Lompat ke Konten Utama

Radio, Imaji, dan Kopi: Piala Dunia 2026 Tanpa TV

Tunanetra menikmati Piala Dunia 2026 lewat radio dan kopi.
Tunanetra menikmati Piala Dunia 2026 lewat radio dan kopi.
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
3 menit baca
Jumlah pembaca
28 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: Opini

Di tengah riuhnya nobar Piala Dunia 2026 di layar lebar, ada sekelompok orang yang justru mematikan TV. Mereka "menonton" lewat radio, secangkir kopi, dan imajinasi. Namanya debar.

Di Indonesia, kalau Piala Dunia datang, semua mata tertuju ke layar. Warung kopi, kafe, angkringan, restoran, hotel, sampai mal. Semuanya pasang layar lebar. Spanduk "Nobar" ada di mana-mana.

Tapi pernah nggak kita bertanya: bagaimana rasanya menyaksikan pesta bola empat tahunan tanpa menonton sama sekali?

Bagi kebanyakan kita yang bisa melihat, jawabannya pasti: hambar. Seperti sayur tanpa garam. Tidak lengkap.

Ternyata tidak untuk semua orang.

Bagi kawan-kawan tunanetra, sepak bola memang sudah sejak lama "ditonton" dengan cara lain. Yaitu dengan telinga dan imajinasi. Mereka tidak pernah bergantung pada layar. Justru kita yang baru panik ketika sinyal TV mati.

Selama Piala Dunia 2026 berlangsung Juni hingga Juli 2026, radio kembali jadi teman setia. Dan tidak kalah dari kita, secangkir kopi hangat juga jadi ritual wajib begadang mereka.

Istilahnya sederhana: "debar". Dengar Bareng.

Kenapa Debar di RRI Rasanya Beda

Di komunitas disabilitas penglihatan, suasana debar sama riuhnya dengan nobar. Bedanya, sorakan di sini lahir dari narasi. Tidak ada yel-yel yang teriak ke layar. Yang ada adalah tawa, debat taktik, dan teriakan "gooool" kompak yang keluar dari speaker kecil.

Apakah semua stasiun radio melakukan ini? Jawabannya tidak.

Satu-satunya yang konsisten menghidupkan imajinasi jutaan pendengar adalah Lembaga Penyiaran Publik, RRI.

Konsepnya sederhana tapi jenius: membangkitkan lapangan hijau di kepala pendengar lewat suara penyiar yang menjadi "mata" kita.

Di sinilah letak imaji itu bekerja. Penyiar melihat langsung ke layar, lalu ia menerjemahkannya. Dua kesebelasan saling adu. Wasit berlari memimpin pertandingan. Riuh penonton, dentuman drum, sampai desah kecewa ketika peluang gagal. Semua itu diracik jadi kata-kata, lalu dilempar ke telinga kita.

Saya merasakannya sendiri. Lewat radio analog di HP kecil saya. Frekuensi favorit: RRI Pro 3 yang menyiarkan langsung. Malam itu yang bertanding Three Lions, Inggris.

Saya duduk di kamar. Lampu redup. Di meja ada segelas kopi hitam yang sengaja saya seduh sebelum kick-off. Kalau pertandingannya pagi, volume saya keraskan sedikit. Ibu saya di ruang tamu sudah hafal. "Lagi dengerin bola ya?" katanya.

Lengkap sudah. Radio, kopi, dan imaji. Tiga serangkai yang membuat Piala Dunia 2026 tetap bisa dinikmati tanpa satu layar pun.

Debar Bukan Milik Tunanetra Saja

Mungkin kita mengira debar hanya untuk kawan-kawan tunanetra. Ternyata tidak.

Banyak juga kawan awas yang sengaja memilih debar. Alasannya beragam. Ada yang bosan dengan sorakan nobar yang berisik. Ada yang kangen nuansa radio jadul. Ada juga yang sekadar penasaran: seperti apa rasanya membiarkan kepala menghidupkan sendiri jalannya pertandingan.

Dan jujur, rasanya memang beda.

Di nobar, kita disuapi gambar. Di debar, kita diajak bekerja. Kepala kita yang menggambar rumput, gawang, sampai ekspresi pemain. Kita yang memutuskan bola itu melambung tinggi atau menggelinding pelan ke kaki striker.

Semua itu tidak lepas dari jasa para penyiar RRI. Mereka bukan sekadar komentator. Mereka adalah pelukis. Dengan suara, mereka melukis 22 pemain di atas lapangan hijau, lalu menyerahkannya ke imajinasi kita.

Karena itu, debar punya vibes tersendiri. Tidak ada yang sibuk selfie. Tidak ada yang teriak "ganti channel". Semua fokus pada satu suara. Dari peluit awal sampai peluit panjang.

Setelah keluar jawara, Piala Dunia akan selesai. Layar-layar besar akan diturunkan. Keramaian nobar akan hilang.

Tapi semoga "debar" tidak ikut selesai.

Karena dari RRI kita belajar satu hal penting: untuk menikmati sepak bola, kita tidak butuh mata yang sempurna. Kita hanya butuh mau mendengar.

Dan mungkin, gol paling indah memang tidak harus kita lihat. Cukup kita dengar. Lalu kita rasakan.

EASTER EGG DITEMUKAN!

Ketik kode INOVASI-BANGKIT-1739

pada Menu Game Si Paling Inklusif (membuka tab baru) di WA Avika untuk mengklaim 10 Koin!

Buruan! Sisa kuota hanya untuk 19 orang tercepat.

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik aksesibilitas, disabilitas netra, teknologi inklusif, isu sosial, hiburan, inklusi sosial, dan olahraga.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika