Kartunet - Kemandirian ekonomi merupakan salah satu pilar utama dalam pemberdayaan penyandang disabilitas. Namun, tantangan terbesar kerap muncul bagi mereka yang bekerja di sektor informal dengan pendapatan yang fluktuatif (tidak tetap), seperti profesi pemijat atau pekerja seni lepas. Ketika penghasilan tidak menentu, bagaimana cara merencanakan keuangan yang sehat dan bahkan memulai investasi?
Dalam rangkaian Webinar Puncak Perayaan HUT ke-60 Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), para pakar keuangan dan praktisi investasi membagikan strategi jitu yang dirancang khusus untuk menjawab tantangan finansial tersebut.
1. Strategi "Tiga Dompet" dan Dana Insidentil
Langkah fundamental dalam mengelola penghasilan yang tidak tetap adalah kedisiplinan dalam mengalokasikan dana. Dr. Mutia Pramesti, M.Si., seorang akademisi dan peneliti, memperkenalkan konsep "Tiga Dompet" yang harus diterapkan segera setelah seseorang menerima penghasilan. Ketiga alokasi tersebut meliputi:
- Dompet Harian: Dana yang mutlak digunakan untuk bertahan hidup sehari-hari, seperti biaya makan, minum, transportasi, hingga kebutuhan primer modern seperti pulsa dan paket data internet.
- Dompet Kewajiban/Tagihan: Dana yang disisihkan untuk membayar utang, cicilan, kartu kredit, hingga tagihan rutin seperti listrik.
- Dompet Masa Depan: Dana yang dialokasikan untuk tabungan dan instrumen investasi jangka panjang.
Selain ketiga dompet utama tersebut, Dr. Mutia juga menyoroti satu fenomena sosiologis yang sering mengganggu arus kas (cash flow), yaitu adanya tuntutan sosial dari keluarga atau kerabat yang tiba-tiba meminjam uang atau meminta bantuan. Untuk menyiasatinya, ia menyarankan pembuatan pos "Dana Insidentil" atau dana sosial. Dengan menyisihkan nominal tertentu (misalnya Rp100.000 per bulan) khusus untuk dana insidentil, seseorang tetap dapat membantu kerabat yang sedang kemalangan tanpa harus mengorbankan pos investasi atau tabungan masa depannya.
2. Benteng Pertahanan: Kenali Prinsip 2L dari OJK
Godaan untuk cepat kaya sering kali membuat masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, terjebak dalam penipuan investasi bodong (scam). Perwakilan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Ibu Grani, menegaskan bahwa benteng pertahanan utama sebelum menyetorkan uang ke instrumen investasi apa pun adalah prinsip 2L: Legal dan Logis.
Legal berarti produk atau layanan jasa keuangan tersebut harus memiliki izin resmi dari otoritas yang berwenang. Penyandang disabilitas dapat dengan mudah mengecek legalitas sebuah lembaga investasi dengan menghubungi layanan Kontak OJK 157 (baik melalui telepon maupun WhatsApp). Logis berarti imbal hasil (return) yang ditawarkan harus masuk akal. Jika ada tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan pasti sebesar 50% hingga 100% per bulan tanpa risiko, dapat dipastikan penawaran tersebut adalah penipuan yang tidak logis.
3. Jangan Taruh Semua Telur dalam Satu Keranjang
Bagi mereka yang baru mulai berinvestasi, penting untuk mengenali profil risiko masing-masing dan menerapkan prinsip diversifikasi. Dalam dunia investasi, terdapat pepatah terkenal: "Don't put your eggs in one basket" (Jangan menaruh semua telurmu di dalam satu keranjang). Jika kita menaruh seluruh uang pada satu instrumen yang tiba-tiba anjlok nilainya, maka seluruh aset kita akan hancur.
Bagilah investasi ke dalam beberapa kantong yang berbeda. Salah satu contoh investasi riil (fisik) yang disarankan untuk pemula adalah Logam Mulia (emas). Emas merupakan aset berwujud (tangible) yang nilainya terbukti tahan terhadap inflasi dan terus mengalami kenaikan seiring berjalannya waktu.
4. Dari Tukang Pijat Menjadi Investor Mandiri
Dunia investasi bukanlah ranah eksklusif bagi mereka yang bergaji puluhan juta rupiah. Bapak Yulianto, seorang praktisi investasi tunanetra, membuktikan bahwa seorang pemijat pun bisa sukses mengumpulkan aset. Ia menyadari realita pahit profesinya: jika tidak memijat karena sakit atau usia yang menua, maka ia tidak akan mendapatkan penghasilan ("kalau enggak mijet itu kita enggak makan").
Berangkat dari kesadaran bahwa tenaga fisiknya akan terus berkurang, ia mulai menyisihkan uang dari upah pijatnya ke instrumen reksa dana dan saham. Ia berpesan kepada generasi muda tunanetra agar menjadi "generasi perintis". Mulailah berinvestasi sejak dini, lakukan riset secara mandiri, jangan sekadar ikut-ikutan (FOMO), dan yang terpenting: tidak perlu memamerkan jumlah uang yang dimiliki kepada orang lain. Cukup buktikan melalui pertumbuhan aset yang nyata di masa depan.
Kesimpulan
Keterbatasan fisik dan penghasilan yang tidak tetap bukanlah alasan untuk mengabaikan perencanaan masa depan. Dengan membangun disiplin melalui strategi "Tiga Dompet", mematuhi prinsip 2L (Legal dan Logis) dari OJK, serta berani memulai diversifikasi aset sejak dini, penyandang disabilitas netra dapat memegang kendali penuh atas hidupnya dan meraih kemerdekaan finansial sejati. (DPM)
Referensi:
- "Puncak Perayaan HUT ke-60 Pertuni", Saluran YouTube Persatuan Tunanetra Indonesia.
EASTER EGG DITEMUKAN!
Ketik kode INOVASI-BERDAYA-1717
Buruan! Sisa kuota hanya untuk 15 orang tercepat.

