Lompat ke Konten Utama

Merah Matahari #2

Penulis
fMahardini
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
22 menit baca
Jumlah pembaca
0 kali dibaca
WhatsApp X

Aku merasakan Kaia duduk di sebelahku. Kami teman sekampus dulu, beda jurusan, tapi ikut di organisasi kemahasiswaan yang sama.

"Kamu mau ke mana?" tanyanya.

"Jogja."

"Wah sama. Aku juga mau ke Jogja. Prameks yang jam dua belas dua puluh, kan?"

Aku mengangguk.

"Turun di stasiun mana?"

"Tugu."

"Yes, ada temen. Aku juga. Janjian sama temen-temen kuliah mau reunian di sana, jalan-jalan di Malioboro. Tapi tadi kesiangan jadi ditinggal sama mereka, makanya ini sendirian. Untung ketemu kamu. Lumayan, ada yang bisa diajak ngobrol."

Yang kulakukan hanya mengangguk-anggukkan kepala. Ada sedikit rasa tenang juga sih karena pada akhirnya aku tidak benar-benar berangkat sendirian ke Jogja. Aku sudah beberapa kali ke Jogja, tapi tak terlalu banyak ingatanku tentang kondisi stasiunnya. Ya, aku sebenarnya akan bisa meminta tolong pada petugas kereta atau stasiun, tapi tetap saja akan berbeda jika ada orang yang sudah dikenal.

"Udah berapa tahun ya kita ga ketemu, Ja? Tiga tahun ya kayanya?"

"Kayanya sih iya. Kamu kan kabur dari organisasi duluan."

"Hahahaha... enak aja kabur, sembarangan. Aku kan waktu itu udah semester akhir, kudu fokus sama skripsi jadi ngurangin kegiatan organisasi. Masih sering dateng ke basecamp, kok. Tapi nggak pernah ketemu kamu aja."

Waktu itu dia memang sudah masuk semester tujuh ketika mulai tak aktif di organisasi. Aku masih semester tiga, masih terhitung anak baru. Tapi dia tak mau dipanggil Mbak begitu tahu kalau kami seumuran. Aku memang pernah berhenti sekolah dua tahun penuh dulu.

"Kamu ke Jogja mau ngapain?"

"Malem mingguan."

"Oh iya, cewekmu dulu kan kuliah di Jogja, ya? Masih kuliah?"

"Masih. Lanjut ambil profesi dia."

"Oooh..."

Aku bisa merasakannya mengangguk-anggukkan kepala dari gemerisik rambut panjangnya yang digerai.

"Awet ya kalian? Padahal kalau nggak salah, kalian pacaran sejak SMA kan?"

Aku menganggukkan kepala. "Iya."

"Tapi tetep hati-hati aja sih, Ja. Lama pacaran belum tentu jodoh. Apalagi LDR-an. Pasti banyak godaannya."

"Curhat kamu?"

"Hahahahaha... iya. Nyebelin."

Kaia tak bertanya lagi, sepertinya sedang menjelajahi sosial media di ponselnya. Aku mendengar tawa pelannya sesekali dan suara video yang sedang dia lihat.

"Eh, aku boleh minta nomermu nggak sih, Ja? Ternyata aku nggak nyimpen nomermu."

"Kan ada di grup."

"Ada, ya? Belum ta simpan berarti, Hahahaha... Yang mana?"

Aku kemudian menyebutkan nomor ponselku padanya.

"Ooh.. iya iya. Nggak ada fotonya juga, sih."

"Nomormu juga belum ta simpan berarti."

"Huuu... gitu. Kalau inatagram? Ada?"

Kepalaku tergeleng pelan. "Jarang main sosmed."

"Kalo facebookmu masih aktif, kan?"

"Masih. Ya walaupun jarang dibuka juga."

Gadis itu tak mengatakan apa-apa lagi, kembali fokus pada ponselnya kurasa. Aku baru bisa merasakannya menegakkan tubuh sewaktu ada pemberitahuan bahwa kereta api kami akan memasuki stasiun dan seorang petugas mendatangiku.

"Permisi, Mas. Keretanya sudah mau masuk, masnya bisa siap-siap sekarang."

"Oh, iya." Aku berdiri dan bersiap.

Kaia ikut berjalan bersamaku memasuki kereta.

"Enak ya dapat kursi prioritas," kata Kaia begitu kami duduk.

"Makanya jadi tunet aja, Kai. Dapet prioritas terus," jawabku asal.

"Eh, sori, Ja. Bukan gitu maksudku."

"Hahaha.. iyaaaa. Aku tahu."

Aku tahu dia memang tak bermaksud apa-apa dengan mengatakan itu. Aku juga sih yang salah, masih sulit menghilangkan kebiasaan sarkasme. Kadang maksudku juga hanya bercanda, tapi mereka menerimanya seperti ini tadi, jadi membuat mereka salah tingkah. Berbeda denganmu. Kamu, tanpa aku perlu melakukan apa-apa, sudah sering salah tingkah sendiri di hadapanku.

***

"Rekta!"

Suara Bu Yulia yang mengajar Bahasa Inggris hari ini terdengar jelas saat memanggil namamu. Panggilan itu disambut dengan sedikit keributan, cekikik tawa yang ditahan, dan bisik-bisik di kelas.

"Ada apa, Ko?" tanyaku pada Eko yang duduk di sisiku.

"Oh, kayanya sih Rekta tidur barusan, makanya disuruh maju ke depan praktikin describing people ." Suara Eko terdengar tak terlalu peduli dengan apa yang terjadi.

Tidur? Setelah tadi pagi kamu heboh sendiri mencari LKS Biologi hanya gara-gara ada yang menanyakan PR padahal hari ini tak ada mata pelajaran itu, lalu sekarang kamu tidur di kelas.

"Hi. I'm Rekta. I'm a hundred and fifty five centimeters tall. I have black wavy hair and dark brown eyes. I have dimple in booth my cheeks?" Kalimat itu berakhir dengan nada tanya, seolah kamu tak terlalu yakin mau mengatakan apa .

Tapi, e ntah bagaimana, senyuman tiba-tiba mengembang di wajahku tanpa bisa kutahan.

"Very good, Rekta," kata Bu Yulia. "Now please describe about one of your classmate ."

Aku menunggu. Bu Yulia pasti sedang menjelajahi daftar nama siswa sekarang.

"Langit Senja," katanya kemudian.

Aku menunggu lagi. Kali ini dengan sedikit semangat yang lebih tinggi, penasaran dengan apa yang akan kamu katakan tentangku. Tapi setelah beberapa menit menunggu, aku tak juga mendengar suaramu.

"Ada apa, Ko?"

"I'm sorry, Ma'am. But I don't really know him. I just met him today. " Kamu memohon pada Bu Yulia, membuatku tak perlu menuntut jawaban dari Eko. Kurasa aku tahu apa yang terjadi.

"Oh no no no. You just need to describe his appearance. What does he look like?"

Rasanya seperti kemenangan ketika jawaban itu keluar dari mulut Bu Yulia. Here we go.

"Langit Senja." Kamu mengambil jeda. "He's maybe one hundred and seventy centimeters tall. He has straight black hair, black eyes…., " jelasmu.

Senyumku lebar sekali. Kamu lihat?

"And a beautiful smile ," lanjutmu kemudian.

Kepalaku langsung tertunduk, berusaha menyembunyikan senyumanku yang semakin lebar seiring kelas yang kembali riuh oleh tawa dan 'ciye ciye' di sana sini sampai Bu Yulia kesulitan untuk menenangkan. Eko yang biasanya cuek juga ikut bersuara.

"Kenapa, Ko?" tanyaku.

"Kayanya dia naksir kamu, Ja. Yang terakhir tadi dia bilang sambil liatin kamu. Terus sekarang anaknya kaya malu banget gitu."

Kamu tahu? Aku belum pernah tersenyum selebar ini untuk waktu yang cukup lama.

***

Aku segera mencari sepatuku dan memakainya begitu keluar dari musala stasiun. Tanganku merogoh ke dalam tas, mengeluarkan tongkat, lalu meluruskannya. Sekarang aku harus mencari seseorang untuk ditanyai arah. Aku lupa di mana posisi pintu keluar.

"Permisi," kataku sewaktu menemukan seseorang berdiri tak jauh dariku. "Pintu keluar stasiun sebelah mana, ya?"

"Oh, lurus aja ke sana, Mas," katanya lantas segera berlalu tanpa memberiku kesempatan bertanya lebih lanjut.

Lurus aja ke sana. Great. Sangat membantu. Aku menarik napas dalam. Aku bahkan tak tahu yang dia maksud dengan 'sana' itu ke arah mana. Salahku. Padahal bukan pertama kalinya aku ke sini, tetap saja selalu lupa di mana pintu keluarnya.

"Senja."

Aku mengangkat wajah ke arah suara yang baru saja memanggil namaku.

"Loh, kamu masih di sini?" tanyaku.

"He eh. Baru selesai salat. Kamu janjian ketemu di mana sama cewekmu?"

"Belum janjian, sih. Lupa aku."

"Ta temenin ke depan aja, ya? Soalnya pintu keluar yang samping langsung di pinggir jalan, lumayan rame."

Aku menganggukkan kepala, membiarkan Kaia kembali menuntunku keluar dari stasiun. Dia agak kesulitan sewaktu kami sampai di pinggir jalan. Dari yang kupahami lewat suara, jalan ini memang lumayan ramai. Beberapa kali aku mendengar mesin kendaraan dengan jarak yang sangat dekat dengan kami.

"Di ruang tunggu aja ya, Ja?" tanya Kaia setelah kami berjalan beberapa saat. Dia mengajakku menaiki tangga lalu menghentikan langkah. "Ada kursi di depanmu."

Aku membungkuk, meraba bagian depanku dan menemukan kursi besi setinggi lutut.

"Oke. Makasih ya, Kai."

"Sama-sama. Seneng juga aku bisa ketemu lagi sama kamu. Kapan-kapan bikin reunian pengurus UKM Bahasa Inggris kita yak. Kangen sama kalian semua."

"Kontak-kontak aja."

"Eh, tunggu. Boleh ga foto bareng? Ta pamerin di grup."

Aku tak menolak, memasang senyuman terbaikku dan mengikuti aba-abanya.

"Tengkyu, Jaaa... Sampai ketemu lagi."

"Yep. Makasih udah banyak bantuin hari ini."

"Aaah, don't mention it. Kaya sama siapa aja. Aku tinggal ya?"

Aku melambaikan tangan padanya lalu duduk. Aku harus segera mengubungimu. Di kereta tadi aku terlalu banyak mengobrol dengan Kaia tentang cerita-cerita lama sewaktu kuliah sampai lupa menentukan tempat bertemu denganmu.

"Jam satu lima puluh menit PM." Suara itu terdengar setelah aku mengetuk penunjuk waktu di layar ponsel. Artinya, sepuluh menit lagi kamu baru akan bisa pulang dari rumah sakit tempatmu praktik.

Dengan cepat aku membuka whatsapp dan memasuki ruang obrolan kita.

Langit Senja: Aku di ruang tunggu

Pesan kukirimkan. Aku ganti membuka ruang obrolan kantor yang sudah berisi banyak sekali pesan. Isinya masih sama, tentang rencana rapat hari Senin. Kantor tempatku bekerja akan mengadakan pameran produk bulan ini, persiapannya akan dibahas di rapat besok. Karena acaranya lumayan besar, makanya persiapan harus benar-benar matang. Jadi Pak Banu, manajer kami, mau laporan perkembangan persiapan hampir setiap hari di grup.

Sebuah pesan baru masuk ke dalam grup silaturahmi mantan pengurus UKM bahasa Inggris di kampus dulu. Grup yang sudah lama sepi dari pesan-pesan masuk. Pasti Kaia.

Kaia : Guess who I ran into today?

"Foto oleh Kaia." Suara pembaca layar kemudian terdengar sewaktu aku membuat satu apusan.

Nah, apa kubilang. Pasti dia mengirimkan foto yang kami ambil tadi. Tak lama kemudian, pesan-pesan baru masuk dari anggota grup lain. Reuni pun dimulai lagi. Sekarang tinggal di mana? Kerja di mana? Sudah menikah belum? Pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya selalu sama setiap kali kami bertukar kabar di grup setelah hening untuk beberapa waktu. Kunikmati saja, menjawabi pertanyaan mereka sambil menghabiskan waktu tunggu.

Ponsel baru kuturunkan dari dekat telinga saat aroma jeruk manis yang kukenal mampir di hidung. Aku mengangkat wajah ke arah kiri dan melihatmu berdiri di sisiku.

"Kangeeeen!!!" serumu sambil memelukku erat.

Kamu tak memberi kesempatan untuk berdiri, jadi aku berusaha berdiri sambil mempertahankan pelukanmu, lalu menarik kepalamu ke dadaku dan mengecup puncak kepalamu dengan lembut.

"Aku tahu," kataku kemudian. "I miss you too, Red," bisikku.

Pelukanmu mengerat.

"Capek, ya?" tanyaku.

Kepalamu yang masih ada di dadaku menggeleng.

"Nggak!" katamu sambil melepaskan pelukan. "Kamu pasti belum makan siang, kan? Kita makan dulu, ya? Yamie mau?"

"Apa aja. Yang penting sama kamu."

"Awww... so sweet banget sih kamuuu.."

Aku tertawa, mengacak puncak kepalamu dengan gemas.

"Bentar. Aku pesen gocar dulu." Kamu melepaskan diri dari rangkulan lenganku.

"Tumben naik gocar. Motormu mana?"

"Motor di kos."

"Kenapa?"

Suara desahan napasmu jelas. "Lagi nggak bisa bawa motor." Volume suaramu memelan.

"Kenapa? Kamu nggak papa, kan?" Aku mulai khawatir.

Tarikan napas panjangmu kembali terdengar jelas sebelum mengajak kembali duduk.

"Promise you won't freak out," pintamu.

Aku mengangkat kedua tangan dengan telapak menghadap ke depan. Kamu menarik tangan kananku pelan, menempatkannya di atas tanganmu. Bukan kulitmu yang kurasakan saat aku meraba tanganmu. Dari pertengahan jari-jari sampai di atas pergelangan tangan kirimu ada lapisan semacam...

"Is it... a cast?" tanyaku dengan nada khawatir yang tak bisa kusembunyikan.

"You promised not to freak out..." Suaramu memelan.

Ganti aku yang menghela napas. "I'm not," kataku. "Kenapa? Patah?"

"Retak aja, kok, nggak patah. Tapi katanya, kalau nggak digips nanti nggak bisa istirahat tangannya."

Khawatir? Pasti. Tapi yang kurasakan sekarang lebih pada kecewa karena kamu sama sekali tak pernah menyebutkan ini di cerita-ceritamu di telpon.

"Maaf aku nggak bilang ke kamu. Aku cuma nggak mau kamu khawatir."

"Nggak papa. Tapi ayah sama mama tahu?"

"Tahu." Suaramu pelan sekali.

"Ya udah, yang penting ayah sama mama tahu dan kamu nggak papa. Tapi, lain kali bilang, ya?"

Nada suaraku kubuat selembut mungkin. Aku tak ingin menghakimi, walaupun sebenarnya tetap ada rasa tak terima juga. Tapi ya sudahlah. Yang terpenting kamu tidak apa-apa.

Aku mengacak puncak kepalamu lagi, merasakanmu menganggukkan kepala.

"Maaf," ucapmu lirih.

"Iya. Ya udah, pesan gocar dulu sana."

Kamu menjatuhkan kepala di bahuku, membuatku secara otomatis menjatuhkan lengan di bahumu, merangkul tubuhmu.

Aku tak suka setiap kali seperti ini. Aku tahu tujuanmu baik, kamu tak mau membuatku khawatir. Tapi dengan begini rasanya seperti mempertegas ketidakberdayaanku untuk bisa melindungimu.

"Driver-nya nggak mau masuk." Kamu menegakkan tubuh. "Kita harus keluar."

"Oke." Aku ikut berdiri lalu mengikuti langkahmu keluar dari stasiun.

Kita tak perlu menunggu lama. Mobil yang kamu pesan langsung menghampiri begitu kita sampai di trotoar, di luar pagar stasiun. Selama perjalanan kamu tidak mengajak bercerita apa-apa, hanya sedikit berbicara. Hanya beberapa patah kata saja sekedar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kulemparkan untuk mengusir sepi. Sepertinya, semua keceriaan yang ada di awal pertemuan tadi hilang.

"Kamu mau pesan apa?" Akhirnya aku mendengar suaramu lagi setelah kita memasuki tempat makan dan mendapatkan tempat duduk.

"Ada apa aja?"

Kamu membacakan daftar menu dan menambahkan sedikit penjelasan di beberapa menu yang ada. Aku menjatuhkan pilihan pada semangkuk yamie asin ayam jamur. Menu yang bagiku paling sederhana di antara pilihan lainnya. Sesaat kamu meninggalkanku lalu kembali duduk, kali ini kamu memilih duduk di sisiku.

"Tumben?" tanyaku dengan heran karena kamu adalah anggota tim duduk berhadapan, tidak sepertiku. Biasanya aku yang mengalah, kita selalu duduk berhadap setiap kali makan bersama.

"Lagi pengen." Kamu menarik lengan kananku, meluruskannya, lalu melingkarkannya di bahumu. "Aku kangen banget," katamu sambil ganti melingkarkan lengan di pinggangku.

Aku tersenyum, selalu senang setiap kali kamu bersikap manja seperti ini. Walaupun siang ini aku tak terlalu suka mendengar helaan napas itu, seolah ada beban berat sekali menjejali dadamu.

"Oh iya. Insulinmu."

Kamu meraih waist bagyang kuletakkan di atas meja di hadapanku. Kamu sudah hafal, langsung mengeluarkan glukometer dan set injeksi insulinku. Tanpa menunggu diperintah, aku menyerahkan telapak tangan kanan, membiarkanmu mengecek kadar glukosa darahku lalu segera menaikkan lengan kaos sebelah kanan, siap menerima suntikan. Tadi pagi suntikan sudah dilakukan di lengan kiri, jadi siang ini aku harus mencari lokasi lain. Karena dalam sehari aku harus mendapatkan empat kali suntikan dan itu untuk seumur hidup, maka lokasinya harus dirotasikan, tak boleh terus-menerus dilakukan di satu tempat yang sama. Katamu, nanti bisa muncul apa begitu, aku lupa namanya. Semacam kerusakan jaringan lemak kalau tidak salah, yang efeknya bisa membuat insulin yang disuntikkan tak lagi bisa bekerja dengan efektif.

"Sakit?" tanyamu sambil menurunkan lengan kaosku.

Anggukan kepalaku dibalas dengan cubitan gemas di pipi kanan.

"Nggak usah manja," katamu.

Tas kembali ditutup kemudian didorong ke depanku. Kamu kembali menarik lenganku, melingkarkannya di tubuhmu, dan masuk ke dalam pelukan.

"Kamu punya utang cerita," kataku pelan sambil meletakkan pipi di atas kepalamu.

"Salah posisi jatuh."

Dahiku berkerut. "Salah posisi jatuh?"

"Minggu lalu kan hujan lumayan deres, terus pas mau pulang, aku kepleset di deket parkiran rumah sakit, tanganku ta jadiin tumpuan jatuh. Kamu tahu kan kalau refleks-ku kurang bagus."

Tubuhmu langsung kudorong, kutegakkan. "Minggu lalu? Jatuh dari motor?" tanyaku.

"Aku nggak papa, kok. Cuma retak di tangan sama memar-memar di kaki aja karena ketindih motor. Untung ada Dian yang langsung bantuin berdirian motor."

Rasa di dalam dadaku kembali menjadi campur aduk. Dengan cepat aku kembali menarikmu, memelukmu.

"Aku nggak papa, Ja. Bener," katamu.

Aku menganggukkan kepala. "Iya, aku percaya." Aku hanya ingin memelukmu lebih lama saja untuk menghilangkan rasa tak nyaman di dadaku sekarang.

"Sampaiin makasihku ke Dian ya kalau ketemu nanti. Dia udah banyak banget bantuin kamu," kataku, ingat sudah beberapa kali kamu bercerita tentang kawanmu itu, tentang betapa baiknya dia padamu.

Kepalamu terangguk pelan.

"Eh, pesanannya dateng."

Kamu menarik diri keluar dari pelukanku, menerima pesanan makan siang kita, menjelaskan posisi mangkok dan gelasku lalu menyentuh punggung tanganku, menyerahkan sendok dan garpu yang kuminta.

"Mau nambah sambal?" tanyamu.

"I'm good," jawabku sambil menikmati makan siang.

Lagi, kamu tidak mengatakan apa-apa. Tak ada cerita. Kita hanya diam menghabiskan makan saja. Hari ini kamu benar-benar pendiam sekali, tak seperti biasanya.

"Habis ini mau ke mana?" Aku tak tahan lagi dengan keheningan kita.

"Kamu nginep?" tanyamu.

"Tawaran yang cukup menggoda." Senyumku mengembang.

Tubuhku berjengit, lumayan kaget sewaktu kamu tiba-tiba menempelkan tangan di kedua pipiku.

"Bisa nggak sih kamu berhentiiiii?" tanyamu dengan gemas.

"Berhenti apa?"

"Berhenti bikin aku gemes!"

Aku tertawa. "Nggak bisa. Bikin kamu berhenti jatuh cinta juga aku nggak bisa."

"Nyebelin. Udah, ah. Mau bayar dulu."

Salah satu tanganmu kupertahankan di dalam genggaman. Dengan tangan yang lain, aku menarik keluar dompet dari dalam tas lalu menyerahkannya padamu, baru kemudian tanganmu kulepaskan. Kamu meninggalkanku, tak lama aku merasakanmu menarik tangan kiriku dan meletakkan dompet di sana.

"Jadi, kita mau ke mana?" tanyaku.

"Nggak ta... eh, bentar. Ada telpon." Kamu mengambil jeda. "Apa, Di? Lagi makan. Kenapa?"

Tanganku kuluruskan ke arahmu. Aku mendapatkan tangan kiri yang terbungkus gips lalu menggenggam ujung jemarimu.

"Di Taman Siswa. Habis ini mau jalan. Kenapa?" Kamu terdengar penasaran dan tak sabar. "Nggak bisa. Aku..." Kalimatmu tak selesai. "Nggak bisa, Dian. Beneran. Maaf, ya?"

Helaan napasmu yang cukup jelas di akhir pembicaraan itu lumayan mengejutkan, membuatku mengangkat wajah ke arahmu, ke arah suaramu terdengar.

"Siapa?" tanyaku.

"Dian."

"Dian yang nolongin kamu pas jatuh kemarin?"

"Iya. Dian yang kamu mau bilang makasih. Minta ditemenin nyari kado katanya. Tadi di rumah sakit udah kutolak kok ngeyel. Kamu tahu kan aku nggak suka harus jelasin ulang-ulang?"

Aku berdiri dengan tangan masih memegang ujung jari tangan kirimu kemudian menggeser tanganku ke lengan atasmu. "Udah, jangan dipikirin," kataku sambil mengusap lenganmu pelan.

"Iya."

"Jadi, kita mau ke mana?" Aku mengulangi pertanyaan yang sama.

"Hmm.. ke mana, ya? Ke Bantul? Ke Becici? Bisa liat sunset di sana," jawabmu sambil mengajakku berjalan keluar.

"Bukannya kalau malam minggu jalanan macet? Nanti kita pulangnya kemalaman."

"Kamu pulang malam ini?" Ada nada sedih di suaramu.

Kepalaku terangguk pelan. "Kamu kan masih punya tanggungan tugas. Kita jalan di dalam kota aja, ya?"

Aku bisa merasakan kamu menganggukkan kepala sesaat sebelum tiba-tiba menghentikan langkah.

"Kamu ngapain ke sini?" tanyamu.

Refleks aku menoleh ke arahmu lalu berganti ke arah di mana telingaku menangkap suara langkah kaki yang mendekat dan berhenti di depan kita.

"Kan kamu bilang kalau kamu lagi di sini. Makanya aku nyusulin." Suara laki-laki. "Kebetulan aku pas di deket sini."

"Tahu dari mana aku makan di sini? Kan tadi aku cuma bilang di Taman Siswa."

"Aku kan udah hafal semua tempat langgananmu, Ta."

Ada senyuman di dalam kata-kata yang baru saja dia ucapkan yang entah bagaimana membuat rahangku menegang.

"Siapa?" Dia bertanya. Kemungkinan besar menanyakanku.

"Senja, kenalin. Ini Dian," katamu, "Dian, ini Senja."

Dian yang selama ini sering kamu ceritakan itu ternyata laki-laki. Surprise! Rasaku langsung menjadi tak karuan lagi. Tapi, sekuat tenaga aku berusaha untuk bersikap biasa saja. Aku mengulurkan tangan kanan dan tersenyum dengan enggan. Uluran tanganku disambut dengan genggaman yang cukup kuat.

"He’s blind?"

Pertanyaan itu sengaja ditanyakan dengan sangat pelan, kemungkinan besar sambil menunjukku seperti banyak orang yang bertemu denganku untuk pertama kali dulu. Tapi, aku masih bisa mendengarnya dengan jelas. Aku sudah hampir menjawabnya, mengatakan padanya bahwa aku masih bisa mendengarnya, bahwa aku tak bisa melihat, bukannya tuli. Biasanya di setiap kali seperti ini, kamu akan langsung bersikap protektif padaku. Tapi, kali ini tidak. Kamu tak mengatakan apa-apa. Tak seperti biasanya.

***

"Tangga," katamu pelan, memberi tanda.

Tongkat yang tadinya kujulurkan ke depan, ganti kutegakkan, kubiarkan ujungnya menyentuh setiap anak tangga yang akan kutapaki.

"Kamu makin pinter," pujiku.

"Tapi kemarin masih bikin kamu tersandung di trotoar." Helaan napasmu terdengar jelas.

Kemarin memang aku hampir terjungkal sewaktu kita berjalan bersama, tapi sebenarnya itu bukan kesalahanmu. Kepalaku sedang dipenuhi banyak pikiran dan kita sedang terburu-buru. Aku sedang terburu-buru. Di setiap kali seperti itu konsentrasiku agak terganggu makanya kurang memperhatikan petunjuk yang kamu berikan. Setelah itu aku memakai tongkat walaupun sedang berjalan bersama juga bukan karena aku tak percaya padamu, tapi hanya ingin berjaga-jaga saja, membantuku lebih berkonsentrasi. Aku sudah menjelaskan semua itu padamu berulang kali, tapi aku masih selalu bisa mendengar nada bersalah di kata-katamu. Kalau sudah begini, aku menyerah. Tak lagi berusaha memberikan penjelasan.

"Nggak papa. Ya kan namanya masih belajar. Kalau nggak salah, nanti nggak belajar," godaku.

"Udah tiga tahun belajarnya, nggak lulus-lulus," keluhmu.

Suara kerumunan orang dan musik yang disetel cukup keras sudah bisa kudengar, tak terlalu jauh di depan kita. Artinya kita sudah hampir sampai. Tapi, entah mengapa tiba-tiba rasanya aku tak ingin melanjutkan langkah.

"Kenapa, Ja?" Langkahmu melambat, seolah bisa membaca pikiranku.

"Tongkatnya kulipat dulu," kataku, tak ingin mengatakan yang kurasakan.

"Oh iya. Eh, tapi nggak papa kamu nggak pakai tongkat? Nanti kalau..."

"Nggak akan. Kamu bisa, kok. Aku percaya."

Sepertinya kamu tak merasa perlu membahasnya lagi. Kamu kembali melangkah, membawaku semakin mendekati kerumunan. Sesaat kita berhenti di depan meja resepsionis. Aku merasakan tubuhmu membungkuk, lalu kembali mengajakku memasuki tempat reuni SMP-mu diadakan.

"Itu Rekta, kan? Eh, itu cowoknya nggak bisa liat? Kok dituntun?"

"Kasihan ya?"

"Kok mau sih?"

"Rekta ini baik banget ya anaknya, mau gitu.."

Aku sudah menduga akan mendengar pertanyaan-pertanyaan dalam bentuk bisikan itu, pada volume yang mereka pikir tak bisa kudengar. Ini pertama kalinya aku mengiyakan ajakanmu untuk menghadiri acara resmi. Aku selalu memiliki alasan untuk menghindari acara semacam ini. Bukan karena aku tak berani menghadapi respon-respon yang sudah bisa kutebak, tapi lebih pada malas menanggapi. Atau mungkin juga selama ini hanya karena aku tak tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya tentang hal itu. Entahlah. Yang jelas, kali ini aku sedang tak punya alasan untuk menghindar lagi, ditambah kamu mendapat dukungan penuh dari bapak, umi, dan Arik. Iya, memang dasar pengkhianat mereka semua.

Kedua mataku kupejamkan erat begitu kita mendapat tempat untuk duduk. Berharap dengan begitu semua kata-kata yang baru saja kudengar bisa kuusir keluar dari dalam kepala agar tak menambahi pikiran lagi.

"Kamu nggak papa?"

Usapan lembut tanganmu di bahu membuatku kembali membuka mata dan tersenyum.

"Nggak papa."

Aku menangkap tanganmu yang ada di lengan, menariknya turun ke genggaman tanganku yang satunya.

"Kamu pasti bosen ya denger semua itu tadi?"

Aku menoleh cepat ke arahmu. "Denger apa?" tanyaku, pura-pura tak memahami maksud kata-katamu.

"I'm not deaf either ," bisikmu. Kamu memainkan tanganku, meletakkan jemarimu tepat di sela-sela jemariku lalu menggenggamnya.

Kepala kumiringkan ke arahmu, kuadukan pelan dengan kepalamu.

"Aku sudah khatam," bisikku. "Kamu yang harus bisa membiasakan diri mendengar itu."

Sepanjang acara seremonial, yang kita lakukan hanya seperti ini: duduk sambil saling menggenggam tangan. Aku lebih banyak diam mendengarkanmu menceritakan tentang masa SMP-mu dulu. Kenakalan-kenakalanmu dan kawan-kawanmu.

"Rugi banget Ei nggak bisa dateng. Nggak bisa bernostalgia. Dulu dia itu the real definition for partner in crime ," katamu.

"Nakal kok bangga."

"Biarin. Eh, cari makanan, yuk. Laper." Kamu mengajakku berdiri begitu rangkaian acara seremonial selesai.

Aku memindahkan lipatan tongkat dari pangkuanku, ikut berdiri dan menggenggam lenganmu, mengikuti langkahmu. Dari yang bisa kupahami, kita sedang memasuki kerumunan. Ada banyak sekali suara orang berlalu lalang dan berdiri di sekitar kita sekarang.

"Hei, apa kabar?" tanya seorang perempuan.

Tubuhmu sedikit ditarik ke depan, membuatku melepaskan tangan dari lenganmu.

"Kuliah di mana sekarang?" tanyamu padanya.

"Di Solo aja. Belum bisa move on dari sini," jawabnya. "Siapa?" Dia bertanya padamu, menanyakan tentangku pastinya.

Jantungku tiba-tiba berdenyut lebih cepat. Ada campuran antara rasa penasaran, tertarik, dan khawatir dengan apa yang akan kamu katakan tentangku. Aku menunggu, tapi kamu tak segera menjawab pertanyaan temanmu. Aku lumayan terkejut sewaktu kamu tiba-tiba meraih tangan kiriku, menempatkannya di genggaman tanganmu.

"Ini Senja, pacarku," katamu dengan nada bangga. Ada senyuman di suaramu.

Pacar. Senyumanku pasti lebar sekali. Ini pertama kalinya kamu menyebutkan kata itu. Biasanya kamu hanya menyebutkan namaku atau, jika tidak, aku yang akan langsung mengulurkan tangan dan memperkenalkan namaku. Tongkatku yang terlipat kuselipkan di saku belakang celana lalu aku mengulurkan tangan yang disambut cepat oleh temanmu.

"Hai. Nindita," katanya sambil menjabat tanganku. "So, you're blind? " tanyanya.

Pertanyaannya terus terang sekali, lumayan mengejutkanku, tapi kuanggukkan kepalaku juga untuk menjawabnya.

"Cool ," katanya.

Cool? Aku mengerutkan kening.

"He is, right? " Kamu menelengkan kepala hingga menyentuh bahu kiriku.

" Norak," kata Nindita. "Aku dulu jadi anggota gengnya Rekta sama Ei juga, Ja," lanjutnya.

"Anggota geng?" tanyaku sambil sedikit menoleh padamu.

"Heh, bukan.. bukan.. Bukan geng yang kaya gitu.Sisterhood . Hahahaha..."

Kalian tertawa bersama.

"Kupikir dulu kamu nggak bakalan putus sama Awan. Eh, sori. Boleh nggak sih ngomongin mantan?" tanya Nindita. Dari nadanya, sepertinya dia sengaja mengatakan itu untuk menggodamu.

"Nggak papa. Cuma masa lalu ini," jawabku sebelum melebarkan senyuman.

Aku cukup tahu diri bahwa semua temanmu mengenal Awan, pacarmu dulu. Aku bahkan sudah mempersiapkan diri kalau-kalau dia juga datang ke acara ini.

"Kamu baik banget sih, Ja. Pacarku selalu ngamuk kalau ada yang membahas mantan-mantanku," kata Nindita.

"Mantan-mantan, ya? Jamak," komentarmu. "Banyak hati yang udah dipatahin sama dia ini nih, Ja. Di SMA pasti juga, ya?"

"Udah insaf aku, Ta."

Genggaman tanganmu tiba-tiba mengerat lagi. "Hei, jangan. Yang ini punyaku!" katamu sambil melingkarkan tanganku di pinggangmu.

Nindita tertawa cukup keras. "Sori, Beb. Habis Senjamu ini... Kamu sadar nggak sih kalau kamu itu cakep banget, Ja?"

"I'm pretty sure he does, " jawabmu.

Hari ini kamu posesif sekali. Aku suka, membuatku tersenyum-senyum sendiri mendengarkan obrolan kalian, tak lagi mempedulikan bisik-bisik di belakangku. Lingkar tanganku kueratkan di pinggangmu.

"Yaudah. Aku mau berburu makanan dulu.Have fun, ya kalian. Semoga langgeng. Nanti kabar-kabar yak kalo merit." Gadis itu kemudian berlalu.

"Jadi, sekarang aku pacarmu?" bisikku.

"Iya. Habis dari dulu aku nunggu kamu bilang gitu kalau pas ditanya orang, kamunya nggak bilang-bilang. Makanya aku aja yang bilang. Kamu lama."

***

Entah untuk yang ke berapa kalinya, aku merasakan genggaman tanganmu mengerat, seolah tak ingin lepas. Kamu bahkan memaksa membeli dua tiket kereta api hanya supaya bisa ikut masuk ke dalam ruang tunggu lalu nanti ikut di dalam kereta sampai stasiun Lempuyangan yang padahal tak sampai lima menit untuk mencapainya dari Stasiun Tugu.

"Kamu nggak nginep aja? Pulang besok pagi gitu?" tanyamu dengan manja.

"Nggak bisa, Red. Kalau pun aku balik Solo besok pagi, kamu juga bakal minta aku balik siang atau sore. Nanti tugasmu gimana?"

Tak ada jawaban darimu.

"Kamu inget kita pernah bahas ini dulu? Aku nggak suka kamu yang kaya gini. Kita kan udah janji..."

"Iya. Aku tahu," katamu, tak membiarkanku menyelesaikan kalimat.

Kamu menjatuhkan kepala ke dadaku lagi. Lingkar tangan kueratkan lagi. Aku tahu kamu paling tak suka jika kita harus membahas hal ini. Tapi aku mau kamu paham bahwa kita memang harus siap berpisah kapan saja. Bahwa kita harus siap ditinggalkan dan berani untuk sendiri. Ya walaupun sebenarnya sampai saat ini aku juga masih belajar untuk bisa berpisah darimu. Setiap kali harus melepasmu pergi atau meninggalkanmu seperti ini, rasaku juga hampa, tak beda darimu. Hanya saja, aku harus bisa menunjukkan kalau aku kuat agar kamu juga kuat.

"Kamu nanti pulangnya hati-hati, ya? Sudah malam." Aku mengecup pelipis kananmu lembut.

Kepalamu terangguk pelan. Kita lantas berdiri setelah ada pemberitahuan bahwa keretaku akan masuk stasiun. Aku meletakkan kedua tanganku di pipimu, menghadapkan wajahmu kepadaku.

"Take a good care, Red," bisikku.

Lagi, kepalamu terangguk pelan.

"I'm frowning," katamu.

"Aku tahu." Aku mengecup dahimu lalu memeluk tubuhmu erat untuk sesaat. Entah kenapa rasa tak nyaman ini tak mau juga hilang seerat apapun aku memelukmu hari ini.

Kereta datang. Aku menggenggam lenganmu lalu mengikuti langkahmu memasuki kereta. Sewaktu melewati pengamen stasiun, aku baru benar-benar mendengarkan lagu yang mereka nyanyikan.

"I knew I loved you then, but you'd never know. 'Cause I played it cool when I was scared of letting go. I know I needed you but I never showed. But I wanna stay with you until we're grey and old. Just say you won't let go. Just say you won't let go."

Bersambung

Tentang Penulis

fMahardini

A Pluviophile who loves to write fictional stories about random things

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.