Merah Matahari #1
- Penulis
- fMahardini
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 19 menit baca
- Jumlah pembaca
- 3 kali dibaca
Kategori: KARFIKSI
Tangan kiriku bergerak meraba bagian atas meja yang ada di sebelah tempat tidur begitu terbangun oleh suara alarm ponsel. Dengan cepat aku meraih benda itu saat menemukannya lalu berusaha mematikan suara alarm yang lumayan keras. Untungnya pagi ini aku hanya memerlukan satu kali coba dan alarm langsung mati. Baguslah. Kadang aku membutuhkan beberapa kali coba agar suara itu berhenti karena otakku yang belum sepenuhnya bangun.
Jariku kembali mengetuk layar beberapa kali, mengecek kalau-kalau ada pesan masuk setelah aku tertidur semalam. Beberapa pesan di grup whatsapp kantor tentang rencana rapat di hari Senin pagi, beberapa pesan dari grup-grup komunitas yang kuikuti. Hanya itu. Tak ada yang menarik. Pesan yang aku harapkan tak ada atau mungkin hanya belum masuk saja. Ya sudahlah.
"Senjaaaa, subuh!" Suara Arik, adik perempuanku, dari luar kamar terdengar cukup nyaring dibarengi ketukan pintu kamar.
Aku meregangkan tubuh dan menarik napas lumayan dalam. "Iyaaa," balasku dengan malas sebelum akhirnya turun dari tempat tidur, membuka pintu, dan menemukan sambutan hangat yang sama seperti setiap hari.
"Alarm bunyi dari tadi, tuh!" teriak Arik dari dalam kamarnya.
"Kan udah ta matiin."
"Iya. Sekian purnama kemudian."
Seperti biasa juga, aku mengabaikannya. Langkahku ke kamar mandi masih digantungi rasa kantuk karena semalam aku tak bisa tidur, banyak berharap air dingin bisa membangunkan tubuhku lebih baik lagi. Aku segera kembali ke kamar untuk subuh setelah berwudhu. Sewaktu selesai, ada suara penanda pesan masuk di ponsel. Satu pesan suara masuk.
"Aku semalam ketiduraaaaan." Suaramu, diikuti tawa kecil, masih ada kantuk yang kentara sekali di sana.
Lalu satu pesan suara lagi masuk.
"Hari ini jaga pagi. Nanti ada ujian stase sama responsi. Semoga pasien kelolaanku hari ini kooperatif."
Aku mengetuk layar di pojok kanan bawah lalu merekam suara.
"Semoga kooperatif. Lancar ya ujiannya."
Pesan suara terkirim. Tak berselang lama, ada nada panggilan masuk.
"Baru bangun?" sambutku.
"Hehehe.. Iya. Kemaren capek banget. Pasien di ruangan jaga lagi banyak-banyaknya."
"Udah subuh?"
"Lagi libur. Aku bangun pagi cuma biar bisa nelpon kamu sebelum siap-siap jaga."
"Kamu makin hari makin pinter gombal."
"Iya. Ini juga hasil belajar ke kamu." Lalu ada suara tawa kecilmu lagi.
Aku tersenyum. Respon yang selalu sama setiap kali mendengar suaramu. Bahkan semenjak pertama kali dulu.
***
"Nang, kamu nunggu di sini sebentar, ya? Bapak ta ngurusin berkas-berkasmu dulu."
Aku menurut, berdiri bersandar di dinding dekat pintu keluar menunggu bapak. Hari ini sekolah lumayan ramai. Ada pengumuman pembagian kelas dan persiapan orientasi siswa baru minggu depan. Aku sendiri sudah mulai orientasi hari ini. Orientasi lingkungan dengan seorang guru untuk tahu di mana kelas, laboratorium, kamar mandi, tempat-tempat yang mereka rasa aku butuh tahu.
"Di kelas berapa?"
"Udah liat kelasnya di mana?"
Suara-suara cukup riuh di sekitarku. Pasti sudah ada banyak sekali yang datang, tapi kurasa ini belum semuanya. Di sekolah ini dalam satu angkatan ada sepuluh kelas yang per kelasnya dihuni empat puluh orang. Artinya, jika semua siswa di sini hadir akan ada seribu dua ratus orang. Pastinya akan lebih ramai dari ini.
Aku menyandarkan kepala ke dinding di belakangku dan menutup mata, membiarkan suara-suara obrolan, langkah-langkah lalu lalang mereka lewat di sekitar.
"Tataaa!!"
Secara otomatis aku memiringkan tubuh ke kanan, menjauhi sumber suara yang cukup keras dan mendadak dalam jarak dekat. Sepertinya pemilik suara yang baru saja berteriak itu menyadari keterkejutanku.
"Eh, sori.. sori.. Aku ngagetin kamu, ya?" katanya.
"Nggak papa." Aku menganggukkan kepala.
"Sori banget," katanya lagi.
Aku menganggukkan kepala lagi dan tersenyum, berusaha terlihat lebih meyakinkan bahwa aku memang tidak apa-apa.
"Ta! Kita sekelaaaas!" katanya lagi kemudian. Sudah pasti bukan padaku.
"Sekelas, Ei? Yaaah.. Masa kita sekelas lagi? Bosen tau tiga taun di SMP kemarin sekelas sama kamu, masa SMA sekelas lagi?"
Suara ini. Entah mengaapa, aku tak bisa mengontrol diriku untuk tak tersenyum sewaktu mendengarnya. Suaramu.
"Oh, yaudah. Aku ke BK aja, minta pindah kelas."
"Hahahaha... ngambeeek... Yaudah yuk liat kelas!"
Aku lantas tak lagi bisa mendengar suara kalian, hilang ditelan suara-suara lainnya dan jarak.
Tata. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku dan tersenyum. Ya, aku tersenyum sendiri seperti orang bodoh pasti.
***
"Udah telponannya?" sambut Arik sewaktu aku keluar dari kamar. Ada suara televisi tentang berita kebakaran salah satu pasar kemarin sore.
"Hmmm.." Aku melewatinya. "Parah ya kebakarannya?" tanyaku sambil melangkah ke ruang makan.
"Parah. Pasar yang bagian timur habis. Kasihan pedagangnya, banyak yang nggak sempet nyelamatin dagangannya." Arik menyusulku ke ruang makan. "Mau makan sekarang?" tanyanya.
"Umi mana?" tanyaku.
"Ke pasar. Heh, mau makan sekarang nggaaak?"
"Iya. Laper." Aku mengambil piring dari rak yang ada di dekat bak cuci piring lalu mendatangi meja makan. "Ada sarapan apa?"
Arik mengangkat tudung saji di depanku lalu menggantungkannya di dinding dekat meja makan.
"Asem-asem buncis sama ayam goreng, mendoan, nasi," kata Arik sambil mengambil piring dari tanganku.
"Waaa.. ayam goreng. Mantap." Aku menarik kursi dan duduk, membiarkan Arik mengambilkan sarapan, meletakkannya di hadapanku.
"Eh, insulinmu udah?" tanyanya.
Aku menggeleng, memasang senyuman lebar, bersiap menerima omelannya.
"Hish! Kebiasaan banget sih kamu ini! Buat badannya sendiri kok nggak peduli. Masak udah sekian tahun masiiih aja kudu diingetin!" Omelannya terdengar menjauh ke arah dapur.
Aku hanya tersenyum saja mendengarkannya.
Kursi di sebelah kiriku ditarik lantas diduduki. Arik dengan cepat membantu mengecek kadar gula darah dan menyuntikkan insulin. Pagi ini suntikan dia berikan lewat lengan kiri. Biasanya kalau menyuntikkan sendiri, aku lebih suka bagian perut, di dekat pusar. Lebih mudah kuakses dengan kedua tangan. Urusan sakitnya ya sama saja. Hanya jarum sekecil itu saja. Tak terlalu kupedulikan.
"Adik yang baik..." Aku mengapuskan kapas alkohol di bekas tusukan.
"Cuma karena kamu keluarnya duluan, nggak terus kamu bisa merasa jadi yang lebih tua. Kata orang Jawa itu..."
"Yang kakak lahir belakangan karena ngalah sama adiknya." Aku memotong cepat, sudah hafal dengan ini, hampir setiap hari kami membahasnya. "Iya, iya... Tapi tetep secara umur tuaan aku," belaku. Aku tak pernah bosan mendengar dengusannya. Rasanya sepi saja kalau gadis galak ini tak mengomel.
"Beda lima belas menit aja bangga," katanya. Suaranya kembali terdengar menjauh ke arah dapur, mengembalikan suntikan ke dalam kulkas.
"Nggak lembur kamu hari ini?" tanyaku. "Eh, Rik. Sekalian bawain gelas dong. Aku lupa ngambil minum!"
Tak perlu waktu lama sudah ada suara gelas diletakkan di atas meja.
"Di dekat tangan kananmu," kata Arik.
Aku menyentuh gelas di dekat tangan kanan yang ternyata dia isi air dingin. Ah, pengertian sekali memang dia ini.
"Nggak lembur. Males. Kemarin-kemarin udah lembur terus nyiapin akreditasi. Masa iya ini harus lembur lagi."
Kursi di sebelah kiriku kembali ditarik lalu Arik kembali duduk di sana.
"Kamu mau ngapain hari ini? Ada kencan?" tanyanya.
Aku menggeleng. "Yang diajakin kencan nggak libur. Hari ini ujian katanya. Terus Senin udah pindah ruang praktik, masuk pagi. Jadi kayanya minggu ini nggak pulang lagi soalnya kan harus bikin laporan pendahuluan buat di ruang praktik Senin besok itu."
"Yang sabar yaaa.. Makanya. Kan sudah kubilang, jangan pacaran sama anak keperawatan, tugasnya banyak banget, ditulis tangan pula katanya. Udah gitu masih harus jaga malam."
"Nggak papa. Lulusnya kan jadi perawat profesional, ahli merawat badan dan hati, jasmani dan rohani." Aku mengakhiri pembelaan dengan senyuman.
"Kamu sadar nggak sih kalo gombalanmu itu bikin aku mual, Ja?" tanya Arik dengan mulut dipenuhi makanan.
"Eh, kok kamu udah mulai makan?" protesku sambil berusaha meraih tangannya, menghentikan gadis itu menyendok makanannya lagi.
"Apa, sih!" Arik melepaskan diri dari tanganku. "Salah sendiri! Udah tahu kalau mau makan harus suntik dulu, harus nunggu lima belas menit dulu. Aku kan nggak. Ngapain juga nungguin kamu." Dia kembali menyendok makanannya lalu dengan sengaja membuat suara mengunyahnya terdengar.
Dasar jelek. Wajahnya pasti semenyebalkan itu, semenyebalkan yang kuingat. Kadang di saat seperti ini aku ingin bisa melihat wajahnya. Ingin tahu sudah seberubah apa wajahnya sekarang. Terakhir kali aku melihatnya sewaktu kami kelas enam. Kurasa. Terakhir kalinya aku bisa melihatnya dengan cukup jelas. Setelah itu yang bisa kulihat hanya gambaran kabur lalu sekarang hampir tak ada. Hanya tinggal sedikit sekali.
"Kenapa, Ja?" tanya Arik. Dia ini walaupun galak, tapi paling tak pandai menyembunyikan kekhawatiran. "Kok mendadak bengong gitu?"
"Hmmm, nggak papa." Aku mulai menyendok nasi dan lauk dari dalam piring, memasukkannya ke dalam mulut.
"Ya udah kalo nggak mau bilang."
Aku tak mengacuhkannya. Tiba-tiba teringat mendengar suaramu siang itu lagi.
***
"Kamu tadi baca daftar nama temen sekelas kita nggak, Ta?"
Kalian sudah keluar lagi.
"Nggak. Nggak ngecek sama sekali malahan. Kan tadi aku cuma ngikut kamu ke kelas aja, liatin kelas, terus udah keluar lagi. Kenapa emangnya?"
"Nggak papa."
"Kenapa, sih? Bikin penasaran tau!"
"Nggak papa."
"Yaudah kalo nggak mau bilang."
Tak ada lanjutan pembicaraan itu. Kamu tak memaksa meminta penjelasan. Mudah menyerah sekali.
"Dijemput siapa?"
"Mas Awan. Eh nunggu situ aja yuk, Ei. Boleh nggak sih itu diduduki?"
Mungkin yang kamu maksud adalah pagar dinding yang ada tak jauh di hadapanku. Seingatku, pagar dinding setinggi pinggang itu lumayan lebar dan memang bisa diduduki.
"Bisa. Tapi nggak sopan kali, Ta. Inget kamu itu cewek. Masa mau naik-naik gitu."
"Kalo cowok boleh?"
"Kalo cowok ya nggak papa kali. Cowok ini."
"Nggak adil banget. Urusan kaya gini aja seksis gitu. Berapa banyak kesempatan yang udah kita lewatin coba? Banyak hal yang sebenarnya bisa kita lakukan tapi sengaja nggak kita lakukan cuma gara-gara bukan buat cewek."
"Hmmmm... mulai ngelanturnya..."
Aku tersenyum lagi. Aku salah. Kamu teryata bukan mudah menyerah. Kamu hanya tak mau memperpanjang obrolan yang menurutmu tak penting. Benar begitu, kan?
"Halo? Iya, Mas. Udah. Ini udah di luar. Eh, masih di dalam halaman, sih. Di deket pintu keluar gedung yang timur. Mas mau jemputin masuk atau aku yang keluar?" Kamu diam sesaat. "Oh, ya udah. Nanti kalo udah sampe kabarin aja. Iya, aku yang keluar nggak papa."
Tiba-tiba aku merasa seperti penguntit yang mendengarkan setiap kata-katamu. Biasanya aku tak seperti ini. Biasanya aku tak peduli pada sekitarku, pada orang-orang dan segala pembicaraan mereka. Tapi, entah mengapa aku suka sekali mendengar suaramu.
"Masih harus nunggu, Ta?"
"He eh, Ei. Baru mau berangkat dari rumah katanya."
"Terus habis ini mau ke mana?"
"Pulang, lah. Eh, nggak tahu juga, sih. Kan hari ini Mas Awan nggak kuliah. Tapi ya paling-paling ngemall."
Aku seharusnya berhenti mendengarkanmu di sini. Sudah jelas yang sedang kalian bicarakan sekarang ini bukan kakakmu.
"Ngemall mulu. Nggak bosen? Kencan kok ke mall terus."
"Ya gimana? Dia sukanya gitu. Nurut aja kan nggak ada salahnya. Nggak rugi juga."
Aku mendengarmu tersenyum, tapi aku tak suka. Aku tak suka mendengar senyuman di kata-katamu baru saja itu. Rasanya pahit.
Ponsel yang ada di saku celanaku bergetar. Dengan cepat aku menariknya keluar, menerima panggilan.
"Senja," kataku, menerima panggilan.
"Belum selesai, ya?" Suara umi ada di ujung sambungan.
"Belum, Mi. Bapak masih ngurus dokumen."
"Rame banget ya di situ?"
"Iya. Lumayan rame. Hari ini banyak yang masuk mau cek pengumuman kelas sama MOS minggu depan itu."
"Tapi orientasimu udah?"
"Udah."
Aku merasakan seseorang menyentuh bahu kiriku, membuatku menurunkan ponsel dari telinga.
"Umimu yang nelpon?" tanya bapak.
Aku mengangguk dan menyerahkan ponsel padanya.
"Sudah selesai ini, baru saja. Iya, kita langsung pulang."
Bapak mengembalikan ponsel. "Sudah ditutup. Disuruh langsung pulang," kata bapak. "Ayo pulang!"
Bapak menyodorkan lengannya. Aku memasukkan ponsel kembali ke dalam saku celana lalu menggenggam lengan kiri bapak dan mengikuti langkahnya memecah kerumunan orang, melewatimu.
"Kamu beneran nggak baca daftar nama tadi, Ta?"
"Yaelah. Dibilang nggak. Aku beneran nggak baca. Emang ada apa sih, Ei?"
Suara kalian semakin tak terdengar seiring langkahku yang semakin menjauh. Boleh tidak kalau aku berpikir kalian sedang membicarakan namaku?
***
Pintu kamar diketuk. Aku melepas headset yang menyumpal telinga dan menoleh ke arah pintu.
"Jomblo lagi ya malam minggu ini?"
Aku tersenyum. Ah, umi ini. "Arik nih memang ember ya?"
"Nggak kangen apa kamu ini?" Umi lewat di belakangku lalu duduk di tempat tidur.
"Nggak juga, Mi. Biasa aja."
"Nggak pengen nyusulin ke Jogja?"
"Dia hari ini ujian, Mi. Besok juga dia bakalan sibuk bikin laporan. Nanti aku malah gangguin dia kalo ke sana."
"Kamu ini kayak bapakmu. Nggak peka."
Aku merasakan umi mengacak puncak kepalaku sebelum mendengar langkahnya menjauh, mendatangi pintu.
"Jadi laki-laki itu mbok yang peka sedikit to, Nang," kata umi lagi sebelum keluar dari kamarku.
Tanpa merasa perlu berpikir panjang, aku mencari ponsel, meraba meja di sebelah kanan laptop, tempat di mana tadi aku meletakkannya. Dengan cepat aku membuka aplikasi whatsapp dan mengetuk baris teratas, di ruang obrolan kita yang sengaja kutancapkan di sana.
Senja: Aku ke jogja siang ini ya?
Pesan itu kuketik cepat lalu kukirimkan. Aku kemudian menutup ruang obrolan kita, ganti membuka ruang obrolan dengan Arik yang kutancapkan tepat di bawahnya.
Senja: Anterin ke stasiun. Aku ke jogja siang ini.
Laptop lantas kumatikan. Aku baru saja berdiri sewaktu mendengar suara langkah cepat mendekat ke kamar.
"Woi, bisa nggak sih nggak mendadak kaya gini? Aku udah punya agenda tau!" protes Arik dari pintu.
"Tau. Tapi hibernasimu bisa ditunda kan? Cuma ke stasiun deket ini."
"Mau berangkat sendiri? Nanti di sananya gimana? Mau turun di mana?"
"Turun di Stasiun Tugu aja. Gampang kalo udah sampai sana nanti," jawabku sambil membuka lemari dan mencari baju ganti.
Ponselku berbunyi, panggilan masuk. Aku meraba meja, meraih benda itu dengan cepat begitu mendapatkannya.
"Beneran kamu mau ke sini?" tanyamu saat panggilan kuterima.
"Iya. Ganggu kamu nggak?"
"Ya jelas enggak lah, Jaaa.. Kamu inii.. Yaudah nanti kujemput di Tugu aja, ya? Makasih, Sayang. Hati-hati di jalan. Aku sayang kamu," katamu.
"Iya. Aku juga," jawabku sambil menahan senyuman. Merasa geli dengan semangat yang ada di suaramu.
"Juga apa?" Kamu menuntut.
"Aku juga sayang kamu. Yaudah diselesein dulu ujiannya."
"Udah selesai ujiannya. Responsinya juga udah. Aku minta maju duluan tadi. Ini tinggal nunggu tiga temenku yang lain. Makanya ini bisa curi-curi waktu ke ruang loker, bisa ngecek hape. Eh dapet kabar bagus."
"Ya udah sana. Laporannya diselesein dulu."
"Siap. Hati-hati. Aku sayang kamu pokoknyaaa.. Sayang banget."
Kali ini aku tak lagi bisa menahan tawaku, sama seperti waktu itu.
***
Pintu ruang perawatan dibuka lalu aku mendengar suara tempat tidur didorong masuk ke bilik kosong di sebelah bilik tempatku dirawat. Ya, aku masuk rumah sakit lagi. Lagi. Dari dulu aku memang langganan keluar masuk rumah sakit. Tapi ini pertama kalinya di kota ini, sudah hari ketiga setelah hampir seminggu sebelumnya aku dirawat di rumah dan diareku tak reda.
"Pasien baru, Rik?" tanyaku.
"Hmmm," jawab Arik yang sore ini tugas jaga menemaniku. Jawaban yang kuanggap iya.
Aku mendengar perawat yang mengantarkannya masuk menjelaskan tentang pencegahan risiko jatuh dan orientasi ruangan. Hal yang sama dengan apa yang selalu mereka jelaskan pada setiap pasien baru.
"Bedrest total," kata seorang wanita. Suaranya berbeda dari perawat tadi. "Pokoknya mama nggak mau denger laporan kamu turun dari tempat tidur. Mandi nanti di situ, pipis juga di situ pakai pispot. Hasil pemeriksaan labmu widalnya positif semua. Tinggi semua. Harus istirahat total pokoknya."
"Tapi aku nggak bisa pipis di atas tempat tidur, Maah. Nanti kalau bocor gimana?"
Kamu. Aku tak mungkin salah mengenali. Itu suaramu.
"Yaudah. Nanti mama bilang ke perawatnya biar dipasang kateter sekalian. Pipisnya lewat selang aja biar kamu nggak ada alasan. Kalau perlu dipasang NGT sekalian biar makannya juga lewat selang."
"Hehehehe... nggak, Mah. Nggak. Bisa kok pipis pakai pispot."
Sama seperti pertemuan kita sebelumnya, aku tak bisa menahan senyuman sewaktu mendengar suaramu.
"Kenapa kamu senyum-senyum?" Suara Arik dekat sekali, lumayan mengagetkan.
"Oh, ini. Lucu." Aku menunjuk headset yang menyumpal sebelah telinga.
Bohong. Tak mungkin juga kubilang aku tersenyum karena mendengar suaramu dari balik tirai tebal yang memisahkan bilik kita ini.
"Oh." Hanya itu komentarnya. Dia lantas kembali menjatuhkan diri ke atas sofabed yang ada di bawah jendela. Mungkin kembali tenggelam dalam novel fantasi yang dibacanya tadi.
"Permisi. Mbak Rekta Adisti Utomo?" tanya seorang wanita. Perawat yang tadi lagi, kurasa.
Rekta Adisti. Tata. Aku tak lagi mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu karena kepalaku dipenuhi oleh namamu. Aku bahkan mengetikkan namamu di kolom pencarian goggle hanya untuk sekedar tahu apa artinya.
"Rekta dalam bahasa Jawa artinya merah." Suara pembaca layar langsung terdengar sewaktu aku melakukan pengetukan di layar. "Adisti dalam bahasa Sansekerta artinya matahari." Suara itu terdengar setelah aku membuat apusan dengan satu jariku di layar.
Rekta Adisti. Merah Matahari. Matahari merah. Matahari sore. Ah, lagi-lagi aku tak bisa menahan senyuman.
"Ta?" Suara laki-laki kali ini. Ada kecemasan di dalamnya yang kental sekali.
"Eh, Mas."
"Eh, Awan. Kok cepet banget. Katanya tadi masih di rumah. Ngebut kamu, ya?"
"Nggak ngebut kok, Tante. Agak cepet sedikit aja. Hehehe..."
"Titip Tata bentar ya? Tante ke apotik dulu. Ayahnya sore ini jaga, belum bisa ninggalin kerjaan. Mungkin habis magrib nanti baru bisa nengokin ke sini lagi."
"Oh iya, Tante."
Aku mencoba sekali lagi menyuruh diriku sendiri untuk berhenti mendengarkan suara dari sebelah, dari balik tirai itu. Tapi ruangan ini terlalu hening dan aku sedang tak menyetel apa-apa di ponselku semenjak tadi. Headset memang sengaja kupasang di telinga agar Arik tak perlu repot-repot mencari bahan obrolan untuk mengusir sepi di antara kami.
"Kamu tuh ya? Udah tahu kalo dulu pernah kena tipus. Kok ya kena lagi. Harusnya kan kamu bisa lebih jaga diri."
"Iya... Maaf," katamu. Seolah tak ingin obrolan itu dilanjutkan.
"Maaf tapi diulangin terus. Kok bisa, sih? Kamu jajan sembarangan ya?"
"Tauuuk."
"Ya udah." Suaranya terdengar tak sabar. "Nggak usah senyum-senyum sok manis begitu. Aku tuh khawatir tau, Ta!"
"Iya, Mas. Maaf ya udah bikin kamu khawatir. Janji nanti makan teratur, bersih, nggak jajan sembarangan lagi. Udah ya?" katamu.
"Ya udah. Yang penting udah dapet penanganan aja. Suhumu udah mulai naik lagi kayanya."
"Ah, apa, sih! Jangan pegang-pegang kepalaku."
"Kenapa? Aku kan cuma mau ngecek kamu panas lagi nggak?"
"Jangan. Nanti kamu nemu paku di kepalaku."
Kali ini tawaku benar-benar tak bisa kutahan. Aku yakin kamu mendengarnya karena obrolan kalian langsung berhenti. Sial.
"Kamu lagi dengerin apa sih, Ja? Kayanya dari tadi senyum-senyum terus?" tanya Arik penasaran. Untungnya dia bertanya.
"Oooh.. Ini, novelnya lucu," jawabku, berbohong lagi padanya. Semoga dia tak tahu. Toh kan dari tadi aku memang memegang ponsel.
Tirai bilik perawatanku disingkap kemudian ada suara langkah kaki dihentikan di ujung tempat tidur.
"Sore, dengan Mas Langit Senja, ya?” tanya perawat yang tadi memberikan penjelasan padamu. "Karena hari ini sudah boleh pulang, saya minta izin lepas infusnya," lanjutnya setelah aku mengiyakan.
"Sebenernya ga usah aja sih, Sus. Saya seneng kalo dia diinfus gitu. Lebih mudah diatur," kata Arik dengan nada datar.
Perawat itu tertawa kemudian sekali lagi meminta izin untuk melepaskan infus dari tanganku.
"Saya tarik infusnya, masnya napas panjang, ya?" katanya.
Aku menurut, menarik napas dalam, merasakan sesuatu ditarik keluar dari pembuluh darah di punggung tangan kiri yang diikuti sedikit tekanan di bekas tempat tusukan. Perawat itu lantas memasang plester di sana.
"Sudah. Tinggal menunggu administrasinya selesai. Oh iya, ini ada resep obat untuk diminum di rumah."
"Diambil sekarang?" tanya Arik.
"Boleh, Mbak. Diambil sekarang sambil menunggu penyelesaian administrasinya. Diambil nanti juga tidak apa-apa. Saya permisi."
Langkah kaki perawat itu terdengar jelas mulai menjauh.
"Aku ke apotek dulu, yak? Kalo ada apa-apa, telpon," kata Arik sambil mengambil tasnya yang diletakkan di laci nakas sebelah tempat tidur.
Aku mengangguk.
"Ta, aku keluar sebentar. Ada telpon."
Suara laki-laki dari bilik sebelah itu terdengar lagi begitu Arik pergi. Tadi aku tak terlalu mendengarkannya sewaktu ada perawat di sini.
Ada suara pintu dibuka kemudian kembali ditutup. Oke. Jadi, sekarang hanya ada kita berdua di sini.
"Eh, udah mau setengah enam."
Aku mendengar suaramu, berbicara pada dirimu sendiri kurasa.
"Mas yang di sebelah," panggilmu.
Aku mengerutkan kening. Aku?
"Saya?" tanyaku.
"Iya. Anu.. boleh minta tolong?" tanyamu.
"Diusahakan" jawabku dengan sok tenang.
"Saya nggak boleh turun dari tempat tidur, terus masnya kan deket jendela. Bolehkah minta tolong dilihatkan ke jendela, langitnya lagi cerah apa mendung?"
Aku tersenyum pahit."Kenapa memangnya?" tanyaku.
"Mmmmmm... ini mungkin terdengar aneh. Tapi saya suka liatin langit sore. Suka nongkrongin langit sore kalau pas di rumah. Rasanya sedih aja kalau nggak liatin sore ini."
Tarikan napasku kemudian panjang.
"Cerah, kok. Ada sedikit awan saja," bohongku.
"Cantik banget pasti, ya? Merahnya cerah," katamu yang kemudian kamu sambung dengan cerita tentang warna langit kesukaanmu dan bagaimana kamu biasanya menghabiskan waktu dengannya setiap sore.
Senyumku kembali pahit. Seharusnya cantik kalau memang benar cerah. Aku tak tahu, tak akan tahu. Aku tak bisa melihatnya. Aku bahkan tak bisa melihat sewaktu telapak tanganku kuangkat ke depan wajah. Hanya ada gerakan gambar samar di antara bercak-bercak hitam yang sudah menutupi hampir seluruh pandanganku.
"Eh, maaf. Saya jadi cerita banyak," katamu.
"Nggak papa," jawabku. Aku suka, batinku. "Kenapa langit sore?" tanyaku lagi, tak mau berhenti di sini.
"Sore itu ada di akhir hari, waktunya merenungi seharian tadi sudah ngapain aja. Udah berapa banyak salah yang dilakukan. Udah berapa banyak manfaat yang dikasih ke orang lain. Sama buat ngingetin aja kalau semuanya bakal ada akhirnya. Apa pun itu. Termasuk hidup."
Jawaban itu cukup panjang dan mengejutkan. Entahlah, aku hanya tak menyangka saja akan mendengar jawaban semacam itu darimu.
"Makasih ya," katamu.
"Sama-sama."
***
Arik menyentuh lenganku, membuatku dengan cepat menggenggam lengan di atas siku kirinya.
"Masih dapet tiketnya?" tanyaku.
"Dapet. Jam dua belas dua puluh berangkat. Tapi udah bisa masuk kayaknya. Kamu beneran nggak mau ditemenin?"
"Terus kamu mau ngapain di sana? Jadi obat nyamuk?"
"Ya gangguin kalian, lah! Enak aja jadi obat nyamuk!"
Dia menghentikan langkah, membuatku ikut berhenti. Petugas peron meminta boarding pass dan KTP lalu mereka menawarkan bantuan untuk menuntunku ke kursi tunggu bahkan tanpa diminta.
"I'm gonna be fine," kataku pada Arik.
"Ya.. ya... Yaudah. Aku tinggal," katanya.
Aku melambaikan sebelah tangan lalu membiarkan petugas stasiun menuntunku ke kursi tunggu dan mempersilakanku duduk.
"Nanti saya ke sini lagi kalau keretanya sudah mau datang, Mas," katanya sebelum meninggalkanku.
"Iya. Terima kasih, Mas."
Ponsel yang ada di dalam tas bergetar. Dengan cepat aku menariknya keluar lalu mendekatkannya ke telinga karena suara pembaca layar sengaja kusetel tak terlalu keras agar tak mengganggu orang-orang di sekitar. Ada sebuah pesan suara masuk darimu.
"Can't wait to see you."
Aku dengan cepat membalasnya.
"See you in no time."
Terkirim.
"Senja?"
Aku mengangkat wajah, menurunkan ponsel dari dekat telinga.
"Ya?" Aku bisa melihat seseorang berdiri di hadapanku sekarang, tapi aku tak bisa tahu siapa.
"Ini aku, Kaia," katanya.
Bersambung
Tentang Penulis
A Pluviophile who loves to write fictional stories about random things
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.