Lompat ke Konten Utama

Tunanetra, Kamera, dan ISO: Ini Alasan Saya Masuk Ilmu Komunikasi

Ilustrasi artikel: Tunanetra, Kamera, dan ISO: Ini Alasan Saya Masuk Ilmu Komun
Ilustrasi artikel: Tunanetra, Kamera, dan ISO: Ini Alasan Saya Masuk Ilmu Komun
Penulis
lalu?
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
5 menit baca
Jumlah pembaca
63 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: Inspirasi

Ketika saya memutuskan memilih Ilmu Komunikasi, banyak orang bilang, "Pas banget. Jurusan itu bagus untuk tuna netra seperti kamu. Kan banyak belajar bicara."

Saya mengangguk. Tapi di dalam hati saya bertanya-tanya.

Jujur

Jujur, saya sempat khawatir. Dari yang saya baca sebelumnya, Ilmu Komunikasi ternyata bukan hanya tentang berbicara. Jauh lebih kompleks dari itu. Ada teori, ada riset, ada media, ada psikologi.

Bahkan ada mata kuliah tentang kamera. ISO, shutter speed, aperture. Saya sempat berpikir, "Ini bisa saya pelajari nggak ya?"

Tapi ada satu hal yang selalu saya yakini. Komunikasi adalah saya. Komunikasi adalah bagian dari hidup saya.

Saya Mencintai Berbicara

Saya mencintai berbicara. Saya menyukai kamera, video, editing.

Dan ternyata saya salah. Teori kamera seperti ISO dan lain-lain itu bisa dipelajari oleh tuna netra. Dengan cara mendengar, dengan cara merasakan, dengan cara memahami logikanya.

Mungkin saya tidak melihat hasilnya dengan mata. Tapi saya melihatnya dengan pemahaman.

Saya Hanya Menempuh 7 Semester

Saya hanya menempuh 7 semester. Tiga setengah tahun yang rasanya cepat, padat, tapi penuh makna.

Saya masuk dengan keraguan, dan keluar dengan keyakinan.

Bahwa Ilmu Komunikasi bukan cuma soal bicara. Ia tentang bagaimana kita didengar, dipahami, dan bagaimana kita membuat orang lain merasa dilihat, bahkan ketika kita sendiri tidak melihat.

Selama 3

Selama 3,5 semester saya berkuliah di program studi Ilmu Komunikasi, banyak hal baru yang saya temui. Awalnya saya berpikir bahwa kuliah komunikasi hanya akan berkutat pada berbicara di depan umum, menjadi pembawa acara, atau tampil di televisi. Ternyata bayangan saya salah besar. Ilmu Komunikasi jauh lebih luas dan kompleks dari yang saya kira.

Di awal kuliah, saya diperkenalkan dengan berbagai teori dasar. Ada teori komunikasi, komunikasi massa, komunikasi antarpersonal, sampai etika komunikasi. Jujur, di awal saya merasa kewalahan karena harus banyak membaca dan menghafal. Tapi lama-kelamaan saya mulai menikmati. Ternyata memahami teori itu penting agar kita tahu kenapa orang bisa salah paham, kenapa pesan bisa tidak sampai, dan bagaimana cara menyampaikan sesuatu agar lebih efektif. Selain belajar teori, saya juga pernah ikut menjadi panitia dalam pembuatan film yang berjudul "Benang Kusut". Film itu diproduksi oleh angkatan saya, yaitu Angkatan 21. Ada penayangan khusus yang dihadiri oleh dosen, civitas akademik kampus, dan beberapa tamu undangan. Penayangannya juga diikuti oleh banyak mahasiswa se-Riau. Dari situ saya belajar bahwa di balik layar, kerja tim dan manajemen acara juga bagian dari ilmu komunikasi.

Ternyata kuliah Ilmu Komunikasi bukan hanya teori saja. Ada juga banyak sekali praktik yang harus kami jalani. Mulai dari mata kuliah Fotografi. Kami diarahkan untuk mengambil foto makanan, atau yang biasa disebut food photography. Dari penataan cahaya, sudut pengambilan, sampai pemilihan properti semuanya dipelajari. Hasil karya kami bahkan dipamerkan di pameran fotografi yang disaksikan oleh banyak mahasiswa se-Kota Pekanbaru. Jujur waktu itu saya bangga sekali bisa ikut andil di sana. Selain itu ada praktik Videografi. Kami belajar membuat video dari nol. Mulai dari bikin konsep, pengambilan gambar, sampai proses editing. Ada juga event-event kampus lain yang mengasah kemampuan kami di bidang media. Sebagai tunanetra, saya sangat dilibatkan di semua kegiatan tersebut. Awalnya saya sempat ragu, tapi ternyata semua bisa diatasi dengan cara saya sendiri. Saya menggunakan logika, pendengaran, dan arahan dari teman serta dosen. Tidak berhenti di situ. Ada juga praktik Public Speaking. Di sini kami diajarkan cara berbicara di depan umum, memperhatikan postur, intonasi, dan gestur tubuh. Kami juga dapat materi grooming. Kami diajarkan untuk berpenampilan menarik dan rapi. Karena ternyata komunikasi bukan hanya soal berbicara untuk menyampaikan pesan. Penampilan juga ikut membantu membangun kepercayaan orang lain. Saya sebagai tunanetra juga ikut diajarkan makeup, cara memilih pakaian yang cocok, dan cara merawat diri agar tetap rapi. Dari semua proses itu saya belajar satu hal. Bahwa saya tidak kalah dalam urusan teori maupun praktik dari teman-teman saya. Semua punya cara belajar masing-masing, dan saya punya cara saya sendiri.

Selain Praktik

Selain praktik, ada juga mata kuliah yang mengharuskan saya untuk banyak menulis. Seperti mata kuliah Jurnalistik Digital. Di sana kami belajar menulis berita, feature, dan konten untuk media online. Dalam mata kuliah Teori Ilmu Komunikasi, kami juga diarahkan untuk menulis jurnal mengenai teori yang kami kuasai. Saya sebagai tunanetra tentu ikut serta dalam proses penulisan itu. Saya melakukan riset dengan membaca banyak jurnal menggunakan pembaca layar. Jika dibutuhkan, saya minta bantuan teman untuk membacakan grafik atau tabel. Untuk menulis, saya mengetik langsung di laptop saya. Hal yang paling membanggakan, saya juga dipercaya untuk menulis jurnal berbahasa Inggris dan mempresentasikannya di konferensi internasional yang diadakan oleh kampus saya. Di sana hadir para profesor dari berbagai universitas luar negeri, seperti dari Tokyo, Malaysia, dan negara lainnya. Dari semua pengalaman itu saya belajar satu hal. Menjadi tunanetra bukanlah penghalang untuk terjun di bidang komunikasi. Semua bisa diusahakan dengan cara masing-masing.

Jadi Ilmu Komunikasi bukan hanya tentang berbicara, teori, dan praktik berbicara. Lebih dari itu. Ada praktik foto, praktik video, ada belajar memperhatikan penampilan, ada riset, ada menulis, dan masih banyak lagi. Bagi saya sebagai penyandang tunanetra, masuk ke Ilmu Komunikasi sangat membuka wawasan sekali. Terutama di bagian komunikasi antarpersonal. Kemampuan saya dalam mendengar, memahami, dan menyampaikan pesan jadi semakin terasah. Selain itu, Ilmu Komunikasi juga mengajarkan banyak hal dan bisa masuk ke berbagai bidang pekerjaan. Lulusannya bisa jadi jurnalis, content creator, PR, penyiar, peneliti, dan profesi lainnya. Tapi ada beberapa hal yang mesti diketahui teman-teman tunanetra yang ingin masuk ke Ilmu Komunikasi. Kalian harus tahu betul kampus yang akan kalian masuki. Karena tidak cukup hanya dengan label kampus inklusi saja. Lihat bagaimana alumninya, bagaimana dosen-dosennya, dan bagaimana kampus tersebut menangani mahasiswa disabilitas. Dukungan itu sangat penting agar kita bisa belajar dengan maksimal. Karena komunikasi memang sekompleks itu. Ia menyentuh semua aspek kehidupan kita. Dan untuk saya pribadi, komunikasi adalah bagian dari diri saya. Komunikasi adalah skill saya. Komunikasi adalah cara saya untuk menunjukkan ke dunia bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya.

EASTER EGG DITEMUKAN!

Ketik kode EMPATI-NETRA-1740

pada Menu Game Si Paling Inklusif (membuka tab baru) di WA Avika untuk mengklaim 10 Koin!

Buruan! Sisa kuota hanya untuk 13 orang tercepat.

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik metode belajar, karier, disabilitas netra, refleksi, kisah hidup, dunia kampus, dan konten multimedia.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Anda dapat mengirimkan tulisan dengan mudah serta membaca panduan selengkapnya di halaman Kirim Naskah.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika