Berawal dari Kasih
- Penulis
- Dimas P. Muharam
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 8 menit baca
- Jumlah pembaca
- 0 kali dibaca
Kategori: KARFIKSI
Tag: cerpen, Trilogi Kasih
Cinta. Kata itu adalah salah satu kata yang sangat sulit didefinisikan. Kadang kata tersebut dapat membuat seseorang jadi bahagia, atau bahkan bisa buat sakit hati. Malah kata itu bisa datang pada saat, tempat, dan keadaan yang sangat tidak disangka-sangka.
“Brengsek!, Brengsek!”.
“Gimana mas, Bisa enggak?”.
“Ah, sialan!. Bannya kempes lagi”.
“Terus gimana nih mas, jadi enggak kita shoppingnya?”.
“Kalo begini ya gimana ya say, emangnya kamu mau gw anterin pake tuh kendaraan supersonic?”.
“Ah, kendaraan apa tadi kamu bilang?”.
“Super sonic... yang gw maksud bajaj”.
“Ah kalo gitu, kita lain kali aja dech. Tapi janji ya bakalan nemenin aku shopping ke mall!”.
Kutinggalkan Mersi dua pintu dan cewe yang katanya pacarku itu. Heh, katanya ya. Aku juga enggak tahu mana dari kedua barang itu yang lebih pantas ku cintai, itu juga kalo cewe itu boleh ku sebut barang atau benda. Ya mau gimana lagi, itu cewe emang cewe paling cantik and sexy di sekolah ini. Waktu itu gw ndapetin dia dengan cara yang mudah banget. Pas lagi ketemu di kantin, terus gw tembak aja tuh cewe, eh ternyata dan pasti gw diterima. Soalnya tuh cewe emang udah terkenal suka gonta-ganti cowo dan yang penting tuh cowo tajir and berduit pula. Ya, kaya gw ini. Setelah kira-kira sebulan ini aku menjalin hubungan dengan tuh cewe, enggak tau deh perasaan apa yang ada di hatiku. Entah nafsu atau cinta. Tapi sich, yang gw tahu ini sih sepertinya lebih banyak ke nafsu belakanya doang. Karena saat ketemu atau berduaan sama tuh cewe, kayaknya enggak ada rasa bergetar atau perasaan menghargai. Yang ada Cuma rasa kagum dan pengen menikmati tubuh indah itu. Ya kalau boleh memilih, gw sih lebih memilih tuh mobil, dari pada tuh cewe. Karena sama-sama biayanya mahal, tapi tuh mobil lebih setia menemani gw selagi nih kantong lagi tebel atau lagi kanker. Dasar cewe matre zaman sekarang.
Aku berdiri di bawah terik panas jam pulang sekolah menunggu angkutan kota yang siap mengantarku sampai ke rumah walaupun dengan rasa yang sangat terpaksa. Aku berkata dalam hati : “Pulang sekarang, walaupun panas banget pasti di dalam angkot, langsung istirahat dan suruh supir bawa tuh mobil ke bengkel, langsung tidur buat persiapan nanti malan clubbing. Let’s go to party guys!”.
Angkot yang ku nanti tapi tidak juga sich akhirnya tiba, kemudian aku mengambil tempat duduk di dekat pintu agar mudah dapat angin. Sambil nungguin tuh angkot ngetime, aku terus mainin salah satu buku di tasku yang memang Cuma satu-satunya itu untuk mengipasi tubuhku yang sudah basah dengan keringat. Pada saat angkot itu mau berangkat, ada seorang perempuan yang ku kira siswi sma yang sama dengan ku lari tergopoh-gopoh menuju ke angkot yang sudah hampir berangkat. Perempuan itu duduk tepat di hadapanku dengan wajahnya yang cukup cantik tapi memancarkan cahaya keanggunan dan dengan tanpa ekspresi cemberut atau yang masam sedikitpun. Terus kupandangi wajahnya dengan penuh perhatian tiba-tiba rasa panas dan gerah berubah menjadi kesejukan dan getaran-getaran yang aneh di dalam hatiku. Sepertinya di dalam diri perempuan itu terdapat sesuatu yang istimewa dari pada perempuan cantik lainnya. Wajah perempuan itu selain cantik, sepertinya juga memiliki kesan kecerdasan di otaknya itu. Tidak seperti perempuan-perempuan cantik lainnya, yang biasanya otaknya rada kosong dan manja serta bisanya Cuma shopping dan menghambur-hamburkan uang.
Tidak terasa sudah terlalu lama ku memandanginya, tiba-tiba ia mengeluarkan suaranya yang lembut “Kiri Bang!”. Aku tersadar dari lamunanku dan melihat ia bergegas turun dari dalam angkot tanpa dapat ku katakan sepatah kata pun. Ini sangat berbeda sekali, biasanya aku setiap ketemu dengan perempuan cantik langsung ku ajak ngobrol untuk melakukan pendekatan berikutnya. Kemudian datanglah kejadian yang menjadi awal semuanya. Pada saat menuruni tangga pintu angkot, buku-buku tertumpah keluar dari tas perempuan cantik itu. Kemudian tanpa ku sadari, aku langsung bergegas keluar membayar ongkos untuk berdua dan membantunya memasukan buku ke dalam tasnya. “Terima kasih.” Kata-kata lembut yang keluar dali mulutnya. Tapi aku tidak dapat mengucapkan sepatah katapun dan hanya mengangguk. Kemudian perempuan cantik itu bergegas pergi meninggalkan ku dan aku hanya bisa berdiri terpaku memandangi langkah-langkah indahnya menuju ke jalan tempat rumahnya berada.
Sesampai di rumah, aku langsung merebahkan diri di kasur empuk di kamarku yang luas. Di dalam lamunanku, aku terus membayangkan wajah dan coba mereka ulang kejadian apa saja yang baru aku alami siang ini. “Aku tak pernah merasakan perasaan seperti ini, apakah ini yang dinamakan cinta?”. Tiba-tiba ketukan halus di pintu kamar membuyarkan lamunanku. Terdengar suara parau ayahku “Mas, kok pulang enggak bawa mobil. Kemana mobilnya?”. Lalu aku tersentak “Oh ya Tuhan, aku lupa!”. Lalu aku langsung mencari supir keluargaku dan minta tolong agar mobil itu diurus.
Aku berangkat sekolah keesokan harinya lebih pagi sengaja agar bisa ketemu dengan teman-temanku. “Hai pras!, elu kemana aja tadi malam kagak ikutan party sama kita-kita?” tanya temanku yang paling gaul.
Aku berkata : “Eh fi, sorry tadi malam gw kagak datang. Soalnya ada kejadian penting banget yang gw alamin siangnya”.
Yofi : “Emangnya ada apan sich, What’s the matter, what’s wrong gitu lhox?”.
Lalu aku ceritakan semua kejadian yang aku alamin waktu siang itu.
Jonny : “Terus, mau elu kemanain tuh si Moniq cewe paling yahut di sekolah ini hah?”.
Aku berkata : “ya enggak gw kemana-manain, abisnya gw kagak cinta sich”.
Jonny : “Hari gini masih ngomongin soal cinta, kasian dech luh!”.
Aku berkata : “ah biarin aja, menurut gw cinta itu segala-galanya. Bisa merubah segala-galanya”.
Yofi : “Ah basi banget sich luh pras!”.
Jonny : “O.k kalo gitu. Cewe yang macam mana sich yang bisa buat elu berubah total kayak gini. Dari playboy kabel gitu jadi cowo plonga-plongo. Kayaknya pengalaman luh bercinta selama ini musnah begitu aja”.
Aku berkata : “ya itu dia jon, yang gw kagak tahu. Tapi kayaknya sih dia anak baru di sekolah ini. Soalnya dia belum pernah gw lihat sebelumnya”.
Yofi : “o.k kalo gitu. Gimana kalo kita satronin tuh kelas satu-persatu nyariin tuh cewe”.
Aku berkata : “Setuju2”.
Jonny : “Tapi jangan kesannya terlalu kaya elu ngejar-ngejar cewe itu. Mau ditaro kemana predikat luh sebagai cowo playboy masa kini”.
Sebelum kami hendak mencarinya, tiba-tiba perempuan cantik itu lewat di koridor dekat kami. Aku langsung berdiri dan masih tanpa kata-kata. Ia berkata : “Hai, kamu yang kemarin ya. Terimakasih ya atas bantuannya”. Aku menjawab dengan terbata-bata : “Ah... bukan apa-apa kok”. Ia kembali berkata : “O.k deh kalo begitu, Bye!”. Ia melangkah meninggalkanku yang masih berdiri kikuk. Aku melihat Jonny dan Yofi yang terkikik-kikik menahan ketawa. Aku berkata : “Diam semua!. Oh iya, aku lupa menanyakan namanya”.
Kemudian setelah beberapa hari, aku mengetahui namanya dari pacar Jonny yang kebetulan sekelas dengannya. Jadi nama perempuan cantik itu Findia. Nama yang secantik pemiliknya. Lalu aku mulai memberanikan diri mendekati Findia. Perlahan tapi pasti, aku mulai dekat dengan dirinya. Setelah lama kenal dirinya kini aku tahu, ternyata selain cantik rupanya akhlak dan perilakunya juga cantik dan menawan. Semakin lama aku mengenalnya, semakin cinta dan menaruh hormat pada dirinya. Merupakan sikap yang berbeda sekali terhadap perempuan-perempuanku selama ini. Kemudian, yang membuat aku makin cinta lagi dengan dirinya, dia tidak mengungkit-ungkit masa laluku meski dia tahu atau tidak.
Suatu hari di saat hubungan pertemanan tapi mesra kami sudah cukup lama, aku mulai mengumpulkan keberanianku untuk mengajaknya menjadi kekasihku. Kekasih yang sebenarnya untuk pendamping hidup. Karena mungkin ia bukan perempuan pertama yang pernahku cintai, tapi aku yakin inilah cinta sejati yang akan berjalan untuk selamanya.
Saat aku mendekati dirinya dan ingin mengajak untuk berbicara sedikit, tiba-tiba terjadi peristiwa yang sangat tidak kusangka-sangka. “Mas, apa kabar. Kemana aja sih, kok enggak pernah nemuin Moniq. Kapan kita shopping-shopping lagi. Kan udah kangen nih!.”. Cewe yang pernah jadi pacarku itu tiba-tiba datang memeluk dan menciumku di depan hadapan Findia. Tanpa sempat ku berkata apa-apa, Findia langsung pergi dari hadapan ku. Seketika pada saat aku menyadarinya, aku langsung melepaskan diri dari pelukan Moniq dan mengejar Findia. Saat ku berhasil mengejarnya, ia sedang berjalan di trotoar jalan raya. Lalu langsung ku dekati dirinya dan ku coba untuk jelaskan segalanya. Findia terus berjalan tanpa menghiraukan semua penjelasanku. Tanpa sadar, aku meraih tangannya dan berkata bahwa aku cinta padanya dan ingin menjadi kekasihnya. Akantetapi entah dia masih marah atau tidak mendengarkan ucapanku, ia berusaha untuk melepaskan tangannya dari cengkraman tanganku. Sehingga pada saat tangannya terlepas dari tangganku, ia terpelanting ke jalan raya yang kemudian terjadilah kejadian yang sangat aku tidak inginkan. Ia terjatuh dan tertabrak oleh mobil yang kemudian membuatnya tidak sadarkan diri.
Di rumah sakit, aku terus menunggui dirinya di samping tempat tidurnya. Sambil menunggu, aku terus berdo’a agar tidak terjadi sesuatu yang sangat tidak diharapkan oleh kami. Sambil memegangi tangannya, aku berkata dengan lirih. “Fin, maafkan aku. Karena akulah kamu jadi seperti ini. Fin, jika memang Tuhan tidak menginginkan kita untuk bersatu, aku ikhlas menerimanya. Tapi akan ku kenang untuk selamanya cinta kita ini. Cinta yang telah merubah dan membuat segala dalam hidupku menjadi indah. Fin, jika kau mendengar perkataanku, dengarlah bahwa aku sangat mencintaimu lebih dari apapun. Kaulah cinta pertama yang sangat berarti dan sejati bagiku serta kau pulalah yang terakhir bagiku. Jika kau tak menerimaku, aku sadar bahwa cinta tak harus memiliki. Tapi sampai kapanpun, aku akan terus mencintaimu”. Tanpa sadar, air mataku mulai mengalir di pipiku dan menetes di wajah cantik itu. Kemudian aku merasakan gerakan di genggaman tanganku. Kemudian tangan yang lembut itu menggenggam tanganku dan kemudian keluar kata-kata lirih dari mulut yang manis itu. “Aku terima cintamu, aku juga sangat mencintaimu pras”. Setelah mendengar kata-kata itu, aku bagaikan terbang ke awan dan merasa sangat bahagia.
Tentang Penulis
Editor-in-chief Kartunet.com. Hobi baca, menulis, dan mendengarkan audiobook.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Artikel Terkait
The Secret Admirer
Kisah seorang pemuda yang menjadi pemuja rahasia seorang gadis di sekolahnya. Hingga pada suatu saat ia memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya. Selamat membaca.