Tunanetra Ini Dapat Melihat Lagi Berkat Teknologi
- Penulis
- Dimas P. Muharam
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 1 menit baca
- Jumlah pembaca
- 3 kali dibaca
Kategori: Teknologi Inklusif
Tag: mata bionik
Jakarta, Kartunet - Teknologi membuat sesuatu di dunia ini yang tadinya mustahil menjadi mungkin. Bahkan seorang tunanetra yang sudah kehilangan penglihatan bertahun-tahun, kini ada kemungkinan dapat melihat kembali dengan bantuan teknologi.
Adalah Larry Hester (66), pria asal Amerika Serikat, yang telah mengalami ketunanetraan lebih dari 30 tahun. Ada kelainan pada retina yang bernama retinitis pigmentosa sehingga membuat Larry tidak bisa melihat apapun.
Namun baru-baru ini Larry dapat melihat kembali berkat kemajuan teknologi yang diberi nama 'Mata bionik'. Mata bionik merupakan suatu alat yang bertugas menangkap cahaya di mata melalui sensor yang ditanam pada mata.
Larry merupakan pasien ketujuh yang menggunakan teknologi mata bionik di Amerika Serikat. Walaupun penglihatan yang dihasilkan alat ini tidak sama dengan penglihatan yang dimiliki oleh manusia dengan mata berfungsi normal, dalam arti masih berupa bayangan cahaya yang terbagi dari cahaya terang dan gelap tetapi Larry setidaknya bisa melihat suasana disekitarnya.
Kemajuan teknologi seperti mata bionik ini yang diharapkan terus dikembangkan untuk jadi solusi mereka yang mengalami gangguan penglihatan. Sudah seyogyanya teknologi dibuat itu sebagai solusi dan mempermudah hidup manusia. Bukan malah disalah-gunakan untuk hal-hal negatif yang malah merugikan kehidupan. Semoga makin banyak pihak yang peduli dan ikut berkontribusi dalam pengembangan teknologi sejenis.(DPM)
sumber: Citizen 6
Tentang Penulis
Editor-in-chief Kartunet.com. Hobi baca, menulis, dan mendengarkan audiobook.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Artikel Terkait
Belajar dari Certificate of Visual Impairment untuk Tata Kelola Layanan Disabilitas di Inggris
Birokrasi layanan disabilitas di Indonesia masih rumit dan sering kali salah sasaran. Pelajari bagaimana sistem Certificate of Visual Impairment (CVI) di Inggris mengintegrasikan data rumah sakit langsung ke layanan sosial, dan mengapa sistem ini penting diadopsi untuk memperbaiki pendataan disabilitas (DTKS) di Indonesia.
Pentingnya Profesi Pendamping Klinik Mata (ECLO): Menjembatani Pasien Tunanetra dari Rumah Sakit ke Layanan Sosial
Setelah didiagnosa kehilangan penglihatan, pasien kerap bingung mencari rehabilitasi. Kenali profesi Eye Clinic Liaison Officer (ECLO) dari sistem CVI Inggris yang bertugas menjembatani medis dan layanan sosial, serta pentingnya adaptasi peran ini di rumah sakit Indonesia.