Tidak ada pesan baru. Aku kembali meletakkan ponsel ke atas meja lalu menarik napas panjang.
“Fokus. Kerjaan kita masih banyak, Ja.” Adri, teman sekantor yang mejanya tepat di sebelah kananku, ternyata memperhatikan.
“Hahaha.. ini juga fokus, Dri.”
“Fokus apa? Dari tadi kamu ngecekin hape terus. Dasar bucin.”
“Enak aja. Kamu kali bucin.”
Entah mengapa hari ini hatiku rasanya tak tenang. Bohong. Aku sebenarnya tahu mengapa. Kita sama sekali tak bertukar kabar dua hari kemarin. Terakhir kita bertukar kabar di hari Senin. Itu pun hanya sekedar mengucapkan selamat malam dan kamu mengatakan bahwa pasien di ruang praktikmu kali ini lebih banyak dari sebelumnya jadi mungkin minggu ini kamu akan sibuk. Aku sendiri juga terkubur di pekerjaanku minggu ini, sudah tiga hari ini aku pulang setelah isya. Begitu sampai di rumah, rasanya hanya ingin tidur saja.
Headseat yang tadi sempat kulepas, segera kupakai lagi. Aku harus menyelesaikan daftar tamu yang akan diundang dalam pameran Sabtu besok, lalu menghubungi mereka satu per satu. Belum lagi masih harus melayani komplain pelanggan yang menjadi pekerjaan rutin harian.
“Senja.” Seseorang menyentuh bahu kiriku, membuatku melepaskan headset lagi.
“Ya?” tanyaku sambil memutar kursiku ke kiri.
“Proposalnya yang bahasa inggris sudah jadi, kan?” Mbak Adel, kepala seksi sekaligus koordinator acara pameran.
“Udah, Mbak. Kan udah ta kirim di grup panitia sama ke wa-nya Mbak Adel dua minggu lalu.”
“Duh, udah tenggelam kalau dua minggu lalu. Susunan acara mulai dari pembukaan sudah ada kan di dalamnya?”
“Ada, Mbak.”
“Tolong dikirim ulang ke saya. Email aja. Pak Banu minta. Katanya mau dikirim ke klien kita yang dari Australia. Baru keinget bapaknya.”
Kepalaku terangguk. “Siap. Nanti saya email.”
“Sekarang, Ja. Ditunggu soalnya. Ini udah mepet banget waktunya,” katanya. Suaranya semakin menjauh.
Sudah mepet banget. Aku menarik napas panjang, sedikit kesal juga dengan perintah-perintahnya yang sering mendadak. Dari awal perencanaan pameran, aku sebenarnya sudah agak kesal karena di rapat awal perencanaan, namaku dan Adri tak ada di daftar panitia dengan alasan masih anak baru. Lalu, tiba-tiba saja, beberapa hari kemudian, nomorku dimasukkan ke dalam grup panitia dan aku diminta membuat proposal dalam bahasa Inggris tanpa ada pemberitahuan apa temanya, kapan dan bagaimana rencana pelaksanaan kegiatannya. Waktu kutanyakan, responnya lama sekali. Begitu merespon, mintanya proposal segera jadi hari itu juga. Kalau urusan yang harus berbahasa Inggris begini, baru aku dimasukkan, dikasih jatah pekerjaan dengan alasan aku satu-satunya yang nilai TOEFL-nya tertinggi sekantor.
“Sabar aja, Ja.” Suara Adri terdengar lagi.
“Sabar kok, Dri. Santai aja," kataku menyugesti diri sendiri.
Adri mendengus. “Kebangetan juga sih tapi. Semua kerjaan dikasih ke kita, dia cuma laporan ke atasan aja. Terus kalau hasil kerjaan bagus, dia yang dapat nama. Giliran kerjaannya salah, baru dia bilang kalau bukan dia yang bikin.” Suaranya masih kudengar jelas walaupun dia sengaja mengatakan semua itu dengan sangat pelan.
“Sabar aja, Dri.” Giliran aku yang berusaha menenangkannya dengan kata-katanya sendiri.
"Ngebales!" cibir Adri cepat.
Sesaat aku mengecek ponsel lagi. Masih belum ada pesan juga darimu. Aku mengetuk kolom tempat menulis pesan lalu menuliskan pesan, berusaha menuliskan pesan lebih tepatnya. Entah berapa kali aku menulis dan menghapus pesan yang kutulis sampai akhirnya kembali meletakkan ponsel ke atas meja. Tiba-tiba saja kemampuanku untuk menyusun kata-kata menghilang lagi. Ya sudahlah, kuselesaikan saja pekerjaanku dulu. Nanti aku menelponmu sepulang kerja.
Setelah mengirimkan proposal sesuai permintaan Mbak Adel, aku kembali larut dalam pekerjaanku lainnya. Baru saja selesai kuhubungi semua tamu undangan dan mengirimkan surat undangan kepada mereka, sebuah pesan masuk. Bukan kamu. Pesan masuk di grup panitia berisi tambahan pekerjaan lagi. Harus jadi hari ini.
“Yaelah. Kirain hari ini bakalan bisa pulang cepet,” seru Adri dari sebelah.
Ah, sepertinya aku membutuhkanmu sekarang.
***
Yang kulakukan sejak pulang dari rumah sakit hari ini hanya duduk di atas tempat tidur dan memandangi jendela lebar yang ada di sebelah kiriku, menikmati pancaran cahaya terang matahari yang hari ini cerah. Aku sedang tak ingin melakukan apa-apa. Dan setiap kali seperti ini, di dalam kepalaku berputar skenario tentang apa yang akan bapak katakan padaku saat beliau pulang nanti.
Aku mengangkat tangan ke depan wajah dan membolak-baliknya perlahan. Masih sama, yang bisa kulihat hanya gerakan dalam gambar buram dengan bercak-bercak kehitaman di beberapa bagian. Hal yang sama yang bisa kulihat setahun terakhir ini. Aku masih bisa membedakan gelap terang, kadang bisa membedakan warna di tempat yang cukup cahaya. Tapi tak cukup bagus untuk membuatku bisa melihat wajah, tulisan, gambar, bahkan mencegahku untuk tak menabrak benda-benda. Dulu tak separah ini. Dulu aku masih bisa melihat wajah dalam jarak dekat dan bercak-bercak kehitaman yang kulihat tak seluas dan sebanyak sekarang.
Sepanjang yang kuingat, kemampuan melihatku memang tak pernah benar-benar bagus. Semenjak kecil aku sudah harus memakai kaca mata yang cukup tebal, harus duduk di kursi paling depan di sekolah agar bisa melihat apa yang tertulis di papan tulis. Kemampuan melihatku semakin menurun, membuatku mengganti kacamata hampir setiap tahun. Mata empat, mata kaleng, aku sudah lupa apa lagi julukan yang teman-teman sekolahku gunakan untuk memanggilku. Waktu itu aku tak peduli, tak membenci, tak sakit hati. Aku terlalu lelah untuk sakit hati pada mereka karena bapak.
“Nang?” Panggilan itu terdengar seiring dengan ketukan pelan di pintu kamar membuatku menoleh ke arahnya.
Pintu kamar dibuka tanpa menunggu jawabanku. Tak lama, aku merasakan tepi tempat tidur sedikit melesak karena diduduki.
“Kata Umi kamu nggak keluar kamar dari tadi,” katanya sambil menepuk pahaku pelan.
“Capek aja, Pak,” jawabku.
“Umi sudah cerita tentang hasil cek up mu tadi. Kamu...”
“Senja nggak papa, Pak,” potongku cepat, merasa tahu apa yang akan dikatakan bapak.
Aku sudah hafal di luar kepala dengan pertanyaan-pertanyaan bapak. Setelah ini bapak akan membahas tentang hasil pemeriksaanku lalu tentang bagaimana aku harus bersabar dan tentang aku tak boleh hanya pasrah. Bapak juga pasti akan membahas tentang bagaimana beliau yang tak akan menyerah untuk mencari kesembuhan sama seperti sebelum-sebelumnya.
“Nanti kita cari dokter lain, ya?” katanya.
Nah. Apa kubilang.
“Pak, sudah. Mungkin ini saatnya kita berhenti dan menerima saja kalau kondisi Senja memang harus begini.” Aku berusaha mengatakan semua itu dengan nada sedatar mungkin, masih ada rasa tak ingin mengecewakan bapak.
Helaan napas bapak dapat kudengar jelas. Aku tahu beliau kecewa. Helaan napasnya seberat yang kuingat ketika pertama kali tahu aku kehilangan penglihatanku dulu, setelah aku bangun dari koma sewaktu SD. Bapak merasa paling terpukul dan bersalah karena terlambat tahu kalau ternyata aku mengalami diabetes dan bahwa pankreasku sudah tidak menghasilkan hormon insulin sama sekali. Bapak menyalahkan dirinya karena terlambat tahu bahwa penyakit itu sudah mulai merusak retinaku.
“Nang, kita masih bisa berusaha. Ini juga untuk kebaikanmu.”
“Pak, Senja sudah lelah,” kataku akhirnya. Ini pertama kalinya aku mengatakan apa yang benar-benar kurasakan. “Tahun lalu ....” Aku menggantung kalimatku, masih saja merasa tak tega mengatakan hal ini padanya.
Tahun lalu aku mengiyakan permintaan bapak untuk menjalani operasi. Kata dokter yang menangani, mataku masih bisa diselamatkan walaupun ada risiko komplikasi yang mungkin bisa memperburuk keadaan. Waktu itu, karena bapak begitu bersemangat, aku yang sebenarnya sudah lelah mencoba, pada akhirnya mengiyakan permintaan bapak. Lalu yang terburuk terjadi. Mataku mengalami pendarahan sebagai komplikasi tindakan yang kujalani.
“Nanti kita cari dokter yang lebih baik lagi. Ya?”
Aku tak menjawabnya, lebih memilih untuk menarik kakiku, melipatnya, duduk bersila. Sepertinya bapak paham maksudku karena beliau berdiri.
“Ya sudah. Kalau begitu istirahat saja dulu. Nanti kita bicara lagi.”
“Pak,” panggilku.
“Ya?”
“Senja sudah nggak papa. Bapak dan umi seharusnya juga.”
Tak ada jawaban dari bapak. Yang kudengar kemudian hanya langkah kaki berat yang semakin menjauh lalu suara pintu kamarku yang ditutup perlahan.
Wajahku lantas kukubur dengan kedua tangan, napasku kuhelakan sekuat tenaga ketika melepasnya. Kupikir dengan begitu ganjalan di dalam dadaku akan ikut keluar. Tak berhasil. Tapi, perhatianku lumayan teralihkan sewaktu ponselku berdenting, menunjukkan satu pesan masuk.
Eko: ga ada pr
Sependek itu. Aku memang memintanya mengabari kalau-kalau ada PR hari ini.
Ponsel sudah hampir kuletakkan kembali ketika tiba-tiba aku teringat padamu. Siang tadi aku sempat mendengar suaramu di telpon ketika mengantri periksa di rumah sakit. Sesaat sebelum aku harus mendengar vonis terakhir dari dokter tadi. Aku membuka ruang obrolan kita dan membaca-baca lagi pesan-pesan di sana. Rasanya bebanku sedikit berkurang sekarang.
Langit Senja: Gimana? Akhirnya ada PR?
Pesan itu kukirimkan. Tak perlu menunggu waktu lama, balasanmu masuk.
Rekta: Maaf. Anda kurang beruntung.
Aku mulai bisa tersenyum lagi.
Langit Senja: Ah, sial. Harusnya tadi aku telpon gurunya biar kasih PR.
Rekta : Hahaha. Lagi ngapain, Ja?
Langit Senja : Lagi gangguin kamu. Kamu?
Rekta: Lagi nongkrong di jendela liatin sunset.
Aku menoleh ke arah jendela, sedikit berharap bisa bersamamu menikmati langit sore yang sangat kamu sukai itu.
Langit Senja: Pasti cantik, ya?Wish I were there with you
Balasanmu hanya berupa emoticon tersenyum. Jawaban klise yang diberikan hampir setiap orang sewaktu tak yakin mau menjawab apa. Tapi tetap saja, senyumku mengembang lagi. Tanpa bisa kutahan, aku menekan tombol telpon. Aku sangat ingin mendengar suaramu lagi sekarang.
"Halo?" Suaramu.
"Tell me what it looks like ," kataku. Hatiku kemudian terasa sedikit ringan.
***
“Tumben keramas malem-malem,” komentar Arik sewaktu aku keluar dari kamar mandi dengan rambut masih setengah basah setelah keramas.
“Gerah.” Aku masih berusaha mengeringkan rambut dengan handuk.
“Kamu bakalan pulang semalem ini terus, Ja?”
Aku menjatuhkan diri ke atas sofa tepat di sisi Arik. “Paling cuma sampai pameran aja. Biasanya kan juga pulang tepat waktu. Kenapa? Merindukanku?” godaku.
“Iya. Sepi aja kalau pulang kerja terus nggak ada kamu di rumah. Nggak ada yang diajak berantem.”
Tanganku bergerak cepat mengacak kepalanya. Seperti biasa, dia langsung menghindar. Arik paling tak suka kalau aku memperlakukannya seperti seorang adik.
“Kan ada umi. Ada bapak.” Aku melepaskan handuk dari kepalaku, meletakkannya di pangkuan.
“Terus aku masuk neraka gara-gara jadi anak durhaka gitu?”
“Lah menurutmu kalau kamu ngajak aku berantem, kamu nggak durhaka gitu? Kan aku....”
Sebelah tangan Arik langsung menempel di depan mulutku. Tiba-tiba. Cukup mengagetkan tapi justru membuatku tertawa.
“Heh, nggak sopan!” bentakku. Aku berusaha meraih wajahnya, ingin balas membekap mulutnya, tapi dia berhasil menghindar.
Tawa Arik terdengar cukup keras, merasa jumawa karena berhasil menghindariku. Tapi aku tak menyerah, berusaha menangkapnya, menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa dan berusaha membekap mulutnya.
“Kalian ini masih aja kayak anak kecil. Sudah malam ini.” Suara Umi lebih terdengar seperti keluhan. “Paaak... Anak-anakmu ini. Coba lihat!” teriak Umi kemudian.
“Dia yang mulai, Mi!” kataku sambil masih berusaha menyentuh mulutnya.
Menyentuh saja sudah cukup kami hitung sebagai skor seimbang. Permainan kami sejak kecil. Kami akan saling membalas, berusaha sekuat tenaga untuk membalas walaupun itu hanya sekedar sentuhan ringan di ujung hidung atau sentuhan kecil di bahu. Aku lupa siapa yang dulu memulainya pertama kali. Kadang aku hanya iseng saja menarik kepang rambutnya lalu berusaha menghindar ketika dia ingin balas menarik rambutku. Begitu juga sebaliknya.
Aku berhasil menyentuh mulutnya. Gadis itu masih saja tertawa sewaktu aku berdiri dan bersiap meninggalkannya.
“Udah? Gitu aja?” Umi pasti sedang menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran sekarang.
“Kalau kaya gitu itu anakmu.” Suara bapak terdengar menahan tawa.
“Iyuuuuuuuh!” Giliran Arik berseru. Membuatku menoleh padanya.
“Apa? Kenapa?” tanyaku penasaran.
“Bapak sok mesra, nyium-nyium Umi,” lapor Arik padaku. “Hmmm... nggak usah senyum-senyum gitu deh, Pak. Inget umuuuur...” seru Arik lagi.
“Bilang aja kalau pengen, Rik. Nggak usah sok iyuh-iyuh gitu,” kataku.
Lemparan handuk basah tepat mengenai wajahku. Tubuhku refleks menegang, tak siap menerima serangan dadakan tanpa peringatan seperti itu. Sial.
“Jemur sana handuknya! Dasar jelek.”
Tawaku keras mendengar nada kesal Arik. Aku sudah hampir melangkah ke belakang untuk menjemur handuk sewaktu mendengar nada panggilan masuk di ponselku berbunyi. Bergegas aku masuk ke kamar dan meraihnya.
“Halo,” kataku menerima panggilan. Aku menarik kursi lalu duduk.
“Senja, Pak Banu minta revisi susunan acara pembukaan,” kata suara di telpon.
“Mbak Adel?” tanyaku walaupun sebenarnya tadi juga mendengar namanya disebut oleh pembaca layar ponsel. Hanya sekedar seruan tak percaya bahwa dia masih saja menelponku setelah aku menghabiskan tiga jam melebihi jam kerja yang seharusnya.
“Iya. Ini Adel. Bapak minta beliau saja yang membuka acara dan sambutan. Terus ditambah sambutan dari pemkot juga. Jadi tolong proposalnya diedit dan dibuatkan undangan. Semua undangan yang buat kamu, kan? Nanti soft file aja dikirim ke email saya.”
Aku memejamkan mata dan menyangga wajah dengan sebelah tangan.
“Kok mendadak banget, Mbak? Memangnya dari pemkot bisa kalau semendadak ini?” tanyaku.
“Sudah. Itu biar diurus bapak. Beliau yang minta.”
“Harus sekarang banget, Mbak?” tanyaku mengingat tadi sampai rumah saja sudah jam delapan lebih. Paling tidak sekarang sudah jam sembilan malam dan aku sudah cukup lelah.
“Ya kalau bisa sekarang. Tapi semisal mau dikejar besok pagi ya nggak papa, sih. Terserah. Yang penting saya sudah kasih tahu, ya. Saya bisa bilang bapak kalau kamu bisanya ngerjain besok pagi.” Sambungan lantas dimatikan.
Setelah tarikan napas yang cukup panjang beberapa kali, aku mengeluarkan laptop dari dalam tas kerja dan menyalakannya.
“Lah, kerja lagi?”
Aku menolehkan kepala dengan malas ke arah pintu lalu mengangkat bahu dan segera memasang headset ke sebelah telinga.
“Kamu kerja di orang Jepang, Ja?” tanya Arik dari atas tempat tidurku.
“Engga. Orang Jawa asli, kok.”
“Kok kaya lagi ikut romusha gitu?”
Tawaku tak bisa kutahan. Kukira tadi dia serius bertanya. Aku melemparkan benda pertama yang berhasil kuraih dari atas meja ke arahnya: sebotol kecil hand sanitizer.
“Heh! Sakit tahu!” keluhnya.
“Kena?” tanyaku dengan kaget karena tak merasa mendengar suara benda itu mengenainya.
“Nggak, sih. Hahahahaha...” Tawanya menyebalkan seperti biasa.
“Keluar sana. Aku mau kerja dulu!” usirku.
“Nggak ah. Masih mau di sini.” Arik benar-benar tak beranjak.
Asal dia tak mengatakan apa-apa lagi, tak apalah. Kubiarkan saja dia tetap berada di dalam kamar sementara aku mengerjakan permintaan Mbak Adel.
Ya nggak papa, sih. Terserah. Yang penting aku sudah kasih tahu kamu . Senjata yang sama yang selalu digunakan Mbak Adel. Setiap pekerjaan yang diberikan secara mendadak selalu beralasan Pak Banu yang minta. Setiap kali aku meminta waktu karena ada pekerjaan lain yang harus kukerjakan, dia selalu mengatakan hal yang sama.
Pekerjaanku kuselesaikan dengan sedikit rasa kesal. Tak lama sebenarnya, tak banyak. Hanya tinggal mengganti jadwal kegiatan saja, mengubah dokumen menjadi PDF, lalu menambahkan nama di daftar alamat tujuan undangan. Aku hanya tak suka saja caranya.
“Udah?” tanya Arik.
“Udah.” Aku mematikan laptop begitu semua dokumen sudah terkirim.
Aku menoleh pada Arik. “Jadi, ada apa?” tanyaku.
“Ada apa? Apanya yang ada apa?”
“Udahlah, Rik. Bilang aja. Ngapain coba kamu dari tadi setia banget nungguin aku di sini? Kamu mau cerita apa?” Aku ikut duduk bersisihan dengannya di atas tempat tidur, menyandarkan punggung di jendela.
“Kamu tahu?” tanyanya.
“Ya tahu lah. Kapan sih aku nggak ngertiin kamu?” Aku menepuk pahanya pelan. “Jadi, ada apa?”
“Ja, kamu pernah nggak sih merasa bosan sama Rekta? Maksudku, kalian kan udah lama banget ya pacaran. Enam tahun. Itu bukan waktu yang pendek, loh.”
Bosan? Aku menggeleng.
“Nggak," jawabku tegas.
Mana mungkin aku bisa bosan padamu. Kamu itu seperti langit sore, yang tak bisa kutebak. Kadang cerah dengan warna merahnya, kadang sedikit berawan, kadang ada semburat biru. Isi kepalamu yang begitu, kadang aku tak tahu akan seperti apa responmu pada topik-topik yang kita bicarakan. Seringnya tak sesuai prediksiku. Seringnya fokusmu berbeda dengan yang kukira dan itu mengasyikkan. Sama sekali tak membosankan. Ya walaupun kadang menyusahkan juga untuk diikuti.
“Masa? Nggak jenuh gitu sama hubungan kalian? Nggak pernah kehabisan bahan buat diceritain?”
“Seingetku sih nggak.”
Arik mendorong bahuku ke samping. “Jangan seingetmu, dong. Yang pasti jawabannya. Kita kan tahu separah apa ingatanmu.”
“Heh, enak aja. Ingatanku bagus tau!” Aku balas mendorongnya pelan. “Kenapa sih, Rik?” tanyaku, semakin penasaran.
“Fais ngelamar aku.” Suaranya pelaaaan sekali.
Kepalaku langsung menoleh padanya. “Apa?” tanyaku, tak yakin dengan yang baru saja kudengar.
“Fais ngelamar aku!” Nada suara Arik meningkat.
“Fais nge....”
Sekali lagi aku merasakan mulutku dibekap.
“Sttt... jangan keras-keras. Nanti bapak sama umi denger.”
Aku mendorong tangan Arik menjauh dari mulutku. “Lah memang kenapa?”
“Aku belum jawab lamaran dia.”
“Kamu nggak yakin sama dia?” tanyaku.
Arik tak menjawab pertanyaanku. Yang kudengar hanya helaan napasnya dan suara debam kecil berulang di kaca jendela. Aku dengan cepat menempatkan tanganku di jendela, mencegah kepala Arik kembali membentur jendela kamarku.
“He.. makasih,” ucapnya.
“Aku cuma sayang sama jendelanya. Bukan kepalamu,” jawabku.
Arik mendesis, membuatku tertawa.
“Jadi gimana? Kamu nggak yakin sama dia? Bukannya kalian udah lama pacaran? Kan wajar kalau dia ngelamar. Toh kalian udah sama-sama kerja. Udah lebih mantap secara finansial. Udah lebih dewasa, udah lama nggak putus nyambung.”
“Itulah, Ja. Kamu tahu kan kalau aku cepet bosen? Nanti kalau udah nikah terus aku bosen gimana? Kan udah nggak bisa minta putus lagi..”
“Ya jangan bosen, lah.”
“Ya kan aku nggak bisa ngatur perasaanku.” Arik menghela napas lagi.
“Masa? Coba tanya sama yang punya hati.” Aku menyentuhkan bahuku ke bahunya.
Kepala Arik dijatuhkan ke atas bahuku. Aku menepuk-nepuknya pelan. Kali ini dia tak menghindar, tak memrotesku. Mungkin kepalanya memang sedang berat-beratnya.
“Beneran kamu nggak pernah jenuh gitu sama hubungan kalian? Enam tahun loh, Ja. LDR-an lagi.” tanyanya kemudian. Aku menggeleng. “Kamu kayanya udah yakin banget ya sama Rekta.”
Aku hanya menjawabnya dengan senyuman.
“Kamu yakin kalau dia jodohmu?”
“Jodoh itu bukan kita yang ngatur, Rik.”
Kepala Arik diangkat dari bahuku. “Maksudnya, kamu siap kapan aja kalau harus pisah sama dia?” Aku tak menjawabnya lagi. “Jadi, selama ini kamu nggak serius sama dia, Ja? Jahat kamu.”
“Yang bilang aku nggak serius siapa? Aku serius.”
“Terus kenapa gitu?”
“Karena aku nggak bisa ngatur siapa jodoh dia. Aku cuma bisa minta kalau aku jodohnya. Tapi kalau memang bukan ya aku harus siap dong melepas dia.”
Arik tak menanggapiku dengan segera. Aku menoleh padanya, menunggu responnya.
“Aku nggak ngerti sama cara kerja otakmu, Ja. Serius” katanya. “Tapi kamu sayang sama dia?”
“Aku harus jawab itu?” tanyaku. Kupikir selama ini aku sudah cukup jelas menunjukkan kepada semua orang bahwa aku benar-benar sayang padamu.
“Dan Rekta tahu soal itu? Soal isi otakmu itu?”
Aku menganggukkan kepala pelan.
“Kalian ini benar-benar pasangan yang aneh.” Arik kembali menjatuhkan kepala di bahuku. “Dia sayang sama kamu banget ya, Ja?”
Kepalaku terangguk lagi.
“Yakin dia sayang kamu, Ja? Nggak cuma karena kasihan gitu? Kamu kan nyebelin, Ja. Ganteng juga engga, kaya juga engga, egois mah iya. Reseh iya."
"Terus? Apa lagi?"
Bukannya menjawab, Arik malah tertawa. Puas sekali kedengarannya.
"Itu si Fais udah kamu apain aja coba sampai bisa ngelamar gitu? Dukun mana yang kamu pakai?" tanyaku.
"Huuu.. balesannya standar. Ga seru, ah."
"Embuh!"
"Payah ah kamu, Ja. Eh tapi serius deh. Kamu yakin kalau Rekta sayang kamu? Maksudku, enam tahun itu udah cukup buat ngelunturin rasa, Ja. Kamu beneran masih yakin?"
"Yakiiiin," jawabku.
Tidak. Kurasa, setelah akhir pekan kemarin itu.... entahlah.
***
Hari ini kamu benar-benar tak banyak berbicara. Beberapa kali kita hanya melewatkan waktu dengan saling diam. Beberapa kali aku mendengar helaan napasmu dengan jelas.
"Are you okay, Red?" Aku tak lagi bisa menahan diri untuk bertanya.
"Nggak papa. Emangnya kenapa?"
"Hari ini kamu banyak diam. Banyak menghela napas."
"Maaf."
"Dan banyak minta maaf. Hari ini aku nggak bawa banyak stok maaf."
"Mulai garingnya."
Aku meletakkan tangan di atas tanganmu, menggenggamnya dengan lembut.
"Kamu lagi nggak pengen cerita?" tanyaku.
Kamu tak langsung menjawabku, tak juga membalas genggaman tanganku. Biasanya, kamu akan dengan segera membalik telapak tanganmu, lalu menangkap telapak tanganku, balas menggenggamnya.
"Red?"
Masih tak ada jawaban.
"Oke. Nggak papa kalau kamu nggak mau cerita. Tapi kalau memang lagi ada masalah, selesein, ya? Jangan dipendam, ditunggu, ditunda nanti-nanti. Ya?"
"Iya." Kamu menjatuhkan kepala di bahuku. "Makasih ya, Ja. Kamu nggak maksa aku buat cerita. Kadang aku cuma butuh buat kaya gini, nggak pengen cerita apa-apa. Cuma pengen sama kamu kaya gini."
Aku merentangkan lengan, menarikmu masuk ke dalam pelukanku.
"Liķe this? " tanyaku.
"Exactly like this ," bisikmu lalu, tiba-tiba, kamu meneteskan air mata.
"Loh, kok nangis?" tanyaku.
Aku selalu bingung setiap kali ada yang menangis di dekatku, apalagi ini kamu.
"Red..."Aku menarikmu semakin erat. "Kamu capek, ya? Mungkin, harusnya aku nggak usah dateng, ya?"
"No...." Kamu menarik lenganku, memintaku lebih mengeratkan pelukan lagi. "I want you here. I need you here ," bisikmu. "Nggak tahu, beberapa hari ini rasanya capeeeek banget, Ja. Tugas numpuk, ujian, responsi, pasien, terus ...."
Aku menunggu. Tapi kamu membiarkan kata-katamu menggantung. Bahkan sampai kita berpisah di Lempuyangan, sampai kamu melangkah turun dari kereta, aku tak mendapatkan penjelasan apa-apa.
***
Pintu kamarku ditutup pelan setelah Arik keluar. Astaga. Aku lupa untuk menelponmu malam ini. Padahal siang tadi aku sudah merencanakannya, sudah akan menelponmu, tak peduli walaupun kamu bilang kalau kamu sibuk.
Pukul sebelas malam. Jam di ponselku menunjukkan waktu itu. Sudah terlalu malam. Aku tak mungkin menelponmu semalam ini. Kamu pasti butuh istirahat. Jadi kukirimkan pesan saja.
Langit Senja: Night, Red.
Terkirim. Ponsel sudah kuletakkan di atas meja dan aku sudah bersiap untuk tidur sewaktu balasan masuk. Sebuah pesan suara.
“Hey. Good night to you, too.”
Dahiku berkerut. Aku memutar ulang pesan yang baru saja kamu kirimkan padaku. Bukan suaramu yang ingin kuulang, tapi suara lain yang ada di belakang suaramu.
Kopimu, Ta! Aku tak salah mendengar, kan? Itu suara laki-laki?
Dengan cepat aku menekan tombol panggilan. Tiga, empat, lima, enam nada sambung dan kamu tak menerima panggilan. Panggilan ditolak pada nada sambung berikutnya.
Aku sudah hampir melakukan panggilan ulang sewaktu panggilanmu masuk.
"Lagi jaga?" tanyaku.
"Nggak. Lagi ngerjain tugas sama temen-temen. Ini pada ngumpul di kosan."
"Kok sampai malem banget?"
"Iya, Ja. Besok pagi harus konsul buat persiapan presentasi hari Sabtu."
"Sama siapa aja?"
"Dian, Putri, Retno, Fadil, Nadya... mmmm... banyak sih, Ja. Ada dua kelompok yang ngerjain bareng."
"Jangan malem-malem ya, Red."
"Iyaa.."
Suara-suara di belakangmu berubah sedikit riuh, menyorakimu.
"Ciyeh dicekiiin... Tenang aja, Mas. Rekta aman kok sama kita," kata sebuah suara yang cukup keras di dekatmu. Suara perempuan.
"Anak-anak nih.. Suka gitu. Udah ya, Ja. Aku selesein ini dulu."
"Iya. Yaudah. Call you tomorrow."
"Iya."
Kamu mematikan sambungan. Tak ada I love you seperti biasanya. Ya sudahlah. Mungkin kamu memang sedang sibuk saja.
Aku memastikan alarm di ponselku sudah tersetel, lalu meletakkan benda itu di atas meja dan mulai memejamkan mata. Ah, seharusnya aku tak membiarkan pertanyaan Arik memasuki kepalaku tadi.
Bersambung