Lompat ke Konten Utama

Puisi: Tulang Rusuk

Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
1 menit baca
Jumlah pembaca
7 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: KARFIKSI

Unduh Artikel PDF

Di pesisir pantai, Aku tenggelam dalam lamunan. Lamunan tentang hatiku Yang terombang-ambing ombak, Ombak rasa yang kadang menenggelamkanku, Hingga aku megap-megap kehabisan napas. Atau kadang membuatku terapung, Tak berdaya ingin meraih daratan. Di dalam lautan aku memandangmu, Kau, yang selama ini kucoba lupakan. Namun nyatanya kau tetap di sana. Di atas air kupandang lagi dirimu, Samar namun aku tahu kau tetap di sana. Kucoba menyingkirkanmu, Namun aku tak berdaya. Kucoba mencari bayangan lain, Sempat bertahan sekian lama, Tapi bayanganmu mengembalikanku ke bawah lautan. Saat kucoba selami rasaku, Aku sadar, aku merindukanmu. Aku sadar aku masih mencintaimu. Aku sadar betapa kuatnya cintaku padamu. Aku sadar betapa rasa ini tak mampu kuhapuskan, Apalagi dalam sekejap mata. Rindu ini tak dapat kupungkiri, Ternyata masih kekal seperti sebelumnya. Aku menyesal karena mengabaikan rindu ini. Maafkan aku. Aku terlalu bodoh untuk melupakanmu. Aku yang sekian lama memeluk tulang rusuk, Yang kujaga untukmu. Tapi aku mencoba melepaskan tulang rusuk ini, Untuk bayangan lain yang baru kutemui. Maafkan aku. Aku mengingkari janjiku. Tapi aku kan berusaha, Untuk menjaga tulang rusuk ini Hanya untukmu, Hanya untuk kauluruskan seperti seharusnya.

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik puisi.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.