Lompat ke Konten Utama

Ibu Tunanetra di Era Digital, Bagaimana Layanan Publik dan Teknologi Inklusif Mendukung Kemandirian Rumah Tangga

Ilustrasi artikel: Ibu Tunanetra di Era Digital, Bagaimana Layanan Publik dan Teknologi Inklusif Mendukung Kemandirian Rumah Tangga tentang Teknologi Inklusif
Ilustrasi artikel: Ibu Tunanetra di Era Digital, Bagaimana Layanan Publik dan Teknologi Inklusif Mendukung Kemandirian Rumah Tangga tentang Teknologi Inklusif
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
3 menit baca
Jumlah pembaca
12 kali dibaca
WhatsApp X

Kartunet - Di era modern saat ini, peran seorang ibu dalam mengelola rumah tangga menjadi sangat erat kaitannya dengan gawai dan internet. Mulai dari berbelanja kebutuhan pokok, mencari informasi kesehatan anak, berkomunikasi dengan pihak sekolah, hingga mengakses layanan administrasi publik, semuanya kini bertransformasi ke ranah digital. Bagi perempuan penyandang disabilitas netra, teknologi bukan sekadar pelengkap gaya hidup, melainkan instrumen esensial yang membuka gerbang menuju kemandirian absolut di dalam rumah tangga maupun masyarakat.

Teknologi sebagai Kunci Kemandirian Ibu

Dalam memimpin manajemen rumah tangga, seorang ibu tunanetra dituntut untuk serba bisa. Psikolog Maria Wirastari dalam Webinar Spesial Hari Ibu menegaskan bahwa kata kunci bagi perempuan disabilitas adalah "berdaya". Keberdayaan ini salah satunya dicapai dengan penguasaan teknologi seperti perangkat lunak pembaca layar (screen reader).

Ibu Maria mencontohkan, berbekal ponsel pintar yang dilengkapi screen reader serta aplikasi berbasis Kecerdasan Buatan (AI), ibu tunanetra kini dapat membaca label harga di supermarket, membedakan kemasan produk rumah tangga, hingga melakukan transaksi belanja daring (online) secara mandiri tanpa harus selalu bergantung pada orang awas. Senada dengan hal tersebut, Ibu Wacih Tarsidi juga menceritakan bagaimana kehadiran ponsel pintar saat ini sangat menolongnya untuk mencari berbagai resep masakan, ilmu pengetahuan, hingga sekadar mencari hiburan.

Kemandirian dalam menyelesaikan masalah rumah tangga ini bukan hanya bermanfaat bagi sang ibu, melainkan juga secara psikologis menanamkan rasa aman bagi anak-anaknya. Ketika anak melihat ibunya mampu menghadapi dunia, menembus hambatan, dan menyelesaikan segala urusan dengan mandiri, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh dan percaya diri.

Mimpi Buruk Desain Aplikasi yang Tidak Aksesibel

Sayangnya, upaya ibu tunanetra untuk mandiri sering kali disabotase oleh desain situs web atau aplikasi yang tidak aksesibel. Ketika sebuah aplikasi belanja atau layanan masyarakat didesain hanya mengandalkan estetika visual tanpa peduli pada fungsi pembaca layar, pengguna disabilitas akan langsung terblokir.

Sering kali, elemen formulir tidak diberi label dengan benar, atau tombol "bayar" (checkout) tidak bisa ditekan tanpa menggunakan *mouse* komputer. Bagi ibu tunanetra yang bernavigasi menggunakan papan ketik (keyboard) dan audio, hal ini sangat merugikan dan memaksa mereka membatalkan transaksi untuk mencari aplikasi kompetitor yang lebih aksesibel.

Standar WCAG dan Amanat Layanan Publik

Untuk memastikan agar ruang digital ramah bagi ibu tunanetra, para pengembang teknologi wajib menerapkan Web Content Accessibility Guidelines (WCAG). Panduan internasional ini menetapkan empat prinsip utama (POUR): Perceivable (Dapat Dikenali), Operable (Dapat Dioperasikan), Understandable (Dapat Dipahami), dan Robust (Tangguh). Dengan standar ini, setiap gambar produk akan dilengkapi teks alternatif (alt-text), dan antarmuka aplikasi dapat sepenuhnya dibaca oleh screen reader.

Di Indonesia, kewajiban penyediaan teknologi yang inklusif ini juga telah dikuatkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2020. Pasal 17 ayat (4) dan (5) mengamanatkan bahwa penyelenggara pelayanan publik yang telah menggunakan teknologi wajib menyediakan teknologi yang mudah diakses oleh penyandang disabilitas, yang setidaknya dilengkapi dengan fasilitas audio, tanda taktil, huruf braille, atau isyarat visual.

Kesimpulan

Penguasaan teknologi digital adalah senjata ampuh bagi ibu tunanetra untuk meruntuhkan stigma ketidakberdayaan. Namun, kemandirian ini menuntut timbal balik dari masyarakat, khususnya pihak pemerintah dan perusahaan swasta pengembang aplikasi. Ruang digital dan layanan publik harus didesain secara universal agar ibu tunanetra dapat terus berkarya, mengasuh keluarga, dan berpartisipasi penuh dalam ekosistem digital tanpa hambatan.


Referensi:

  • "Webinar Spesial Hari Ibu 2025 (DPP Pertuni)" (YouTube).
  • Firth, Ashley. Practical Web Accessibility.
  • Mancilla, Rae. Guide to Digital Accessibility.
  • Lazar, Jonathan. Ensuring Digital Accessibility.
  • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2020 tentang Aksesibilitas Terhadap Permukiman, Pelayanan Publik, dan Pelindungan dari Bencana Bagi Penyandang Disabilitas.

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik aksesibilitas digital, parenting, pembaca layar, disabilitas netra, keluarga, pemberdayaan, dan isu perempuan.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika