Lompat ke Konten Utama

The Secret Admirer

Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
14 menit baca
Jumlah pembaca
1 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: KARFIKSI

Tag: cerpen

Di dalam relung hatiku
hati yang terselimuti oleh salju
ada ruang yang kosong di situ
menunggu sesuatu yang tak tentu

Sesuatu yang ku cari semakin menjauh
sesuatu yang tak ku cari tetapi semakin mendekat

Hanya dapat menikmati dari sisi mimpiku
sesuatu yang dekat bagi ku
tetapi jauh baginya

***
Ku letakkan penaku. Ketika kulihat jam di sudut kamarku jarum jam menunjuk pukul 12 malam. Aku masih terduduk di kursiku, menatapi puisi pertamaku untuk sesuatu yang baru tetapi lama bagiku. Ya, sesuatu yang baru tapi lama. Aku sudah mengenal dirinya sejak SMP. Pada waktu itu tidak ada rasa apapun pada dirinya. Dia itu memang cantik dan mempesona bagi anak laki-laki di sekolahku, tapi mau bagaimanapun dia, aku tetap tak tertarik padanya. Mungkin karena aku terlalu berkonsentrasi pada pelajaran atau memang belum waktunya.

Setiap aku kumpul-kumpul dengan teman-teman ku, mereka selalu mesisipkan omongan tentang dirinya. Yang membicarakan tentang kecantikannya lah, atau tentang bahwa dia sampai saat ini masih belum punya pacar. Setiap kali teman-temanku membicarakan tentang dirinya, aku selalu mencoba untuk mengalihkan pembicaraan keluar dari persoalan dirinya. Entah mengapa aku selalu tidak suka jika ada orang yang membicarakan tentang kelebihannya, mungkin karena dia itu adalah salah satu sainganku dalam prestasi di kelas. Fira, nama perempuan itu. Nama yang cukup manis untuk dirinya yang cantik. Perempuan itu memang cantik, menarik, anggun, dan pintar. Sikapnya tidak suka banyak bicara, tapi ia tidak sombong dan sangat enak untuk diajak mengobrol.

Pengetahuannya sangat luas, jadi bisa diajak ngobrol soal politik, ekonomi, issu-issu terbaru, bahkan sampai gosip-gosip terbaru soal artis pun dia tahu. Memang tipe wanita yang sangat saya idam-idamkan, tapi entah mengapa aku sangat tidak menyukainya. Pernah pada puncak kekesalanku pada dirinya, saat kami telah menjalani ujian nasional dan mendapatkan hasilnya, waktu itu aku mendapatkan peringkat nem kedua tertinggi di sekolahku di belakang perempuan itu. Saat itu aku sangat kesal dan Fira menghampiriku untuk mengucapkan kata-kata selamat tinggal karena kami mungkin akan pisah sekolahan dan menanyakan kemana aku akan masuk SMA. Karena aku dalam keadaan yang sangat kesal, aku menjawab pertanyaan Fira dengan kasar dan acuh tak acuh. Salah satu yang aku sesali sampai sekarang.
***

Kristal-kristal itu mulai retak
salju yang menyelimuti mulai mencair
mentari mulai menyinari hatiku
di dalam kehampaan yang tanpa batas

Mutiara itu datang tiba-tiba
mengisi ruang kosong di hatiku
mewarnai hari-hariku
dengan harapan yang seindah pelangi

Musim semi berkembang
ku harap jangan gugur lagi
tapi apa daya
waktu terus bergulir

***
Setelah kejadian itu, aku merasa sangat menyesal. Pada saat liburan panjang sekolah, aku lebih memilih untuk tetap berada di rumah sambil merenungi kesalahanku dari pada jalan-jalan dan bersenang-senang dengan teman-temanku. Aku terus berfikir “Mengapa wanita secantik dan menarik seperti Fira aku sia-siakan dan perlakukan secara tidak pantas?”. “Aku baru menyadarinya sekarang, bahwa dia itu cantik, menarik, dan merupakan wanita idamanku selama ini. Apakah ini yang dinamakan cinta?, cinta yang datang dimulai dengan benci?”. Kata orang, benci itu bisa diartikan benar-benar cinta atau bisa juga benar-benar benci. Tapi sepertinya aku sekarang telah jatuh cinta padanya dan ingin mengucapkan maaf. Tapi bagaimana aku bisa mengucapkan maaf pada dirinya?, bagaimana jika kami nanti pisah sekolah?, dan jika aku harus mencari rumahnya dengan menanyakan alamatnya pada teman-temannya, nanti timbul gosip-gosip baru lagi. Ah, biarlah rasa ini ku pendam sendiri dalam hatiku. Ternyata betul apa yang disyairkan oleh Bapak Ismail Marjuki yang intinya bahwa Pria itu ditakdirkan lebih berkuasa dari wanita. Tapi ada kalanya pria bertekuk lutut di hadapan wanita. Mungkin seperti itulah aku sekarang.

Waktu yang kutunggu akhirnya tiba sudah dengan lambannya. Aku menunggu agar liburan sekolah ini cepat berakhir dan cepat-cepat masuk ke sekolahku yang baru. Aku berhasil diterima di salah satu SMA favorit di kota jakarta walaupun jarak sekolah itu agak jauh bagiku. Tapi hal itu bukan masalah, malah aku bisa menambah pengalaman dengan sering jalan jauh dari rumahku. Seperti biasa siswa yang baru masuk harus menjalani tiga hari masa orientasi sekolah (MOS) yaitu dengan menuruti perintah kakak-kakak kelas yang aneh-aneh dan juga masih disuruh memakai pakaian seragam SMP yang menurutku sudah bosan untuk memakainya. Di hari pertama MOS, aku menempati kelas yang letaknya agak jauh dari tangga, jadi aku agak kesal dengan hal itu. Di dalam kelas, aku duduk di salah satu sudut belakang kelas sambil melihat keliling mengamati wajah-wajah teman baruku. Di kelas itu ada beberapa wajah yang aku sudah kenal karena satu SMP dengan ku. Tapi pada saat aku melihat ke meja seberang kiriku, aku terperanjat karena aku menangkap wajah wanita yang selama ini aku tunggu dan kagumi. Fira masih mengenakan pakaian SMPnya dan sebulan tidak bertemu serasa 3 tahun sudah. Selama itu sepertinya Fira semakin cantik dan menarik. Pada saat aku mengamati wajahnya yang cantik, Fira juga melihatku dan tersenyum padaku. Fira memang wanita yang tidak sombong, setelah agak kuperlakukan tidak sopan di akhir pertemuan SMP, ia masih ramah menatapku. Dengan agak malu, aku membalas senyuman dari Fira yang agak tertawa kecil mungkin karena melihat ekspresi di wajahku.

Jam istirahat tiba, waktu yang ku nanti-nanti. Aku mengikuti Fira yang bergegas keluar menuju kantin. Aku mendekati Fira dan memohon agar diperbolehkan untuk duduk satu meja dengannya. Tanpa harus ku tunggu jawaban darinya, aku sudah tahu kalau dia pasti akan mempersilakan aku untuk duduk dengannya. Kami mulai ngobrol-ngobrol kecil dengan basa-basi menanyakan kabar selama liburan.
Aku berkata : “Bagaimana liburan kamu Fira?”.
Fira : “Ya, asyik banget, aku dan keluarga menghabiskan liburan ke Cipanas. Kamu gimana?”.
Aku berkata : “Ya, enggak begitu bagus”.
Fira : “Kenapa?”.
Aku berkata : “Soalnya aku terus mikirin tentang sikapku yang rada kasar tempo hari waktu kita habis nerima hasil nem itu. Oleh karena itu aku mau minta maaf sama kamu. Aku sangat nyesal banget”.
Fira : “Ah soal itu, lupakan aja lah aku sudah maafin kamu sejak saat itu juga kok”.
Aku berkata : “Terima kasih ya, memang kamu itu perempuan yang baik banget”. “Dan cantik pula” aku menambahkan dalam hati.

Setelah hal itu, hubungan pertemanan kami jadi semakin dekat. Sekarang tidak ada rasa permusuhan lagi yang kurasakan antara aku dan dia. Yang ada hanyalah rasa saling mengasihi dan menghargai. Setelah semakin dekat ku mengenali dirinya, aku tahu ada satu lagi sifatnya yang sangat mengagumkan. Yaitu dia itu sangat bijaksana. Dia bisa memberikan solusi tentang berbagai masalah dan selalu memandang suatu masalah dari berbagai sudut pandang. Oleh sebab itu aku menjadi mengerti, bahwa dalam memandang seseorang kita harus memandangnya dari sisi positifnya dahulu. Jika memandang seseorang itu dari sisi negatifnya, maka semua hal dalam dirinya menjadi jelek di mata kita.

***

Prestasiku di dalam kelas semakin membaik, itu disebabkan karena kami sering belajar bersama dan memecahkan suatu masalah bersama pula. Kami selalu saling berbagi ilmu jika ada salah satu dari kami yang tidak mengerti suatu mata pelajaran. Di dalam keseringanku bersama dengannya, aku hanya bisa mengagumi kecantikan dari Fira dan membayangkan jika Fira menjadi miliku. Di dalam kelas di sela-sela waktu belajar, aku mengamati keanggunan Fira dari salah satu sudut di kelasku. Aku mengamati bahwa Fira semakin lama semakin cantik dan anggun. Tapi sayang, aku tidak memiliki keberanian untuk mengajaknya untuk jadi kekasihku. Aku hanya beranggapan bahwa jodoh tidak akan ke mana dan mungkin belum waktunya. Tapi aku heran, mengapa gadis cantik dan sepintar Fira itu belum punya pacar ya?. Tapi itu adalah sejauh sepengetahuanku saja. Mungkin dibalik aku bersamanya, dia sudah punya pacar. Ah, tapi tidak mungkin. Karena di sekolah atau di rumah aku tidak pernah melihat ada laki-laki yang dekat sekali dengannya. Oleh karena itu aku semakin yakin dengan anggapanku bahwa jika jodoh tidak akan ke mana. Suatu waktu Fira pernah bertanya denganku “Apa kamu sudah punya pacar?”. Aku dengan cepat dan pasti langsung menjawab “Tidak!, sama sekali belum”. Kemudian Fira agak tertawa kecil dan berkata “Massa cowo seganteng dan pinter kaya kamu belum punya pacar sih, kasian deh!”. Dari perkataan Fira itu aku tersadar bahwa memang banyak gadis yang sudah menembakku, tapi aku menolaknya semua karena mereka itu bukan tipeku dan aku tidak suka jika ada perempuan yang menyatakan cintanya terlebih dulu kepada laki-laki. Mau ditaruh mana muka laki-laki itu hah!. Memang sih aku sadar kalau aku ini keren dan pintar plus tajir pula, mana ada sih perempuan yang tidak tertarik denganku. Dan mana ada pula yang tidak menerima pernyataan cintaku. Tapi untuk perempuan yang satu ini beda. Aku sangat menghargainya sehingga semua kenarsisanku itu hilang ketika aku berada di hadapannya. Untuk mengungkapkan perasaanku itu, aku hanya bisa mencurahkannya ke dalam bentuk puisi-puisi yang aku tulis dalam buku harianku.

Suatu hari, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia kami mengumumkan bahwa akan ada hari pentas seni yang tiap kelas harus ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan di sana. Salah satu dari lomba-lomba tersebut adalah drama remaja. Khusus untuk drama ini akan dijadikan sebagai acara puncak yang ditampilkan pada akhir acara pada malam hari. Skenarionya adalah pada intinya ada seorang laki-laki yang mencintai seorang gadis tapi laki-laki tersebut takut untuk mengutarakannya. Kemudian setelah melewati berbagai peristiwa dan rintangan, akhirnya laki-laki itu memiliki keberanian untuk menyatakan cintanya itu. Akan tetapi, gadis itu agak sedikit jual mahal sehingga laki-laki itu harus berlaku romantis dan berkata-kata yang puitis. Pada akhirnya gadis itu menerima cintanya. Kata guru kami itu adalah cerita intinya, kami tiap-tiap kelas boleh mengimprovisasi cerita tersebut. Lalu tanpa ku sangka, orang yang berperan sebagai tokoh laki-laki utamanya ditunjuk yaitu aku dan gadisnya, guru itu menunjuk Fira. Kemudian anak-anak di kelas bertepuk tangan mungkin karena kami memang pasangan yang serasi dan sempurna.

***

Lalu tibalah malam di mana drama itu harus digelar. Sebelum naik panggung aku merasa sangat grogi. Tapi Fira segera menghampiriku dan mencoba untuk menyemangatiku. Ia berkata “nanti mainnya jangan tanggung-tanggung ya!, lepas aja. Anggap aku ini gadis yang benar-benar mau kamu jadikan kekasih ya!”. Setelah mendengar kata-kata itu, dadaku seperti habis meminum segelas coklat hangat. Semangatku berkobar-kobar dan percaya diriku menjadi bangkit. Aku berfikir apakah ini merupakan sinyal dari Fira kalau ia juga suka pada diriku, ataukah hanya untuk menyemangatiku saja. Lalu tibalah giliranku untuk naik panggung. Seperti yang diintruksikan oleh guru Bahasa Indonesia kami, kami mengimprovisasi drama tersebut. Kami ubah ceritanya sehingga menjadi bahwa aku harus menyelamatkan gadis itu dari penculikan oleh seorang penjahat yang ingin menjadikannya istri. Kemudian aku berhasil dan harus menyatakan cinta pada gadis tersebut. Setelah berhasil menyelamatkannya, aku mulai bertindak sebagai laki-laki yang romantis bagai sedang berada di dekat menara Pissa atau di atas kapal Titanic.
Aku berkata : “Gadisku, telah sekian lama aku mengenalmu. Telah sekian lama aku mengagumimu, sekarang aku tidak hanya ingin menjadi pengagum rahasiamu lagi. Oleh karena itu dengarlah suara hatiku ini”.

Musim semi telah datang
mentari mulai menyinari
es di kutub mulai mencair
menghangatkan hatiku yang tadinya beku

Dahulu aku bagaikan pungguk merindu
berharap dapat mencapai rembulan
hanya bisa berhayal dalam sudut dimensiku
mencoba meraih sesuatu yang tak pasti

Tapi ku coba taklukan langit
mencoba menembus awan
hanya untuk mendapatkan cintamu

Sedalam-dalamnya samudera hindia, tidak sedalam cintaku padamu
Sepanas-panasnya gurun sahara, tidak sepanas api asmaraku kepadamu
Setenang-tenangnya samudera pasifik, tidak setenang hatiku jika kau miliku

Maka terimalah cintaku
kaulah matahariku
kaulah penghangat hatiku
kaulah yang pertama dan terakhir bagiku
abadi, untuk selamanya

Tanpa ku sadari, diluar sekenario aku langsung berlutut dan memberikan bunga mawar yang ku petik dari kebun belakang sekolah tadi sambil berkata. “Terimalah bunga ini sebagai tanda cintaku. Jika kau membuangnya maka biarlah rasa ini kupendam selamanya dalam hatiku. Aku akan membiarkannya kosong tidak akan mengisinya dengan yang lain selain dirimu. Akan tetapi jika kau menerimanya, maka ciumlah bunga ini dan kita akan hidup bahagia abadi untuk selamanya”. Fira agak lama berfikir mungkin karena yang aku lakukan diluar sekenario dan dengan lamban mengambil dan mencium bunga mawar itu lalu ku raih tangannya dan berakhirlah drama tersebut. Tepuk tangan riuh mengiringi tertutupnya tirai penutup panggung.

Sambil menuruni panggung Fira berkata padaku “Kamu tadi actingnya bagus sekali!. Aku salut padamu. Seperti sungguhan, sangat menjiwai”. Aku menjawab “Ah biasa saja, aku juga tidak tahu adegan yang tadi itu tiba-tiba saja aku lakukan seperti sungguhan”. Fira berkata lagi “Ah perempuan yang akan menjadi kekasihmu nanti pasti akan sangat bahagia, memiliki pacar yang sangat romantis dan puitis seperti kamu”. Aku hanya bisa menjawab dengan senyum dan kegalauan yang ada dalam benakku. Aku berfikir apakah Fira tahu apa yang ada dalam hatiku sebenarnya dan apakah ia benar-benar suka padaku seperti aku menyukainya?. Sambil melemperkan senyum kami berpisah jalan menuju ruang ganti masing-masing.

Di ruang ganti aku langsung disambut dan dielu-elukan oleh anak-anak sekelasku. Aku hanya bisa tersenyum dan tertawa bersama mereka. Ya, tertawa yang tidak sepenuhnya tertawa karena aku masih pusing memikirkan Fira yang benar ternyata wanita itu sangat sulit untuk dimengerti. Di tempat aku berganti pakaian, Andre teman karibku menyapaku

Andre : “Hai brur, tadi elu mainnya o.k juga!”.
Aku berkata : “Ah enggak juga, thanks”.
Andre : “Eh tapi kayaknya tadi ada yang beda deh?”.
Aku berkata : “Apaan yang beda?”.
Andre : “Kayaknya kamu tadi actingnya kayak beneran deh, kayak bukan lagi drama. Ya kayak mau nembak si Fira beneran gitu”.
Aku berkata : “Sebenarnya….., iya sih”.
Andre : “Tuh bener kan!, kamu beneran cinta sama tuh cewe. Padahal kamu dulu kan pernah cerita kalau elu benci banget sama tuh cewe”.
Aku berkata : “Iya kamu benar, tapi sekarang aku cinta banget sama dia dan nanti rencananya nih aku mau nembak dia beneran bukan di panggung aja gitu”.
Andre : “Ah akhirnya friend gw ini bisa punya cewe juga ya!, gw kirain elu ada kelainan gitu. Selera elu high taste juga”.
Aku berkata : “Eh gw gitu lhox!. Jadi do’ain gw aja nanti ya!”.
Andre : “Of course, Good luck for you!”.

Setelah selesai berganti pakaian, aku mencoba untuk mengumpulkan keberanianku menyatakan cinta kepada Fira prempuan yang sangat ku kagumi selama ini. Aku berjalan keluar ruangan menyusuri koridor-koridor gelap sekolahan mencoba mencari-cari di mana Fira berada. Aku berkata dalam hati “Malam ini mudah-mudahan malam keberuntungan ku, Oh dewi rembulan tolonglah aku, berilah sinarmu yang menawan untuk membantuku menyatakan cintaku ini”. Sambil mencari-cari, aku terus memikirkan kata-kata apa yang tepat untuk menyatakan cintaku ini. Saat aku hendak melewati sebuah tikungan koridor, seketika aku merasa tidak enak dan benar ternyata firasatku itu. Saat aku melihat ke seberang koridor, aku melihat Fira sedang berduaan dengan seorang laki-laki yang aku kenal dia adalah kakak kelas tiga kami. Kulihat Fira sedang dipeluk oleh laki-laki itu dan mereka berciuman dengan mesra. Aku melihat di mata Fira ada tatapan yang penuh cinta dan kehangatan kepada laki-laki itu. Tatapan yang selama ini belum pernah ku lihat saat kami bertemu. Mereka kelihatannya sangat bahagia. Aku berkata dalam hati “Ah…., Alangkah bahagianya laki-laki itu”. Aku segera pergi dari sudut bayang tempat aku melihat mereka berdua. Aku melangkah meninggalkan mereka dengan langkah-langkah tanpa suara, dan hanyalah keheningan yang ada dalam benakku saat itu.
***

Mentari itu telah tenggelam
musim semi telah berganti dengan musim gugur
salju itu menebal kembali menyelimuti hatiku
hatiku mengkristal membeku abadi

Biarlah ku simpan cerita ini
ku simpan di ruang hatiku yang terdalam
ruang yang dijaga oleh batu-batu kristal yang keras dan dingin
yang tak mau untuk dibuka sampai akhir

Aku hanya bisa menikmatimu dari sisi gelapku
menjagamu dari dimensi khayalku
memandangimu dari celah-celah retakan hatiku

Ku tahu cinta itu sangat unik
kadang ia datang begitu cepat, tapi jika pergi meninggalkan luka yang dalam
jika ia sudah pergi, hanya kata cinta tak harus memiliki yang terucap
asalkan engkau bahagia, aku di sini juga merasa bahagia
bahagia dalam kehampaanku

Selamat jalan cinta
biarlah semua menjadi kenangan
terkubur dalam dinginnya hatiku
abadi, untuk selamanya.

***
Ku tutup buku harianku, ku patahkan pena yang selama ini setia untuk menggores lembaran-lembaran dalam buku itu. Ku rebahkan tubuhku di kursi tuaku dan ku tatap jam yang menunjukkan pukul 12 malam. Aku di sini masih merenungi semua kejadian yang terdapat dalam buku harian itu. Buku harian yang merekam semua peristiwa yang dialami oleh Si Pemuja Rahasia.

Catatan : Ada seorang tokoh yang mengatakan bahwa “Orang yang terlalu berhati-hati, maka ia akan hanya sedikit berprestasi”.

T A M A T

Tentang Penulis

Dimas P. Muharam

Editor-in-chief Kartunet.com. Hobi baca, menulis, dan mendengarkan audiobook.

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

  • Di Tengah Kisah

    Cerpen cinta yang manis. Kelanjutan dari kisah sebelumnya "Bermula dari Kasih" yang menengahkan konflik untuk menguji kesetiaan. Selamat membaca.

    Dimas P. Muharam

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.