Lompat ke Konten Utama

Bersama Penyimpanan Awan Hidup Jauh Lebih Aman

Penyimpanan awan membantu penyandang disabilitas
Penyimpanan awan membantu penyandang disabilitas
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
9 menit baca
Jumlah pembaca
324 kali dibaca
WhatsApp X

"Penting banget!" celetuk Riyan tiba-tiba dengan suara lantang, memecah keheningan.

Aku refleks menepuk lengannya dengan gemas. "Belum mulai, woi!" tegurku cepat.

Riyan sedikit tersentak, lalu memutar kepalanya ke arahku dengan raut wajah tanpa dosa yang sudah sangat kuhafal. "Oalah, kirain udah nyala mikrofonnya," balasnya santai sambil terkekeh pelan.

Aku hanya bisa membuang napas panjang sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan narasumber andalanku yang satu ini.

Halo, selamat datang di mana pun kamu berada saat membaca tulisan ini. Sebelum kita mulai masuk ke obrolan utama hari ini, aku dan Riyan ingin mengambil jeda sejenak. Kami berdua ingin mengucapkan belasungkawa dan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas bencana alam gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 yang belum lama ini melanda saudara-saudara kita di wilayah Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya.

Semoga para korban yang meninggal dunia diberikan tempat terbaik di sisi Tuhan. Dan bagi keluarga serta para korban yang saat ini masih berada di tempat pengungsian, doa kami selalu menyertai. Semoga senantiasa diberikan ketabahan, kekuatan, dan keadaan di sana bisa segera pulih kembali.

"Bicara soal bencana, Yan," ujarku sambil menatap Riyan yang kini raut wajahnya ikut berubah serius. "Kejadian kayak gini sering banget bikin kita sadar betapa rapuhnya barang fisik yang kita punya. Boro-boro mikirin harta benda, bisa menyelamatkan diri saja sudah syukur. Tapi masalahnya, kadang di dalam HP atau laptop yang hancur itu, ada banyak dokumen penting, data pekerjaan, atau file krusial yang kita butuhkan untuk bangkit lagi."

Aku menjeda sejenak. "Nah, menyambung celetukanmu, aku jadi kepikiran. Sebagai orang yang mengandalkan teknologi, seberapa krusial peran penyimpanan awan semacam Google Drive buat teman-teman disabilitas netra di saat krisis?"

"Seperti yang aku katakan di awal, penting banget," jawab Riyan mantap. "Sekarang banyak kejadian tidak terduga, dari kecopetan sampai bencana alam. Tapi, mari perkenalan dulu. Apa sih penyimpanan awan atau cloud storage itu?"

Riyan berdeham pelan. "Ibaratnya, kamu menyewa sebuah brankas gaib yang ukurannya sangat luas di internet. Dulu kita menyimpan foto atau dokumen di memori HP dan flashdisk yang rawan rusak. Sekarang, kita menyimpannya di server aman milik perusahaan raksasa. Selama kamu ingat sandinya dan ada internet, file bisa dibuka dari perangkat mana saja. Mau HP kamu hilang, tercebur sungai, atau hancur saat evakuasi, datamu tetap aman di awan."

"Setuju banget. Nggak kebayang paniknya kalau semua dokumen penting ikut hangus," timpalku mengiyakan. "Lalu, layanan dari perusahaan mana saja yang paling sering jadi andalan orang-orang?"

"Ada banyak penyedia di luar sana," jawab Riyan santai. "Namun yang paling familier cuma ada dua: Google Drive dan iCloud. Menurutku keduanya paling simpel. Karena tidak seperti aplikasi pihak ketiga, Google Drive dan iCloud sudah terintegrasi langsung di dalam perangkat. Google Drive untuk Android, dan iCloud untuk ekosistem Apple."

"Memangnya aplikasi pihak ketiga itu ada apa saja?" tanyaku penasaran.

"Lumayan banyak. Ada OneDrive milik Microsoft, lalu Dropbox, Mega, sampai Amazon Drive." Tiba-tiba Riyan tersenyum jahil. "Dulu waktu masih bisa melihat dengan jelas, aku meluncur lancar banget pakai penyimpanan awan ini. Pernah juga mencoba Terabox dan Dropbox, tapi itu khusus buat menyimpan koleksi foto dan video..."

Mendengar penekanan nada pada kata foto dan video yang dipadukan senyum mencurigakannya, instingku sebagai sahabat seketika berbunyi nyaring. Bahaya! Aku tahu persis ke mana arah pembicaraan ini jika diteruskan. Mengingat kelakuan Riyan, pasti membahas persembunyian video yang tidak lulus sensor!

Tanpa basa-basi, aku langsung membungkam mulut Riyan dengan paksa.

"Mmphh! Cel, apaan sih!" Riyan meronta pelan berusaha menyingkirkan tanganku.

"Stop! Nggak usah dilanjutin! Kita sedang bahas teknologi edukasi, bukan sesi pengakuan dosa!" seruku sambil menahan tawa panik.

Riyan akhirnya menyerah. Setelah situasi aman, aku berdeham pelan mengembalikan obrolan ke jalur yang benar.

"Oke, mari abaikan masa lalu Riyan yang agak gelap itu. Nah, Yan, sebenarnya apa manfaat dan tujuan utama dari penyimpanan awan ini, terutama keuntungannya bagi teman-teman disabilitas netra?"

"Banyak banget," Riyan menghitung dengan jarinya. "Pertama, sekarang zamannya ponsel baru terus keluar tiap bulan. Buat teman-teman yang anggarannya terbatas atau malas ganti ponsel tapi penyimpanannya sudah penuh, mereka bisa mengandalkan fitur ini tanpa harus beli HP baru. Sebaliknya, buat orang super kaya yang tiap hari ganti ponsel, mereka lebih senang pakai penyimpanan awan ketimbang repot memindahkan data manual."

"Lalu yang kedua," lanjutnya serius, "untuk mengantisipasi hilangnya flashdisk. Benda itu ukurannya sangat kecil, kalau jatuh, tamat sudah. Apalagi kalau isinya skripsi atau data rahasia."

"Masuk akal," balasku. "Kalau boleh aku tambahin sebagai manfaat ketiga, ini mempermudah berbagi file raksasa. Cukup bagikan tautan dari Google Drive, dan teman kita di kota lain sudah bisa mengakses dokumen yang sama."

Riyan mengangguk. "Terus kalau ditanya tujuan penciptaannya, aku tidak begitu mengerti teknisnya. Menurutku ya agar kebiasaan kita membeli flashdisk hilang. Biar pabriknya gulung tikar, mungkin?"

"Bukan sekadar itu, Yan," aku tersenyum. "Tujuan utama perusahaan raksasa adalah menciptakan efisiensi dan keamanan data global. Mereka ingin membangun ekosistem di mana nyawa data kita tidak terikat pada satu perangkat rapuh."

Aku menjeda sejenak, membiarkan Riyan mencerna. "Bicara soal keamanan, wajar kalau Google makin parno soal perlindungan akun. Eh, kamu sadar tidak sama kebijakan verifikasi wajah belakangan ini yang sempat bikin kita menggerutu saat login di perangkat baru?"

"Oh, verifikasi wajah," sahut Riyan sinis. "Awalnya aku kesal. Bayangkan saja, aku kan tidak bisa melihat, susah setengah mati mengarahkan kamera pas ke wajahku sendiri. Kadang harus minta tolong orang lain."

Ia merendahkan suaranya menjadi lebih tenang. "Namun setelah dipikir-pikir, fitur ini ternyata sangat membantu, Cel. Apalagi saat krisis kehilangan barang."

Senyum tipis menghiasi wajahnya. "Lagipula, kehilangan apa sih yang tidak mungkin terjadi dalam hidupku? Penglihatanku saja bisa hilang diambil takdir, apalagi sekadar kehilangan data. Asalkan kamu tidak ikut hilang dari hidupku, Cel."

Deg! Pipiku tiba-tiba terasa memanas. Bisa-bisanya dia menyelipkan kalimat manis di tengah obrolan serius! Aku membuang muka, berusaha keras menetralkan ekspresi agar dia tidak menyadari salah tingkahku.

"Ehem!" aku berdeham keras. "Terus? Apa hubungannya sama kemudahan login saat kehilangan ponsel?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Riyan tertawa pelan, sadar serangannya berhasil. "Gini, kata sandi itu memang aman. Tapi kalau kamu lupa dan nomor SIM kamu hilang atau kedaluwarsa, tamat sudah. Kalau kamu cuma punya satu ponsel dan hilang saat bencana, bagaimana kamu mau login? Ujung-ujungnya media sosialmu rawan dicuri orang lain."

Ia menggeser posisi duduknya. "Pakai nomor SIM itu bagus secara teori, tinggal isi pulsa. Tapi kartu SIM itu sangat kecil. Sekali hilang, repot mengurusnya di kantor pusat. Tapi Cel, ada satu hal yang bikin aku jengkel. Kenapa mereka tidak memprioritaskan sidik jari saja? Di Cina orang-orang sudah terbiasa pakai sidik jari untuk belanja. Kenapa tidak pakai sidik jari ketimbang wajah yang datanya mudah dicuri?"

Riyan memasang wajah pura-pura berpikir. "Atau jangan-jangan Google khawatir ada pemotongan ibu jari massal oleh pencuri HP ya? Makanya mending pakai wajah saja?"

Pecah tawaku mendengar teori konspirasi konyolnya. "Yakali ada pencuri seniat itu motong jari cuma buat buka Google Drive!"

Setelah tawaku mereda, aku mengambil alih kendali. "Oke, penyimpanan awan ini memang pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi mari bahas realitas urusan harga. Berapa biaya untuk menyewa brankas ini? Dan apakah kita memang wajib berlangganan?"

"Waduh, harga lagi," keluh Riyan. "Asalkan bukan harga diri saja. Sistem langganan ini memang masih tergolong lumayan mahal. Itu sangat merepotkan buat teman-teman yang finansialnya kurang mumpuni. Kalau ditanya wajib atau tidak, itu tergantung keyakinan. Tapi buat aku pribadi, perlu banget! Aku lebih mengandalkan perangkat lunak ketimbang flashdisk."

"Tapi kan ada versi gratisnya, Yan?" pancingku.

"Iya, Google Drive menyediakan gratis 5 GB tanpa nomor ponsel, dan 15 GB kalau mencantumkan nomor. Tapi jujur saja, kapasitas segitu sangat kurang untukku."

Riyan menghela napas bangga. "Aku ini butuh penyimpanan berkapasitas Terabyte! Ribuan Giga lho, bukan sekadar ratusan."

Melihatku mencibir, Riyan tertawa malu meralat ucapannya. "Yah, karena beli paket otomatis dapat Terabyte. Ujung-ujungnya paling yang kepakai cuma beberapa Giga karena aku cuma simpan dokumen teks dan audio. Nah, sekalian saja aku berikan daftar harganya ya biar pembaca ada gambaran."

Riyan menjabarkan angka-angka dari ingatannya:

Satu. Google Drive atau Google One. Paket Dasar 100 GB harganya sekitar 26.900 rupiah per bulan. Paket Standar 200 GB di kisaran 43.000 rupiah per bulan. Premium 2 TB seperti yang kupakai harganya sekitar 135.000 rupiah per bulan.

Dua. iCloud dari Apple. Paket 50 GB cukup ramah, sekitar 15.000 rupiah per bulan. Paket 200 GB harganya 45.000 rupiah per bulan. Paket tertinggi 2 TB dipatok 149.000 rupiah per bulan.

Tiga. Microsoft OneDrive. Langganan 100 GB sekitar 28.999 rupiah per bulan. Paket Personal 1 TB plus Office resmi harganya sekitar 87.999 rupiah per bulan.

Aku mengangguk sambil mencatatnya di kepala. "Oke, Yan, pertanyaan terakhir dariku. Melihat harga yang lumayan menguras kantong tadi, apakah ada solusi buat teman-teman tunanetra yang finansialnya terbatas tapi butuh mengamankan data?"

"Aslinya males banget membagikan rahasia ini, tapi ya sudahlah hitung-hitung amal jariyah," Riyan tertawa kecil. "Kalau ingin kapasitas besar dengan biaya murah, kamu harus memanfaatkan paket Google Gemini. Caranya cukup berlangganan Google Gemini."

"Loh, langganan Gemini AI dapat ruang simpan juga?" tanyaku pura-pura heran.

"Dapat banget! Cara berlangganannya biar dapat harga super miring, bahkan nyaris gratis, bisa dibaca di artikel kita sebelumnya: Siapa sahabat terbaik kita, Gemini atau ChatGPT?"

Riyan menjentikkan jarinya antusias. "Kerennya lagi, kamu bisa membagikan penyimpanan 5 Terabyte ini untuk maksimal lima orang teman, jadi total enam orang penggunanya. Ruangnya dibagi merata dan privasinya sangat aman. Teman grupmu tidak akan bisa melihat data di penyimpanan pribadimu. Jadi kalau patungan berenam, harganya jatuh murah banget."

Aku tersenyum puas. Obrolan sore ini membuktikan teknologi bukan sekadar gaya hidup, melainkan jaring pengaman berharga.

"Mantap! Itu baru solusi cerdas," kataku sambil menghentikan perekam suara. "Sekarang, cepat simpan file rekaman ini ke Google Drive kamu! Awas hilang."

Riyan meregangkan tangannya lalu bersandar malas. "Tenang saja, Nona Editor. Semua sudah otomatis tersimpan rapi di awan. Tapi sebagai imbalan narasumber yang membagikan amal jariyah ini, tolong buatkan aku minuman dingin dong. Haus banget dari tadi ngomong terus."

Aku tertawa geli melihat tingkah menyebalkannya kembali. Namun, rasa hangat menyelimuti dadaku.

"Iya, narasumber bawel. Habis ini kubuatkan minuman paling enak," balasku melembut.

Aku menepuk bahunya pelan. "Terima kasih banyak ya, Yan, untuk ceritamu hari ini. Dan tenang saja, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, seperti layaknya penglihatanmu yang pergi, maupun seperti tempat penyimpanan data-datamu yang aneh itu."

Riyan terdiam sesaat, lalu senyum lebar terbit di wajahnya. Tawa kami berdua pecah bersamaan, menyatu dengan hembusan angin sore.

EASTER EGG DITEMUKAN!

Ketik kode BERDAYA-MANDIRI-1821

pada Menu Game Si Paling Inklusif (membuka tab baru) di WA Avika untuk mengklaim 10 Koin!

Buruan! Sisa kuota hanya untuk 18 orang tercepat.

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik penyimpanan awan, data, cloud storage, disabilitas netra, dan teknologi inklusif.

✨ Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Anda dapat mengirimkan tulisan dengan mudah serta membaca panduan selengkapnya di halaman Kirim Naskah.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika