Lompat ke Konten Utama

Mendobrak Stigma Pengasuhan, Kisah Sukses Ibu Tunanetra Membesarkan Anak dengan Kemandirian

Ilustrasi artikel: Mendobrak Stigma Pengasuhan, Kisah Sukses Ibu Tunanetra Membesarkan Anak dengan Kemandirian tentang Inspirasi
Ilustrasi artikel: Mendobrak Stigma Pengasuhan, Kisah Sukses Ibu Tunanetra Membesarkan Anak dengan Kemandirian tentang Inspirasi
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
3 menit baca
Jumlah pembaca
4 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: Inspirasi

Kartunet - Perempuan penyandang disabilitas sering kali dihadapkan pada keraguan dan stigma dari masyarakat, terutama menyangkut kemampuannya dalam membangun rumah tangga dan mengasuh anak. Padahal, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas (Pasal 8) telah secara tegas menjamin hak privasi penyandang disabilitas, yang di dalamnya mencakup hak untuk membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah.

Kisah inspiratif dari Ibu Wacih Kurniasih, seorang ibu tunanetra sejak lahir, menjadi bukti nyata bahwa insting keibuan dan kemandirian mampu menembus segala batas disabilitas fisik. Bersama sang suami (Dr. Didi Tarsidi), ia sukses membesarkan dua orang putra yang dapat melihat (awas) hingga kini ia telah dikaruniai lima orang cucu.

Berawal dari Kepercayaan Orang Tua

Kemandirian Ibu Wacih tidak terlepas dari peran orang tuanya di masa kecil. Lahir di Sumedang, orang tuanya memilih untuk tidak menyembunyikan kondisi disabilitasnya, melainkan mendorongnya untuk mandiri. Pada usia tujuh tahun, dengan penuh doa dan air mata, orang tuanya mengirimkan Ibu Wacih ke SLB Wyata Guna di Bandung. Keputusan berani inilah yang menjadi fondasi kemandiriannya dalam menjalani kehidupan hingga menempuh pendidikan tinggi dan berkeluarga.

Mengasuh dengan Sentuhan dan Kerja Sama

Kekhawatiran mengenai bagaimana cara merawat bayi sering kali menghantui perempuan tunanetra. Namun, Ibu Wacih membuktikan bahwa hal tersebut bisa dipelajari. Momen pertama yang paling mengharukan baginya adalah ketika ia memangku bayinya yang baru lahir dan menghitung jari-jemarinya yang utuh. Melalui bimbingan perawat dan praktik langsung, ia belajar cara memandikan, menyusui, dan memakaikan pakaian anak.

Pengasuhan ini juga didukung oleh kerja sama yang luar biasa dari sang suami. Keduanya saling melengkapi, misalnya ketika suaminya memiliki inisiatif dan cara tersendiri dalam merapikan popok bayi. Karena keduanya bekerja, mereka memang menggunakan jasa asisten rumah tangga pada siang hari, namun ketika pulang bekerja, pengasuhan anak sepenuhnya diambil alih oleh mereka berdua.

Menanamkan Kejujuran dan Leading by Example

Dalam mendidik anak, Ibu Wacih memiliki prinsip yang kuat: jangan pernah menunjukkan kelemahan atau ketergantungan yang tidak perlu. Jika sesuatu masih bisa dikerjakan sendiri, ia akan melakukannya sendiri tanpa harus selalu meminta bantuan anak. Ia lebih memilih mendidik melalui teladan (leading by example) alih-alih sekadar memberi larangan atau teori.

Ia juga mengajarkan pentingnya bersikap jujur kepada anak dan tidak menutupi kondisi disabilitasnya. Hasilnya, anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang penuh empati, proaktif membantu tanpa diminta, dan sama sekali tidak merasa malu memiliki orang tua tunanetra. Hal ini terbukti ketika momen pembagian rapor di sekolah; anak-anaknya menolak jika diwakilkan oleh orang lain dan bersikeras agar Ibu Wacih sendiri yang hadir mengambil rapor mereka.

Menjadi Tempat Bercerita dan Membangun Ruang Aman

Sebagai ibu yang tidak dapat melihat secara visual aktivitas anaknya di luar rumah, Ibu Wacih membangun kedekatan melalui quality time sepulang sekolah. Ia selalu memancing anak-anaknya untuk bercerita tentang kejadian apa pun di sekolah, baik hal yang menyenangkan maupun pengalaman buruk (seperti apakah ada yang mengganggu mereka). Melalui cerita-cerita inilah, ia bisa mengetahui kondisi anaknya, mendeteksi potensi perundungan (bullying) atau stigma, serta memberikan arahan yang tepat tanpa membuat anak merasa dihakimi.

Kesimpulan: Kasih Sayang Tidak Berarti Memanjakan

Bagi Ibu Wacih, menjadi seorang ibu adalah tugas sepanjang masa. Mengasihi anak tidak selalu berarti memanjakan atau mengabulkan segala permintaannya, melainkan memberikan teladan, mendidik, dan melindungi. Terlebih di era digital saat ini di mana smartphone dan teknologi sangat mudah diakses, peran ibu untuk selalu memantau dan memberikan batasan yang sehat kepada anak menjadi semakin esensial. Keterbatasan penglihatan nyatanya bukanlah penghalang untuk mencurahkan kasih sayang yang utuh dan membangun generasi masa depan yang berkualitas. (DPM)


Referensi:

  • Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
  • "Webinar Spesial Hari Ibu 2025 (DPP Pertuni)" (YouTube).

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik anti-diskriminasi, parenting, disabilitas netra, isu perempuan, kisah hidup, keluarga, dan advokasi disabilitas.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika