Lompat ke Konten Utama

Desain Universal Menguntungkan Semua Orang

Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
4 menit baca
Jumlah pembaca
12 kali dibaca
WhatsApp X

Kartunet - Ketika mendengar kata "aksesibilitas", banyak pengembang dan pemilik bisnis digital langsung berpikir bahwa hal ini hanyalah soal mengakomodasi kelompok minoritas penyandang disabilitas. Padahal, mengadopsi prinsip aksesibilitas digital sejatinya adalah penerapan dari Desain Universal—sebuah pendekatan yang pada akhirnya akan memberikan keuntungan bagi semua pengguna, tanpa terkecuali.

Mengenal Konsep Desain Universal dan Curb Cut Effect

Konsep Desain Universal pertama kali dicetuskan oleh seorang arsitek bernama Ron Mace. Ia mendefinisikan desain universal sebagai perancangan produk dan lingkungan agar dapat digunakan oleh semua orang, sejauh mungkin, tanpa memerlukan adaptasi atau desain khusus. Konsep ini berpegang pada prinsip bahwa produk haruslah adil, fleksibel, intuitif, dan tidak membutuhkan usaha fisik yang berlebihan.

Dalam dunia fisik, contoh penerapan desain universal yang paling terkenal adalah jalan landai atau trotoar miring (curb cuts). Awalnya, fasilitas ini diperjuangkan secara hukum agar pengguna kursi roda dapat melintasi trotoar dengan mandiri. Namun pada praktiknya, jalan landai tersebut ternyata sangat mempermudah orang tua yang mendorong kereta bayi, pelancong yang menarik koper, hingga kurir pengantar barang. Fenomena di mana fitur aksesibilitas bagi disabilitas terbukti membantu masyarakat luas ini sering disebut sebagai Curb Cut Effect.

Kebutuhan Akses: Permanen, Sementara, dan Situasional

Untuk memahami mengapa desain universal menguntungkan semua orang di ruang digital, kita perlu menyadari bahwa disabilitas atau "hambatan akses" tidak selalu bersifat permanen. Microsoft memetakan kebutuhan akses pengguna ke dalam tiga kategori:

  • Permanen: Misalnya, seseorang yang lahir dengan kondisi Tuli, tunanetra, atau hanya memiliki satu lengan.
  • Sementara: Misalnya, seseorang yang mengalami infeksi telinga, katarak, atau lengan yang patah karena kecelakaan.
  • Situasional: Misalnya, seseorang yang tidak bisa menggunakan tangannya karena sedang menggendong bayi, tidak bisa melihat layar dengan saksama karena sedang mengemudi, atau kesulitan mendengar audio karena berada di kafe yang sangat bising.

Melihat kategori di atas, kita menyadari bahwa setiap manusia cepat atau lambat pasti akan mengalami situasi di mana mereka membutuhkan fitur aksesibilitas digital.

Bukti Nyata Aksesibilitas Menguntungkan Semua Orang

Di ranah digital, efek kemudahan ini (Curb Cut Effect) sangat sering kita jumpai. Berikut adalah beberapa bukti bagaimana fitur yang dirancang untuk disabilitas justru menguntungkan masyarakat umum secara luas:

1. Takarir (Captions) dan Subtitle

Takarir teks tersinkronisasi pada video pada awalnya diwajibkan untuk menjamin aksesibilitas informasi bagi teman Tuli dan mereka yang kurang dengar. Kenyataannya, data menunjukkan bahwa 85% video di Facebook ditonton dalam keadaan tanpa suara (mute) namun dengan takarir menyala. Di platform Netflix, 40% pengguna globalnya menyalakan takarir setiap saat. Takarir juga sangat krusial bagi orang yang sedang belajar bahasa asing, atau siapa saja yang sedang menonton video di perpustakaan tanpa earphone.

2. Teks Alternatif (Alt Text) Meningkatkan SEO

Menyediakan teks alternatif (alt text) pada gambar mutlak diperlukan agar aplikasi pembaca layar (screen reader) dapat mendeskripsikan konten visual tersebut kepada pengguna tunanetra. Di sisi lain, mesin pencari seperti Google juga "buta" terhadap gambar. Mereka membaca kode alt text untuk memahami dan mengindeks konteks dari gambar tersebut. Oleh karena itu, menerapkan aksesibilitas melalui alt text secara langsung akan mendongkrak peringkat Search Engine Optimization (SEO) sebuah situs web.

3. Kontras Warna yang Jelas

Memastikan teks memiliki rasio kontras yang tinggi terhadap latar belakangnya adalah standar panduan aksesibilitas untuk membantu mereka yang mengalami low vision (penglihatan lemah). Namun, bagi pengguna arus utama, kontras warna yang baik ini sangat menyelamatkan mereka saat harus membaca teks di layar gawai di bawah paparan sinar matahari yang sangat menyilaukan.

Kesimpulan

Membangun teknologi yang inklusif bukanlah sekadar tindakan yang benar secara moral dan kepatuhan hukum, melainkan sebuah keputusan bisnis dan desain yang cerdas. Ketika teknologi arus utama (mainstream) dirancang agar dapat diakses oleh semua ragam kondisi manusia, fitur-fitur aksesibilitas tersebut secara otomatis akan meningkatkan usabilitas bagi populasi umum. Desain universal memastikan bahwa ruang digital kita ramah untuk semua orang, di segala situasi.


Referensi:

  • United Nations. Convention on the Rights of Persons with Disabilities.
  • Lazar, J. (2015). Ensuring Digital Accessibility through Process and Policy. Morgan Kaufmann Publishers.
  • Mancilla, R., & Frey, B. A. (2023). Guide to Digital Accessibility: Policies, Practices, and Professional Development. Taylor and Francis.
  • Firth, A. (2024). Practical Web Accessibility: A Comprehensive Guide to Digital Inclusion. Apress.

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik edukasi publik dan aksesibilitas digital.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.