The Sixth Sense
Dimas P. Muharam · · 27 menit baca
Langit biru cemerlang indah di sinari cahya mentari yang berkilau keemasan. Kicau suara burung menemani Frank yang sedang membaca buku bersama kekasihnya Chelsea. Silir hembusan angin meniup rambut mereka berdua yang sedang bercengkrama di bawah naungan pohon yang rimbun. “Menurutmu bagus tidak buku ini sayang?” tanya Frank sambil membelai rambut Chelsea dengan tangan satunya yang tidak memegangi buku. “Memang bagaimana ceritanya?” tanya Chelsea dengan manja. “Oh iya, kamu belum tahu jalan ceritanya ya!, kalau begitu, aku akan menceritakan sinofsisnya padamu” kata Frank sambil mulai menceritakan isi buku tersebut. Chelsea mendengarkan cerita Frank dengan menyenderkan kepalanya ke bahu frank yang lebar. Frank menceritakan isi buku itu dengan bersemangat sambil menikmati keharuman wangi rambut Chelsea yang tercium olehnya.
Isi buku itu pada intinya adalah menceritakan tentang seseorang yang ingin sekali memiliki kemampuan untuk dapat membaca pikiran orang lain, yang padahal ia tidak memiliki kemampuan yang disebut indera keenam itu. Lalu tokoh dalam cerita itu membuat sebuah alat yang dapat membuatnya membaca pikiran orang lain. Proyek itu berhasil, dan ia sangat bahagia sekali karena ia sekarang memiliki kemampuan untuk mengetahui pikiran orang lain. Lalu ia juga bisa menjadi introgator yang baik karena ia bisa tahu apa saja yang dipikirkan oleh orang-orang yang ia intrograsi di kantor polisi. Karir tokoh tersebut di kepolisian meninggkat. Lalu Ia juga handal dalam masalah perjudian menebak skor hasil pertandingan olahraga. Dan masih banyak pengalaman seru dan menegangkan lainnya yang dialami oleh tokoh tersebut.
***
Udara masih terasa sangat sejuk ketika Frank selesai bercerita dan merasa sangat haus sekali, sehingga Frank mengambil botol minuman dari atas rumput yang empuk itu. “Bagaimana ceritanya sayang?, menarik kan!” Kata Frank setelah selesai minum segelas air mineral. “Menurutku cukup menarik!”, “Iya memang cukup menarik, dan rasanya asyik sekali ya jika bisa memiliki kemampuan seperti ini” kata Frank sambil menunjuk-nunjukan jarinya ke arah buku cerita itu. “Memang mengapa?” tanya Chelsea heran. “Enak dong, coba kamu bayangkan. Kita punya kemampuan untuk mengetahui fikiran orang lain. Kalau begitu, kan kita tidak akan bisa dibohongi oleh orang lain lagi!. Apa lagi misalnya bisa mengetahui hal yang akan terjadi di masa depan, wah pasti tambah asyik!” kata Frank penuh harap. “Tapi kalau pada akhirnya kemampuan itu dibuat kriminal, itu sangat tidak baik kan?” kata Chelsea yang mulai menegakan kepalanya dari bahu Frank. “Memang ia sih, tapi kita ambil positifnya saja lah!. Lagi pula…” Frank melanjutkan, “Aku ingin tahu sejauh mana kamu cinta pada diriku sayang!” kata Frank yang mulai memandangi wajah Chelsea yang sangat cantik itu. “Jadi kamu tidak percaya dengan hubungan kita selama ini?” cetus Chelsea yang agak sedikit kesal. “Tidak-tidak sayang, aku tidak bermaksud begitu. Tanpa alat yang bisa membuatku mengetahui pikiran orang pun, aku sudah bisa tahu bahwa kamu sangat mencintaiku sebagaimana aku sangat mencintaimu!”. “Ah kamu Frank, kamu memang terlalu sering bercanda!” kata Chelsea yang agak malu dan mendekatkan dirinya untuk memeluk Frank.
***
Sabtu malam minggu, Frank bermaksud untuk mengajak Chelsea nonton di bioskop yang pada malam itu akan memutar film The Sixth Sense, diangkat dari buku yang baru saja dibaca oleh Frank. Frank sebenarnya sudah hafal sekali dengan jalan cerita dari kisah itu, tetapi ia ingin lebih detailnya jika cerita itu dikemas dalam bentuk film. Akan tetapi Frank sangat kecewa sekali, setelah mengetahui bahwa Chelsea tidak ikut nonton bareng dengannya karena masih ada tugas sekolah yang harus diselesaikannya. Frank bingung karena ia sudah membeli tiket untuk dua orang dan tidak dapat dikembalikan. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk nonton film itu sendirian tanpa Chelsea di sisinya.
Sesampainya di bioskop saat Frank ingin masuk ke ruang tonton, ia melihat ada seorang perempuan cantik sebayanya yang kelihatannya agak kecewa karena kehabisan tiket. “Maaf mbak, mbak mau nonton film ini juga?” tanya Frank basa-basi. “Iya, tapi sayang sekali. Saya kehabisan tiket!” kata perempuan itu dengan nada kekecewaan yang mendalam. “Oh kebetulan sekali mbak, saya ada nih tiket satu lagi yang tidak terpakai. Teman saya yang pakai tiket ini tidak bisa nonton sekarang!” kata Frank sambil menunjukan sehelai tiket masuk ke ruangan nonton itu. “Oh bagus sekali, tapi berapa harganya nih!”, “Ah tidak usah lah, saya kan bukan calo!” kata Frank menunjukan tawa kecil. “Oh kalau begitu thanks banget ya, aku pengen banget nonton tuh film. Sampai lupa, Aku Vica, kamu siapa?”, “Frank” kata Frank mengulurkan tangan. Mereka masuk ke ruangan itu bersama-sama dan duduk bersebelahan. Dalam sela-sela menonton film tersebut, Frank diam-diam mengamati wajah Vica yang cantik. “Ah, cantik juga nih cewe. Tapi sayangnya masih kalah cantik dengan Chelsea!” kata Frank dalam hati. Akhirnya pemutaran film itu berakhir dan menyisakan suara-suara lirih decak kagum dari penonton. “Bagus ya filmnya?” tanya Vica ketika mereka berjalan keluar ruangan. “Iya, memang bagus!. By the way, kamu pulang bawa kendaraan atau mau dijemput seseorang?”, “Tidak dua-duanya!”, “Bagaimana kalau bareng aku saja!” kata Frank menawarkan. “Kalau kamu tidak keberatan, boleh juga sih!”, “Ah, tentu saja tidak!” kata Frank menyakinkan.
Saat Frank berjalan di trotoar menuju ke mobilnya yang diparkir di pinggir jalan, ia melihat suatu peristiwa yang tiba-tiba. Ada seorang yang sudah agak tua mau menyeberang jalan, tetapi dari arah yang berlawanan sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi yang agak ugal-ugalan. Kemudian sebelum Kakek itu mengetahuinya, mobil itu sudah menabraknya dan mobil itu langsung kabur tanpa berhenti sedikitpun. Frank langsung berlari menghampiri Kakek itu yang memang sudah hampir sampai di trotoar. Ia meminggirkan Kakek yang tidak sadarkan diri itu ke trotoar yang syukurlah Kakek itu hanya terserempet dan mengalami luka ringan di kepalanya. Di sekitar Frank berkerumun orang-orang yang hanya menonton saja tanpa memberikan bantuan sedikit pun. Memang inilah perilaku orang kota yang sangat individualis. Lalu Vica menyeruak ke kerumunan itu dan berkata, “Ada apa Frank?. Ayo cepat kita bawa saja ke rumah sakit!”. Frank dengan dibantu Vica mengangkat Kakek itu untuk dimasukan ke mobil dan mereka meluncur menuju ke rumah sakit terdekat.
Di rumah sakit, Frank mengurusi administrasi dan menunggui sampai si Kakek siuman. Vica bersedia untuk menunggu sampai si Kakek siuman pula. Setelah kira-kira satu jam, Frank meninggalkan Vica yang menunggu di luar untuk masuk ke ruangan di mana Kakek itu dirawat. Saat Frank sedang duduk di samping Kakek itu, tiba-tiba Ia mendengar suara yang parau. “aaa, Nak Frank, nak Frank” Frank terkejut dan mencari-cari sumber suara tersebut. Ternyata suara itu berasal dari Kakek yang sudah mulai siuman. “Nak Frank, terima kasih atas bantuannya sampai mengurusi biaya saya di rawat di sini. Sekarang Nak Frank pulang saja, saya sudah cukup sehat kok. Rumah Nak Frank kan di daerah Bintaro jadi cukup jauh dari sini!”, Kata Kakek itu agak terbata-bata. Frank hanya terpana mendengar semua itu dan Ia merasa sangat heran sekali. “Tidak apa-apa Kek, kita sebagai manusia kan harus saling membantu!” kata Frank masih menyembunyikan rasa penasarannya. “Sekali lagi terima kasih ya Nak Frank, itu perempuan yang bernama Vica itu sudah menunggu dari tadi lho!” kata Kakek itu seperti tidak ada kesan mengada-ada. Akhirnya Frank merasa sangat penasaran dan berkata, “Kita kan belum pernah saling mengenal dan bertemu sebelumnya, lalu dari mana Kakek tahu saya bernama Frank, rumah saya, dan perempuan yang saya temui malam ini kek?”. “Ah, itu semua Kakek tahu seperti saya sudah pernah mengalami kejadian itu sebelumnya, walaupun semua ini baru saja terjadi” Kakek itu menjelaskan. “Aku tidak mengerti” kata Frank bingung. “Ya ini seperti kemampuan yang dibilang orang-orang indera keenam begitulah. Hal ini sudah kakek alami sejak Kakek kecil. Dan Kakek juga tidak tahu kapan firasat-firasat itu datang”, Kakek itu berkata sambil terbatuk-batuk. Lalu Frank teringat dengan cerita pada buku dan film yang telah Ia tonton hari ini. Lalu Ia berfikir, “Hebat sekali kakek ini, ia mendapatkan kemampuan ini secara alami bukan dari suatu alat atau apalah!”. “Ia memang saya punya kemampuan ini dari kecil bukan karena alat-alat yang ada dalam cerita yang nak Frank tahu hari ini!” kata kakek itu mengejutkannya. “Dari mana Kakek tahu apa yang sedang saya fikirkan barusan!” tanyanya kagum. “Kakek juga tidak tahu, Kakek seperti dapat mendengar segala sesuatu yang dipikirkan oleh orang yang berada dekat dengan Kakek!”. “Wah asyik sekali dong kek, aku sebenarnya sangat ingin punya kemampuan seperti Kakek, setelah membaca buku The Sixth Sense itu!” katanya dengan kagum. “Percayalah, kamu akan mendapatkan kemampuan ini juga pada saat yang tidak terduga. Mungkin setelah pertemuan kita ini”. “Ah, tapi sepertinya tidak mungkin Kek. Itukan kemampuan yang didapatkan seseorang sejak kecil. Bahkan saya ini adalah anak yang paling sering kena tipu dari teman-teman saya. Apalagi jika mau buat alat-alat seperti di cerita itu, ah itu sangat tidak mungkin mengingat ilmu Alam saya yang buruk.” Kata Frank seperti putus asa. “Sudahlah, semua itu akan berubah. Sekarang kamu pulang saja, perempuan itu sudah menunggu lama bahkan sampai ia mengantuk di luar sana!”. Frank berpamitan dengan Kakek itu sambil mendo’akannya agar lekas sembuh. Saat Frank keluar kamar itu, Ia melihat Vica yang sudah mengantuk dan menunggu dengan bosan di kursi panjang. Frank berkata, “Ternyata benar apa yang dikatakan Kakek itu!”. “Benar apanya, lama banget sih. Sekarang kita pulang kan?” kata Vica yang agak sedikit kesal.
Sebelum Frank pulang ke rumah, Ia mengantarkan dulu Vica yang rumahnya ternyata agak berjauhan dengannya. Vica hanya menunjukan daerah di mana tempatnya tinggal. Saat mendekati jalan letak detail rumahnya, tanpa sadar seprtinya Frank sudah mendengarkan intruksi-intruksi dari Vica dan berbelok secara otomatis tanpa menanyakan terlebih dahulu kepada Vica. Lalu Frank berhenti di rumah yang berpagar hijau dan mematikan mesin mobilnya. “Di sinikan rumah mu?” kata Frank yang memandangi wajah Vica yang agak kebingungan. “Iya, kok kamu bisa tahu. Padahal aku kan tidak berkata apa-apa tadi tentang letak detail rumahku!” kata Vica keluar mobil. “Aku juga tidak tahu, semua itu berjalan saja tanpa ku sadari!” kata Frank sambil mengantarkan Vica sampai ke pintu gerbang rumahnya. “Ah sudah lupakanlah, Thanks ya, kamu cowo yang baik!” kata Vica ketika mencium pipi Frank sebagai tanda ucapan terima kasih. Frank masih berdiri malu di situ sampai Vica sudah tidak terlihat lagi di balik pintu rumahnya.
Saat tiba di rumah, Mama membukakan pintu untuk Frank dan berkata, “Kok pulangnya malam sekali Frank?” katanya agak sedikit cemas. “Tadi aku nolongin orang yang ketabrak di dekat bioskop Ma!” katanya menjelaskan. “Oh begitu, kamu memang anak baik Frank. Sekarang, kok Papamu belum pulang ya!”, “Papa nanti pulang jam 2 malam Ma, Ada lembur di kantor!”, “Dari mana kamu tahu nak?”, “Aku juga enggak tahu Ma!” Frank berlari menaiki tangga rumahnya dengan perasaan yang masih bingung. Frank langsung masuk ke kamarnya dan menghempaskan dirinya di atas ranjangnya yang empuk dan bersih serta rapi. “Ah, ini pasti Mama yang sudah membereskannya!”, kata Frank dalam hati. Tiba-tiba, secara refleks tangan Frank memegangi handphonenya sepertinya Ia tahu bahwa sebentar lagi akan ada yang menelponnya. Ternyata benar dan Ia langsung mengangkat panggilan itu dan berkata tanpa terlebih dahulu melihat screen handphonenya. “Hallo sayang Chelsea, ada apa?”, “hai Frank, kok cepet banget sih ngangkatnya?” terdengar sahutan dari ujung sana. “Aku juga enggak tahu nih, kebetulan aja kali ya!”, “Ah lupakanlah, aku mau minta maaf lagi nih, enggak bisa nemenin kamu nonton tadi”, “Ah sudahlah, aku sudah maafin kamu kok!”, “Bagaimana tadi, filmnya bagus?”, “Bagus banget, aku jadi lebih tertarik sama cerita itu!”, “Ah sudah ya kalau begitu Frank, aku mau tidur dulu. Sudah malam nih”, “O.k deh sayang, selamat tidur ya, mimpikan aku di situ”, “Aku berharap itu”, terdengar kata-kata terakhir Chelsea sebelum menutup telephonenya.
***
Frank bangun di pagi hari pertama di minggu ini. Saat ia terbangun pada dentang jam dinding empat kali, Ia seperti teringat sesuatu bahwa hari ini Ia akan ulangan matematika, terdiri lima soal yang materinya adalah Persamaan Trigonometri. Ia agak sedikit bingung, sepertinya ia sudah mengalami ulangan tersebut dan mendapatkan hasil maksimal, tetapi ia sampai sekarang belum pernah mendapatkan hasil nilai matematika setinggi itu. Tanpa merasa sedikitpun keanehan, Frank segera mandi dan mempersiapkan peralatan sekolahnya seperti biasa. Sebelum berangkat, ia sedikit belajar materi yang akan diulangkan pagi hari ini. Sesampainya di sekolah, Ia langsung menuju ke dalam kelasnya walaupun suasananya masih terlalu sepi. Ia duduk di kursinya dan mulai membuka-buka buku matematika yang bertuliskan Persamaan Trigonometri pada judul babnya. Tanpa Ia sadar, teman sebangkunya Harry tiba. “hai Frank, ngapain luh pagi-pagi gini udah datang!. Pake belajar matematika lagi, hari ini kagak ada ulangan tahu!” kata Harry sedikit mencibir. “Memangnya kamu tidak tahu, hari ini kita kan akan ulangan dan materinya adalah seperti yang sedang ku baca sekarang ini!” tegas Frank dengan yakin. “Ah massa Frank, sepertinya sejauh yang aku ingat, pak Simpson tidak pernah berkata akan ada ulangan. Lagi pula kelas lain juga belum memberikan bocoran padaku. Coba aku tanya Rita. Hai Rit, memangnya kita sekarang ada ulangan Matematika?” tanya Harry pada Rita cewe paling pintar di kelas. “Hah ulangan, mana mungkin. Tahu dari mana kamu Frank?. Aku yang anak kesayangan pak Simpson saja tidak diberitahu kalau ada ulangan, apa lagi kamu Frank!. Mengigau kali kamu!” kata Rita sambil tertawa kecil. “Aku juga tidak tahu, sepertinya aku sudah pernah mengalami ulangan ini dan akan mendapatkan nilai 95 dengan hanya salah sedikit pada nomor 3 soal itu!” kata Frank sambil meneruskan konsentrasinya pada buku matematikanya.
Kemudian bel tanda masuk kelas berbunyi. Pak Simpson guru Matematika yang mengajar jam pertama di kelas itu, masuk dengan langkah-langkahnya yang tegap ke kelas. “Selamat Pagi anak-anak!. Hari ini kita ada ulangan matematika mendadak. Bapak sengaja melakukan ini untuk menguji kesiapan kamu terhadap materi kita sekarang ini.” Kata Pak Simpsons dengan tegas dan dibalas oleh suara protes dari anak-anak kelas itu. “Sudah-sudah, sekarang siapkan alat tulis dan kertas ulangan kalian. Tidak ada buku yang berbau matematika di meja ataupun laci kalian sekarang!”. Frank merasa sangat bersyukur sekali karena telah belajar materi yang akan diulangkan hari ini, yang ternyata benar adalah soal-soal tentang Persamaan Trigonometri. Rita dan Harry hanya memberikan lirikan sinis kepada Frank yang mengira Ia sudah mendapatkan bocoran atau berbuat curang kepada mereka.
Satu jam telah berlalu dan pak Simpson menyuruh mereka untuk mengumpulkan soal dan jawaban mereka semua. Frank mengumpulkan jawaban yang dapat ia selesaikan semuanya dengan baik kecuali pada soal nomor tiga. Pak simpson memanfaatkan waktu 30 menit yang tersisa untuk memeriksa hasil-hasil jawaban dari mereka. Saat itu, anak-anak menjadi tegang menunggu hasil ulangan mereka. Ada keluhan-keluhan menyesal karena mereka mengerjakan soal dengan salah, dan ada juga keceriaan bagi mereka yang yakin benar mengerjakannya. Saat itu, Rita dan Harry masih mendiamkan Frank karena masih curiga terhadapnya. Pak Simpson selesai memeriksa dan berkata. “Semua hasil jawaban kalian telah bapak periksa. Semuanya mendapat hasil yang buruk, kecuali ada satu orang yang mendapatkan nilai 95 karena hanya salah sedikit pada soal nomor 3. Orang itu adalah…., Frank!”. Terdengar suara tepuk tangan riuh dari anak-anak sekelas kecuali masih Harry dan Rita. Harry dan Rita masih tidak percaya dan menganggap Frank telah berbuat curang. Frank juga merasa bingung bagimana Ia bisa tahu terlebih dahulu akan ada ulangan matematika, bahkan Ia bisa tahu hasil dan salah pada nomor berapa sebelumnya.
Pada saat istirahat, ketegangan antara Frank dan Harry sudah mulai mencair. Harry berkata kepada Frank. “Frank, kita taruhan yuk!”, “Taruhan apaan?” kata Frank. “Taruhan bola apa lagi!. Nanti malam ada big match antara Juventus lawan AC Milan. Kamu pegang apa, aku sih tahu kamu kan Milanista, jadi pasti pegang AC Milan kan!” kata Harry dengan yakinnya. Kemudian Frank agak terdiam sebentar. Ia seperti merasa sudah pernah menonton pertandingan itu tapi Ia tidak tahu kapan. Kemudian ia berkata, “Bukannya itu pertandingan sudah kita tonton?”. “Sudah pernah?, itu pertandingan baru nanti malam mau digelar tahu!” kata Harry sedikit tertawa. “Ah, tapi aku sudah tahu bahwa Juventus menang dengan kemenangan telak 3 goal tanpa balas. Tiga goal tersebut diborong oleh David Trezeguet pada menit 30, 44, dan 74”. Harry mendengarnya dengan tidak percaya, “Jadi kamu dukung Juve nih?, o.k deh kalau begitu aku akan dukung AC Milan!” kata Harry sambil menjabat tangan Frank.
***
Dalam perjalanan menuju rumah, Frank terus memikirkan kejadian-kejadian aneh yang dialaminya pada hari ini. Walaupun begitu, Ia masih belum menyadari perubahan apa yang telah dialaminya baru-baru ini. Sesampainya di rumah, Ia melihat Ibunya yang masih tetap sehat bugar dan sedang menonton telenovela di siang hari seperti biasa. Frank langsung menaiki tangga dan masuk ke kamarnya yang masih gelap. Ia lupa tadi pagi tidak merapikan kamar dan membuka tirai jendela kamarnya karena berangkat terlalu pagi. Tanpa menyalakan lampu atau apa, Ia langsung melemparkan tas sekolahnya ke sudut kamar dan menghempaskan tubuh lelahnya ke atas ranjang. Masih dalam keadaan belum ganti pakaian, Frank segera terlelap dalam tidur yang menenangkan dirinya dari serentetan kejadian aneh hari ini. Di dalam lelapnya, Frank seperti bermimpi yang kejadiannya sangat nyata sekali tidak seperti mimpi. Ia seperti sedang menunggui Ibunya di samping tempat tidur rumah sakit. Di sana Ibunya tidak sadarkan diri dan menggunakan alat bantu pernafasan. Kemudian dokter berkata padanya bahwa Ibunya terkena serangan jantung akut yang sangat berbahaya bagi keselamatannya. Setelah mendengar perkataan dokter tersebut, Frank sangat terkejut, dan tiba-tiba keadaan berobah total dan Ia masih terduduk di tempat tidurnya pada suasana dinginnya hembusan angin pagi. Frank berkata lirih, “Ah aku ternyata tertidur tadi siang sampai selama ini. Tadi aku bermimpi atau tidak ya?. Tapi sepertinya itu kejadian yang sangat nyata!. Ah, tapi aku sangat tidak percaya dengan adanya mimpi. Mimpi itukan hanya bunga tidur, jadi tidak perlu aku cemaskan”.
Seperti biasa, Frank bersiap-siap untuk berangkat sekolah di pagi hari. Setelah mandi dan selesai semua persiapan, Ia segera turun ke meja makan untuk sarapan karena perutnya sangat lapar akibat dari kemarin siang tidak makan apa-apa. Frank makan sangat lahap dan nambah sampai 2 piring. Ia memandangi Ibunya yang seperti biasa selalu memasakan makanan yang enak dan Ia menyukainya. Kemudian Ia berpamitan kepada Ibunya dan ada sesuatu yang dirasakan beda oleh Frank. Sepertinya ia tidak ingin meninggalkan Ibunya dan merasa sangat sayang sekali seperti Ia akan berpisah dengan Ibunya ke tempat yang jauh.
Di kelas, Ia dihampiri oleh Harry yang datang tepat setelah Frank tiba. “Hai bung, kamu menang. Tebakanmu tepat semua dan ini uang taruhannya.” Kata Harry dengan lemas. “Benar kan yang aku bilang, Aku merasa seperti telah mengetahui hasil dari pertandingan itu sebelumnya. Soal uang taruhan itu, aku tidak membutuhkannya dan aku juga tidak ingin berjudi dengan taruhan itu. Ambillah kembali!” kata Frank sambil mengembalikan uang taruhan itu ke saku Harry.
Selama di kelas, Frank sangat tidak berkonsentrasi dalam belajar dan selalu rasanya ingin cepat pulang karena merasa ada sesuatu yang terjadi di rumah. Ia jadi teringat oleh mimpi itu lagi, dan masih tidak percaya dengan mimpi yang Ia dapatkan tadi malam.
Bel tanda pulang sekolah berbunyi dan Frank secepat mungkin membereskan peralatan sekolahnya dan segera melesat menuju rumah. Sesampainya Ia di jalan dekat rumahnya, Ia merasa lebih tidak enak lagi. Ia melihat ada mobil ambulance parkir di depan halaman rumahnya. Ia segera berlari dan masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, Ia melihat sesosok tubuh lemas sedang ditandu untuk di bawa ke dalam Ambulance. Frank mendekati tandu itu dan melihat Ibunya yang berada di atasnya. Kemudian Ia bertanya kepada orang terdekat yang sedang berada di dekatnya. “Apa yang terjadi dengan Mama?” tanya Frank dengan panik. “Oh, salah seorang tetanggamu melihat Mamamu yang pingsan pada saat sedang membersihkan halaman.” Jelas seorang paramedis yang mengiringi tandu Ibunya. Frank segera masuk ke dalam Ambulance. Saat itu pula, Ia langsung menelphone Ayahnya untuk memberitahukan tentang keadaan Ibunya sekarang. Di rumah sakit, Ia mengalami peristiwa yang persis sekali dengan detail pada saat mimpinya semalam. Ia mulai tersadar dengan keanehan-keanehan yang menimpanya belakangan ini. Tapi Ia masih tidak yakin dengan mimpi itu semalam. Apakah itu memang suatu pertanda, ataukah hanya kebetulan belaka.
***
Frank mulai masuk sekolah kembali setelah minta izin selama dua hari untuk menemani Ibunya yang masih belum membaik keadaannya. Sesampainya di sekolah, Frank disambut oleh teman-temannya dengan menunjukan rasa keprihatinan mereka terhadap musibah yang menimpa Ibu Frank. Saat itu, fikiran Frank masih kacau dan tidak terlalu responsif terhadap simpati dari teman-temannya itu. Kemudian temannya Harry yang baru tiba berkata, “Frank, aku turut prihatin ya atas keadaan Ibumu. Bagaimana, Ibumu sudah membaik?” tanya Harry sambil menepuk-nepuk pundak Frank. “Ah kamu Harry, terima kasih atas kepeduliannya. Keadaan Mamaku masih belum begitu baik.” Jawab Frank dengan lemas. “Semoga cepat sembuh ya. Kalau begitu, kamu jangan sedih terus dong Frank. Percayalah kalau Ibumu akan cepat membaik”. “Tidak-tidak bukan hal itu, Aku khawatir dengan mimpi-mimpiku”, “Memangnya mengapa?”. “Sebelum kejadian Mamaku itu, aku mimpi kejadian persis pada saat aku sedang ada di rumah sakit. Jadi sekarang aku takut jika akan mimpi hal-hal buruk lagi”, “Sudahlah, mimpi itu kan hanya bunga tidur, jadi jangan terlalu dihiraukan lah!. Tapi kalau mau buat dicari nomor togel sih, mimpi itu baru penting!” kata Harry bercanda mencoba untuk menghibur Frank.
Pelajaran ketiga di hari ini adalah Sejarah, salah satu pelajaran paling membosankan menurut Frank. Ia mendengarkan ocehan dari pak guru Sejarah sambil menopang dagu mencoba untuk menenangkan diri. Saat itu, entah Frank sedang tertidur atau melamun, Ia seperti melihat suatu peristiwa mengerikan yang sangatlah nyata. Di sana, Ia seperti sedang berdiri di trotoar jalan raya dekat kantor Ayahnya, dan Ia melihat mobil ayahnya yang sedang dalam kecepatan tinggi bertabrakan dengan truk yang berjalan ugal-ugalan. Kemudian Ia melihat kepala ayahnya yang tersembul keluar dari kaca mobil dengan berlumurkan darah.
Di luar antara sadar dan tidak sadar yang dialami Frank, Pak Anton guru sejarah mengamati bahwa Frank sepertinya tidak konsen dalam pelajarannya. Sehingga Ia melontarkan satu pertanyaan kepada Frank. “Coba kamu Frank, Mengapa penjajahan Belanda di Indonesia pada masa Herman Willem Deandels 1808-1811 disebut penjajahan Perancis secara tidak langsung?” tanya pak Anton dengan gaya bicaranya yang dingin. Tiba-tiba beberapa saat setelah pak Anton melontarkan pertanyaan dan tidak ada tanggapan, Frank berteriak histeris. “Tidak...., Tidak...., jangan terjadi!” teriak Frank sambil berdiri dari kursinya. “Ada apa Frank, mengapa kamu tidak jawab pertanyaan Bapak?” kata Pak Anton agak terkejut. Frank baru tersadar bahwa Ia sekarang masih berada di kelas tempatnya belajar dan suasana menjadi hening setelah kejadian tadi. Sambil membereskan tasnya dan berjalan cepat menuju ke depan kelas Ia berkata. “Pak saya minta izin karena ada sesuatu yang sangat penting!”, kata Frank berlalu tanpa menghiraukan apakah Ia diizinkan atau tidak. “hai, kamu tidak bisa pergi begitu saja. Ini masih jam pelajaran!” kata Pak Anton yang terdengar di belakang Frank. Terdengar pula kata-kata ejekan dari dalam kelasnya bahwa Ia sudah tidak waras. Tetapi Frank terus berlari menuruni tangga keluar dari sekolahnya. Tanpa meminta iazin terlebih dahulu kepada satpam ataupun guru piket, Frank berlari keluar pintu gerbang melewati elah kecil yang lupa ditutup oleh satpam. Ia terus berlari menuju ke rumahnya dengan nafas yang tersengal-sengal, berharap Ayahnya belum berangkat kerja. Sesampainya di rumah, Ia tidak menemukan mobil Ayahnya di depan rumah dan juga tidak di dalam garasi. Ia juga mencoba untuk menghubungi handphone ayahnya, tetapi ternyata Ayahnya tidak membawa handphonenya hari ini. “Ah sudah terlambat. Pa, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa!” kata Frank lirih sambil menstarter motor kesayangannya.
Ia terus memacu motornya dengan kecepatan tinggi tanpa memperhatikan lagi rambu-rambu lalu lintas disekitarnya. Lampu merah Ia terjang bahkan persimpangan kereta api pun ia langgar. Ia terus menambah kecepatan berharap bisa menemukan Ayahnya sebelum kejadian itu terjadi. Setelah melewati tikungan dekat kantor Ayahnya, Ia melihat mobil BMW milik Ayahnya di ujung jalan yang agak jauh dari posisinya sekarang ini. Dari arah yang berlawanan, Ia melihat sebuah truk pasir yang sedang melaju secara ugal-ugalan. Tanpa bisa berbuat apa-apa, Frank hanya bisa menyaksikan kejadian itu dan berteriak sampai memekakan telinganya sendiri.
***
Frank duduk terkulai di kursi rumahnya setelah melakukan prosesi pemakaman Ayahnya. Dia di sana ditemani oleh seorang perempuan cantik yang sudah dikenalnya dengan dekat selama ini. “Terima kasih Chelsea, kamulah satu-satunya yang aku butuhkan pada saat seperti ini.” Kata Frank yang memandangi wajah Chelsea yang masih tetap cantik walaupun dalam keadaan berkabung. “Aku akan tetap menemanimu pada saat keadaan apa pun juga. Apalagi pada keadaan seperti sekarang ini, Aku akan selalu mensupportmu sampai kamu kembali tenang.” Kata-kata Chelsea membuat Frank sedikit memiliki semangat di keadaannya yang sekarang ini. “Aku cinta caramu mencintai aku Chelsea, terima kasih atas ketulusanmu. Ini membuatku semakin mencintai kamu”, “Aku Juga cinta kamu Frank, tapi sekarang lebih baik kamu beristirahat dulu. Lihat itu matamu sudah sangat merah. Kamu perlu sekali tidur” simpati chelsea sambil membelai kening Frank. “Tidak-tidak, aku tidak mau tidur. Aku takut akan bermimpi-mimpi tentang hal yang buruk lagi. Aku tidak ingin kehilangan semua orang yang Aku cintai lagi. Terutama kamu chelsea!”, “Percayalah, kamu tidak akan kehilangan aku. Aku akan tetap bersamamu sampai kapan pun!” kata chelsea menenangkan Frank.
Frank merasa sangat mengantuk. Sepertinya kelopak mata itu sudah sangat berat untuk terbuka. Mimpi-mimpi itu pasti sudah siap untuk menyerbu ke alam tidur Frank yang akan segera menjadi kenyataan. Tapi Frank tidak menyerah, Ia mencoba untuk menghilangkan rasa kantuknya itu dengan banyak mengobrol dan ngemil makanan kecil dengan Chelsea. Minum kopi dan memakan cabai agar tidak mengantuk. Tetapi hal tersebut sia-sia. Sudah bertumpuk-tumpuk cangkir kopi di meja tempat mereka duduk, tapi rasa kantuk itu tetap juga datang.
Malam mulai larut dan Chelsea minta izin pada Frank untuk pulang. Pada awalnya Frank agak keberatan untuk ditinggalkan, tetapi setelah sadar bahwa malam hampir larut, dan takut juga bila terjadi fitnah karena tidak enak kan kalau ada perempuan yang malam-malam begini ada di tempat laki-laki. apalagi perempuan yang sexy dari ujung kaki sampai ujung kepala seperti Chelsea, bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nantinya bisa-bisa. Frank melepas kepergian Chelsea sampai pintu gerbang rumahnya. Kemudian Ia kembali lagi ke sova ruang tamu dan duduk menghempaskan diri di atasnya. Tanpa sadar, Ia akhirnya menyerah dengan rasa kantuk yang dari tadi menyerangnya. Dalam mimpi yang sangat singkat itu, Ia melihat Chelsea yang sedang berjalan untuk menyeberang jalan raya. Saat Chelsea sedang berada di tengah-tengah jalan, tiba-tiba meluncur sebuah mobil sedan dengan kecepatan cukup tinggi. Akibatnya mobil itu tidak kuasa untuk mengerem, dan terjadilah peristiwa yang sangat Frank takutkan.
Frank terbangun dari tidurnya yang singkat itu dan sadar bahwa Ia harus bertindak cepat kali ini. Ia berlari secepat yang dia bisa keluar dari rumahnya dan segera menuju jalan di mana mimpinya itu terjadi. Saat Ia tiba di daerah yang Ia maksud, Frank tidak melihat Chelsea atau kejadian yang ada dalam mimpinya itu. Ia seketika itu tersadar bahwa ada jalan satu lagi yang keadaannya sama persis dengan di sini. Ia langsung berlari lagi menuju tempat yang satu lagi dan melihat ada kerumunan orang-orang yang sepertinya telah terjadi sesuatu hal yang serius. Frank segera merasa sangat terpukul karena Ia sudah tahu apa yang terjadi di hadapannya sekarang. Sekali lagi Ia tidak dapat berbuat apa-apa pada peristiwa yang diketahuinya dan pada orang yang dicintainya pula. Seperti yang telah Ia duga, Ia melihat sesosok tubuh perempuan cantik yang Ia sangat cintai selama ini terbaring tidak bernyawa. Dan hanya keheningan dalam hati Frank yang mengalahkan teriakan kesedihan yang sudah hancur.
***
Frank merasa sangat terpukul sekali dengan serentetan peristiwa mengerikan yang Ia alami belakangan ini. Pertama Ibunya, lalu Ayahnya, dan sekarang Chelsea tempat terakhir Frank untuk melipur lara. Sekarang ini tidak ada lagi tempat untuk berteduh, tempat untuk bernaung, dan tempat untuk meluapkan semua kekesuan hati. Yang sangat Ia sesalkan adalah, Ia mengetahui semua peristiwa yang seharusnya dapat Ia cegah terjadinya. Tetapi Ia tidak dapat berbuat apa-apa dan semua peristiwa itu terjadi tepat di depan mata kepalanya sendiri. Rasanya Frank ingin bunuh diri saja, karena Ia merasa tidak dapat hidup dengan keadaannya sekarang ini. Tapi Ia berfikir, selain bunuh diri itu dosa yang besar, Chelsea dan keluarganya yang sudah tiada pasti akan sangat membenci perbuatannya ini. Oleh karena itu, Frank memilih untuk berjalan keluar rumah siapa tahu dapat pencerahan di sana.
Saat Frank berjalan tanpa tujuan di teriknya sinar mentari bulan Agustus, Ia teringat akan cerita yang ada di buku The Sixth sense yang Ia baca sebelum semua peristiwa itu terjadi. Lalu Ia juga teringat akan pertemuannya dengan si Kakek yang memiliki kemampuan indera keenam itu. “Ah ini semua pasti karena Kakek itu. Ia bilang Aku yang sangat ingin kemampuan itu akan bisa pula menjadi seperti dia. Mengetahui kejadian yang orang lain belum tahu kejadian tersebut dan mendapatkan firasat-firasat aneh tentang masa depan. Sekarang Aku sangat menyesal memiliki kemampuan aneh seperti ini yang hanya akan menyiksaku. Andaikan Aku tidak memiliki kemampuan ini, pasti peristiwa-peristiwa ini tidak akan terjadi”. Saat Frank masih berjalan dengan gontai tanpa tujuan, Ia melihat kerumunan orang-orang di trotoar jalan yang sepertinya ada kecelakaan lagi. “Ah ada kecelakaan ya, tumben banget ya aku tidak dapat firasat sekarang ini!” kata Frank lirih dengan tawa putus asa. Walaupun Frank ingin mengabaikan hal itu, tetapi sepertinya kaki Frank menyuruhnya untuk berjalan ke arah kerumunan itu. Saat kepalanya menengok ke tubuh terlentang yang tidak berdaya itu, Ia merasa sepertinya pernah bertemu orang yang sudah tua itu sebelumnya. Ia langsung berlutut merendah dan berkata kepada Kakek yang memiliki kemampuan indera keenam itu dan sekarang sudah hampir diujung mautnya. “Kita bertemu lagi nak Frank…!” kata Kakek itu dengan terbatuk-batuk. “Kek, aku tidak mau memiliki kemampuan ini. Aku sangat menyesal!” kata Frank sedikit terburu-buru. “Tenanglah, semua yang terjadi, sudahlah terjadi. Dan semua akan berjalan tanpa sepengetahuanmu!”, “Tapi kek…, kek…,!” kata Frank yang bersamaan dengan hembusan terakhir dari nafas Kakek itu yang sudah satu-dua. Orang-orang yang berkerumun itu berbisik-bisik dan menganggap bahwa Frank sudah gila. Kemudian mereka pergi dan tidak ada yang menolong kakek itu mungkin karena mengira bahwa kami adalah gembel kota.
Setelah mengurusi jenazah si Kakek, Frank memutuskan untuk kembali ke rumah dan merenungi semua peristiwa yang telah terjadi selama ini. “Pertama-tama, Aku membaca buku the sixth sense itu. Lalu aku bertemu dengan Kakek sialan itu yang telah menularkan kemampuan setan ini kepadaku. Lalu kejadian-kejadian mengerikan yang sama sekali tidak Aku inginkan tiba dan kini Aku terpuruk sendirian di sini.” Fikir Frank yang sedang berjalan menyusuri ruang tamu. Ketika memasuki ruang makan, Frank membayangkan bagaimana suasana ketika mereka sekeluarga sedang bercengkrama dan bercanda dalam keceriaan keluarga. “Ma, aku sepertinya tidak dapat makan masakan mu yang super enak itu, dan Pa, aku rindu akan nasihat-nasihatmu” kata Frank lirih yang sedang menaiki anak-anak tangga. Setelah mandi dan membersihkan diri, Frank menghempaskan tubuh lelahnya ke atas tempat tidur yang berantakan sekarang ini. Ia mencari-cari handphonenya berharap akan ada nama Chelsea yang sedang menelphone pada screen handphonenya. “Oh Chelsea, aku rindu ingin membelai rambutmu yang wangi, mendengar suaramu yang merdu, dan Chelsea…. Ah, Andai saja aku punya mesin waktu doraemon dan alat penembus antar dimensi, akan ku putar waktu dan takkan mengalami semua hal buruk ini. Sayangnya Aku hanya manusia biasa yang hidup dalam relita, bukannya dunia komik dan play station.”. Di dalam kegelisahannya, Frank terlelap di Bawah redupnya sinar lampu kamar tidur.
Entah Ia sudah tertidur atau belum, Ia merasakan seperti ada tarikan kuat yang membawa tubuhnya berputar-putar dalam lorong gelap yang sepertinya Ia rasakan sangat lama dan tiada berujung. Ia tidak dapat melihat apa sekelilingnya dan di mana Ia sekarang ini. Saat Ia sudah mulai dapat mengendalikan diri, Ia sudah berada di tempat yang terang benderang di sinari oleh cahya keemasan sinar mentari. Angin bertiup sepoy-sepoy menerpanya yang sedang duduk di bawah rimbunnya pohon di taman. Ia melihat ada seorang perempuan cantik sedang menyandarkan kepalanya di bahunya yang lebar. Ia mengenali wajah itu dan wangi rambutnya. Ia Chelsea, perempuan yang Ia kira sudah pergi jauh darinya. Ia mencoba mencubit lengannya, ternyata terasa sakit dan berarti ini bukan mimpi. Lalu Ia coba menengok ke arloji, di sana waktu menunjukan pukul 08:34 am dan tertulis tanggal 7 July 2006. Ia tidak menyangka apa yang sebenarnya telah terjadi dengan dirinya sebelum dan sekarang ini. Ia sangat bingung, mengapa Ia bisa berada di tempat dan waktu yang sudah pernah Ia alami sebelumnya. Di tengah kebuntuan pikirannya, tiba-tiba terdengar suara lembut Chelsea di telinganya. “Bagaimana ceritanya, aku pingin tahu dong!” kata Chelsea manja. Frank tersadar dan kemudian tanpa buang-buang waktu, Ia melemparkan buku The sixth sense yang ada di tangannya ke arah danau yang mengkilat memantulkan cahya mentari pagi saat itu. Chelsea terkejut dan segera menegakan kepalanya dari bahu Frank. “Ada apa, apa yang kamu lakukan Frank!” tanya Chelsea panik. “Sudahlah, lupakanlah buku dan cerita sampah itu. Sekarang aku hanya ingin hidup dalam realita dan tidak ingin berharap dan mengkhayal sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini” kata Frank tegas. Kemudian Frank segera mendekap Chelsea dalam pelukannya dan berbisik, “Aku tidak ingin kehilanganmu lagi!”….
T A M A T
Tentang Penulis
Peneliti di Pusat Riset Pendidikan BRIN
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Artikel Terkait
Di Tengah Kisah
Cerpen cinta yang manis. Kelanjutan dari kisah sebelumnya "Bermula dari Kasih" yang menengahkan konflik untuk menguji kesetiaan. Selamat membaca.
The Secret Admirer
Kisah seorang pemuda yang menjadi pemuja rahasia seorang gadis di sekolahnya. Hingga pada suatu saat ia memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya. Selamat membaca.