Kartunet - Kehilangan penglihatan, terutama jika terjadi pada usia remaja atau dewasa, merupakan salah satu krisis terbesar dalam kehidupan seseorang. Transisi dari dunia yang penuh warna menuju dunia yang temaram atau gelap gulita tidak hanya membawa keterbatasan fisik, tetapi juga guncangan mental yang hebat. Literatur medis mencatat bahwa kehilangan penglihatan sering kali memicu depresi reaktif (reactive depression) pada pasien. Di fase inilah, penyandang disabilitas baru akan memasuki masa penyangkalan (denial), amarah, hingga keputusasaan.
Dalam melewati masa transisi yang kritis ini, keluarga merupakan jangkar atau support system yang paling utama. Sayangnya, karena ketidaktahuan, niat baik keluarga sering kali justru memperburuk keadaan psikologis pasien. Berikut adalah panduan dan seni mendampingi tunanetra baru untuk segera bangkit dari keterpurukannya.
1. Pentingnya Kejujuran Diagnosis Medis
Langkah pertama menuju penerimaan (acceptance) adalah kejujuran. Sering kali, pihak keluarga atau bahkan tenaga medis berusaha memberikan "harapan palsu" kepada pasien demi menjaga perasaannya. Padahal, menutup-nutupi fakta bahwa kondisi penglihatan tersebut bersifat permanen dan akan memburuk justru akan menunda fase adaptasi pasien.
Aktivis perempuan disabilitas, Ibu Mimi Mariani Rusli, membagikan pengalaman pribadinya. Ia mulai mengalami kemunduran penglihatan sejak usia 10 tahun dan menghabiskan waktu bertahun-tahun mencari pengobatan. Baru pada usia 17 tahun, seorang dokter dengan jujur mendiagnosisnya mengidap Retinitis Pigmentosa, sebuah penyakit degeneratif pada retina yang belum ada obatnya. Mendengar vonis tersebut rasanya memang seperti "kiamat" (the end of the world). Namun, ironisnya, kejujuran diagnosis itulah yang pada akhirnya menghentikan siklus pencarian yang sia-sia dan memaksanya untuk memulai hidup baru dengan identitas sebagai penyandang disabilitas netra.
2. Bahaya Lingkungan yang Overprotective
Reaksi paling umum dari keluarga ketika mengetahui anaknya menjadi tunanetra adalah memberikan perlindungan yang berlebihan (overprotective). Keluarga melarang pasien melakukan aktivitas apa pun, mengurungnya di dalam rumah, dan melayaninya 24 jam penuh. Niatnya adalah "mengasihani", namun hal ini justru berdampak destruktif.
Pakar rehabilitasi sepakat bahwa lingkungan yang terlalu melindungi (overprotective) dan merampas kesempatan pasien untuk melakukan hal-hal secara mandiri, sama buruknya dengan lingkungan yang terlalu menuntut. Ibu Mimi menekankan bahwa penyandang disabilitas tidak butuh "dikasihani" (yang berujung pada pengekangan di kursi dan dilayani terus-menerus), melainkan butuh "dikasihi". Mengasihi berarti membimbing dan memfasilitasi mereka untuk kembali mandiri.
3. Jangan Hanya Menyuruh Bersabar, Libatkan dalam Keseharian
Ketika pasien sedang uring-uringan atau marah dengan kondisinya ("Kenapa harus aku yang buta?"), menasihati mereka dengan kata-kata "kamu harus sabar" atau "kamu harus bersyukur" dari mulut orang yang bisa melihat sering kali terasa hambar dan tidak berempati.
Cara terbaik untuk menunjukkan dukungan adalah dengan melibatkan mereka dalam aktivitas rumah tangga. Ibu Mimi mencontohkan pendekatan "petik bayam". Ajak anak atau anggota keluarga yang baru kehilangan penglihatan ke dapur dan katakan, "Yuk, ikut bantu Mama petik bayam". Meskipun hasil petikannya berantakan atau salah, keluarga tidak perlu memarahi, melainkan cukup membimbing tangannya untuk menunjukkan cara yang benar. Keterlibatan sederhana ini menumbuhkan kembali perasaan bahwa diri mereka "masih berguna" dan tidak membebani keluarga.
4. Temukan Ruang Aman di Komunitas Disabilitas
Selain dukungan internal, keluarga juga harus proaktif mencarikan dukungan eksternal. Jangan biarkan tunanetra baru merasa bahwa ia adalah satu-satunya orang di dunia yang bernasib malang. Ajak mereka keluar rumah dan perkenalkan dengan organisasi atau komunitas penyandang disabilitas (seperti Persatuan Tunanetra Indonesia/Pertuni).
Melihat, mengobrol, dan berinteraksi secara langsung dengan sesama tunanetra yang telah sukses bersekolah, bekerja, dan berkeluarga akan memberikan dorongan moral yang tidak ternilai. Komunitas (peer counseling) inilah yang akan membuktikan secara nyata bahwa kehilangan penglihatan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sekadar perubahan cara dalam menjalani kehidupan.
Kesimpulan
Mendampingi anggota keluarga yang baru saja kehilangan penglihatan membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Hilangkan rasa kasihan yang melumpuhkan, mulailah bersikap jujur, dan libatkan mereka kembali dalam rutinitas sehari-hari. Dengan support system yang berempati dan memberdayakan, fase denial yang gelap akan segera berlalu, membuka jalan menuju penerimaan diri yang terang benderang. (DPM)
Referensi:
- Manduchi, Roberto; Kurniawan, S. Assistive Technology for Blindness and Low Vision. CRC Press.
- "Webinar Habis Gelap Terbitlah Terang" (Peringatan Hari Kartini 2025). YouTube Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni).

