Ketika saya memutuskan memilih Ilmu Komunikasi, banyak orang bilang, "Pas banget. Jurusan itu bagus untuk tuna netra seperti kamu. Kan banyak belajar bicara."
Saya mengangguk. Tapi di dalam hati saya bertanya-tanya.
Jujur, saya sempat khawatir. Dari yang saya baca sebelumnya, Ilmu Komunikasi ternyata bukan hanya tentang berbicara. Jauh lebih kompleks dari itu. Ada teori, ada riset, ada media, ada psikologi.
Bahkan ada mata kuliah tentang kamera. ISO, shutter speed, aperture. Saya sempat berpikir, "Ini bisa saya pelajari nggak ya?"
Tapi ada satu hal yang selalu saya yakini. Komunikasi adalah saya. Komunikasi adalah bagian dari hidup saya.
Saya mencintai berbicara. Saya menyukai kamera, video, editing.
Dan ternyata saya salah. Teori kamera seperti ISO dan lain-lain itu bisa dipelajari oleh tuna netra. Dengan cara mendengar, dengan cara merasakan, dengan cara memahami logikanya.
Mungkin saya tidak melihat hasilnya dengan mata. Tapi saya melihatnya dengan pemahaman.
Saya hanya menempuh 7 semester. Tiga setengah tahun yang rasanya cepat, padat, tapi penuh makna.
Saya masuk dengan keraguan, dan keluar dengan keyakinan.
Bahwa Ilmu Komunikasi bukan cuma soal bicara. Ia tentang bagaimana kita didengar, dipahami, dan bagaimana kita membuat orang lain merasa dilihat, bahkan ketika kita sendiri tidak melihat.
EASTER EGG DITEMUKAN!
Ketik kode EMPATI-NETRA-1740
Buruan! Sisa kuota hanya untuk 20 orang tercepat.

