Lompat ke Konten Utama

Membangun Ekosistem Siaran Inklusif bagi Tunanetra

Ilustrasi artikel: Membangun Ekosistem Siaran Inklusif bagi Tunanetra tentang Info & Peluang
Ilustrasi artikel: Membangun Ekosistem Siaran Inklusif bagi Tunanetra tentang Info & Peluang
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
4 menit baca
Jumlah pembaca
8 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: Info & Peluang

Kartunet - Dunia penyiaran—baik sebagai penyiar radio, Master of Ceremony (MC), maupun podcaster—merupakan salah satu jalur karier yang sangat diminati oleh penyandang disabilitas netra. Profesi ini sangat mengandalkan kekuatan komunikasi verbal dan audio, sebuah ranah di mana tunanetra memiliki potensi yang sangat besar untuk unggul. Namun, untuk benar-benar menembus industri ini, penyandang disabilitas tidak hanya harus mengasah kemampuan teknis vokal, tetapi juga harus siap menghadapi realitas infrastruktur studio yang kerap kali belum aksesibel.

Mitos "Suara Emas" dan Pentingnya Latihan

Hambatan pertama yang sering membuat seseorang mundur sebelum bertarung di dunia broadcasting adalah rasa rendah diri terhadap kualitas suaranya sendiri. Banyak yang merasa tidak pantas menjadi penyiar karena merasa tidak terlahir dengan bakat "suara emas" atau suara yang berat dan berwibawa.

Albert Wijaya, seorang announcer yang kini siaran di RRI (Radio Republik Indonesia) sekaligus inisiator Podcaster Netra Indonesia, mematahkan mitos tersebut secara tegas. Menurutnya, di dunia penyiaran modern, tidak ada yang namanya suara yang bagus atau suara yang jelek; yang ada hanyalah suara yang tidak terlatih. Melatih suara berarti belajar mengendalikan tempo bicara, mengetahui kapan harus memberikan jeda (berhenti sejenak), dan menguasai intonasi agar pesan tidak terdengar monoton seperti robot pembaca teks. Setiap individu pada dasarnya memiliki warna suara yang unik, yang jika dilatih secara konsisten, akan menjadi karakter (personal branding) yang kuat di telinga pendengar.

Realitas Studio: Belum Terbukanya Akses Perangkat Lunak

Setelah kemampuan vokal dilatih, tantangan sesungguhnya menanti di ruang kendali studio (studio room). Seorang penyiar tunanetra tidak bisa membaca naskah berita atau urutan lagu dari secarik kertas; mereka mutlak bergantung pada perangkat lunak pembaca layar (screen reader) seperti JAWS atau NVDA. Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak stasiun radio swasta maupun lembaga penyiaran pemerintah yang belum siap mengakomodasi hal ini.

Albert membagikan pengalaman nyata bahwa hingga saat ini, hampir tidak ada pihak radio yang memberikan izin bagi penyiar disabilitas untuk menginstal screen reader di perangkat komputer utama studio. Penolakan ini umumnya didasari oleh ketidaktahuan atau kekhawatiran bahwa perangkat lunak tambahan tersebut akan merusak sistem siaran yang ada. Hal ini tentu saja membuat penyiar tunanetra kesulitan untuk mengoperasikan sistem siaran secara mandiri dan memaksa mereka bergantung pada rekan produser sebagai operator.

Siasat "Dua Telinga" dan Hak Akomodasi yang Layak

Menghadapi kebuntuan sistem tersebut, penyiar tunanetra harus mencari siasat teknis. Sebagai jalan keluar (workaround), mereka biasanya menggunakan gawai pintar (smartphone) milik pribadi untuk membaca naskah. Secara teknis, mereka harus menggunakan earphone kecil di salah satu telinga untuk mendengarkan suara screen reader, kemudian menumpuknya dengan headphone studio yang besar untuk memantau suara siaran. Mereka dilatih untuk memiliki konsentrasi tingkat tinggi: membagi fokus pendengaran antara laju teks di screen reader dan laju suaranya sendiri yang sedang mengudara.

Meski kecerdikan ini patut diapresiasi, hal ini tetap menjadi tamparan bagi industri ketenagakerjaan. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 dan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2020 secara eksplisit mewajibkan pemberian Kesamaan Kesempatan dan penyediaan Akomodasi yang Layak di tempat kerja bagi penyandang disabilitas. Penolakan instalasi perangkat lunak aksesibilitas di komputer tempat kerja adalah bentuk pelanggaran Akomodasi yang Layak. Perusahaan penyiaran harus mulai diedukasi agar mau membuka diri terhadap teknologi adaptif, sehingga penyiar tunanetra dapat bekerja secara profesional dan mandiri.

Podcaster Netra Indonesia sebagai Support System

Menyadari bahwa jalan menuju industri yang inklusif masih panjang, Albert beserta beberapa praktisi penyiaran lainnya menginisiasi komunitas Podcaster Netra Indonesia. Wadah ini didirikan untuk meruntuhkan kebiasaan lama di mana sesama penyandang disabilitas kerap kali saling bersaing untuk menjadi yang paling menonjol.

Komunitas ini menjadi ekosistem pendukung (support system) tempat berkumpulnya peminat broadcasting untuk saling bergandengan tangan, berbagi ilmu, mendiskusikan trik siaran, dan menumbuhkan rasa percaya diri. Dengan adanya wadah inkubator ini, diharapkan akan lahir lebih banyak talenta-talenta suara baru yang siap meramaikan industri penyiaran dan podcasting nasional.

Kesimpulan

Profesi di bidang public speaking dan penyiaran menawarkan peluang emas bagi tunanetra untuk membuktikan eksistensinya. Kemampuan vokal dapat terus diasah dan tantangan studio dapat disiasati, namun perjuangan sejati adalah mendorong industri agar mau menyediakan akomodasi digital yang layak. Jangan biarkan para pionir broadcaster tunanetra berjuang sendirian; mari bersuara, karena tidak ada suara yang tidak berharga, yang ada hanyalah suara yang belum didengar. (DPM)


Referensi:

  • "Webinar HUT Pertuni ke-59: Peluang Berkarya Tunanetra dalam Public Speaking". YouTube Persatuan Tunanetra Indonesia.
  • Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
  • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2020 tentang Unit Layanan Disabilitas Bidang Ketenagakerjaan.

EASTER EGG DITEMUKAN!

Ketik kode DISABILITAS-SETARA-1712

pada Menu Game Si Paling Inklusif (membuka tab baru) di WA Avika untuk mengklaim 10 Koin!

Buruan! Sisa kuota hanya untuk 18 orang tercepat.

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik karier, media, profesi, aksesibilitas, disabilitas netra, inklusi sosial, dan pemberdayaan.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika