Lompat ke Konten Utama

Mendobrak Stigma Jurusan, Mengapa Pendidikan STEM Sangat Krusial untuk Karier Tunanetra

Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
3 menit baca
Jumlah pembaca
6 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: Isu Disabilitas

Kartunet - Secara historis, mahasiswa tunanetra kerap kali diarahkan untuk menempuh pendidikan pada jurusan-jurusan konvensional, seperti ilmu humaniora, bahasa, ilmu sosial, pendidikan luar biasa (PLB), atau diarahkan pada pekerjaan tradisional seperti terapis pijat dan pemusik. Keengganan untuk mengambil bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) biasanya didasari oleh ketakutan dan asumsi bahwa subjek tersebut terlalu rumit, penuh dengan grafik, serta mustahil dipahami tanpa indra penglihatan.

Namun, menghindari STEM berarti menutup pintu terhadap berbagai peluang karier di era digital. Sudah saatnya kita mendobrak stigma jurusan ini dan menyadari bahwa penyandang tunanetra sangat mampu bersaing di bidang sains dan teknologi.

Mengapa Pendidikan STEM Sangat Krusial?

Matematika sering kali disebut sebagai "Ibu dari Segala Ilmu Pengetahuan" (The Mother of All Science). Tanpa penguasaan dasar-dasar matematika atau logika sains, seseorang akan kesulitan untuk memasuki berbagai bidang profesional modern. Organisasi internasional seperti International Council for Education of People with Visual Impairment (ICEVI) dan The Nippon Foundation sangat menekankan pentingnya pendidikan STEM bagi tunanetra. Tujuannya jelas: agar tunanetra dapat bersaing secara setara di pasar tenaga kerja terbuka dan tidak lagi terkurung pada bidang-pekerjaan yang secara eksklusif dilabeli "hanya untuk tunanetra".

Mendobrak Hambatan dengan Teknologi Asistif

Anggapan bahwa ilmu pasti tidak bisa diakses oleh tunanetra kini telah usang. Saat ini, ada begitu banyak perangkat dan teknologi asistif yang menjembatani hambatan visual dalam mempelajari STEM:

  • Alat Bantu Dasar: Penggunaan Abacus (sempoa) terbukti sangat efektif membantu siswa tunanetra melakukan perhitungan mental yang kompleks sejak usia dini.

  • Kode Braille Khusus: Untuk menerjemahkan rumus dan persamaan yang rumit, tunanetra dapat menggunakan kode Nemeth Braille yang dirancang khusus untuk matematika dan sains.

  • Perangkat Lunak Komputasi dan Grafik: Mahasiswa tunanetra kini tidak perlu lagi menggambar secara manual. Mereka menggunakan aplikasi Audio Graphing Calculator, Desmos (kalkulator grafik online), program LaTeX, hingga aplikasi ponsel pintar seperti CalcTastic untuk melakukan perhitungan tingkat lanjut dan menghasilkan output visual yang dapat dibaca oleh dosen awas.

  • Aplikasi Pembaca Layar (Screen Reader): Perangkat lunak seperti JAWS dan NVDA (Non Visual Desktop Access) memungkinkan tunanetra untuk mengoperasikan komputer secara mandiri, menulis kode (coding), dan melakukan analisis data.

Bukti Nyata Kesuksesan di Dunia Kerja

Bila diberikan kesempatan dan dukungan aksesibilitas, penyandang tunanetra mampu mencetak prestasi luar biasa di bidang STEM. Di Indonesia, berkat advokasi yang terus berjalan, program studi Teknik Informatika mulai membuka diri menerima mahasiswa tunanetra, seperti yang dipelopori oleh Universitas Pamulang.

Di dunia kerja, kita dapat melihat contoh sukses nyata. Achmad Setio Adinugroho, atau Nugi, adalah seorang tunanetra low vision yang sukses membuktikan kemampuannya sebagai back-end programmer di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Di kancah internasional, ada Giang Nguyen, seorang insinyur perangkat lunak (Software Engineer) tunanetra total asal Vietnam yang berhasil menembus kerasnya seleksi dan kini bekerja untuk Apple Inc. di Singapura.

Kesimpulan

Kunci dari keberhasilan tunanetra di bidang STEM bukanlah pada ketiadaan materi yang sulit, melainkan pada kehadiran akomodasi yang tepat dan guru yang mau berinovasi. Membekali penyandang tunanetra dengan pendidikan STEM adalah investasi terbaik untuk memberdayakan mereka menjadi tenaga profesional, analis, hingga pembuat program yang diakui kapasitasnya di abad ke-21 ini. (DPM)


Referensi:

  • Manduchi, Roberto; Kurniawan, S. Assistive Technology for Blindness and Low Vision.

  • Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni). Panduan Perekrutan dan Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Tunanetra.

  • The Nippon Foundation & ICEVI. Transition to Employment: A Path to Success for People with Visual Impairment.

  • Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik pendidikan inklusif, karier, dan disabilitas netra.

    Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.

    Berlangganan Newsletter

    Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

    Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.