Kartunet - Keterbatasan fisik dan himpitan ekonomi sering kali dijadikan alasan untuk menyerah pada keadaan. Namun, hal ini tidak berlaku bagi Yulianto. Berawal dari seorang tukang pijat tunanetra yang hidup serba pas-pasan, ia berhasil memutarbalikkan nasibnya melalui literasi finansial dan investasi saham. Kisahnya adalah bukti nyata bahwa keluar dari zona nyaman adalah kunci menuju kemandirian.
Titik Balik Kehidupan dan Berkenalan dengan Saham
Perjalanan hidup Yulianto menemui jalan terjal ketika ia kehilangan penglihatannya akibat Stevens-Johnson syndrome (kesalahan obat) pada tahun 2002, dan dinyatakan tunanetra total beberapa tahun kemudian. Sempat merasa tersiksa, hidupnya perlahan menemukan arah baru saat ia masuk ke panti rehabilitasi sosial di Solo pada 2011. Di sana, ia dibekali kemampuan orientasi mobilitas dan keterampilan memijat.
Profesi sebagai tukang pijat membawanya pada sebuah perenungan mendalam. "Saya mikir kalau pijat terus, ketika saya sakit, uangnya nanti dari mana lagi?" kenangnya. Kekhawatiran itu terbukti saat ia sempat mengalami infeksi otot kaki yang membuatnya tidak bisa berdiri dan kehilangan pemasukan dari memijat.
Inspirasi datang saat ia sering mendengarkan siaran radio tentang investasi. Meski dengan modal pas-pasan, Yulianto nekat menyisihkan penghasilannya. Dari ongkos pijat sebesar Rp25.000, ia dengan disiplin menabung Rp10.000. Untuk berhemat demi membeli saham Bank BRI yang saat itu seharga Rp260.000 per lot, ia bahkan rela hanya makan dengan lauk "nasi karak" (nasi aking).
Membeli Rumah Impian dari Hasil Saham
Kesabaran dan kedisiplinan Yulianto membuahkan hasil manis. Suatu ketika, ia yang saat itu tinggal di Rumah Susun (Rusun) dan terancam harus segera keluar karena tenggat waktu sewa, mendapat tawaran rumah subsidi.
Di saat ia kebingungan mencari uang muka, Yulianto memutuskan untuk mencairkan seluruh sahamnya. Hasil capital gain (kenaikan harga saham) dan dividen yang ia kumpulkan dari menyisihkan uang pijat ternyata lebih dari cukup untuk membayar uang muka rumah tersebut. "Saya mikir, sekarang saya tidak perlu takut disuruh pergi dari rumah susun, karena saya sudah punya rumah," tuturnya bangga.
Filosofi Sang Nelayan: "Cuan Itu Simpel, Yang Rumit Itu Kamu"
Kini, Yulianto tidak lagi menggantungkan hidupnya dari memijat. Kesuksesannya di dunia pasar modal sering kali membuatnya dijuluki "suhu" oleh rekan-rekannya, meski ia sendiri selalu rendah hati dan merasa masih terus belajar. Dalam berinvestasi, Yulianto memiliki filosofi yang sangat membumi: jadilah seperti nelayan yang melaut.
Banyak pemula yang hancur di pasar saham karena ingin cepat kaya dengan modal besar tanpa ilmu. Yulianto menyarankan untuk memulai dari hal kecil. "Kalau kita mencoba dari hal kecil itu seperti nelayan yang melaut dengan perahu. Minimal kalau terbalik, ya terbalik di perahu itu, tidak tenggelam bersama kapal yang besar. Nanti kalau sudah tahu medannya, baru mencoba melaut dengan perahu yang besar," jelasnya.
Yulianto juga mengkritik kebiasaan masyarakat yang sering berkeluh kesah menyalahkan keadaan atau pemerintah. Baginya, di balik setiap krisis selalu ada peluang. Saat pandemi COVID-19 melanda pada tahun 2020 dan banyak orang mengeluh, ia justru melihatnya sebagai peluang besar untuk meraup untung dari pasar saham yang anjlok.
Kesimpulan
Kisah Yulianto mengajarkan kita bahwa kesuksesan finansial tidak bergantung pada kesempurnaan fisik, melainkan pada kemauan untuk belajar, beradaptasi, dan berani mengambil risiko yang terukur. Segala sesuatu yang instan tidak ada gunanya, semua butuh proses. Seperti semboyan yang kini selalu ia pegang teguh: "Apapun kondisi kita, cuan itu simpel kok... yang rumit itu kamu!" (DPM).

