Lompat ke Konten Utama

Mendobrak Batas Visual dengan Kecerdasan Buatan, Seni Menjadikan AI sebagai Mentor dan "Mata" bagi Tunanetra

Ilustrasi artikel: Mendobrak Batas Visual dengan Kecerdasan Buatan, Seni Menjadikan AI sebagai Mentor dan "Mata" bagi Tunanetra tentang Teknologi Inklusif
Ilustrasi artikel: Mendobrak Batas Visual dengan Kecerdasan Buatan, Seni Menjadikan AI sebagai Mentor dan "Mata" bagi Tunanetra tentang Teknologi Inklusif
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
3 menit baca
Jumlah pembaca
8 kali dibaca
WhatsApp X

Kartunet - Perkembangan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI) yang sangat pesat sering kali memicu kekhawatiran di masyarakat mengenai potensi hilangnya lapangan pekerjaan. Namun, bagi penyandang disabilitas netra, kehadiran AI justru menjadi sebuah revolusi aksesibilitas yang luar biasa. Alih-alih menjadi ancaman, AI dapat dioptimalkan sebagai asisten pribadi, mentor belajar, hingga "mata" virtual yang menjembatani hambatan visual di dunia digital.

Dalam Webinar Peringatan HUT Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) ke-59, tiga pakar teknologi tunanetra membagikan pandangan dan trik praktis mereka dalam mempekerjakan AI untuk meningkatkan (nge-boost) kapasitas diri mereka di industri teknologi.

1. AI sebagai Instruktur Aksesibel (Pengalaman Mbak Putri)

Mempelajari hal baru, seperti bahasa pemrograman (coding), sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi tunanetra karena mayoritas tutorial di internet (seperti YouTube) sangat bergantung pada panduan visual yang tidak dapat dibaca oleh pembaca layar (screen reader). Menghadapi kendala ini, Putri Rohmawati, seorang Test Automation Engineer tunanetra, menyiasatinya dengan menggunakan AI berbasis teks seperti ChatGPT.

Kunci utamanya ada pada rekayasa perintah (prompting). Mbak Putri memodifikasi perintahnya agar AI bertindak sebagai mentor yang ramah disabilitas, misalnya dengan mengetikkan: "Tolong bertindak sebagai instruktur dan berikan langkah-langkah yang bisa dioperasikan oleh pengguna screen reader". Dengan cara ini, AI mampu menyederhanakan tugas dan menjadi teman diskusi coding yang responsif kapan saja, sehingga mampu mendongkrak kemampuan teknis yang awalnya bernilai 50 menjadi 80 atau 90.

2. AI Real-Time sebagai Pembaca Antarmuka (Pengalaman Mas Gagah)

Bagi mahasiswa atau praktisi IT tunanetra, hambatan visual terbesar biasanya muncul ketika harus berhadapan dengan elemen desain atau Antarmuka Pengguna (User Interface/UI). Di masa lalu, menyalin kode dari papan tulis atau memahami gambar desain tanpa narasi teks adalah hal yang sangat menyulitkan.

Muhammad Gagah, seorang pegiat IT tunanetra, mengungkapkan bahwa teknologi AI kini telah melangkah ke tahap real-time (waktu nyata), seperti fitur panggilan video (video call) atau berbagi layar (screen sharing) pada AI Studio. Tunanetra kini dapat membagikan layar komputernya dan meminta AI untuk membacakan serta mendeskripsikan elemen antarmuka atau tombol-tombol visual dari aplikasi yang sedang tidak bisa diakses oleh screen reader standar. AI berfungsi sebagai alternatif "mata" yang secara instan menjawab kebingungan tunanetra saat mengerjakan tugas pemrograman.

3. AI Tetaplah Asisten, Bukan Pengganti Otak Manusia (Pengalaman Mas Reksya)

Meskipun AI sangat canggih, Reksya Muhammad, pendiri komunitas teknologi Inviart, menegaskan bahwa penyandang disabilitas tidak boleh merasa pesimis atau kehilangan kreativitasnya. Otak manusia tetaplah lebih canggih dibandingkan AI. Ia mengibaratkan AI sebagai asisten yang patuh untuk melakukan tugas-tugas terstruktur yang rumit, seperti menulis konfigurasi jaringan atau server.

Namun, ketergantungan buta terhadap AI sangatlah berbahaya. Seorang penyandang disabilitas harus tetap membekali dirinya dengan ilmu dasar dan kreativitas agar mampu mengoreksi (troubleshooting) apabila AI memberikan konfigurasi atau jawaban yang keliru. Kemampuan meracik prompt yang detail dan spesifik adalah keahlian yang harus terus dilatih agar AI menghasilkan luaran yang akurat.

Kesimpulan

Alih-alih menolak kemajuan zaman, penyandang disabilitas netra harus memanfaatkan momentum ini untuk mengeksplorasi AI sebanyak mungkin. Menjadikan AI sebagai mentor dan "mata" pelengkap merupakan bentuk perwujudan Akomodasi yang Layak secara mandiri. Dengan penguasaan AI yang baik, tenaga kerja tunanetra dapat membuktikan bahwa mereka siap berkolaborasi dan berkompetisi secara setara di era digital. (DPM)


Referensi:

  • "Webinar HUT Pertuni ke-59: Menjadi Bertaji dengan Teknologi". YouTube Persatuan Tunanetra Indonesia.

EASTER EGG DITEMUKAN!

Ketik kode AKSES-KOLABORASI-1713

pada Menu Game Si Paling Inklusif (membuka tab baru) di WA Avika untuk mengklaim 10 Koin!

Buruan! Sisa kuota hanya untuk 19 orang tercepat.

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik teknologi bantu, literasi digital, inovasi, pengembangan diri, disabilitas netra, aksesibilitas digital, dan pemberdayaan.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika