Lompat ke Konten Utama

Rasa Kasihan dan Ekspresinya Yang Kadang Bikin Salah Kaprah

Orang tunanetra mengekspresikan rasa kasihan dengan wajah yang sedih
Orang tunanetra mengekspresikan rasa kasihan dengan wajah yang sedih
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
5 menit baca
Jumlah pembaca
16 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: Opini

Saya masih ingat ketika seorang disabilitas senior berkata dalam sebuah forum, “Saya tidak butuh dikasihani.” Awalnya saya sangat sepakat dengan itu, tapi belakangan saya merasa jika saya juga punya rasa kasihan padanya.

Makanya saya agak takut-takut ketika ngomong kata “kasihan” di depan senior. Bahkan, ketika saya ketemu kucing kecil di pinggir jalan, saya tidak berani mengutarakan rasa kasihan pada kucing itu. enggak enak sama senior.

Memang perasaan yang agak rumit. Tapi, senior saya itu berlaku demikian, karena banyak orang tidak mengerti jika tidak semua disabilitas membutuhkan uang segar yang langsung diserahkan dari tangan ke tangan. Ini artinya bukan rasa kasihanlah yang salah, melainkan cara mengekspresikan rasa itu terhadap sesamalah yang kadang keliru.

Saya adalah tunanetra dan rasa kasihan itu masih berlaku di dalam diri. Ambil contoh, ketika saya berjalan di alun-alun kota Batu, bersama istri saya, tanpa sengaja saya bertemu seorang pengemis. Sontak saya mengambil uang dari kantong dan langsung memberikannya. Namun, setelahnya, hal yang menjengkelkan terjadi. Pengemis itu mengembalikan uangnya.

Ceritanya lebih detailnya begini, dari kode yang diberitahu oleh istri, saya langsung mengarahkan tangan ke kaleng yang berisi recehan dan sedikit uang kartal itu. setelah saya merasa yakin bahwa tangan berada tepat di atas lubang kaleng sang pengemis , barulah saya bersiap untuk melepas uangnya, agar masuk ke dalam lubang. Namun, belum juga jari-jari melepas uangnya, tiba-tiba saja pengemis itu memegang tangan saya. dan, dia pun dengan cepat mengambil uang di telapak tangan saya,, memutar tangan saya, membuka genggaman saya dan kemudian, meletakan uang itu diatas telepak tangan saya. Bagaikan seorang guru yang sedang menurunkan ilmu ke muridnnya, dia nyeletuk, “Buat mas saja, kan lebih butuh.”

Sekarang posisinya telah berubah. Orang yang tadinya jadi target kasihan, kini malah balik mengasihani penyumbangnya. Mungkin dia tahu kalau yang memberi saat itu adalah seorang mahasiswa, yang sedang mengerjakan skripsinya, berpeluang untuk menjadi pengangguran setelah lulus kuliah, dan hanya punya uang tak lebih banyak dari jumlah upil yang menempel di hidungnya. Maka, tak salah pula, jika dia beranggapan mahkluk di depan matanya tidak lebih beruntung dari dirinya. Itu adalah asumsi saya yang pertama.

Asumsi kedua, mungkin ada Satuan Polisi Pamong Praja yang lagi patroli di sekitar. Jadi, dia menghhindarinya dengan cara membuat seolah-olah yang pengemis adalah manusia disabilitas di depan matanya. Dengan begitu, yang nantinya akan ditangkap dan dibina oleh penegak perda adalah saya.

Layaknya menyiram bensin ke api, hal itu juga diperparah dengan kontribusi media yang mengeksploitasi kesedihan. Misalnya saja, beberapa tahun yang lalu, ada seorang tunanetra baru, bernama, Suga, yang sering mengeluh sedih, dan terus ribut di media sosial. Dengan bantuan salah seorang influencer, Suga mendapat bantuan sumbangan hingga 300 juta, namun kabarnya sumbangan itu tidak digunakan sesuai peruntukannya.

“Suga sedih.” Kata-kata yang sering muncul kala videonya aku tonton di youtube. Sedih sih tak masalah, tapi kalau terus-terusan. Saya juga tunanetra baru sama halnya Suga, tapi beda zaman. Kalau Suga kebetulan di zaman media sosial sedang menggeliat, sedangkan saya tidak demikian. Andai kata saya menjadi buta sekarang, mungkin saya tertarik melakukan hal yang sama.

“Dendy sedih,” dapatlah saya 300 juta. Namun saya tak sampai hati untuk melakukannya. Ini karena masih banyak orang yang tidak memahami inklusi dan partisipasi yang bermakna. Dengan melakukan hal seperti itu, imbasnya orang-orang tetap melihat tunanetra atau kebutaan adalah tragedi dan perlu dikasihani dengan cara memberi uang, di depan umum pula, dan secara orang per orang.

Bukan bermaksud menyalahkan orang memberi. Tapi, efeknya adalah ketika saya berjalan di suatu tmpat, maka saya adalah sasaran bagi orang-orang yang kurang paham cara mengekspresikan rasa kasihannya. Contohnya,, ketika saya jalan di tempat umum, tiba-tiba ada orang yang memberikan uang, padahal saya tidak meminta-minta.

Memberi atau saling mengasihani bisa dilakukan dengan berbagai cara. Tentu cara-cara itu diharapkan tidak menganggu kenyamanan. Baik-orang memberi dan yang diberi tidak ada keberatannya.

Misalkan saja, langsung menuju rumah zakat atau badan pengumpul amal untuk lebih terkoordinir dan aman. Atau, paling sederhananya adalah mendatangi tempat komunitas-komunitas disabilitas, dan membuat kegiatan yang bermakna.

Dengan begitu, partisipasi disabilitas yang bermakna juga dapat dirasakan oleh semua orang. Sudah barang diketahui semua orang bahwa uang linier dengan kapasitas atau kewenangan. Oleh karenanya, funding itu penting bagi sebuah organisasi dalam menjalankan oprasional atau proyek-proyek inklusinya.. ini karena lingkungan masyarakat kita masih belum sepenuhnya memahami inklusi disabilitas.

Pembangunan berbasis komunitas ini lebih menjanjikan independensi daripada yang dilakukan oleh filantropi klasik. Misal saja, dengan berbagi donasi dalam organisasi, maka akan ada perjanjian antara donatur dan pengelola organisasi. Dengan begitu, kami bisa mengembangkan badan usaha dalam organisasi.

Dengan adanya badan usaha organisasi, jalannya aktifitas sehari-hari nantinya akan dapat disokong oleh badan usaha tersebut. maka, kemandirian kolektif dapat terlaksana.

Kemandirian kolektif tersebut dapat berupa, menajemen keuangan, manajemen organisasi, dan juga pengelolaan informasi organisasi dan komunitas itu sendiri. Dengan demikian, maka organisasi dapat melakukan branding dan terus berupaya untuk melaksanakan visi misinya.

Kini, kita tahu bahwa mengekspresikan rasa kasihan tak melulu memberi uang pada individu penyandang disabilitas. namun, dapat dilakukan dengan kolaborasi bersama organisasi atau komunitas penyandang disabilitas secara langsung dengan cara,

“Ya, memberi uang segar.” (bercanda).

EASTER EGG DITEMUKAN!

Ketik kode KARTUNET-BERDAYA-1831

pada Menu Game Si Paling Inklusif (membuka tab baru) di WA Avika untuk mengklaim 10 Koin!

Buruan! Sisa kuota hanya untuk 18 orang tercepat.

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik inklusif, disabilitas, kasihan, dan perspektif.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Anda dapat mengirimkan tulisan dengan mudah serta membaca panduan selengkapnya di halaman Kirim Naskah.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika