Lompat ke Konten Utama

Menembus Industri Teknologi, Panduan Tunanetra Membangun Portofolio Karier dan Personal Branding di Era Digital

Ilustrasi artikel: Menembus Industri Teknologi, Panduan Tunanetra Membangun Portofolio Karier dan Personal Branding di Era Digital tentang Info & Peluang
Ilustrasi artikel: Menembus Industri Teknologi, Panduan Tunanetra Membangun Portofolio Karier dan Personal Branding di Era Digital tentang Info & Peluang
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
4 menit baca
Jumlah pembaca
6 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: Info & Peluang

Kartunet - Era digital telah membuka gerbang peluang karier yang sangat luas bagi penyandang disabilitas netra, jauh melampaui pekerjaan-pekerjaan konvensional yang selama ini distigmakan oleh masyarakat. Industri teknologi (IT), perusahaan rintisan (startup), hingga perusahaan internasional kini semakin inklusif dan menerapkan sistem kerja jarak jauh (remote). Namun, untuk menembus persaingan di industri ini, mengandalkan ijazah formal saja tidaklah cukup. Tunanetra dituntut untuk memiliki keterampilan praktis, kemampuan memecahkan masalah (problem solving), serta personal branding yang kuat.

1. Bergeser dari Ijazah Menuju Portofolio Karya

Dalam rekrutmen perusahaan teknologi, rekam jejak atau portofolio sering kali menjadi tolok ukur utama yang dinilai oleh perekrut. Hal ini dibuktikan oleh Putri, seorang penyandang disabilitas netra yang sukses berkarier sebagai Test Automation Engineer dan bekerja secara remote.

Membangun personal branding di dunia digital berarti menunjukkan kepada publik (dan calon pemberi kerja) apa yang mampu kita buat. Alih-alih sekadar mencantumkan kemampuan menggunakan komputer di Curriculum Vitae (CV), tunanetra yang berminat di bidang programming atau penulisan konten dapat mulai memamerkan hasil karyanya di platform profesional seperti LinkedIn atau repositori kode seperti GitHub. Portofolio ini menjadi bukti nyata (show, don't just tell) bahwa keterbatasan visual bukanlah hambatan untuk menghasilkan produk digital yang fungsional.

2. Menguasai Standar Kolaborasi Industri (Git dan Google Workspace)

Kesalahan umum yang sering dilakukan dalam pelatihan komputer bagi tunanetra adalah hanya berfokus pada penguasaan dasar Microsoft Word dan penelusuran internet. Padahal, standar industri saat ini menuntut kemampuan kolaborasi secara real-time. Gagah, seorang praktisi IT tunanetra, menekankan urgensi penguasaan layanan ruang kerja digital seperti Google Workspace (Google Docs dan Google Sheets) karena mayoritas perusahaan modern kini menggunakan platform tersebut untuk bekerja secara tim.

Bagi mereka yang ingin mendalami bahasa pemrograman (coding), langkah tercepat untuk belajar adalah dengan membaca dan memodifikasi contoh kode yang sudah jadi. Oleh karena itu, penguasaan Git dan navigasi di platform GitHub menjadi keterampilan wajib. Dengan menguasai perangkat kolaborasi ini, pekerja tunanetra dapat membuktikan bahwa mereka mampu bekerja dalam satu ritme (tandem) yang selaras dengan pekerja awas tanpa menyulitkan alur kerja tim.

3. Pre-Employment Soft Skills: Menyiapkan Mental di Dunia Kerja

Keterampilan teknis (hard skills) yang mumpuni akan menjadi sia-sia jika tidak diimbangi dengan keterampilan lunak (soft skills) dan ketangguhan mental. Reksya, pendiri komunitas teknologi Inviart, menyoroti bahwa kesiapan mental masih menjadi salah satu masalah utama bagi tunanetra yang baru terjun ke dunia profesional. Stigma dari lingkungan sekitar terkadang membuat tunanetra mudah merasa rendah diri atau justru terlalu cepat puas.

Untuk mengatasi hal tersebut, komunitas Inviart bahkan menginisiasi program Blind Meditation guna membangun ketangguhan mental para anggotanya. Di dunia kerja, tunanetra harus memiliki resiliensi tinggi: berani bertanya, proaktif mencari solusi mandiri (misalnya menggunakan AI sebagai asisten ketika rekan kerja sedang sibuk), dan siap menerima evaluasi. Sikap mau terus belajar dan beradaptasi inilah yang membentuk reputasi atau personal branding yang cemerlang di mata atasan.

4. Dukungan Kebijakan Ketenagakerjaan Inklusif

Di samping persiapan dari dalam diri, negara sejatinya telah menyiapkan landasan hukum untuk memastikan pasar kerja yang adil. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 telah memandatkan hak atas pekerjaan bagi penyandang disabilitas. Secara lebih teknis, Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2020 mewajibkan setiap daerah untuk memiliki Unit Layanan Disabilitas (ULD) Bidang Ketenagakerjaan yang bertugas memberikan informasi dan pendampingan, serta memfasilitasi penyediaan Akomodasi yang Layak di tempat kerja.

Dengan adanya jaminan hukum ini, perusahaan swasta maupun instansi pemerintah tidak lagi memiliki alasan untuk menolak kandidat disabilitas yang kompeten. Tugas utama tunanetra saat ini adalah terus mengasah "taji"-nya agar ketika peluang ketenagakerjaan itu terbuka, mereka sudah siap membuktikan kapasitas terbaiknya.

Kesimpulan

Industri teknologi adalah ekosistem yang berbasis pada meritokrasi—di mana kemampuan dan hasil karya lebih dihargai daripada sekadar latar belakang fisik. Dengan strategi membangun portofolio digital yang solid, menguasai platform kolaborasi terkini, dan menempa mental yang tangguh, tenaga kerja tunanetra dapat mendobrak batasan dan mengukir karier profesional yang sukses di era digital. (DPM)


Referensi:

  • "Webinar HUT Pertuni ke-59: Menjadi Bertaji dengan Teknologi". YouTube Persatuan Tunanetra Indonesia.
  • Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
  • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2020 tentang Unit Layanan Disabilitas Bidang Ketenagakerjaan.

EASTER EGG DITEMUKAN!

Ketik kode MANDIRI-KARTUNET-1714

pada Menu Game Si Paling Inklusif (membuka tab baru) di WA Avika untuk mengklaim 10 Koin!

Buruan! Sisa kuota hanya untuk 19 orang tercepat.

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik karier, ketenagakerjaan, pengembangan diri, disabilitas netra, tips, aksesibilitas digital, dan pemberdayaan.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika