Hariku pucat pasi karena kasih tak lagi mewarnai Harga diri terlucuti oleh sorot mata penuh diskriminasi Mimpiku mati suri tanpa kutahu kapan terbangun lagi Nyali pun bersembunyi lihat diri tak lagi punyai arti Aku nampak kerdil di antara hingar binger duniawi Tak tahu harus pergi atau tetap berdiam disini Kalimat itu tersaji kala kutanyai hati Namun tak berarti kubetah melebur dalam sunyi ini Ingin hati berdiri lalu melangkah pasti Berdendang lantunkan melodi bangunkan mimpi Menyulam serpihan malam menjadi pagi yang berseri Melarung kepedihan ke tengah lautan tak bertepi Namun apa yang terjadi? Inginku tadi tak terbukti Kaki tak mampu berlari bahkan tuk sekedar berdiri Takdir seakan mengikatku disini Membelengguku di ruang lembab tanpa terang penuhi isi Entah kapan ku kan menepi tuk temui arti hidup ini
Akulah si Kerdil
- Penulis
- eka
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 1 menit baca
- Jumlah pembaca
- 5 kali dibaca
