Lompat ke Konten Utama

Di Tengah Kisah

Dimas P. Muharam · · 37 menit baca

Setahun sudah aku dan Findia menjalin kasih. Hubungan kami semakin erat dan rasanya tidak ada yang dapat memisahkan kami selain maut. Prestasiku di kelas juga berangsur-angsur semakin membaik setelah yang sebelumnya aku tidak mementingkan belajar dan hanya mencari kepuasan dengan gonta-ganti pacar dengan perempuan-perumpuan cantik di sekolah ini. Semua perubahan ku itu disebabkan karena Findia yang masuk ke dalam kehidupanku. Aku jadi lebih semangat dalam belajar karena kami sering sekali belajar bersama-sama. Aku sering menanyakan hal-hal yang tidak aku mengerti kepada Findia. Yang membuatku semakin kagum kepadanya adalah, ia tidak pernah meremehkanku karena nilai-nilai akademisku yang lebih rendah daripadanya, dan ia selalu dengan senang hati menjelaskan hal-hal yang tidak aku mengerti walaupun jurusan studi kami berbeda.

Aku mengambil jurusan IPS karena ingin mengambil ilmu Ekonomi nanti dan untuk melanjutkan perusahaan ayahku, dan Findia mengambil jurusan IPA karena keinginannya menjadi seorang dokter. Oleh karena itu, semakin hari aku rasanya semakin mencintai Findia. Jika satu hari saja tidak bertemu, rasanya seperti ada salah satu organ tubuhku yang hilang. Selain itu, Findia juga tulus mencintaiku. Ia mencintaiku bukan karena aku anak orang kaya, tetapi karena aku benar-benar tulus mencintainya.

Frekuensi bertemu kami semakin tinggi di saat kami mau menghadapi ujian akhir sekolah. Kami lebih sering belajar bersama untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi ujian akhir. Pada saat belajar itu aku sering mengeluh karena aku terlanjur tidak menguasai pelajaran-pelajaran pada saat kelas 10. Sehingga aku agak kesulitan dalam mengerti pelajaran-pelajaran yang telah lalu. Dalam kondisi seperti itu, Findia terus menyemangati dan memotifasiku agar tidak putus asa dan yakin bahwa kita akan lulus bersama-sama. Findia itu memang gadis yang cerdas, baik hati, santun peringainya, dan bagus imannya. Memang tidak salah pilihan hatiku itu. Merupakan sosok sempurna bagiku yang tidak ku temukan sebelum ini.

***
Gemericik hujan membangunkanku pada pagi hari pertengahan bulan Mei. Hari ini adalah hari pertama aku menghadapi ujian akhir nasional yang akan berlangsung selama tiga hari. Aku memandang ke jendela, ku lihat awan mendung yang memayungi langit kota Jakarta ini. Aku berharap semoga hari ini bukanlah hari yang buruk bagiku dan aku berdo’a kepada tuhan agar dilancarkan dalam mengerjakan soal-soal ujian dan diberikan hasil yang terbaik untukku. Aku melangkah ke kamar mandi dengan gontai karena masih sedikit mengantuk, akibat tidurku yang terlalu larut menghafalkan materi-materi yang masih sedikit belum ku kuasai. Setelah sarapan dan berpamitan kepada kedua orang tua agar diberi restu, aku berangkat ke sekolah dengan menumpang angkot yang sudah aku jalani selama aku mengenal Findia. Kenikmatan naik angkot yang tidak kurasakan sebelum ini. Di dalam angkot, kita bisa bertemu orang-orang baru dan teman-teman kita. Selain itu aku juga bisa merasakan bagaimana rasanya ketika kita harus berlari menuju gerbang sekolah karena jalan yang dilalui oleh angkot itu macet. Sesampainya di sekolah yang syukurlah jalannya tadi tidak macet, aku langsung menyusuri tangga sekolah dan ke tempat biasa untuk bertemu dengan teman-temanku.
”Hai pras, optimis bener muka luh!” kata Yofi yang sedang sibuk membolak-balik buku Ekonominya. “Iya dong, buat apa kita pusing. Toh ujian itu pasti akan tiba kan!” kataku sambil menawarkan kacang atom yang ku beli di warung depan sekolah. “Iya elu sih enak punya pacar yang pinter jadi bisa pacaran sambil belajar deh. Lah gua, pacar gua gobloknya sama kayak gua. Mau digimanain lagi!” Kata Jhonny yang sedang sibuk mencatat-catat contekan untuk ujian nanti. “Ya terima aja deh nasib luh Jhon, gua sih merasa beruntung banget dapet pacar yang baik, cantik, dan pintar pula.” “Ya good luck deh bung kalo gitu” jawab Jhonny dengan agak sedikit gusar.
Bel tanda masuk kelas telah berbunyi dan kami semua segera mempersiapkan diri untuk masuk ke kelas ujian.
”Wah mati deh gua, contekan gua belum selesai nih” jerit Jhonny sambil menulis cepat dan melipat kertas-kertas itu ke dalam sakunya. “Ah gua belum ngerti ini lagi. Ini ngitung rumus pajak bumi dan bangunan panjang amat sih!” cemas Yofi sambil membantingkan buku Ekonominya ke dalam tas. Aku hanya bisa tersenyum kepada mereka dan kami saling mendo’akan agar kami semua berhasil.

Saat aku menuju ke kelas tempat ujianku, aku merasa sepertinya ada sesuatu yang membuatku menjadi cemas. Pada saat yang bersamaan, aku melihat Findia juga mau masuk ke kelas ujiannya yang hanya bersebelahan dengan kelasku. Pada saat itu aku tersadar, bahwa aku membutuhkan dukungan dari Findia. Saat kami beradu pandang, kami langsung berjalan saling mendekati seperti memang sudah ada tali penghubung antara hati kami.
”Fin, do’akan aku ya” kataku ketika kami sudah berada di tepi pagar pembatas lantai. “Aku akan selalu mendo’akan untuk keberhasilanmu pras”, “Tapi aku merasa tidak yakin dapat mengerjakannya dengan baik jika tidak kamu di sisiku”, “Tenang saja, do’aku berserta kamu. Ingat bahwa kita akan lulus bersama, good luck ya!” kata-kata findia yang lembut itu serasa memberikan semangat baru dalam diriku. Aku menggenggam tangan Findia lalu ku angkat dan ku cium tangan halus itu sambil mengucap “Terima kasih sayang, aku juga mendo’akan kamu agar sukses”. Kemudian kami saling melemparkan senyum dan berpisah ke kelas masing-masing untuk menghadapi ujian kami. Aku melangkah dengan langkah-langkah pasti sambil melihat-lihat nomor di setiap meja dan mencocokkannya dengan nomor di kartu ujianku. Ternyata aku dapat di deretan belakang meja ujian yang sebenarnya sangat strategis sekali untuk melihat kertas contekan. Tapi aku sudah berkomitmen kepada Findia untuk tidak mencontek dalam ujian ini dan menggunakan seluruh kemampuan yang ada dalam diriku. Aku melihat Jhonny di seberang mejaku sedang mencorat-coret meja dengan contekannya dengan wajah yang sedikit tegang. Sedangkan keadaan yang paling parah kulihat pada Yofi. Ia mendapatkan tempat duduk paling depan tepat di hadapan meja pengawas yang pasti ia tidak dapat berkutik sedikitpun. Yofi sesekali menoleh padaku dan memperlihatkan senyumnya yang getir. Aku membalasnya dengan senyum yang penuh optimisme sekedar hanya untuk memberikan sedikit semangat padanya. Terdengar langkah-langkah berat kaki menuju ke kelas ujian yang sunyi senyap dalam ketegangan itu. Seorang laki-laki setengah baya dengan tampangnya yang agak sedikit garang siap berdiri di depan kelas. “Siapkan peralatan tulis anda, dan jangan lupa untuk berdo’a sebelum mengerjakan ujian akhir ini. Karena ini adalah test yang akan menentukan nasib anda berikutnya” kata laki-laki itu sambil menunjukan senyumnya yang ramah di balik wajahnya yang agak sedikit menyeramkan. Aku berdo’a kepada tuhan agar diberkahi saat mengisi soal demi soal ujian itu sebelum aku membalik kertas soalnya. Aku mulai mengerjakan soal-soal itu berusaha untuk tetap tenang dan berfikir jernih. Waktu sudah berjalan kira-kira satu jam saat aku sudah menyelesaikan hinggal soal ke tiga puluh dengan lancar. Saat mulai mengerjakan nomor-nomor akhir, aku kehilangan konsentrasi dan get stuck. Ku letakan dulu pensil ku dan mengalihkan pandangan ke sekitar mencoba mencari kesegaran dalam berfikir. Di sekitarku yang ku lihat adalah ada yang sedang memain-mainkan pensil sepertinya sedang berfikir, ada yang sedang menggaruk-garuk kepala, ada yang sedang sibuk mengintip-intip contekannya, dan bahkan ada yang sedang tidur mungkin karena lelah berfikir. Melihat pemandangan seperti itu, bukannya kesegaran, malah semakin penat fikiranku ini. Tiba-tiba aku teringat oleh kata-kata Findia “Yakin lah kalau kamu bisa melaluinya, dan ingatlah bahwa kita akan lulus bersama-sama”. Terlintas wajah cantik Findia dengan ekspresinya yang sedang menyemangatiku ketika aku merasa putus asa. “Aku tidak boleh menyerah, aku sudah berjanji pada Findia” aku berkata dalam hati. Kemudian fikiranku menjadi jernih kembali dan soal-soal akhir itu dapat ku selesaikan tepat pada waktunya.

Bel tanda berakhirnya waktu untuk mengerjakan soal berbunyi. “Baiklah, tinggalkan soal dan lembar jawaban di meja masing-masing, dan kalian dipersilakan pulang.” Kata pengawas ujian kami dengan ramah. Saat bel itu berbunyi, terdengar suara-suara seperti lengus kekecewaan mungkin karena mereka belum selesai mengerjakan soal-soalnya, dan ada juga yang berdecak gembira menyambut bel itu mungkin karena sukses dalam menjawab soal-soal, atau karena sudah bosan mengerjakan soal yang tidak mereka temukan jawabannya. Aku bergegas keluar ruangan dan sempat sedikit tersenyum kepada pengawas kami yang ramah itu. Di luar kelas, aku melihat Jhonny dan Yofi yang sepertinya terdapat ekspresi kekecewaan di wajah mereka. “Gimana Yof, Jhon?” tanyaku ketika menghampiri mereka yang sedang berkeluh kesah. “Ah pahit, contekanku banyak yang tidak keluar di ujian, dan ditambah pula susah banget buat ngintip contekan, soalnya tuh si pengawas yang udah mirip banget sama Oliver Kant ngeliatin gua terus!” cetus Jhonny sambil meremas-remas kertas contekannya dan melemparkannya ke tong sampah. “Lah kalau elu Yof?” “Kalau gua sih selesai semua tuh soal. Tapi enggak tahu deh bisa 50% benernya apa enggak. Abis kalau gua ngeliatin muka tuh pengawas, gua bawaannya pengen cepet-cepet aja nyelesaiin tuh soal!” jawab Yofi sambil mengguyurkan sedikit air mineral yang ada di tangannya ke kepalanya mungkin untuk mendinginkan otaknya yang sudah mendidih. “Lah kalau elu sendiri gimana Pras, kayaknya elu tenang-tenang aja!” “Kalau gua sih yakin kalau bisa lulus dengan nilai yang tidak terlalu mengecewakan, ya semua ini berkat gua sering belajar bareng sama tuh cewe” jawabku sambil menunjuk ke arah Findia yang berjalan menghampiri kami. “Hayo ngapain, ngomongin gua ya?” kata Findia dengan gaya bicara yang agak sedikit manja. “Ya gitu deh kurang lebihnya” jawab Yofi yang langsung memalingkan pandangannya ke arah Findia. “Oh iya, bagaimana kamu ujiannya Pras?” tanya Findia kepadaku. “Ah tidak terlalu buruk kok, aku bisa menyelesaikan semua soal dengan baik” “Ah…, syukurlah kalau begitu. Any way, kita hari ini belajar bareng lagi enggak?” “Oh of course, Jhon Yof, gua balik dulu ya!” kataku sambil melakukan tos khas gank kami sebelum berpisah.

Di dalam angkot, aku duduk berhadap-hadapan dengan Findia. Persis saat aku bertemu pertama kali dengan perempuan cantik itu. Dalam perjalanan menuju kost-kostan Findia, kami bercakap-cakap ringan di dalam angkot tentang mata pelajaran berikutnya yang akan diujian keesokan harinya. Matahari Jakarta panas menyinari kepalaku saat aku turun dari angkot dan membayar ongkos untuk dua orang. Saat kami berjalan, tiba-tiba aku melontarkan sebuah pertanyaan kepada Findia. “Fin, kamu masih ingat enggak ketika aku membantu kamu memasukan buku-buku yang tumpah dari tasmu?” “Oh iya masih, mana bisa ku lupakan pertemuan pertama yang sangat berkesan untuk diriku itu” Jawab Findia agak sedikit terkejut. “Waktu itu aku tidak bisa berkata apa-apa dan hanya tercengang seperti orang bego gitu kan!” “Ya gitu deh, aku waktu itu hanya terkesan akan kebaikan dari kamu” Findia agak sedikit mempercepat langkah mungkin karena matahari yang sangatlah terik. Lalu pada saat aku mau melanjutkan perkataanku, tanpa ku sadari kami telah tiba di tempat kos-kosan Findia. Aku dipersilakan untuk masuk dan mengambil kursi di bagian depan ruangan itu. Findia sengaja kost dengan alasan agar lebih dekat dari sekolah, dan ia ingin mandiri terpisah dari orang tuanya. Kostan ini terdiri dari dua ruangan, ruang depan dan belakang. Ruang depan digunakan sebagai ruang tamu dan ruang bagian belakang dipergunakan untuk kamar tidur. Ruang depan ini terlihat sangat rapi dan bersih, terlihat sekali bahwa ada sentuhan wanita di sini. Sedangkan untuk ruang belakangnya, aku tidak mengetahuinya karena aku tak pernah melihat-lihat terlalu jauh sampai ke kamar tidurnya. Setelah berganti pakaian dengan pakaian rumah, Findia keluar dari kamarnya dengan membawa dua gelas minuman dan makanan kecil. Findia terlihat tetap cantik dan menarik walaupun memakai pakaian berjenis apapun. Kami mulai belajar dengan materi yang akan diujikan esok hari yaitu Bahasa Inggris. Ini sebenarnya bukan materi yang terlalu berat bagiku, karena aku sudah mahir dalam bahasa Inggris baik itu speaking, listening, dan writingnya. Kami belajar dengan mengerjakan contoh-contoh soal yang ada di buku latihan yang mudah-mudahan soal yang keluar di ujian model-modelnya seperti ini. Di tengah belajar yang penuh dengan canda itu, tiba-tiba gairahku meningkat mungkin karena tekanan akibat ujian tadi pagi. Aku menggenggam tangan Findia yang lembut, dan ku pandangi wajahnya yang mempesona. Rasanya aku ingin segera memeluk dan mencumbui dirinya. Tapi aku dapat menahan gejolak itu. Aku sudah berjanji dengan diriku sendiri bahwa aku tidak akan menodai cinta yang suci ini. Aku tidak ingin mengulangi kisah cintaku seperti gadis-gadisku selama ini yang hanya berdasarkan nafsu. Tapi yang ini beda, aku sangat mencintainya dan tetap ingin menjaga kehormatannya sampai kita nanti dipersatukan dalam indahnya mahligai pernikahan. Ku lepaskan tangan Findia berusaha untuk menahan keinginan itu. Lalu aku mulai memusatkan konsentrasi kembali agar terfokus pada materi yang akan kami hadapi esok hari.

***
Sinar mentari cerah pagi hari membangunkan diriku di hari kedua ujian akhir nasionalku ini. Aku bangun dengan rasa optimis bahwa aku akan lulus ujian dengan nilai yang baik. Di sekolah, pada saat aku mengerjakan ujian, tidak ada hal yang menghambat dalam pekerjaan ku itu. Semuanya berjalan dengan lancar dan aku dapat menyelesaikan soal-soalnya dengan tepat waktu. Setelah ujian, Jhonny yang memang lemah dalam Bahasa Inggris merasa sangat tegang. Ia takut jika nilai bahasa Inggrisnya tidak lulus. Lalu seperti biasa, aku dan Findia belajar bersama dulu setelah pulang sekolah. Hari esoknya kembali berjalan dengan lancar setelah aku tidak menemukan kesulitan yang cukup berarti dalam pengerjaan soal-soalnya. Bel tanda berakhirnya ujian hari ketiga. Sorak sorai dari anak-anak yang bahagia karena akhirnya mereka dapat menyelesaikan ujian yang akan mengantarkan mereka lulus dari sekolah ini. Tapi di sela-sela sorak sorai itu, ada sebagian siswa yang bersedih tentah karena mereka takut tidak lulus atau apalah. Aku bertemu Findia pada saat keluar dari kelas ujian. Ku lihat ada ekspresi kegembiraan di wajahnya. Aku bermaksud untuk mentraktirnya makan malam di restoran sebagai tanda terima kasihku atas bantuan dan kasih sayangnya selama ini padaku. Pada saat kami makan di restoran, aku melihat ada ekspresi bingung dan sedikit di raut wajah Findia. Hal yang sangat berbeda sekali pada saat kami bertemu tadi siang.
”Fin, ada apa?. Kamu tidak suka makan di sini!” aku mencoba tuk mengetahui apa penyebabnya. “Ah enggak kok, aku suka kok di sini” terlihat ada hal yang disembunyikan oleh Findia. “Terus terang aja ada apa?” “Bener kok enggak ada apa-apa”. Akhirnya aku menyerah dan membiarkan semua itu. Tiba-tiba Findia berkata “Hmmm, tapi ada yang mau kuberitahukan sama kamu Pras.” “Apa itu?” “mmmm, tidak lah. Mudah-mudahan semua ini tidak akan terjadi. Lupakanlah yuk terusin makannya!” kata Findia berusaha merubah ekspresi wajahnya menjadi ceria kembali. Sejak saat itu aku menjadi gelisah. Apakah yang sebenarnya disembunyikan oleh Findia?. Tapi aku yakin, Fibndia itu perempuan yang jujur. Jadi ia tidak akan menyakiti hatiku. Aku percaya itu.

Awal bulan Juni, awan mendung menaungi malasnya kota Jakarta pada hari pertama di minggu ini. “Ini bukan seperti biasanya. Seharusnya ini sudah musim kemarau. Tetapi mengapa awan mendung ini menutupi cerahnya sinar mentari pagi?. Ah…, mudah-mudahan tidak hal buruk yang terjadi pada hari aku menerima hasil ujian nasional ku ini.” Aku bergumam sambil membuka jendela kamarku. Aku menunggu hasil ujianku di rumah dengan perasaan yang gelisah. Aku khawatir jika aku tidak lulus nantinya. Tapi aku harus lulus dan tidak ingin mengecewakan usaha Findia selama ini. Akhirnya, pada saat tengah hari. Pak pos yang ku tunggu-tunggu dengan was-was tiba juga. “Ada yang namanya Prasetyo Anggoro di sini?” tanya pak pos itu dengan ramah ketika aku berjalan cepat menyongsong surat itu. “Iya pak saya sendiri!” “Oh, ini tolong di kasih ke orang tuanya ya dek. Semoga adek lulus!” ucap pak pos sambil menyerahkan selembar amplop putih dengan lambang sekolah di depannya. “Terima kasih pak!” kataku dengan gemetar sambil menerima amplop putih itu. Aku langsung bergegas menuju ruang keluarga yang di sana ada ayah dan ibuku. Pada saat itu kebetulan Ayah dam Ibuku sedang tidak kerja. Aku membuka amplop itu dengan hati-hati sambil mengucap Basmalah dalam suara yang lirih. Ku buka lipat demi lipatan kertas itu dan pada saat aku membuka lipatan terakhir aku melihat kata Tidak lulus di berikan tanda coretan. Aku langsung merasa sangat bahagia dan memeluk kedua orang tuaku yang memang keadaan ini sangat jarang terjadi. Aku berpamitan untuk menuju ke sekolah melihat hasil nemku sebenarnya.

Di sekolah, aku melihat Yofi dan Jhonny yang sedang murung mukanya. “Ada apa Yof, Jhon?. Elu semua lulus kan?” tanyaku ketika baru saja tiba di tempat biasa nongkrong. “Sayangnya tidak Pras!” jawab Yofi dan Jhonny bersamaan. “mana sini ku lihat kertasmu!” aku membaca kertas pemberitahuan mereka berdua dan aku tertawa terbahak-bahak. “Ini sih tandanya kalo elu berdua itu lulus tau!” “Kok bisa, yang di coret kan kata-kata tidak lulus.” Yofi bertanya heran. “maksudnya, kalau ada kata-kata yang dicoret itu berarti kata itu tidak terpakai. Jadi yang dipakai adalah anda telah lulus!” aku masih tertawa sambil menyerahkan kertas itu kepada mereka. “Bener itu Pras!” kata Jhonny yang mulai ada raut kegembiraan di wajahnya. Aku hanya bisa mengangguk dan memandangi ekspresi kegembiraan dari mereka berdua. Kutinggalkan mereka yang sedang yuvoria kelulusan untuk menuju papan pengumaman nilai nem siswa. Di sana kulihat namaku masuk deretan Top Ten nem-nem terbaik. Sehingga pada saat ku lihat Findia di ujung koridor kelas, aku langsung berlari menyongsongnya dan memeluk tanpa sadar tubuh Findia yang indah itu. “Terima kasih Fin, aku lulus dengan nilai yang cukup baik!”, tetapi pada saat yang bersamaan, aku tersadar dan melepaskan pelukanku dan merasa sangat malu sekali pada Findia. “Maaf…, maaf.. Fin, aku tidak bermaksud…” kataku geragapan. “Enggak apa-apa kok, aku tahu kegembiraanmu itu” kata Findia dengan tenang tetapi masih sedikit malu. Tiba-tiba, ekspresi wajah Findia berubah menjadi sedih dan agak bingung. “Aku…, mau bicara sama kamu Pras. Penting!” “Penting?, bagaimana kalau kita bicara di ujung koridur itu!” “Baiklah”. Aku berjalan mengiringi langkah kaki Findia yang berjalan dengan gontai di sampingku. Di ujung koridor ini akan menjadi saksi hal penting apa yang akan dikatakan Findia kepadaku. Aku berharap mudah-mudahan awan mendung bukan pertanda buruk bagiku seperti baiknya nilai ujianku. Findia mulai berkata, “Aku lulus dengan nem yang terbaik Pras, oleh karena itu aku mendapatkan beasiswa untuk meneruskan studi kedokteranku” Findia berbicara sambil terus menatapi awan mendung di langit. “Wah bagus dong, selamat ya Fin kamu memang pantas mendapatkannya!” kataku sambil menyodorkan tangan ingin bersalaman, tapi Findia masih terus memandangi langit yang mendung. “Masalahnya…, aku mendapatkan beasiswa untuk studi di Australia.” Kata Findia dengan suara yang sangat lirih sampai hampir-hampir aku tidak bisa mendengarnya. Mendengar hal tersebut, ada rasa bahagia dan kecewa yang bercampur di hatiku. Bahagia karena orang yang aku Cintai mendapatkan kesempatan untuk studi di luar negeri, dan kecewa karena bila benar ia jadi berangkat, kami akan berpisah selama beberapa tahun. Jadi inikah pertanda dari cuaca buruk pagi ini, hal yang sangat tidak ku inginkan. Berpisah dengan Findia yang sudah seperti separuh dari jiwaku. “Kita mungkin akan berpisah untuk beberapa tahun,” lanjutnya. “Tapi aku yakin, perpisahan kita akan secepat berakhirnya awan mendung itu. Masa depan kita akan kembali cerah pada saat kita bertemu nanti.” Jelas Findia yang sekarang mulai menatap wajahku. Aku mulai bisa berfikir jernih dan berkata setelah sebelumnya dirundung kepenatan, “Aku akan bahagia jika kau pun merasa bahagia. Jarak dan waktu bukanlah penghalang yang dapat merintangi cinta kita berdua. Pergilah adinda, kejarlah cita-citamu. Yang ku harapkan hanyalah kesetian dan kepercayaan dirimu atas diriku yang akan menunggumu sampai kapan pun. Ingatlah, kamu lah cinta sejatiku, satu sampai akhir hidupku.” Aku berbicara sambil menatapi wajah Findia yang mulai basah dengan air mata haru bercampur bahagia dari mata findia yang jernih.

Setelah mengantarkan Findia ke bandara untuk penerbangan pertama dengan tujuan ke Perth Australia, aku mulai membuat planning untuk hal apa saja yang akan aku kerjakan ke depan. Aku mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) untuk dapat masuk ke universitas negeri terkemuka di kota ini. Aku memilih urusan ilmu Ekonomi yang memang aku berminat pada bidang itu, dan untuk melanjutkan perusahaan Ayahku kelak. Hari-hari di tinggal Findia sangatlah terasa. Biasanya kami selalu belajar dan memccahkan masalah bersama, sekarang aku harus berusaha untuk dapat memecahkan suatu masalah sendirian. Sekali lagi tanpa ada Findia di sisiku. Ditambah pula aku belum bisa berkomunikasi dengan Findia baik itu telephone atau surat karena Findia belum menghubungiku sejak ia berangkat ke Australia. Tapi aku masih ingat kata-kata Findia, “Masa depan kita akan cerah ketika kita bertemu nanti.” Hal itu memberikanku motifasi untuk dapat sukses pada saat kami bertemu nanti. Akhirnya dengan usahaku yang sangat keras tanpa bantuan Findia, aku dapat lulus SPMB dan masuk ke Universitas Nusantara yang merupakan universitas negeri paforit dan terbaik di negara ini. Di sana seperti yang telah aku cita-citakan, aku mengambil ilmu Ekonomi yang sangat aku sukai. Dari awal semester aku belajar dengan rajin dan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di kampus. Di sini aku mendapatkan teman-teman yang baru dan berlatar belakang berbeda-beda. Semuanya belajar sangat antusias untuk tidak ketinggalan dalam persaingan yang sangat ketat di Universitas ini. Sementara itu, Yofi dan Jhonny teman karibku itu tidak masuk ke Universitas negeri karena mareka gagal dalam ujian SPMB. Mereka berdua masuk di universitas swasta yang sama dan berada tepat di seberang gedung kampusku. Yofi mengambil jurusan sastra Inggris dan Jhonny mengambil jurusan ilmu politik. Walaupun kami terpisah kampus, tapi kami masih sering menjalin kontak dan bertemu satu dengan yang lainnya. Anehnya, sampai kira-kira ada sebulan Findia berada di Perth, aku belum pernah mendapatkan kontak sedikitpun dari Findia. Tapi aku di sini hanya bisa mendo’akannya agar tidak terjadi hal yang tidak kuinginkan pada Findia di sana. Aku ingin kami kembali bersama seperti dulu.

Di kelas saat aku sedang membereskan buku-buku usai pelajaran, ada seorang perempuan teman sekelasku yang sudah ku kenal menghampiriku. “Pras, ada yang mau kenalan tuh!” katanya sambil menarik-narik lengan pakaianku menyuruh untuk lebih cepat. “Siapa sih?, sabar dong!. Sebentar lagi juga selesai.” Kataku dengan sedikit kesal. Sambil mengumpulkan keseimbanganku dalam berjalan, aku berjalan cepat mengikuti temanku itu menuju keluar kelas. Di ujung koridor kelas, aku melihat ada seorang perempuan cantik yang jika kulihat sekilas wajahnya mirip dengan Findia. Perasaanku sangat bahagia sekali karena menyangka Findia sudah kembali kepadaku. Tapi tidak mungkin, Findia ada di Australia untuk beberapa tahun. “Eh tin, jangan kasar-kasar gitu dong!” kata-kata lembut keluar dari perempuan cantik itu memperingatkan temanku itu yang memang berbadan agak seperti laki-laki. “Sorry deh!” kata Tina sambil berlalu pergi. “Findia?” “Bukan-bukan, saya Rindia” “Oh maaf…, maaf…, saya kira orang yang saya kenal sebelumnya” kataku dengan rasa sedikit malu dan kecewa karena ia bukanlah Findia yang selama ini aku kenal. “Aku Prasetyo, kamu bisa panggil aku Pras aja. Oh iya by the way, untuk apa kamu memanggil saya ke sini?” kataku sambil menjabat tangan Rindia. “Oh, aku di sini hanya ingin berkenalan dan mengucapkan terima kasih lagi atas bantuan kamu pada waktu itu”, “Bantuan yang mana?”, “Itu loh bantuan yang kamu berikan pada saat sedang ospek. Yang waktu itu kamu nolong aku saat sedang terperosok ke lumpur.” Kata Rindia dengan gaya bicara yang hampir mirip dengan Findia. “Oh…, yang itu ya!”, aku mencoba mengingat-ingat. Aku ingat bahwa dia itu gadis yang sama-sama ospek denganku dan terperosok ke dalam lumpur pada saat di suruh mengerjakan tugas-tugas yang aneh-aneh oleh senior. Pada saat ku tolong dia, aku tidak memperhatikan wajah dari perempuan itu, karena wajah dan badannya penuh lumpur yang menutupi kecantikan menawan yang kulihat sekarang ini. “Kamu mau langsung pulang setelah ini?” “Iya, sudah tidak ada apa-apa lagi yang mau aku kerjakan di sini” “Rumah kamu di mana?” “Di sekitar kebon Jeruk” “Oh kalau begitu, bareng saja denganku!” “Ah tidak usah, kita kan baru kenalan nanti merepotkan” “”Sudahlah, enggak apa-apa kok. Abis daripada aku pulang sendirian!”, “Tak usah aku biasa pulang naik kendaraan umum sendiri kok, terima kasih” “Baiklah kalau maumu begitu” kataku sambil menunjukan sedikit ekspresi kecewa. Kami berjalan beriringan menuju keluar kampus sambil mengobrol-ngobrol kecil. Pada saat kami berjalan menyusuri tangga dan sudah tiba di dua anak tangga terakhir, aku melihat Rindia tiba-tiba memagangi kepalanya dan terjatuh tak berdaya. Aku segera menolongnya dan berkata, “Kamu tidak apa-apa Rin?” “Tidak terlalu buruk, tapi ku rasa kakiku terkilir” kata Rindia sambil memegangi pergelangan kakinya. Aku membantu Rindia berdiri dan memapahnya dalam berjalan. Aku berkata dalam hati, “Syukurlah Findia tidak ada di sini, aku tidak mau ada kesalahpahaman dengan melihatku bersama wanita lain”. Lalu aku berkata “Kalau begini kamu aku antarkan ke klinik ya!” “Ah tidak usah, tolong antarkan aku ke rumah saja”. Aku menuju ke lapangan parkir dan menemukan mobil Mersi sport dua pintuku itu siap menunggu di sana. Ku bukakan pintu mobil dan membantu Rindia untuk duduk di sana. Aku mengamati wajah Rindia, tidak ada kesan keterkesanan yang biasa jika perempuan-perempuan biasa melihat mobil Mersiku yang mentereng ini. “Persis seperti Findia” aku berkata dalam hati. Laju mobilku yang menyusuri jalan-jalan macet jam pulang kerja menghantarkan kami pada obrolan ringan untuk mengetahui tentang diri masing-masing lebih jauh. Kami tiba di tempat tinggal Rindia pada saat matahari mulai memerah. Ternyata Rindia tinggal di tempat kost yang kehidupannya hampir mirip dengan Findia. Ia menginginkan kehidupan yang mandiri tidak membebankan kerabatnya karena orang tuanya yang sudah meninggal. Ia anak semata wayang dari orang tuanya dan kerabatnya tinggal jauh di luar kota Jakarta ini. Merupakan perempuan yang sangt tegar dalam menghadapi hidup yang keras ini apalagi di kota Jakarta yang penuh dengan rintangan. Saat aku membukakan pintu mobil untuk Rindia, tiba-tiba handphone ku berdering. Ku lihat di screen tertera nomor yang tidak kukenal dan menggunakan kode negara Australia. Aku mengangkat panggilan itu dengan harap bahwa itu adalah kabar baik dari Findia. Terdengar suara yang sangat jernih di telingaku “Hallo assalamualaikum!” “Wa alaikum salam” Aku mendengar suara yang sudah sangat ku kenal selama ini. “Hallo Pras, ini aku Findia dari Perth” “Iya sayang, aku tahu itu pasti kamu. Aku sangat merindukan kamu. Bagaimana kabarmu di sana?” Aku berjalan agak menjauh dari Rindia tapi masih dalam jangkauan dengarnya. “Aku baik-baik saja. Semua berjalan lancar di sini. Aku juga sangat merindukan mu Pras. Bagaimana kabarmu di sana?” Terdengar suara lembut dari ujung telephone. “Aku di sini baik-baik saja, tapi sepertinya ada separuh dari jiwaku yang hilang. Karena kita tidak bisa berkomunikasi satu dengan yang lain.” “Sekarang kamu bisa add nomor ini, dan catat ya alamatku tinggal di sini.” Aku segera bergegas menuju ke mobilku dan mengambil kertas serta pulpen di dalamnya. “Tapi aku tidak bisa lama-lama berbicara di sini, karena masih ada studi lagi yang harus aku lakukan” terdengar suara Findia lagi setelah memberitahukan alamatnya. “Baiklah sayang, aku akan menghubungimu pada saat malam hari di sana nanti” kataku sebelum kami saling mengucapkan salam dan memutus hubungan telephone. Kemudian, aku teringat pada Rindia yang masih terduduk di kursi mobilku yang agak kesusahan untuk berjalan. “Maaf ya, tadi aku harus berbicara dulu di telephone” kataku dengan nada suara yang sangat ceria. “Kelihatannya kamu sangat bahagia sekali setelah dapat telephone tadi?” “Oh iya, itu tadi telephone dari pacarku yang sekarang sedang studi di Australia. Ini adalah calling pertamanya sejak kami berpisah satu bulan lalu!” “Oh…, begitu..”, aku melihat ada ekspresi kekecewaan di wajah Rindia. Kami berpisah di muka pintu kost Rindia setelah saling mengucapkan salam dan aku menuju ke rumah dengan perasaan yang sangat bahagia di suasana senja mentari yang sudah sangat merah.

Sejak saat itu, aku dan Findia sering melakukan kontak jarak jauh. Aku menelphonenya pada saat malam hari semua studinya berakhir. Jika aku sudah mengobrol dengannya, dapat memakan waktu yang berjam-jam lamanya. Tapi aku sadar, hal itu akan mengganggu studinya di sana. Sehingga ku kurangi frekuensi menelphone ku sehingga aku mengalihkan jalur komunikasi melalui menulis surat secara manual atau menggunakan e-mail. Hal itu tidak akan mengganggunya karena ia akan membacanya pada saat waktu senggang saja. Oleh karena itu untuk mengurangi rasa rinduku pada Findia, aku mencoba menyibukan diriku dengan lebih aktif dalam kuliah dan mengikuti kegiatan-kegiatan kampus termasuk masuk ke club sepak bola kampus. Itu disebabkan karena aku memiliki kemampuan untuk berlari secepat angin, jadi percuma kan kalau tidak dimanfaatkan.

Dua Semester sudah berjalan studiku di universitas itu. Aku dan Rindia jadi sering ketemu dan pulang bareng memang karena jalur rumahnya terlewati olehku. Selain itu aku juga sering curhat kepada Rindia sebagai pengobat rinduku kepada Findia. Aku juga sering menceritakan segala sesuatu tentang Findia kepada Rindia dan aku juga bilang bahwa dia mirip sekali segala tingkah laku dan fisiknya dengan Findia. Malah aku pernah bertanya apakah ada hubungan darah antara mereka berdua, tetapi Rindia berkata bahwa ia tidak kenal sama sekali dengan perempuan yang namanya Findia itu.

Sudah lama sekali rasanya aku tidak bertemu dengan sobat karibku Yofi dan Jhonny walaupun kampus kami berdekatan. Mungkin karena aku terlalu sibuk dengan studiku dan kegiatan luar jam belajar. Saat ku menyempatkan waktu ke kampus Jhonny dan Yofi aku melihat yofi sedang duduk di kantin dan ia melihatku lebih dulu. “Hai bung, sombong nih enggak pernah ke sini-sini lagi. Mentang-mentang pacarnya udah balik ya!” yofi menyindirku sambil menyodorkan sebotol minuman bersoda kepadaku. “Ah pacar yang mana?” tanyaku dengan heran. “makanya jangan kebanyakan pacar dong, itu pacar yang mana lagi yang sering pulang bareng sama elo!” “Oh yang itu, itu bukan pacar gua. Cuman temen kok. Kami pulang bareng karena satu jalan.”, “lah, emangnya elu udah putus sama tuh cewe?” tanya Yofi heran. “Putus?, kapan gua jadian sama dia!” “Lah dulu waktu SMA. Dia Findia kan?” “hahaha…, dia itu bukan Findia. Tapi Rindia. Emang mirip sih orangnya, namanya juga” aku tertawa melihat kesalah pahaman Yofi. “Ooooh gitu. Gua kira Findia kagak jadi ke sana dan jadi satu kampus sama elu!” kata Yofi sambil menahan malu. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaku dari belakang dan berkata, “hai bung, masih inget nih sama kita-kita. Terlalu sibuk pacaran ya?” ternyata yang kulihat itu adalah Jhonny yang baru tiba di meja kami. Yofi langsung menjelaskan kepada Jhonny tentang perihal Rindia yang selama ini mereka salah sangka. “Oh sorry deh kalau gitu pras, any way gimana tuh kabar Findia?” tanya Jhonny untuk menyembunyikan ekspresi malunya. “Findia di sana baik-baik aja, and everythings run clearly for her”. “Jadi elu sekarang ngelakuin Long direction relationship nih?”, “Ya begitulah kurang lebihnya”, “Tapi ingat lho pras, orang yang njalanin LDR itu banyak goodan untuk setia terhadap pasangan. Terutama elu sekarang ini, yang di deket elu udah cewe yang nempel sama elu terus” nasihat Jhonny padaku. “Maksud elu apa?”, “Maksud gua, elu jangan terlalu deket sama tuh cewe yang namanya Rindia itu. Karena dia pasti memanfaatkan momen di mana kamu sekarang lagi terpisah jauh sama pacar kamu. Dia pasti akan terus mencoba memasuki kehidupan kamu dan membuatmu lupa akan Findia hingga saatnya ia kembali nanti” kata-kata Jhonny dengan kesan diplomatis.

Aku pada awalnya tidak mempercayai kata-kata Jhonny itu. Aku dekat dengan Rindia tidak ada affair apa-apa, kecuali sekedar teman biasa. Tapi wanti-wanti dari Jhonny mulai terbukti saat aku tidak sengaja bertemu dengan Rindia di perpustakaan. Yang pada saat aku temui, dia sedang membaca buku di sana.
”hai Rin, sedang baca buku apa?” tanyaku dari belakang agak sedikit mengejutkannya. “Oh kamu pras, ini aku sedang baca buku antropologi untuk buat tugas makalah dari dosen. Kalau kamu sendiri mau baca apa?” “Oh aku, aku mau baca buku tentang teori-teori ekonomi klasik. Sama, tugas dari dosen.” Aku mengambil kursi di hadapannya sambil meletakan buku yang sudah ku cari di hadapanku. Pada awalnya aku berusaha untuk konsentrasi dalam membaca buku itu, tapi karena pembahasannya yang berbelit-belit dan aku tergoda dengan wangi semerbak parfum Rindia, akhirnya ku akhiri saja bacaanku dan memilih untuk memandangi wajah Rindia yang sangat cantik, secantik Findia. Rindia sadar jika ia kuperhatikan sedari tadi dan memutuskan untuk menghentikan bacaannya juga. “Sudah selesai mbacanya?” tanyanya. “Sebanarnya sih belum, tapi bosen banget mbacain teori-teori enggak masuk akal dari tokoh-tokoh kapitalis gitu!” jawabku sambil memain-mainkan buku itu. “Oh gitu, kalau aku sudah selesai mbacanya”. Tapi aku tahu bahwa ia menyelesaikan bacaannya karena terganggu olehku. Rindia melanjutkan pembicaraannya, “Oh iya, bagaimana kabarnya Findia?”, “Dia baik-baik saja di sana. Studinya lancar dan ia sehat”. “Kapan studinya selesai di sana?”, “kira-kira dua tahunan lagi tapi ia berjanji akan mempercepat sutdinya di sana. Tapi buatku itu tidak masalah, karena sampai kapanpun aku akan tetap menunggunya”. “Ah…, pasti Findia itu wanita yang sangat beruntung sekali bisa memiliki pacar yang tampan dan setia seperti kamu ini!”, “Oh tidak, malah aku yang merasa sangat beruntung mendapatkan dirinya. Selain dia itu cantik, ia juga baik hati dan telah merubah kehidupanku menjadi lebih baik seperti sekarang ini!”. “Oh…, begitu ya”, aku melihat sedikit ekspresi kekecewaan yang menyelimuti wajah cantik Rindia, dan aku merasa sangat bersalah sekali telah memuji-muji Findia di depan Rindia. Di tengah kesunyian antara kami berdua, tiba-tiba terdengar suara melengking ibu perpus yang memecahkan kesunyian itu. “Hai kalian berdua, kalau mau pacaran di luar aja. Udah mau tutup nih perpusnya!”. aku segera mengembalikan buku yang tadinya ku baca dan segera mengikuti Rindia yang sudah bergegas keluar sebelumnya.

Setelah mengetahui tanggapan Rindia tentang Findia, aku tahu bahwa sebenarnya Rindia menyimpan perasaan terhadapku. Ah, memang terdengar kelewat gr sih, tapi aku mengetahui itu dari pengalamanku bercinta selama ini. Biasanya kalau ada cewe yang ndekatin cowo atau sebaliknya, si cewe atau cowo itu akan enggak suka kalau targetnya itu memuji-muji orang lain. Jadi ternyata benar apa yang di katakan dengan Jhonny.

Di kamarku, sambil merebahkan diri dan melihat layar komputerku yang masih menyala yang di wallpaper-nya terpampang wajah cantik Findia, aku berjanji bahwa aku akan menjaga jarak dengan Rindia mulai saat ini. Tapi aku sangat sulit sekali melakukannya, karena aku tidak tega terhadap perempuan yang hidup sebatang kara di kota ini dan membutuhkan kasih sayang dari orang terdekatnya. Aku tidak bisa, aku tidak tega jika melihat perempuan yang sedang bersedih. Tapi aku berjanji padamu Findia, aku tidak akan menghianati dan menyakiti hatimu lagi. Saat aku ingin mengklik tombol Turn Off di komputerku, terlihat di e-mail notifier ada e-mail yang baru saja masuk. Pada awalnya aku tidak ingin memperdulikan e-mail tersebut, tapi pada saat itu tanganku refleks mengklik pesan tersebut dan tertulislah ‘From : Findia Anggari’. Ku baca e-mail itu kata demi kata. Di sana tertulis:

Dear Pras,
Saat aku menulis e-mail ini, aku sedang dalam perasaan yang sangat gundah. Di sini pukul 2 malam sekarang, dan aku baru saja terbangun dari mimpi buruk yang mendatangiku.
Di mimpi itu aku melihat kamu bersama wanita lain di sana dan kamu telah melupakanku saat aku datang nanti. Apakah ini firasat buruk bagiku?, ku harap tidak. Aku tidak mau hal itu terjadi karena aku sangat cinta dan merindumu di sini. Apakah kamu masih mengingat janji kita sebelum kita berpisah pras?. Aku akan menepati janji itu dan kita akan kembali bersama dengan masa depan yang lebih cerah.
Jika kamu membaca surat ini sekarang, tolong reply dan yakinkanlah aku bahwa semua itu tidak benar dan kita akan bersama lagi seperti dulu.

Salam rindu
From Findia.

***
Aku menerawang kosong memandangi tulisan-tulisan yang ada pada e-mail itu sambil mengingat-ingat percakapan kami sebelum kami berpisah dulu. Apakah ia tahu semua apa yang aku lakukan di sini?. Ah, tapi itu hal yang tidak mungkin. Aku kemudian langsung mengklik link reply dan menulis:

Dear Findia,
Aku di sini selalu merindumu dan selalu berusaha untuk tidak mengecewakanmu. Aku masih ingat bagaimana janji kita ketika sebelum kita berpisah dulu. Yakinlah bahwa mimpi itu hanya bunga tidur dan yakinlah pula, bahwa aku akan selalu setia menunggumu sampai kapanpun.
Do’a dan cintaku akan selalu mengiringimu di manapun engkau berada, percayalah itu.

Salam kasih,
From Pras.

***
Hari-hari berikutnya, aku mulai menghindar dari tatap muka secara langsung dengan Rindia. Aku tidak ingin memberinya angin yang terkesan bahwa aku juga mencintainya. Aku tidak ingin menyakiti hatinya sebelum hubungan kami menjadi lebih jauh. Tapi sekali lagi, aku tetap tidak tega terhadap seorang perempuan, apalagi perempuan itu sangat menawan. Suatu hari pada saat aku sedang latihan bola di sore hari, aku melihat Rindia berdiri menunggu di sisi lapangan. Aku berkata dalam hati, “Ada apa Rindia datang ke tempat ini?”. Akhirnya peluit tanda berakhirnya jam latihan dibunyikan, dan aku berjalan ke tempat Rindia menunggu. Saat aku mulai mendekati di mana Rindia berdiri menunggu, ia berkata “Capek ya latihannya?, ini ku bawakan air!” kata Rindia sambil menyodorkan botol air mineral yang tidak kuperhatikan sebelumnya. Tiba-tiba teman-teman satu clubku bersorak, “Wah enak ya, punya pacar yang nungguin pas latihan. Sambil mbawain air lagi!” kata mereka sambil tertawa menyindir. Aku biarkan saja sindiran mereka tetapi Rindia hanya tersenyum-senyum simpul saja menanggapinya. Aku mulai berkata, “Ada apa kamu datang kemari?, sepertinya kita tidak ada janji apa-apa!” aku berkata sambil menghabiskan sisa air mineral di botol itu. “Tidak ada apa-apa kok, aku hanya ingin melihat bagaimana kamu saat latihan dan pulang bareng nanti. Soalnya aku merasa sedikit enggak enak badang, boleh kan?”, aku mengamati wajahnya, memang sedikit pucat. Tetapi tidak mengurangi daya pesona pada wajah itu. “Oh tentu saja boleh!”. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian di ruang ganti, aku bersama Rindia masuk ke mobil dan segera meluncur ke arah Kebon Jeruk. “Mukamu pucat sekali, apa tidak sebaiknya kita ke dokter saja?”, “Ah tidak usah, ini sudah biasa kok, nanti juga hilang sendiri”. Tidak terasa tiga puluh menit berlalu setelah kami menyusuri jalan-jalan di kota Jakarta yang tidak pernah lepas dari yang namanya macet itu. Kami berpisah ketika sudah mendekati depan pintu kost rindia. Saat aku baru brjalan beberapa langkah menuju mobilku lagi, terdengar seperti suara orang yang rubuh ke tanah. Saat ku alihkan pandanganku ke arah datangnya suara, ternyata Rindia yang tergeletak tak berdaya di depan pintu kostnya yang masih belum terbuka. Aku segera berlari menghampirinya dan menanyakan apakah ia tidak apa-apa, tetapi ku lihat seperti antara keadaan sadar dan tidak sadar Rindia pada saat itu. Aku segera mengambil kunci pintu yang sudah ada di genggaman Rindia dan membukanya untuk membaringkannya di atas ranjang. Aku menunggui Rindia di samping ranjangnya sampai ia siuman. Karena peristiwa ini, aku merasa lebih tidak tega untuk menjauhinya. Apalagi ia hidup sendiri di sini dan sering sekali pingsan. Setelah beberapa menit, terdengar suara “Pras, pras!” “Ya, aku di sini. Aku akan menjagamu”, “Pras, terima kasih ya telah menolongku untuk yang kesekian kalinya!” kata Rindia lirih sambil memegangi tanganku. Saat yang bersamaan, aku melihat sedikit pakaian Rindia tersingkap, dan timbullah lagi dorongan itu. Tapi sebelum aku melakukan hal yang lebih jauh, aku melihat sekelebat bayangan wajah Findia di hadapanku dan terdengar suara yang sangat jauh sekali, “Yakinkanlah aku Pras, bahwa hal buruk itu hanya mimpi dan tidak akan terjadi!”. Aku sadar dan menyesal sekali karena hampir saja melakukan perbuatan yang menghianati cinta suci Findia padaku. Segera ku lepaskan tanganku dari tangannya untuk menghindari hal-hal yang tidak kami inginkan. Setelah beberapa lama aku menemaninya dan memastikan bahwa keadaannya sudah mulai membaik, aku berpamitan untuk pulang.

Di dalam kamarku yang lega dan nyaman, aku merenungi segala perbuatanku yang akan berakibat fatal jika terjadi sungguhan. Aku terus memandangi foto Findia yang bertahta di desktop komputerku sambil menunggu apakah ada e-mail atau pesan lain yang datang dari Findia. Jam di komputerku menunjukan pukul 11:00 pm yang pada saat itu mataku sudah sangat mengantuk dan akhirnya dengan sedikit putus asa ku non aktifkan komputer itu. Entah beberapa lama, aku seperti berada di suatu tempat yang sangat romantis bersama Rindia. Kami di sana memadu kasihdan saling bercanda seperti layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Tiba-tiba aku melihat Findia datang kepada kami sambil membawa koper-koper yang sepertinya ia baru saja tiba di Indonesia lagi. Tanpa ada kata-kata, Findia mengeluarkan pisau dari dalam sakunya dan menusukkannya ke perutnya sampai ia meninggal kehabisan darah. Aku dan Rindia hanya tertawa melihat kejadian itu dan kami melanjutkan pacaran kami kembali. Dentang lima kali jam dinding membuyarkan bayangan itu dari benakku. Aku terbangun dan coba mengingat-ingat mimpiku tadi. Ada rasa lucu dan cemas yang kurasakan. Memang sih, itu mimpi rada konyol dan aneh. Tapi aku juga cemas jika apakah ini pertanda bahwa hubungan aku dengan Findia akan berakhir?. Ah, tapi sampai sekarang aku adalah manusia yang paling tidak percaya dengan mimpi.

Di kampus, aku menyemangati diriku tuk melupakan mimpi yang menurutku konyol tadi malam. Di kelas, aku melihat ke teman sebelah mejaku yang sedang memegang-megang buku novel Romeo & Juliet. Aku berkata dalam hati, “Oh begitu rupanya, jadi aku memimpikan peristiwa dalam buku itu yang aku tahu salah satu dari mereka ada yang bunuh diri, dan nantinya bunuh diri semua. Tapi kalau aku semalam, setelah yang satunya bunuh diri, yang lainnya malah ngetawain. Ah lupakanlah mimpi konyol itu!”.

Setelah memberi kami tugas kelompok, dosen mempersilakan kami untuk meninggalkan kelas. Seperti biasanya, Aku pulang paling terakhir karena banyak buku-buku yang harus kubereskan ke dalam tasku. Saat aku keluar kelas menuruni anak-anak tangga yang pada saat itu kudapati suasananya sudah sepi, ku lihat Rindia berdiri di ujung tangga menunggu seseorang yang kukira itu aku. Ia di situ berdiri sambil memegangi seperti sebuah amplop dan dengan wajah yang lebih pucat dari semalam. Aku berkata, “hai Rin, ada apa, kamu ingin bertemu saya?” kataku setelah sampai di anak tangga terakhir. “Aku ingin kamu membaca surat ini” kata Rindia gemetar sambil menyerahkan surat itu ke tanganku. Aku menerima surat itu dan berkata, “kamu tidak apa-apa rin, muka kamu lebih pucat dari yang semalam?” “Tidak….”. Sebelum sempat berkata apa-apa lagi, Rindia tiba-tiba jatuh terpuruk di hadapanku dalam keadaan tak sadarkan diri. Aku memasukan surat yang belum sempat ku buka itu ke sakuku, dan segera berlutut untuk menolong Rindia terbaring di lantai. Aku berkata lirih, “Ah ini sudah tidak bisa ditolelir lagi, aku harus membawamu ke dokter”. Lalu terdengar suara di dekatku, “Wah, kalau pacaran jangan di lantai gitu dong!”, ternyata itu adalah si Zakaria satpam kampus yang sudah akrab denganku. “Hei jack, bantuin don. Dia pingsan nih!”, “makanya nyiumnya jangan keterlaluan dong, sampai pingsan gitu!” kata Zakaria sambil tertawa. “Eh enak saja, udah bantuin aja dulu deh mbawa nih cewe ke mobil!” kataku yang agak sedikit kesal.

***
Di rumah sakit, aku menunggui Rindia yang sedang di infus karena kekurangan cairan tubuh. Saat aku sudah mulai agak terkantuk karena malam yang sudah agak larut, tiba-tiba dokter datang ke kamar itu dan berkata padaku. “Anda siapanya dari saudari Rindia?” kata dokter itu berwibawa yang menghilangkan rasa kantukku. Aku langsung menjawab cepat, “Saya kakaknya dok!” “Oh kalau begitu, silakan ikut ke ruangan saya”. Aku tiba di ruangan dokter itu. Di sana aku melihat ruangannya yang penuh dengan peralatan kedokteran dan suasana bau obat-obatan yang sangat aku benci. “Ada apa dok, apakah masalah biaya?” kataku mendahului. “Oh tidak, sama sekali tidak. Ini tentang keadaan dari adik anda”. “Memangnya mengapa dengan dia dok?”, “Menurut diagnosa saya, adik anda menderita penyakit yang sangat parah. Adik anda menderita kanker otak”, dokter itu berkata dengan sangat lirih. Aku merasa sangat terkejut dan prihatin sekali dengan nasib Rindia. Ternyata selama ini dia merasa pusing-pusing adalah karena kanker otak yang dideritanya. “Lalu apa yang harus saya lakukan dok?” kataku dengan sedikit panik. “Tidak ada, karena bila dioperasipun resikonya sangat tinggi dan kemungkinan sembuhnya hampir tidak ada. Sehingga kita hanya dapat berdo’a mengharapkan mukjizat dari Tuhan dan buatlah hari-hari terakhir dari hidupnya sebahagia mungkin.” Saran dokter itu.

Saat aku sudah tiba lagi di ruangan tempat Rindia terbaring lemas, aku memandangi wajah pucat Rindia yang merasa kesepian di kota ini. Aku jadi merasa iba dan kasihan pada rindi setelah kejadian ini, apalagi setelah mengetahui bahwa umurnya tidak lama lagi. Sekarang hanyalah aku di sini yang harus bertanggung jawab dan menemani Rindia sampai akhir umurnya. Saat aku meraba saku pakaianku, aku merasa seperti ada sesuatu di sana. Aku baru teringat bahwa Rindia memberikanku surat sebelum ia pingsan sore tadi. Ku ambil surat itu dari sakuku, dan ku buka amplopnya. Terlihat di isi surat itu, tertatakan tulisan tangan Rindia yang rapi dan bersih sampai mengalahkan rapinya ketikan mesin tik.

*
Dear Pras,

Aku menulis surat ini sesaat setelah kamu pergi dari kost ku malam itu. Dalam kesepian itu, aku semakin merasakan bahwa aku membutuhkanmu, membutuhkan kebaikanmu, membutuhkan kasih sayangmu, dan membutuhkan cintamu.

Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah merasakan cinta itu dengan kebaikan hatimu yang mau untuk menolongku. Oleh karena itu, terimalah cintaku ini, aku ingin menjadi kekasihmu. Walaupun aku tahu kau sudah punya kekasih yang sekarang jauh di sana, tapi aku akan memberimu cinta yang lebih besar dan tulus darinya. Percayalah itu dan kita akan bahagia selamanya.

Rindia.
*

Aku membaca surat itu beberapa kali untuk memastikan apakah benar apa yang telah aku baca barusan. Inilah hal yang aku takutkan, bahwa Rindia akan benar-benar cinta padaku dan menginginkan untuk jadi kekasihnya. Ini tidak bisa aku lakukan, karena aku tidak mencintainya tetapi hanya kasihan padanya. Selain itu aku tidak bisa menghianati wanita yang sampai sekarang masih kucintai. Di samping itu, aku tidak bisa membiarkan sisa-sisa hari dalam hidupnya menjadi hancur jika cintanya tidak aku terima. Karena aku merasa bertanggung jawab atas kebahagian di hari-hari akhir hidupnya. Lalu, apa yang harus aku lakukan?. Ya Tuhan, tolong berikan aku petunjuk.

Tentang Penulis

Dimas P. Muharam

Peneliti di Pusat Riset Pendidikan BRIN

Website / Sosial Media

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

  • The Secret Admirer

    Kisah seorang pemuda yang menjadi pemuja rahasia seorang gadis di sekolahnya. Hingga pada suatu saat ia memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya. Selamat membaca.

    Dimas P. Muharam

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.