawatil Quran SMPLB/SMALB' untuk 'Siti N', dengan medali emas dan seorang presenter.
Layar pengumuman FLS2N 2026 menampilkan 'Peraih Penghargaan Juara 1 Musabaqah Tilawatil Quran SMPLB/SMALB' untuk 'Siti N', dengan medali emas dan seorang presenter.
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
4 menit baca
Jumlah pembaca
46 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: Inspirasi

Ribuan tetes air mata tumpah di pipimu saat itu. Berkali-kali mencoba, tak pernah berhasil dengan baik. Senyummu tenggelam karena rasa sakit. Sakit atas kekalahan, sakit karena perjuangan terasa sia-sia.

Aku ingat betul bagaimana matamu berkaca-kaca setiap kali pulang dari medan lomba. Bagaimana kamu diam lebih lama dari biasanya, bagaimana langkahmu terasa lebih berat menuju kamar. Kamu tak banyak bicara, tapi aku tahu, ada begitu banyak yang kamu tanggung sendiri saat itu.

Pernah terlintas pilihan untuk berhenti. Berhenti melangkah pada jalan yang pernah kamu pilih. Tak lagi ingin menatap mimpi-mimpi yang selama ini kamu rajut indah. Ada saat-saat kamu bertanya dalam diam, apakah semua usaha ini sepadan dengan hasil yang tak kunjung datang? Ada saat-saat kamu ingin menyerah pada lelah yang menumpuk, pada kekecewaan yang datang berkali-kali tanpa permisi. Kamu pernah berkata, mungkin lebih baik berhenti saja daripada terus merasakan sakit yang sama berulang-ulang. Kata-kata itu tak pernah aku lupakan, karena di baliknya aku tahu ada anak yang sedang berusaha sangat keras untuk tetap bertahan.

Namun, perjuangan tak pernah mengkhianati ia yang mau berjuang. Ia yang mau bermandikan keringat, darah, dan air mata. Ia yang mau terus berlatih, melangkah meski terseok-seok, meski halangan yang dihadapi begitu terjal bagai tebing tinggi yang seakan tak tersentuh. Ia yang memilih bangkit setiap kali terjatuh, meski tak ada yang menepuk bahunya, meski tak ada sorak yang menyemangati di tengah latihan yang sunyi.

Kamu bangun lebih pagi dari yang lain. Kamu berlatih ketika yang lain memilih istirahat. Kamu mengulang kesalahan yang sama berkali-kali, bukan karena tak mampu belajar, tapi karena kamu menolak untuk berhenti mencoba. Setiap kekalahan kamu simpan bukan sebagai alasan untuk mundur, melainkan sebagai catatan kecil tentang apa yang harus diperbaiki esok hari. Aku melihat bagaimana kamu mencatat setiap kesalahan di buku kecilmu, bagaimana kamu mengulang napas atau nada yang sama puluhan kali hingga benar-benar melekat pada suaramu, bukan sekadar di ingatan.

Ada masa-masa kamu pulang membawa kekalahan yang terasa begitu berat, hingga kamu memilih diam sepanjang perjalanan. Tak ada kata yang keluar, hanya tatapan kosong ke luar jendela. Tapi esok paginya, kamu tetap bangun, tetap berlatih dengan cara yang sama, tetap kembali ke tempat yang sama, seolah kekalahan kemarin hanyalah bagian dari cerita yang harus dilanjutkan, bukan akhir dari perjalanan.

Tangisanmu tak akan pernah sia-sia. Tangisanmu saat dulu jatuh, adalah cambuk kala lelah mendera. Kamu terus berjuang, tak peduli hasil apa yang ingin kamu capai. Tak peduli rasa sakit yang selalu menghampiri, kamu terus bertahan, kamu terus berjuang. Kamu terus mencoba menaklukkan tebing tinggi yang menghalangi langkahmu. Setiap peluh yang menetes, setiap malam yang kamu habiskan untuk berlatih sendiri, semua itu menjadi fondasi yang perlahan membentukmu menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Aku tak selalu bisa hadir di setiap latihanmu. Tak selalu bisa menyaksikan setiap jatuh dan bangunmu. Tapi aku tahu, di setiap sudut waktu yang tak kulihat, kamu tetap memilih untuk berdiri lagi. Itu yang membuatku percaya, bahwa kamu bukan sekadar mencoba, kamu sedang belajar menjadi tangguh. Kamu sedang menulis kisahmu sendiri, dengan tinta keringat dan lembar demi lembar kesabaran yang tak semua orang mampu jalani.

Kini, aku menangis dan tertawa. Tak kuasa menahan rasa haru, rasa bahagia karena menyaksikan satu rintangan yang selama ini menjadi penghalang, bisa kamu taklukkan. Sendiri, tanpa mengemis, tanpa meminta, hingga puncak bisa kamu raih. Dengan senyum, dengan air mata syukur yang menggenang. Tanpa rasa sakit yang mendera lagi, tanpa kecewa akan banyak perjuangan yang telah kamu lakukan.

Hari ini, aku melihat bukan hanya sebuah kemenangan di atas panggung. Aku melihat perjalanan panjang yang tak semua orang tahu. Aku melihat anak yang dulu menangis di pelukanku, kini berdiri dengan kepala tegak, membawa hasil dari semua peluh yang tak pernah ia sesali. Aku melihat semua malam sunyi yang kamu lalui sendirian, semua luka yang kamu simpan tanpa mengeluh, kini berubah menjadi cahaya yang menerangi wajahmu saat namamu dipanggil sebagai pemenang.

Tak ada satu pun dari perjalanan ini yang instan. Tak ada satu pun kemenangan yang datang tanpa jatuh terlebih dahulu. Dan kamu, dengan segala keterbatasan dan keraguan yang pernah menghampiri, memilih untuk tetap berjalan. Itulah yang membuat kemenangan ini terasa begitu berarti, bukan karena mudah diraih, tapi karena kamu pantas mendapatkannya.

Su, papah bangga padamu. Terus berjuang, ya? Terus belajar, terus menjadi kamu yang tak pernah lelah bermimpi. Kamu tahu rasanya kalah, kamu mengerti rasanya menang. Itu semua tak akan pernah cukup. Tapi, papah percaya, kamu akan berdiri di puncak yang lebih tinggi dari langit.

I love you so much.

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik pengembangan diri, motivasi, curahan hati, refleksi, dan kisah hidup.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika