Di akhir Cerita
Dimas P. Muharam · · 14 menit baca
Kategori: KARFIKSI
Tag: cerpen, Trilogi Kasih
Setelah aku membayar semua administrasi rumah sakit, aku menuju ke kamar kecil untuk membenahi diri. Kamar kecil itu kotor dan bau layaknya kamar mandi umum di rumah sakit. Terdapat bercak-bercak kecoklatan di wash tufelnya. Ku lihat ke cermin yang terletak persis di atas was tufel itu. Hanya ada kira-kira seukuran wajah yang masih bersih sehingga paling tidak bisa digunakan untuk melihat wajah sendiri. Ku lihat wajahku sembab dan mataku merah seperti orang sedih yang semalaman menangis. ‘hmmm, memang aku habis menangis semalam’ pikirku. Ketika aku sedang sibuk memperhatikan wajahku di cermin, aku dikejutkan oleh bunyi bip dari arloji digitalku. “hah, sudah jam 8 pagi, alangkah cepatnya waktu berjalan”.
Ku langkahkan kaki-kaki ku di lorong-lorong rumah sakit yang gelap dan sepi. Hanya beberapa bangku panjang yang berderet di pinggir lorong. Jam segini memang rumah sakit masih sepi, hanya ada beberapa orang yang tertidur karena kelelahan menunggu mungkin sanak keluarganya yang sakit di sini. ‘kalau aku, ingin menunggu siapa lagi di sini?’ tanyaku dalam hati. Saat aku berdiri di depan pintu bercat putih, aku melihat beberapa orang suster sedang mendorong tempat tidur berjalan yang di atasnya seperti ada sesosok tubuh yang terbaring kaku. Ku rapatkan tubuhku ke daun pintu untuk memberi jalan yang luas bagi mereka. Saat meja berjalan itu lewat tepat di hadapanku, aku melihat seorang perempuan muda yang sudah wafat dan sepertinya ingin dipindahkan ke kamar jenazah. “innalilahi Wa innailaihi Rajiun…” bisikku mengucap do’a. Setelah mereka hilang dari pandanganku di ujung lorong, langsung ku membalikan badan dan mendorong pegangan pintu yang tidak terkunci.
Kamar inap itu terlihat remang-remang dan wangi bunga mawar yang selalu ku ganti setiap hari. Aku melangkah ke jendela dan menarik tirai yang sedari tadi masih tertutup menyembunyikan cahaya kemilau matahari pagi. Pelan-pelan ku buka jendela yang seketika terasa angin segar menyapu wajahku. Di bawah pandangan mataku terlihat hilir mudik kuda-kuda besi yang tengah mengantar tuannya ke mana saja. Asap emisinya membuat kabut tipis jika dilihat dari ketinggian lantai 14 gedung ini. Tapi semua aktifitas kota Jakarta yang serba menjemukan itu, masih tidak dapat menyaingi segarnya udara pagi yang paling tidak bisa mengurangi sedikit beban pikiranku. “Pras…, itu kamu?” terdengar suara perempuan yang asalnya dari samping tempatku berdiri. Ia adalah Rindia, gadis cantik penghuni ruang inap ini dari sejak 1 bulan yang lalu. Selama ini aku terpaksa meninggalkan kuliah ku demi merawatnya yang hanya hidup sebatang kara di kota yang kejam ini. “hai rin, sudah bangun?. Sorry kalau berisik, biar aku tutup lagi ya jendelanya?” “Tidak usah, aku suka kok udara pagi”. Tersungging senyum manis di wajah ayu rindia yang telrihat agak kurus dari sejak 1 bulan lalu. “Bagaimana, nyenyak tidurnya?” “Ya, tapi rasanya aku masih mengantuk…” Rindia kembali menghenyakkan tubuhnya di tempat tidur. Yang aku tahu, Rindia masih dibawah pengaruh obat penghilang rasa sakit oleh karena itu Ia akan selalu merasa mengantuk. Hal itu dilakukan dokter karena sakit kepala Rindia yang datang tiba-tiba sangat menyiksa dirinya. “Pras, thanks ya bunganya. By the way, kok wajahmu suntuk sekali kelihatannya?” tanya Rindia yang sedang menikmati wangi bunga mawar dariku. Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuatku terdiam untuk beberapa saat dan kemudian berujar “Oh tidak apa-apa, mungkin karena semalam banyak nyamuk jadi aku tidak bisa tidur!” jawabku sambil mengutas senyum yang agak dipaksakan. Aku hanya berbohong dengan kata-kataku barusan. Mana mungkin tak ada apa-apa dengan kejadian beberapa menit yang telah menghancurkan cita cintaku selama ini.
*****
Saat itu Rindia sudah diberi penenang oleh dokter sehingga Ia langsung tertidur dengan wajah yang menyisakan ekspresi rasa sakit yang sangat. Aku masih duduk di samping ranjangnya untuk melihat sekeliling bahwa segala sesuatunya sudah ok sebelum ku tinggal pulang sebentar. Sebelum mematikan lampu yang letaknya persis ada di seberang ranjang tempatku duduk, aku berbisik pamit di telinga Rindia dan kemudian menjulurkan tangan untuk mematikan lampu duduk. Karena letaknya agak jauh dari jangkauan, aku sedikit mencondongkan tubuh untuk dapat menggapainya. Sehingga pipiku seperti mengenai bibir Rindia. Pada saat yang bersamaan, tanpa ku sadari pintu kamar sudah terbuka dan berdiri seorang perempuan dengan gemetar di ambang pintu. Aku mencoba melihat siapa yang datang dan dari sorot samar-samar cahaya lampu duduk, ku lihat wajah seorang perempuan yang selama ini ku tunggu kepulangannya. Sebelum aku dapat menunjukan rasa kegembiraanku, Findia langsung bergegas pergi disertai bunyi bantingan daun pintu. Untuk sesaat aku tak dapat mencerna apa yang terjadi, tapi setelah aku menyadari pose antara aku dan Rindia sekarang ini, aku langsung tahu bencana apa yang akan terjadi beberapa saat lagi.
*****
Kamar tidurku seperti biasa masih terlihat rapi dan bersih. Tentu saja bukan karena aku yang rajin merapikannya, tapi berkat adanya pembantu rumah tangga yang setia di rumah ini. Orang tuaku yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, membuat tugas untuk mengurus rumah harus diserahkan kepada pihak ketiga di keluarga ini. Sekarang mereka sedang berada di eropa untuk perjalanan bisnis sejak setahun yang lalu. Bahkan pada saat idul fitri saja mereka tidak pulang dan hanya bercakap-cakap melalui telephone denganku. Layr monitor personal computerku masih menyala dengan sinarnya yang tajam dan detail. Di tampilan desktopnya masih pula bertahta wajah Findia yang imagenya aku ambil sesaat sebelum ia berangkat ke Australia. Jendela kecil yang menutupi sebagian besar dari tampilan desktop itu, ada internet explorer yang sedang membuka web mail dengan beberapa kata yang posisi kursor siap pada tombol ‘send’. Waktu di arloji digitalku sudah menunjukan waktu 11:00 PM. Tapi aku masih berbaring dengan kepala beralaskan dua telapak tangan dan pakaian yang masih belum berubah sejak ku langkahkan kaki ke rumah ini beberapa jam lalu. Mataku tak bisa terpejam, di hadapanku terus berputar kenangan-kenangan manis saat aku berdua dengan Findia dan kemudian sesekali diselingi dengan peristiwa menyakitkan di lapangan parkir rumah sakit.
“Huh, findia masih saja tetap cantik seperti dulu, bahkan lebih sekarang” ucapku menghibur. Tak ada percakapan antara aku dan findia pada saat di lapangan parkir. Ia langsung menaiki taksi yang sudah menunggu dan pergi tanpa aku sempat berkata satu patah kata pun. Selama aku memandangi langit-langit kamarku yang kosong, aku merogohkan jari jemari ke saku jaket yang ada di samping tubuhku. Ku raih handphone yang ada di dalamnya dan mencari-cari nomor handphone yang sudah satu bulan ini tidak aku hubungi. Tapi di saat mataku menatap tulisan Princes Fin, Aku meletakannya kembali ke saku jaket dengan tak bersemangat. Tak akan ada gunanya jika aku menghubunginya sekarang di saat semua keadaan sangatlah keruh. Lebih baik aku menunggu sampai semuanya tenang. Ku tegakan tubuhku dan duduk di pinggir tempat tidur. Ku pegangi kepalaku yang terasa berat dengan semua pikiran yang bergejolak sekarang. Tentang tanggung jawabku terhadap Rindia yang hidup sendirian dan sikapnya yang haus kasih sayang dari orang terdekatnya. Kemudian berganti dengan kenangan yang membanjir antara aku dan Findia ketika pertama kali bertemu di angkot dan di saat Ia memberitahuku untuk pergi melanjutkan studinya ke Australia. Tak kurasa air mata mengalir membasahi pipiku yang terlihat agak cekung karena kurang makan dan tidur akhir-akhir ini. Air mata ini luapan perasaan antara sedih karena tidak ingin kehilangan cinta yang selama ini aku tunggu, kebingunganku entah harus mementingkan Rindia yang sedang kesulitan atau Findia yang tak akan pernah tergantikan, dan bahagia karena Findia sudah pulang lebih cepat dari studinya. “Rupanya Findia menepati janjinya kepadaku” bersamaan dengan kata-kata itu, mataku menangkap kembali bayangan layar komputer yang menyala terang. Ku dekati kursi yang terletak di depan layar tersebut dan menghenyakkan diri di atasnya. Ku pandangi lagi beberapa kata di jendela internet explorer yang isinya antara lain menjelaskan kejadian selama sebulan belakangan ini dan meminta maaf atas sikapku untuk menutupinya selama ini serta senang atas kepulangannya kembali di tanah air. Segera sambil diiringi do’a agar Findia mau membacanya dan mengerti tentang semua ini, jari-jari tangan kananku meraih mouse yang tergeletak kaku di sisi layar dan dengan jari telunjuk segera ku klik pada tulisan ‘send’. Setelah layar berganti tulisan yang mengkonfirmasikan bahwa e-mail telah terkirim, ku tutup jendela itu dan sekarang terlihat penuh sosok Findia yang memegang koper sesaat sebelum Ia berangkat ke Australia. Mataku tak akan pernah lelah untuk memandang wajah yang semakin di amati semakin indah itu.
“As If you know, I love you without anything, except all my soul”.
Lamunaku buyar saat kulihat suster yang berpakaian putih bersih masuk dari pintu yang sedari tadi tidak terkunci. “Selamat Pagi suster” sapaku dengan senyum terbaik di wajahku yang tetap tidak bisa menyembunyikan kesedihan di dalamnya. “Ya selamat pagi, nah mbak Rindi, mari saya bantu berkemas” “berkemas, memangnya saya mau ke mana sus?” tanya Rindia dengan wajah bingung dengan pandangan bertanya ke arahku. Aku hanya tersenyum kecil yang fmemberitahukannya bahwa tidak akan ada apa-apa. “Lah mbak Rindi belum tahu, mbak akan pulang dan seminggu lagi akan dibawa untuk berobat ke Amerika Serikat” jelas suster yang sedang membantu Rindia untuk duduk bersandarkan tumpukan bantal. Dengan cekatan, suster mengeluarkan pakaian santai dan rok panjang hitam dari tas yang ada di bawah tempat tidur Rindia. Suster itu memberiku senyum singkat sambil melambaikan tangan ke arah pintu menyuruhku keluar sebentar karena Rindia harus berganti pakaian. Aku menuruti perintah suster dan bergegas keluar ruangan. Setelah menutup pintu di belakangku, aku menyusuri lorong dan turun ke lantai dasar menggunakan lift untuk ke kantin rumah sakit.
Di sana aku berniat hanya untuk membeli dua batang coklat. Setelah membayar sejum lah uang, aku memasukan dua batang coklat itu di dalam saku dan hendak untuk kembali ke ruang inap sebelum pada saat itu ada yang menepuk bahuku dari belakang. “Hallo bos, apa kabar….”. Terdengar suara yang sudah sangat akrab sekali dengan telingaku sejak aku SMA. Saat aku melihat siapa yang menepuk bahuku, aku melihat wajah ceria Yofi temanku yang agak feminim itu sejak SMA. Tapi sekarang rupanya pembawaannya lebih maskulin dan apa yang ada di sampingnya, seorang perempuan cantik sedang menggandeng siku Yofi.
“Hai yof, sudah lama enggak ketemu. Ada apa kamu di sini”, “Oh, ini habis ngejenguk saudara yang sakit.” “Sepagi ini?” tanyaku heran. “Ya sekalian aja sebelum berangkat kuliah. Lah terus, kamu sendiri ngapain?” tanya Yofi lebih heran yang melihat tampangku begitu kusut. “Oh aku, wah ceritanya panjang, nanti aku ceritakan. By the way, cewe capek di samping lo siapa nih?” ucapku mengalihkan arah pembicaraan. “Ini Sifa temen kuliah gue” “Temen apa temen?, eh ada waktu enggak, kita ngobrol-ngobrol dulu ya di situ!” ajakku sambil mengarahkan dagu ke arah kursi kosong di salah satu sudut kantin.
Setelah memesan tiga piring nasi goreng yang ternyata kami sama-sama belum sarapan, kami banyak mengobrol ringan terutama aku yang ngecengin Yofi yang ternyata bisa punya cewe juga. Aku tidak menyangka hal tersebut jika diingat sifat Yofi yang rada-rada aneh selama ini. Sebenarnya hal tersebut hanya untuk mengalihkan perhatian dari pertanyaan mengapa aku bisa berada di sini. Sampai saat aku sudah kehabisan ide sebagai bahan obrolan, Yofi kembali menanyakan perihal yang sedari tadi Ia ingin tahu.
“Terus, lo di sini ngapain pras, nungguin seseorang?” tanya Yofi pada akhirnya. Aku menghembuskan nafas panjang yang sepertinya sudah sedari tadi ingin aku keluarkan. “Iya” jawabku singkat. “Siapa, keluargamu?” Tanya Yofi lagi semakin penasaran. “Bukan, aku menunggu. Rindia” ku tundukan kepalaku tidak berani menatap pandangan tajam dan menyelidik dari Yofi. Yofi menghela nafas kecewa “Ahh, ternyata benar apa kata jhonny selama ini”. Aku semakin merasa tidak enak dengan Yofi yang terdengar nada kecewa dalam suaranya. “Jadi kamu masih menjalin hubungan dengan Rindia. Lalu bagaimana dengan….” “Ia sudah pulang kemarin”. Terlihat Yofi sangat terkejut dengan apa yang baru saja aku ucapkan. Sepertinya Ia sudah tahu apa yang terjadi antara aku dan Findia setelah melihat keadaanku yang sangat memperihatinkan. “Hal ini sudah ku katakan sebelumnya, pasti akan terjadi. Ya, mau bagaimana lagi. Kalau sudah begini kamu harus menjelaskan segalanya pada Findia.” Saran Yofi dengan nada suara yang sudah tenang sekarang. Aku mengangkat bahu tidak yakin “Akan aku coba, Thanks”. Yofi terlihat melirik jam tangannya dan kemudian mengamati pacarnya yang sudah selesai makan sedari tadi. “Sorry Pras, gue sama Siva harus berangkat sekarang nih.” “Oh iya, enggak apa-apa kok” jawabku sambil menjabat tangan Siva yang sudah bangkit dari kursinya. Saat sudah bangkit dari tempat duduknya, Yofi berjalan di sebelahku dan meletakan tangannya di bahuku. “Sabar ya Pras, gue tahu lo pasti akan memilih yang terbaik untuk masa depan lo!” katanya sebelum ia menepuk-nepukan tangannya di bahuku dan pergi menyusul Siva.
Aku masih duduk memikirkan apa yang dikatakan oleh Yofi barusan. Ku pandangi piring di hadapanku yang sekarang isinya tinggal setengah. Tanganku memegang sendok dan terus mengaduk-aduk isinya layaknya fikiranku yang sedang teraduk-aduk sekarang. Keadaan di kantin ini sudah mulai ramai oleh orang-orang yang hampir dari kesemuanya bertampang lesu dan kurang tidur. Semua keadaan itu tidak mempengaruhiku bahkan aku tidak menyadari ada seorang pelayan yang sedang membereskan piring bekas dipakai Yofi dan Siva tepat di depanku. Aku masih terus berfikir tentang keputusan apa yang harus aku ambil setelah ini. Hingga tanpa ku sadari aku tersenyum dan mendadak wajahku menjadi cerah kembali dan bersemangat. Segera aku berdiri dan membuat pelayan yang sedang membereskan piring di hadapanku terkejut. “Oh sorry-sorry mbak, aaa… berapa semuanya?”.
*****
Orang ramai hilir mudik di pusat perbelanjaan itu. Aku dan Rindia sekarang duduk berhadapan di meja sebuah restoran masakan Jepang pavoritku. Bertolak belakang dengan suasana di luar, di dalam restoran ini suasananya agak lenggang jadi jika berbicara sedikit agak keras saja pasti seluruh ruangan dapat mendengarnya. Udara sejuk dari Air Conditioner menyapu halus kepalaku yang rambutnya sekarang agak sedikit gondrong tidak terurus. Bergantian ku pandangi antara sukiyaki yang sudah berkurang seperempatnya dengan wajah Rindia yang semakin hari semakin pucat pasi. Nafsu makannya tidak lagi bahkan tempura yang sedari tadi di hadapannya hanya dipandangi saja tanpa disentuh. Sudah 30 menit keheningan di antara kami sejak masuk ke dalam resto ini. Ku raih cangkir teh yang ada di sebelahku dan menghirup sedikit isinya. Ku dongakkan kepalaku menatap lurus ke wajah Rindia yang kelihatannya sedang berfikir dan kucoba tersenyum seperti tidak ada apa-apa.
“Kamu baik-baik saja rin?” tanyaku membuka percakapan. “Ya, aku baik-baik saja kok”. Aku tahu Ia pasti bohong. Terlihat sekali di matanya yang sekarang beradu pandang denganku bahwa ada hal yang sedang ia fikirkan. “hmm, Pras, ada yang ingin aku bicarakan”. Ahirnya Ia akan mengutarakan apa yang Ia fikirkan sedari tadi. Aku sudah tahu apa yang Ia fikirkan sedari tadi, pasti tentang kejadian yang barusan ini di luar mall. “hmmm, perempuan yang di luar tadi pasti yang selama ini kamu bilang Findia.” Aku tak berreaksi, hanya memandangnya dalam-dalam berusaha untuk menenangkannya. “Kulihat tatapannya tajam kepadamu dan . penuh emosi”, “Sepertinya Ia memang sangat mencintaimu”. Kalimat yang diucapkannya belakangannya terdengar sangat lirih di telingaku. Tapi aku sangat jelas sekali mendengarnya dan dalam hati mengiayakan bahwa aku juga sangat mencintainya. “Sudahlah rin, tak usah masalah antara aku dan Findi membebani fikiranmu. Sekarang satu yang aku ingin hanya melihatmu sehat dan ceria kembali. Ayo dong, makan makanannya!”. Rindia mengatupkan jari-jari mungilnya di depan wajahnya seakan-akan ia tidak mendengarkan perkataanku yang tadi. Lama kembali hening menyelimuti kami. Tak ada yang dapat ku katakan barusan dan aku disibukan dengan bayangan yang melintas saat di luar mall aku keluar dari mobil bersama Rindia dan berjalan memapahnya yang masih belum menemukan keseimbangan. Selalu pada saat yang tidak menguntungkan, ku lihat Findia yang baru keluar dari mall dan menatapku tajam. Serasa menghukumku dengan apa yang terlihat olehnya. Aku hanya terdiam dan tidak berkata apa-apa melainkan pasrah dengan apa saja yang akan terjadi kemudian.
Setelah kesadaranku kembali di ruangan itu, ku rasakan udaranya masih sejuk dan keheningan masih tetap mengelilingi kami. Setelah beberapa saat, aku terkesiap dengan pa yang dilakukan oleh Rindia. Aku fikir Ia akan semakin sedih setelah tahu bahwa Findia sangat mencintaiku dan begitu pula aku. Tapi Ia meletakkan kedua tangannya di meja dan mulai menegakan kepalanya. Terlihat senyum manis yang sudah sebulan ini tidak pernah kulihat lagi. Matanya berbinar-binar dan dengan tangannya yang lembut mengambil tempura yang sedari tadi tidak disentuhnya untuk dimasukan ke dalam mulutnya yang indah. “Ternyata, Findia benar-benar mirip dengan ku ya?. By the way, tempura ini enak juga, kenapa sedari tadi enggak ku makan ya!”. Rindia pun tertawa kecil sambil mengunyah dengan lahap seakan-akan 30 menit waktu yang hilang sebelumnya tidak ada. Aku pun tersenyum lebar tanpa sadar. Seperti udara sejuk AC dapat menembus batok kepalaku dan menyapu panas yang ada di dalamnya.
*****
Tentang Penulis
Peneliti di Pusat Riset Pendidikan BRIN
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Artikel Terkait
The Secret Admirer
Kisah seorang pemuda yang menjadi pemuja rahasia seorang gadis di sekolahnya. Hingga pada suatu saat ia memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya. Selamat membaca.