Lompat ke Konten Utama

Es Batu, Baju Bersih, dan Ruang Kelas yang Tak Pernah Terlihat

Siswa tunanetra belajar daring di ruang kelas virtual.
Siswa tunanetra belajar daring di ruang kelas virtual.
Penulis
Redaksi
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
7 menit baca
Jumlah pembaca
2 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: Kabar Kartunet

"Awan itu kayak apa sih, Kak?"

Pertanyaan sesederhana itu pernah membuat Muhammad Alfian terdiam sejenak di depan mikrofon. Muridnya, seorang anak tunanetra yang belum pernah sedikit pun melihat dunia, benar-benar ingin tahu. Tidak ada gambar yang bisa ditunjukkan, tidak ada benda yang bisa diraba langsung, hanya suara yang menghubungkan mereka melalui panggilan grup WhatsApp.

Alfian akhirnya menjawab, "Awan itu dingin, kayak es batu." Kemudian ketika muridnya bertanya soal warna putih, ia menjawab lagi, "Putih itu dingin dan bersih, kayak baju kamu yang baru dicuci."

Dari percakapan-percakapan kecil semacam itulah, sebuah ruang kelas tanpa dinding bernama School Sharing for the Blind bertahan dan tumbuh selama dua tahun terakhir. Dan malam itu, melalui sesi "Kartunet Ngobrol Bareng", Kartunet berkesempatan duduk santai bersama mereka untuk mendengar ceritanya dari awal.

Hadir dari Kartunet, Banyu Nugraha bersama pendiri, Dimas P Muharam. Dari School Sharing for the Blind, ada Faizalil Qisti yang akrab disapa Rahma selaku pendiri, Farah Mujahidah Setyaninggrum sebagai wakil kesiswaan sekaligus pengajar Bahasa Indonesia, Muhammad Alfian dari tim IT, dan Tama yang kini mengemban amanah sebagai pelaksana tugas kepala sekolah.

Bermula dari Rasa "Gabut"

Kalau ditanya siapa yang merancang School Sharing for the Blind dari awal dengan proposal matang dan visi besar, jawabannya, tidak ada yang seperti itu. "Awalnya modal 'gabut' saja sih, Kak," kata Rahma sambil tertawa kecil mengenang asal mulanya.

Sekitar satu setengah tahun yang lalu, Rahma—yang saat itu masih baru mengenal dunia tunanetra karena sebelumnya lebih banyak berkegiatan di lingkungan orang awas—bertemu seorang teman yang tidak bersekolah. Bukan karena tidak mau, tapi karena dua alasan yang menyakitkan sekaligus: ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan, dan luka lama akibat perundungan yang pernah ia alami.

Rahma tidak punya panduan, tidak punya kurikulum, apalagi rencana jangka panjang. Ia hanya punya niat sederhana: mengajari temannya sendiri, pelan-pelan, melalui suara. "Sebenarnya jadi guru dadakan saja, Kak. Ya sudah, lanjut saja, tidak pakai referensi apa-apa," ujarnya.

Yang membuat cerita ini terasa istimewa bukan hanya karena ia mulai tanpa modal apa pun, tapi karena ia benar-benar menyelesaikannya. Perlahan, Rahma dan teman-temannya mendekati orang tua anak tersebut, berkomunikasi pelan-pelan, mengurus kepindahan ke sekolah baru. Prosesnya panjang dan tidak instan—tetapi hari ini, anak yang menjadi alasan lahirnya komunitas ini sudah kembali duduk di bangku sekolah formal.

Dari satu murid, satu guru dadakan, dan satu grup WhatsApp kecil, cerita itu terus menular. Relawan pengajar berdatangan, murid-murid baru bergabung, dan nama yang dulu masih panjang dan rumit itu perlahan menyederhana menjadi School Sharing for the Blind.

Menjelaskan Dunia Melalui Kata

Mengajar tanpa bisa saling menatap wajah saja sudah menantang. Mengajar anak-anak yang belum pernah melihat warna, bentuk, atau bahkan awan sekalipun. Itu jenis tantangan yang berbeda.

Alfian menceritakan bagaimana ia dan pengajar lain harus terus-menerus mencari analogi baru untuk hal-hal yang biasanya cukup dijelaskan melalui sentuhan langsung di sekolah luar biasa. Bangun datar, bangun ruang, trapesium, lingkaran—semua benda yang di kelas konvensional tinggal diletakkan di tangan siswa untuk diraba, di sini harus diterjemahkan melalui kata demi kata, dicoba, gagal, lalu dicoba lagi.

"Kami mencari pendekatan yang paling bisa mereka mengerti," ujar Alfian. Satu-satunya cara untuk tahu apakah sebuah analogi berhasil adalah dengan terus mencobanya di kelas, mendengar reaksi murid, lalu memperbaikinya di kelas berikutnya.

Dimas, yang juga berlatar belakang di bidang penelitian pendidikan, menyebut proses ini sebagai sesuatu yang berharga justru karena belum banyak terdokumentasikan—bahkan oleh guru-guru berpengalaman di sekolah luar biasa sekalipun, yang selama ini terbiasa mengandalkan kehadiran fisik dan benda nyata di ruang kelas. "Hal-hal seperti itu akan diketahui setelah dicoba-coba," katanya, mengingatkan bahwa apa yang tampak seperti keterbatasan justru sedang melahirkan metode baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Dan di balik segala keterbatasannya, sistem daring inilah yang justru menjadi kekuatan terbesar School Sharing for the Blind. Untuk anak-anak tunanetra di pelosok Indonesia—negara kepulauan yang jarak antarwilayah bisa memisahkan seseorang dari sekolah terdekat—cukup bermodalkan ponsel dan sinyal internet, mereka bisa duduk di "kelas" tanpa perlu diantar, tanpa perlu biaya transportasi, tanpa harus menunggu orang tua yang sibuk bekerja.

Alasan yang Membuat Mereka Bertahan

Tantangan sebesar itu tentu tidak cukup dijalani hanya dengan modal keisengan. Ada sesuatu yang membuat masing-masing pengajar terus datang, minggu demi minggu, tanpa bayaran.

Tama punya jalan masuk yang tak terduga: ia mulai tertarik justru setelah tanpa sengaja mendengar siaran langsung rapat internal komunitas ini di platform komunikasi audio. Awalnya sama sekali tidak berniat menjadi pengajar, hanya penasaran. Kini, hampir setahun berjalan, ia dipercaya memegang peran pelaksana tugas kepala sekolah—jabatan yang, seperti candanya sendiri, "tidak digaji, jadi tidak tahu sudah berapa lama."

Bagi Tama, ada satu momen yang tidak bisa ia lupakan: seorang murid yang awalnya malas-malasan, enggan belajar, perlahan berubah semangat. Sampai-sampai jika sesi belajar hendak diakhiri, ia justru enggan berhenti. "Dari situ saya paling berkesan," katanya. "Ternyata anak ini bisa, ya."

Farah, yang justru berlatar belakang pendidikan agama namun mengajar Bahasa Indonesia, mengaku terkejut dengan besarnya rasa ingin tahu murid-muridnya. "Ternyata keingintahuan mereka sangat besar," ceritanya. Mereka bertanya bagaimana rasanya kuliah, bagaimana cara mendaftar sekolah formal, apa saja yang perlu disiapkan—pertanyaan-pertanyaan yang datang dari anak-anak yang sebagian besar masih usia sekolah, 14 sampai 20 tahun, dengan mimpi yang jauh melampaui apa yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Sebuah Video, Sebuah Bukti

Cerita-cerita di atas bukan sekadar narasi yang diceritakan ulang malam itu. School Sharing for the Blind juga mendokumentasikan sebagian perjalanan karya mereka melalui video—salah satunya bisa disaksikan langsung di bawah ini.

<div style="position: relative; padding-bottom: 56.25%; height: 0; overflow: hidden; max-width: 100%; margin: 24px 0;"> <iframe src="https://www.youtube.com/embed/3JZ9YZksq9E" title="School Sharing for the Blind" style="position: absolute; top: 0; left: 0; width: 100%; height: 100%; border: 0;" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen> </iframe> </div>

Ijazah yang Belum Bisa Mereka Berikan

Di balik semua pencapaian itu, ada satu batasan yang belum bisa mereka lewati: School Sharing for the Blind belum bisa menerbitkan ijazah.

Sejauh ini, yang bisa mereka lakukan hanyalah merekomendasikan murid-muridnya untuk melanjutkan ke sekolah formal, atau memberikan semacam surat keterangan belajar. Bukan sertifikat resmi yang diakui negara. Bagi Rahma dan Farah, ini adalah kendala yang terasa berat, karena mereka tahu persis ada murid-murid yang sebenarnya cukup mampu secara akademik, hanya belum punya bukti formal untuk melangkah ke jenjang berikutnya, entah itu untuk melanjutkan sekolah, atau melamar pekerjaan.

Dimas menawarkan sudut pandang lain, bahwa jalan ke arah legalitas semacam itu sebenarnya sudah punya jejak yang bisa ditelusuri, misalnya melalui skema pendidikan kesetaraan Paket C melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang secara resmi diakui setara dengan ijazah SD, SMP, atau SMA, atau model homeschooling yang juga sudah diakui negara. Perbedaannya dengan sekadar "surat rekomendasi", sertifikat semacam ini dapat digunakan murid untuk benar-benar melanjutkan pendidikan atau melamar kerja secara resmi, bukan hanya modal niat baik.

Namun ia juga mengingatkan, akar masalah yang dihadapi murid-murid tunanetra ini tidak selalu sama dengan alasan putus sekolah pada umumnya. Bukan semata soal ekonomi, tetapi kadang kala soal keluarga yang belum yakin anaknya bisa bersekolah, atau akses informasi yang nyaris tidak sampai ke mereka. "Masalah utamanya seperti itu," katanya. Untuk menjawab akar masalah itu, dibutuhkan lebih dari sekadar kelas daring. Dibutuhkan pengakuan formal yang membuka pintu, bukan hanya mengetuknya.

Sebagai langkah kecil menuju keberlanjutan, komunitas ini juga mulai merintis unit jasa, yaitu layanan lepas yang dikerjakan oleh anggota komunitas sendiri, untuk membantu membiayai kebutuhan seperti paket data atau bahan ajar Braille bagi murid-muridnya. Bukan solusi besar, tetapi setidaknya sebuah usaha agar mimpi ini tidak berhenti karena alasan yang paling sederhana: tidak ada dana.

"Jadi PR Kartunet"

Menjelang penghujung obrolan, Dimas menawarkan sesuatu yang sederhana, tetapi bisa jadi berarti besar: memanfaatkan aset yang selama ini dimiliki Kartunet. Domain kartunet.com yang sudah berdiri hampir 20 tahun tanpa putus, otoritas domain yang kuat di mesin pencari, dan jejaring luas di berbagai forum kepemudaan maupun inisiatif sosial. Semua itu ia tawarkan untuk dipakai bersama, bukan untuk Kartunet semata, melainkan untuk teman-teman seperti School Sharing for the Blind.

Ia menegaskan bahwa perwakilan komunitas seperti School Sharing for the Blind akan menjadi bagian penting dari jaringan itu.

Malam itu ditutup bukan dengan kesimpulan besar atau rencana kerja yang muluk-muluk, melainkan dengan sesuatu yang lebih sederhana dan mungkin lebih jujur: sebuah harapan untuk terus saling menyapa. Bahwa dua komunitas yang sama-sama lahir dari keresahan kecil dan tumbuh tanpa panduan baku, kini tahu bahwa mereka tidak sendirian. Dan mungkin, dari percakapan santai tanpa agenda formal semacam ini, kolaborasi yang lebih besar akan tumbuh dengan caranya sendiri.

Sampai hari itu tiba, School Sharing for the Blind akan terus melanjutkan apa yang sudah mereka mulai: menjelaskan awan melalui es batu, menjelaskan dunia melalui kata, satu panggilan suara pada satu waktu.

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik metode belajar, pendidikan inklusif, disabilitas netra, dan kisah hidup.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.