Kartunet resmi meluncurkan Avika, sebuah asisten virtual berbasis artificial intelligence (AI) yang beroperasi langsung di WhatsApp. Inovasi ini menjadikan Kartunet sebagai komunitas media inklusif pertama di Indonesia yang mengintegrasikan teknologi AI multimodal ke dalam ekosistem WhatsApp untuk melayani penyandang disabilitas dan masyarakat luas secara nyata dan terukur.
Latar Belakang: Aksesibilitas Bukan Hanya Soal Website
Selama hampir dua dekade, Kartunet telah hadir sebagai ruang literasi digital untuk komunitas penyandang disabilitas di Indonesia. Namun sebuah kenyataan tidak bisa diabaikan: banyak anggota komunitas, khususnya penyandang disabilitas netra dan fisik, justru lebih nyaman dan fasih menggunakan WhatsApp dibanding mengakses sebuah situs web lengkap.
Dari pengamatan tersebut, lahirlah gagasan untuk membangun jembatan antara ekosistem WhatsApp yang sudah familiar dan ekosistem digital Kartunet yang lebih luas. Hasilnya adalah Avika — nama yang merupakan akronim sekaligus persona seorang asisten virtual perempuan yang ramah, inklusif, dan cerdas.
Apa Itu Avika?
Avika adalah asisten virtual Kartunet yang berjalan di atas platform WhatsApp Business Cloud API dari Meta, ditenagai oleh model bahasa dan visi Gemini AI dari Google DeepMind. Pengguna tidak perlu mengunduh aplikasi baru, membuat akun baru, atau memiliki keahlian teknis apapun. Cukup membuka WhatsApp yang sudah ada, lalu mulai percakapan.
Melalui Avika, pengguna dapat mengakses berbagai layanan Kartunet langsung dari antarmuka obrolan:
- Kirim Naskah dengan AI Redaktur Otomatis — Penulis cukup mengetik atau mendiktekan naskah secara beruntun ke WhatsApp. Avika akan mengumpulkan seluruh pesan, lalu meminta AI Gemini untuk merapikan ejaan, kapitalisasi, dan struktur paragraf menjadi format HTML bersih — tanpa mengubah satu kata pun dari gaya bahasa asli penulis.
- Lapak Inklusif untuk Wirausahawan Disabilitas — Pelaku UMKM disabilitas dapat mendaftarkan toko dan mengunggah produk ke website Kartunet.com yang sudah eksis lebih dari 20 tahun langsung dari WhatsApp. Begitu foto produk dikirim, Avika menggunakan Gemini Vision API untuk secara otomatis menganalisis gambar dan menghasilkan teks deskripsi alternatif (alt-text) yang aksesibel bagi pengguna pembaca layar (screen reader) — fitur yang selama ini menjadi hambatan utama bagi wirausahawan disabilitas netra di platform e-commerce konvensional.
- Baca Artikel dan Kamus Disabilitas — Seluruh konten Kartunet, termasuk artikel terbaru dan Kamus Disabilitas (Glosarium), dapat diakses dalam format teks WhatsApp yang ramah pembaca layar, dipaginasi satu per satu agar tidak membebani pengguna.
- Manajemen Profil dan Live Chat — Pengguna dapat memperbarui profil penulis, berlangganan newsletter, hingga terhubung langsung dengan tim editorial Kartunet melalui fitur live chat dua arah yang menjembatani WhatsApp dan Telegram.
Teknologi AI yang Berpihak pada Inklusi
Yang membedakan Avika dari sekadar chatbot biasa adalah pendekatannya yang disebut AI-First Accessibility. Setiap fitur dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan nyata penyandang disabilitas sejak awal, bukan sebagai tambahan di kemudian hari.
Gemini Vision dimanfaatkan bukan sekadar untuk kecanggihannya, melainkan spesifik untuk menyelesaikan masalah nyata: ketimpangan akses bagi wirausahawan tunanetra yang selama ini tidak bisa mendeskripsikan produk visual mereka secara mandiri. Sementara Gemini NLP digunakan untuk merobohkan hambatan kepenulisan — membiarkan penulis berfokus pada ide, bukan pada teknis penulisan.
"Saya seorang tunanetra. Saya tahu persis hambatan apa yang ada ketika ingin berkontribusi secara digital — mulai dari mengisi formulir yang tidak aksesibel, mengunggah gambar tanpa bisa melihatnya, hingga menulis artikel yang formatnya berantakan karena keterbatasan alat bantu," ujar Dimas P. Muharam, peneliti dan co-founder Kartunet yang juga merupakan inisiator dan pengembang Avika. "Avika lahir dari rasa frustrasi itu, dan dibangun dengan keyakinan bahwa teknologi AI seharusnya menjadi penyeimbang, bukan pelebur kesenjangan."
Avika dikembangkan dengan pendekatan kolaboratif antara keahlian komunitas dan kecerdasan buatan — Dimas merancang seluruh arsitektur alur percakapan, logika bisnis, dan standar aksesibilitas, sementara AI digunakan sebagai mitra teknis dalam proses implementasi.
Cara Menggunakan Avika
Mengakses Avika sangat mudah. Kunjungi kartunet.com/avika dari ponsel, dan WhatsApp akan terbuka secara otomatis dengan sesi obrolan bersama Avika yang sudah siap. Tidak diperlukan pendaftaran awal — Avika akan memandu pengguna melalui proses perkenalan singkat pada percakapan pertama.
Tersedia pula tombol Chat Avika yang kini hadir di seluruh halaman situs kartunet.com sebagai akses cepat.
Tentang Kartunet
Kartunet (Karya Tunanetra) adalah platform pengembangan kepemimpinan bagi pemuda penyandang disabilitas dan advokat aksesibilitas digital di Indonesia, berdiri sejak 19 Januari 2006. Kartunet beroperasi sebagai Laboratorium Talenta yang mempersiapkan pemuda disabilitas untuk menjadi pemimpin kompeten di era ekonomi digital, dengan komitmen penuh terhadap standar aksesibilitas web WCAG 2.1 Tingkat AAA.

