Pengganti Hidup
- Penulis
- Dimas P. Muharam
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 30 menit baca
- Jumlah pembaca
- 2 kali dibaca
Tangan Pras bergetar ketika Ia berusaha untuk meraih telepon genggamnya. Jari-jarinya mulai menekan key path untuk mencari data nomor seorang perempuan yang sangat dicintanya selama ini. Matanya berusaha keras untuk menahan sesuatu yang sudah sangat ingin meluap. Tuuut… Tuuut…, Terdengar di telinganya nada sambung yang antar nadanya seperti bertahun-tahun jaraknya. Dua, Tiga, Empat, dan sampai nada tunggu ketujuh masih belum ada jawaban. Air mata itu mulai tidak dapat tertahan ketika pada nada yang kesembilan panggilan itu terangkat. Ia berbicara dengan nada yang gugup dan terburu-buru, “Na.. Na… Dia, Nadia, kamu baik-baik saja?”. Tak terdengar suara apa-apa dari ujung telephone. Hanya suara lemah seperti rintihan yang mendesahkan kata-kata yang terdengar seperti “maaf… kan Aku… Pras…”. Ia mengenggam handphonenya dengan kuat sekali, sepertinya dengan hal itulah Ia dapat melepaskan semua rasa penyesalannya. Air mata itu mulai mengalir dan membasahi pipinya. Ia telah lupa untuk berapa tahun ke belakang terakhir kalinya air mata itu keluar. Air mata lelaki, air mata yang sangat mahal harganya.
Terduduk sejenak di kursi depan televisi yang menampilkan berita yang paling menguncang di tahun ini, Mungkin bagi semua orang dan paling menguncang bagi dirinya yang padahal tidak merasakannya secara langsung. Masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, Ia merasa semua peristiwa indah itu baru saja Ia alami. Setelah berusaha untuk berfikir dengan jernih, Ia segera merencanakan apa yang mau dilakukan dan segera beranjak. Tak banyak yang Ia bawa, hanya satu tas punggung dan uang sedapatnya. Hanya satu yang Ia fikirkan sekarang. Upaya untuk bertemu dengan seorang perempuan yang sangat Ia cintai. Yang mungkin hanya untuk terakhir kalinya. Dalam perjalanannya untuk mencari kendaraan, kenangan-kenangan empat tahun silam itu segera membanjiri benaknya pada saat Ia menatap Warnet yang masih berdiri kokoh di seberang pandangannya.
*****
26 Mei 2002, 04:23 PM Di Warnet
Pras_keren : Asl Plz?
C_imut17 : 17 F yog. U?
Pras_keren : 18 M Jkt. Wah hampir sama dong.
C_imut17 : Wah ia nich. Ad Fs?
Pras_keren : Ada dong add gw ya. Buka aja profilnya di pras_keren@yahoo.com
C_imut17 : o.k
Pras membuka browsernya untuk melihat accountnya di Friendster. Setelah kira-kira sepuluh menit, tidak ada jawaban dari lawan chattingnya.
Pras_keren : Buzz!
Pras_keren : Gimana, udah buka belum?, keren enggak gw di situ.
Pras_keren : Kok enggak bales2? Masih idup enggak. Atau ada tsunami ya baru aja di situ.
C_imut17 : Maaf, ini bukan yang pakai user ini tadi. Yang barusan pakai sudah pergi.
Pras_keren : Oh gitu, enggak pa2 deh. Saya chat sama kamu aja ya!
C_imut17 : Oh ya udah, tapi saya tidak bisa lama2, karena setelah cari data mau langsung pulang.
Pras_keren : Kalau begitu, Aku Pras, kamu?
C_imut17 : Nadia. Kamu bisa panggil saya itu.
Pras_keren : Nama yang bagus, kamu sekarang kuliah atau apa?
C_imut17 : Baru saja lulus SMA, rencananya mau nerusin ke Universitas di sini.
Pras_keren : Sm, eh minta foto kamu dong!
C_imut17 : O.k deh, tapi jangan ketawa yang kalo jelek. Pras, data yg aq cari udah dapet nih, pergi dulu ya!, Bye.
Pras membuka kiriman file yang berupa foto kiriman Nadia. Ia agak malas-malasan membukanya setelah membaca tulisan tentang foto Nadia itu. Setelah foto itu terbuka, mata Pras membelalak melihatnya. “Ini sih enggak ada yang jeleknya sama sekali!, Perfect abis!”. Foto Nadia sedang berfose dilatarbelakangi pemandangan Malioboro yang ramai pengunjung. Wajahnya sempurna, semua struktur organ yang menyusunnya pas dan tidak ada yang kurang atau keterlaluan. Ia menggunakan pakaian berkerudung yang membuat wajahnya semakin cantik dan manis. “Gua yakin kalau nih cewe, cewe baik-baik. Kalau enggak bener pasti udah ngasih fotonya yang super sexy!”. Pras segera menyimpan foto tersebut pada flash disk yang dibawanya dari rumah. Ketika Ia melihat ke jendela Yahoo Messanger lagi, Ia merasa sangat kecewa, karena Nadia ternyata sudah Off Line tanpa meninggalkan alamat e-mail atau nomor yang bisa dihubungi. “Ah, dia pasti cewe yang enggak biasa chatting nih” kata Pras sambil sign out usernya dari Yahoo Messanger dan bangkit dari tempat duduknya.
Di kamar tidur rumahnya, sambil berbaring Pras memandangi hasil print out foto yang didapatnya sore tadi. Kamar itu sangat berantakan seperti layaknya kamar anak laki-laki. Buku-buku panduan uan dan SPMB berserakan di sekitar tempat tidurnya. Jaket dan pakaian seragam yang sudah penuh dengan coretan tergantung dengan liar di samping lemari pakaian. Seperangkat PC lengkap hanya tanpa jaringan internet masih aktif dibiarkan begitu saja oleh Pras yang sedang asyik memandangi hasil print outnya. “Ah nih anak-anak pasti bakalan iri banget kalau tahu gua kenal sama cewe secantik ini. Cewe mantan-mantan gua dan yang ada di sekitar sini enggak ada yang secantik Nadia ini. Tapi kasian juga kalau cewe sebaik ini mau gua main-mainin buat jadi list berikutnya dari pacar-pacar gua. Untung aja dia ada di Yogya, jadi enggak ketemu sama gua. Tapi apa bener cewe secantik ini belum ada yang ngapa-ngapain nih sama dia?”. Pras menyisihkan rasa penasarannya itu dan memasukan foto Nadia ke dalam dompetnya untuk ditunjukan pada teman-temannya.*
2 Bulan kemudian
“Busyet, elu kenal di mana nih cewe secakep ini pras!” Leo menatap foto Nadia dengan kagum hingga mengangkat-angkat kaca matanya seperti tidak percaya dengan kaca matanya itu. “Ah mau tahu aja lho, rahasia perusahaan dong!” Pras dengan nada kemenangan yang meyakinkan. “Ah ini pasti elu dapetin dari messanger kan?” terka Agus yang sudah sadar setelah kekagumannya terhadap kecantikan Nadia. “Ah enggak kok,” Pras mencoba menutupi. “Udah lah, ngaku aja. Terus, ini kan foto digital, jadi bisa aja kan fotonya dipercantik pake photo soft,” Leo sambil menyerahkan foto itu kembali kepada Pras. “Iya juga sih, tapi misalnya nih foto alami, elu bakalan kita-kita angkat jadi raja playboy kota ini kalau bisa ndapetin si cantik ini!” Agus coba merebut foto itu lagi, seakan belum puas memelototi wajah itu. “Ah elu, enggak mungkin kale. Dia ini ada di Yogya, sedangkan gua, masih berkutat di Jakarta. Oh iya, pengumuman SPMB kapan?”, “Hari ini, kita lihat yuk pengumumannya di internet!” kata Leo yang segera bergegas ke pinggir jalan raya tempat warnet terdekat, Pras dan Agus mengikutinya di belakang.
Hari itu sangat cerah dan terik, udara sangat panas sekali sehingga ketika masuk ke ruang warnet yang berpendingin ruangan, perbedaan suhu itu sangat terasa. Di antara sepuluh unit komputer dalam warnet itu, sembilan di antaranya penuh dipakai oleh para calon mahasiswa yang sibuk mencari-cari nama mereka dalam daftar siswa yang lulus SPMB. “Pras, kenapa sih elu enggak pasang aja internet di rumah elu?, ortu luh kan tajir!” sindir Leo ketika mulai membuka browser internet explorer. “Ah elu yo, kalau pasang di rumah, enggak bisa bebas tahu. Gua bakalan diawasin terus mbuka apaan aja di komputer,” Pras dan Agus duduk di sebelah leo yang sedang sibuk menekan dan menggeser mouse komputer itu. Pertama kali, Leo memeriksa nomor ujiannya dan di universitas manakah Ia akan diterima. Leo diterima di ITB Bandung, Kemudian Agus diterima di Universitas Diponegoro Semarang, dan Pras yang paling jauh. Ia diterima di Universitas gajah Mada Yogyakarta. Mereka merasa senang karena telah berhasil lulus SPMB dan diterima di universitas-universitas bergengsi di republik ini. Tapi mereka sedih pula, karena harus berpisah untuk waktu yang agak lama karena berlainan kota.
Saat Leo sudah ingin mematikan browsernya, Pras mendapatkan suatu ide yang cemerlang menurutnya. “Jangan ditutup yo, pinjem sebentar!” Pras sambil mendorong Leo agar menyingkir. Leo yang agak sedikit kaget menyingkir dengan terpaksa, “Mau ngapain sih!”. Pras tidak memperdulikannya, Ia mengetikan beberapa kata sebagai key word di form. Ia mencoba mencari nama Nadia yang diterima di universitas di Yogyakarta. Memang cara yang agak bodoh setelah Ia sadari. Di sana keluar banyak sekali nama Nadia, yang di berbagai universitas. Lagi pula Ia tidak tahu nama belakang dari Nadia yang lebih menyulitkan lagi.
*
Sesampainya di rumah, Pras menyampaikan kelulusannya itu kepada orang tuanya. “Baiklah, Papa akan urus semuanya”. Hanya itu yang diucapkan oleh ayahnya dengan tanpa ada ekspresi gembira sedikitpun. Mereka kelihatannya biasa-biasa saja mendengar berita itu. Soalnya dua orang kakak-nya yang telah bekerja sebelumnya juga kuliah di universitas negeri terkenal di negara ini. Jadi hal tersebut tidak terlalu istemewa, karena Pras seharusnya juga harus mendapatkannya. Pras juga tidak merasa sedih melihat respons dari orang tuanya itu. Karena hal itu memang sudah hal yang biasa di keluarganya. Suasana di sana memang statis, penuh dengan keseriusan dan harus dapat mandiri. Ayahnya yang tegas dan Ibunya yang seorang wanita karir, membuat hubungan antara orang tua dan anak di antara mereka tidak terlalu dekat.
Pras tidak terlalu memperdulikan sikap kedua orang tuanya itu, Ia langsung saja menaiki tangga dan masuk ke kamarnya yang seperti biasa selalu berantakan. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur yang di sana berserakan pakaian-pakaian baik yang sudah bersih atau yang kotor. “Yogya, I’ll be there!”, mengucapkan kata Yogya, Pras seperti teringat akan suatu hal yang amat menyenangkan. Bukan karena Ia akan kuliah di sana atau dapat jauh dari orang tuanya, tapi Ia teringat bahwa Nadia tinggal dan kuliah di Yogya, Sehingga kemungkinan Ia dapat bertemu atau yang lebih beruntung lagi, satu kampus dengan si cantik itu.
Satu bulan telah berlalu sejak pengumuman hasil SPMB. Ayah Pras telah mengurus semua administrasi untuk masuk ke universitas itu. Kamar yang selama ini biasanya seperti kapal pecah, sekarang sudah rapi dan agak lengang. Semua buku-buku dan pakaian sudah tersimpan rapi dalam rak dan lemari. Poster-poster sepakbola dan gambar artis-artis sexy sudah dilipat dan disimpannya dalam lemari. Barang-barang kecil yang dapat dibawa dimasukan ke dalam tas bawaannya untuk kenang-kenangan dan pajangan di kamar kostnya nanti, sedangkan yang tidak terbawa Ia sembunyikan di tempat yang aman agar tidak diambil oleh para keponakannya yang nakal-nakal itu. Komputer juga telah Ia proteksi dengan password-password di setiap usernya dan untuk perlindungan lebih canggih, kabel data yang ke hardisk Ia cabut agar tidak ada orang yang mengacak-acak file-filenya. “Ah semuanya sudah beres, enggak ada seorang pun yang boleh nikmatin nih kamar selain gua!” bisiknya sembari melangkah keluar kamar menuju ke ruang keluarga.
Di sana orang tuanya sudah menunggu. Tapi sebenarnya Ia juga tidak yakin apakah mereka akan sedih melepaskan dirinya, atau malah senang karena tidak harus mengurusi dirinya lagi. Ia rasa adalah opsi kedua yang tepat. “Pa, Ma, saya berangkat dulu ya,” kata Pras memeluk Ayahnya. “Iya, papa dan mama akan selalu mendo’akan mu”, “Hati-hati ya nak di sana” kata Ibu memeluknya. Tak ada tangisan perpisahan atau kehangatan pada adegan itu seperti yang di sinetron. Semuanya terasa hambar dan biasa saja. Pras mempercepat langkahnya untuk keluar rumah dan menuju ke jalan raya terdekat. Tak ada lagi orang yang harus dia pamiti di kota ini. Sobat karibnya Leo dan Agus, sudah berangkat satu minggu yang lalu. Ia dan mereka sama, harus ke stasiun untuk naik kereta. Sebenarnya Ia ditawari ayahnya untuk lewat jalur udara saja, tapi Ia menolaknya dengan dalih jika naik pesawat terlalu cepat sampainya dan tidak bisa menikmati perjalanan. Sebagai kompensasinya, uang tersebut Ia minta sebagai penambah uang saku selama di sana. “Kan lumayan bisa buat senang-senang!” soraknya dalam hati.
Di dalam kereta, Ia mengambil salah satu tempat duduk di posisi belakang gerbong. Ia langsung tertidur di kursinya, karena semalaman Ia tidak tidur untuk membereskan kamarnya yang sudah sangat parah itu. Ia tidak mengkhawatirkan akan barang-barangnya, dengan bawaannya yang hanya satu tas jinjing dan tas punggung, serta tampangnya yang tidak meyakinkan dengan hanya pakai kaos serta sepatu sendal, Ia tidak perlu khawatir akan copet yang biasanya banyak di kereta. Pras walau orang-tuanya kaya, tapi Ia tidak suka memperlihatkannya kepada orang lain dan Ia menganggap bahwa kekayaan itu adalah milik orang tuanya, bukan dari hasil jirih payah dirinya sendiri.
Tidak terasa setengah hari perjalanan mengantarkannya pada tujuannya. Seorang Ibu-ibu yang membawa anak kecil membangunkannya bahwa kereta sudah tiba. “Wah gila, gua tidur pasti pulas banget. Itu anak pasti sedari tadi nangis, tapi gua enggak terbangun sedikit pun!” fikirnya sambil mengumpulkan kesadaran. Ia melangkahkan kakinya di Stasiun Solo Balapan pada kira-kira pukul 05:00 Pagi. Ini memang bukan stasiun di Yogya, Ia bermaksud untuk transit dan main dulu di rumah kakek neneknya yang letaknya tidak jauh dari stasiun ini. Suasana di sekitar stasiun itu sudah mulai ramai. Ini memang ukuran waktu yang cukup siang untuk para pedagang yang belum melakukan aktifitasnya. Ia naik becak menuju rumah mbahnya, dan sedikit memberikan surprise pada dua orang di keluarganya yang paling dekat dan Ia sayangi itu.
Dua minggu Ia menginap di rumah yang masih sangat tradisional itu. Dengan menggunakan bus Ia langsung menuju ke kota Yogyakarta sekarang. Masih ada waktu satu minggu lagi sebelum tahun ajaran baru dimulai. Setelah satu jam perjalanan, bis itu mengerem mendadak di daerah ingin mendekati pusat kota Yogya. Pras yang sudah mengantuk, kepalanya terantuk kursi di depannya dan mengumpat-umpat dengan suara yang tidak dikeraskan. Mata Pras dan mungkin seluruh penumpang yang kaget langsung mengarah ke pintu bis. Sesaat kemudian, seorang perempuan berkerudung cantik yang membawa tas jinjing berjalan di dalam bis mencari-cari kursi yang masih kosong. Ia berhenti ketika melangkah di sebelah kursi yang sedang diduduki Pras. Ia berharap perempuan cantik itu mau duduk disebelahnya. Tapi seperti yang sudah diterkanya, Perempuan itu lebih memilih duduk di seberang kursinya di sebelah seorang Ibu tua. Tidak ada orang-orang yang marah-marah atas kejadian tadi. Mereka seperti terbius dengan kecantikan perempuan itu. Atau mungkin karena adat orang Jawa yang selalu menyimpan kemarahan yang mereka rasakan, sehingga menumpuk menjadi sesuatu yang tidak terkontrol nantinya.
Ia terus memandangi paras cantik perempuan itu. Seperti baru saja mendapatkan ilham, Pras seperti teringat sesuatu saat memandangi perempuan itu. Ia tanpa sadar membuka dompet kulitnya dan mengeluarkan lipatan kertas hasil print out foto seorang perempuan yang didapatnya sebulan lebih yang lalu. Ia terkesiap, ketika memandangi gambar dalam foto itu dan mencocokkan dengan perempuan yang ada di seberangnnya. “Memang persis sekali, sama cantik. Tapi sepertinya ada yang beda,” Pras masih memindah-mindah pandangannya dari foto itu dan sosok asli di seberangnya. “Dia yang sekarang tampak sedikit murung,, sedangkan yang di foto ini cerah ceria sekali. Walaupun begitu, tetap tidak mengurangi kadar kecantikan pada wajahnya. Ada apa ya?”. Beberapa menit dalam keterbiusan memandangi wajah Nadia, bis itu kembali berhenti mendadak dan lebih membuat Pras kaget kali ini. Tapi Ia tidak sempat mengumpat, karena Ia memperhatikan langkah-langkah Nadia yang beranjak menuruni bis di salah satu jalan pusat kota Yogyakarta. Pras tidak melakukan apa-apa. Ia masih belum yakin apakah Ia adalah Nadia yang Ia temui tempo hari, lagi pula Ia juga belum terlalu mengenal kota ini. Jadi kalau mau kemana-mana, ya fikir-fikir dulu.
*****
Hari itu masih dalam suasana pagi yang sejuk. Langit mendung seakan tahu apa yang sedang terjadi di salah satu belahan bumi ini. Atau mungkin sebagai tanda ikut bersedih akan perasaan hati Pras pada saat itu. Ia tiba di terminal, di sana mengatakan bahwa semua bis yang jurusan ke Yogya, di batalkan. Tidak ada bis yang bisa mencapai kota yang sudah hancur tersebut. Semua jalur transportasi hancur lebur dan hanya sebagian kecil yang masih dapat dilalui, dan itu tidak diperuntukan bagi umum. Sebelum ini Pras sudah menghubungi agen tiket untuk pesawat terbang, tapi ternyata Adi Sucipto dan Sumarmo ditutup. Sehingga tidak ada lagi airport terdekat ke daerah tersebut. Kemudian jalur terakhir yang cepat adalah kereta. Tapi jika kereta paling dekat jika turun di Solo. Tapi untuk ke daerah langsungnya tidak dapat dicapai. Karena hanya untuk jalur bantuan saja yang dapat.
Seperti ada yang menuntun langkahnya, Pras bergegas menuju ke PMI pusat. Ia di sana segera menemui koordinator untuk pemberangkatan relawan pada daerah bencana. Di sana Ia langsung diterima dan masuk pada pemberangkatan yang kedua karena Ia agak telat sedikit. Lalu pemberangkatan itu baru bisa dilakukan pada malam hari karena masalah birokrasi yang berbelit-belit.
Menunggu selama lima jam, Ia dan para relawan lainnya diangkut ke bandara halim Pradana kusuma untuk naik Hercules bersama bantuan logistik dan kesehatan yang lainnya. Di sini dia juga bersamaan dengan para tentara yang ikut serta membantu penanggulangan bencana. Jika tidak sedang keadaan yang seperti ini, Ia pasti akan bangga sekali karena menganggap dirinya akan ikut perang yang hal itu sangat keren. Tapi sekarang pandangannya menerawang jauh pada kaca jendela pesawat yang di sana hanya terlihat langit biru dan kabut-kabut putih yang menyelimuti fikirannya.
*****
Sebulan sudah Pras menjalani studinya di universitas yang baru dimasukinya. Pelajarannya di sini berjalan lancar kecuali ada satu hal yang mengganjal. Ia sering kali berpapasan atau menatap dari jauh perempuan cantik yang ada di dalam foto hasil chattingnya itu. Pras tak berani langsung bertemu atau bahkan mendekati perempuan itu. Ia masih belum yakin apakah dia kah yang diharap-harapkannya. Karena Nadia yang diamatinya sekarang ini kelihatan lebih murung dan tidak bergairah dalam hidup. Sering kali Ia bertanya kepada teman satu kelas yang mungkin mengenalnya. Sampai suatu kali Ia bertanya kepada teman wanita satu kelasnya. Temannya itu mengaku bahwa Ia teman satu SMA dengan nadia itu. Sehingga barulah Pras merasa yakin bahwa Perempuan itu benar-benar Nadia.*
21 September 2002, 04:12 PM Di suatu sudut kampus.
Pras selama ini menjadi detektif bagi dirinya sendiri. Ia sering mengamati Nadia duduk di satu sudut kampus pada akhir jam pelajaran dan di sana Ia merenung sendiri serta kadang-kadang diakhiri dengan sebuah tangisan. Pada saat ini, Pras memberanikan diri untuk menemui Nadia pada saat hal tersebut sedang terjadi. Memang bukan moment yang tepat, tapi hati kecilnya menyatakan lain.
Pras mulai melangkah mendekat ke arah nadia yang duduk di lantai membelakanginya. Dengan langkah-langkah kucing yang tak bersuara, Pras ikut duduk di samping Nadia. “hai Nadia, Aku boleh menemanimu?”. Tak ada jawaban dari mulut indah Nadia. Ia masih menatap kosong ke bawah. Setelah beberapa detik, Pras mencobanya lagi. “nadia, Nadia, boleh aku menemanimu?”, “Oh kamu, dari mana kamu tahu namaku?, kita kan belum pernah bertemu sebelumnya” tanya Nadia sedikit curiga, tapi tetap tidak jutek. Pras merasa sedikit senang karena Nadia sudah mau menanggapinya sekarang. “Awal yang tidak terlalu buruk!” kata pras dalam hati. Pras segera mengeluarkan secarik kertas hasil print out foto dari dompetnya dan menunjukannya kepada Nadia. “Kita sudah pernah ketemu, lebih tepatnya chatting lewat messanger sebelumnya”, “Oh jadi kamu Pras”, “Dari mana kamu tahu?”, “Tentu saja, aku hanya sekali chat dan itu pun hanya kebetulan. Jadi hanya kamu orang yang pernah chat lewat messanger denganku”. Seperti mendapat angin, Pras merasa pd sekali karena Nadia masih mengingat namanya sampai sekarang. Setelah itu, terdapat beberapa menit kekosongan di antara mereka. Pras tidak tahu lagi apa yang harus diobrolkan olehnya. Sebenarnya ada satu pertanyaan yang ingin sekali ditanyakannya. Tetapi ia takut jika hal itu akan menyinggung perasaan Nadia. “Nadia, ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu. Kamu sepertinya yang sekarang dengan yang di foto itu agak berbeda?”, “Berbeda apanya?”, “Kamu yang sekarang lebih murung”, “Jadi kamu selama ini menyelidikiku ya!”, “Aku tidak bermaksud apa-apa, tapi aku hanya ingin menjadi temanmu. Kalau kau ingin kamu bisa membagi masalah itu denganku”.
Nadia kembali mengalihkan pandangannya kosong ke arah bawah. Ada kesunyian kira-kira lima menit antara mereka pada saat itu. Pras sudah mulai gusar. Jika Ia telah menyinggung perasaan Nadia. Saat ia sudah mulai mempertimbangkan untuk meninggalkan Nadia, Ia mendengar seperti ada suara isak tangis di sebelahnya. Ternyata benar, itu tangis Nadia. Pras sekarang lebih merasa iba kepada perempuan cantik itu. Ia sangat tidak tega sekali jika melihat seorang perempuan menangis. “Ayahku meninggal dua bulan yang lalu,” kata Nadia yang lirih sekali sampai-sampai Pras tidak dapat mendengarnya. Nadia menceritakan segalanya kepada Pras. Ia menceritakan dari sejak ayahnya meninggal dunia, Ia merasa sangat kehilangan sekali akan sosok ayahnya itu. Pras terus terdiam mendengarkan kata demi kata Nadia dengan seksama. Ia berusaha dapat berempati dengan apa yang telah dialami oleh Nadia. Ia memang tidak kehilangan orang tua, tapi Ia seperti tidak memiliki kehangatan orang tua dengan ketidak harmonisan hubungan anak dan orang tua antara mereka. Pras mengerti betapa Nadia sekarang membutuhkan sosok lelaki yang dapat menjadi seorang pelindung baginya. Rasa untuk memiliki Nadia hanya sebagai cewe yang untuk dimain-mainin saja sekarang sudah hilang. Hanya rasa cinta untuk melindungi Nadia yang ada sekarang.
Awan mendung mulai berarak menaungi di mana mereka berada. Hujan mulai turun. Dari gerimis, menjadi semakin deras, dan deras. Tangis Nadia semakin meluap-luap seiring derasnya hujan. Pras memandang tetesan air hujan yang ada di hadapannya jatuh ke bumi dan mengalir dalam parit-parit yang akan membawanya ke suatu daerah yang jauh. “Luapkan perasaanmu Nadia, buang semua keluh kesah yang membelenggumu. Buanglah itu dalam air matamu yang akan membawanya menjauh dari dirimu,”. Terdengar petir yang menyambar agak jauh dari pendengaran. Nadia masih terus menangis dan Ia memeluk Pras kemudian menyandarkan kepalanya di dada Pras. “Menangislah Nadia, Jika itu dapat membuatmu lebih baik. Mulai sekarang Aku ingin menjadi teman mu. Menjadi pelindung yang akan selalu menjagamu”. Kata-kata itu sepertinya mengalir saja dari mulut Pras. Sepertinya mereka merasa sudah sangat dekat. Seperti sudah merupakan teman sejak kecil. Pras dengan lembut membelai punggung Nadia yang sekarang tangisannya sudah mulai mereda.
Pras mengantar Nadia pulang ketika hari sudah mulai malam. Sesampainya di sana, Ia diperkenalkan kepada satu-satunya orang yang tinggal di rumah itu selain Nadia. Ia adalah Ibu dari Nadia. Wanita yang sudah setengah baya itu memiliki sikap yang sangat ramah, hangat, dan bersahabat. Pras seperti merasa dekat sekali dengan sosok seorang Ibu yang selama ini Ia dambakan. Hal yang tidak Ia temui pada orang tuanya. Nadia menghidangkan the hangat dan makanan kecil kepada kami yang sedang mengobrol. Sekarang ekspresi wajah Nadia sudah cerah ceria kembali dan kelihatan lebih manis lagi. “Nduk, kamu sudah tidak bersedih lagi nak?” tanya Ibu itu kepada Nadia yang sedang menata gelas. Nadia tidak menjawabnya. Ia hanya tersipu malu dan bergegas meninggalkan Pras dan Ibunya. Raut wajah Ibu itu bahagia sekali ketika Ia menatap Pras. “Terima kasih ya nak, ini semua pasti berkat nak sehingga Nadia bisa ceria lagi!”, “Ah tidak bu, kami baru saja ketemu hari ini”, “Sekali lagi, terima kasih ya nak!”. Tidak terasa Pras sudah bercakap-cakap dengan Ibu itu cukup lama. Kira-kira pukul sembilan malam Pras minta diri untuk pulang. Sebenarnya Ia sangat berat sekali meninggalkan keluarga itu. Keluarga yang baru dikenalnya tetapi sudah seperti keluarga sendiri. “andaikan itu benar-benar terjadi,” do’a Pras dalam hati.
*****
Pesawat terbang raksasa itu sekarang mendarat di kota Semarang. Pras turun dari situ dan segera diarahkan bersama relawan-relawan yang lain untuk naik mobil-mobil tentara untuk sekarang melewati jalan darat menuju langsung tempat bencana. Pras memandangi kota itu, kota yang masih terlihat sama dari semenjak satu dua tahun yang lalu. Kenangan manis bersama Nadia terulang lagi di benaknya.
*****
Setahun sudah Pras berkuliah di universitas itu. Studinya lancar dengan nilai-nilai yang baik. Selama liburan antar semester atau akhir tahun, Ia tidak pernah pulang ke Jakarta untuk menemui orang tuanya. Ia hanya menghabiskan waktunya dengan pergi menginap di rumah Kakek Neneknya atau berjalan-jalan dengan Nadia. Ia juga sering mengajak Nadia untuk berkunjung ke tempat kakek neneknya itu. Kakek dan Neneknya menyambut hangat Nadia. Mereka mengatakan bahwa Nadia itu adalah perempuan yang baik dan calon istri yang ideal. Pras hanya bisa tersenyum-senyum kecil dan diam-diam mengamini harapan tersebut dalam hati.
Pernah pada suatu malam liburan tahun ketiganya di universitas, Pras mengajak Nadia untuk melancong ke kota Semarang. Pras beranggapan bahwa mereka sudah bosan dengan hanya berkutat sekitar Yogyakarta, solo, dan paling banter ke pantai Parang Tritis. Sekarang Ia ingin mengajaknya menikmati suasana di pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Setelah sampai sore menikmati berdua suasana pelabuhan di Tanjung Emas, mereka makan dulu di kota itu. Di sana mereka banyak ngobrol tentang berbagai masalah kecil. Pras menikmati tawa dari Nadia yang tidak pernah dilihatnya ketika Ia baru pertama kali mengamati Nadia. Mereka tidak pernah membicarakan tentang cinta atau hubungan mereka sama sekali. Pras juga tidak pernah menyatakan cintanya kepada Nadia secara langsung. Hubungan seperti inilah yang lebih dari sekedar pacaran. Ia bahkan menganggap Nadia sudah seperti adiknya sendiri. Perasaan yang membuatnya dapat lebih dekat bagai saudara ini, walaupun jika ke mana-mana berdua orang pasti akan melihat mereka sebagai sepasang kekasih. Tak pernah ada maksud untuk menyakiti, atau bahkan berbuat macam-macam yang kelewat batas. Hanya ada rasa untuk melindungi Nadia seutuhnya. Dialah mutiara yang paling cerah kemilaunya dalam samudera yang di dalamnya terdapat jutaan mutiara lainnya.
Sebelum jam sembilan malam mereka sudah tiba di depan rumah Nadia. Ketika Pras sudah mau berpamitan dengan Nadia, handphonenya berdering. “Ya Hallo, ada apa kak?. Apa!!” Pras terkejut ketika mendengar berita apa yang sedang diutarakan kakaknya dari ujung sana. Rasa keterkejutan itu hanya beberapa detik terlihat di wajahnya. Setelah itu Ia terus mendengarkan penjelasan Kakaknya dengan ekspresi yang sudah normal lagi. “Ada apa Pras, ada yang serius?” tanya Nadia ketika Pras mematikan hubungan telephone itu. “Iya, orang tuaku meninggal dunia satu jam yang lalu,” ujar pras dengan nada biasa. “Oh, Aku turut berduka cita. Sekarang apa yang mau kamu lakukan?”, “Terima kasih, Sekarang Aku harus ke Jakarta”, “Bolehkah Aku ikut untuk memberikan penghormatan terakhir?”, “Ah tidak usah, terima kasih atas simpati darimu. Aku tidak ingin Ibumu mengkhawatirkanmu. Aku lebih mencintai keluarga kalian dari pada apapun!”, “Mengapa kamu bilang begitu?”, “Karena mereka bukan orang tuaku sebenarnya. Kakakku baru menceritakannya tadi. Oleh karena itu mengapa Aku tidak pernah merasa dekat dengan mereka”. Terlihat ada ekspresi ketidak percayaan Nadia di wajahnya. “Aku pamit dulu ya, Assalamualaikum!” ucap pras menutup percakapan itu agar tidak mendapat berbagai pertanyaan lagi dari Nadia.
Pras segera menjemput Kakek Neneknya yang ada di Solo untuk bersama-sama terbang ke Jakarta. Di sana Pras ikut melakukan prosesi pemakaman kedua orang tuanya yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Sesampainya di rumah, Pras kembali di jelaskan mengenai hal ikhwalnya bahwa ia adalah seorang anak pungut. Walaupun begitu, Pras tetap menghargai dan menghormati kedua orang tuanya itu yang telah membesarkan dan mendidiknya selama ini. Ia mendapatkan warisan dari orang tuanya hanya berupa rumah yang ditinggali oleh dirinya dan orang tuanya itu. Rumah itu untuk sementara Ia biarkan kosong, dan hanya dirawat oleh pembantu yang selama ini bersama keluarga itu. Rencananya nanti rumah itu akan dijadikan rumah untuk merawat anak Yatim Piatu yang akan dia kelola dan mungkin juga dengan Nadia.
*
Setelah kembali lagi di Yogyakarta, Ia jadi lebih sering untuk menginap di rumah Kakek dan Neneknya yang sebenarnya bukan. Tapi mereka menganggap Pras seperti cucu-cucunya yang lain, bahkan lebih. Sehingga Pras sangat menyayangi mereka. Selain itu Pras juga jadi lebih sering berkunjung ke rumah Nadia walaupun hanya mengobrol di teras dengan Ibunya. Di sana Pras seperti mendapatkan kehangatan sebuah keluarga yang sebenarnya. Ibunya Nadia sudah Ia anggap seperti Ibunya sendiri yang nantinya akan menjadi resmi jika Ia menikah dengan Nadia.
*****
Hari sudah mulai pagi lagi. Mentari redup yang masih tertutup kabut membias menerangi bumi yang sudah semakin tua ini. Pras terbangun ketika mobil terguncang melewati jalan-jalan Yogya yang sebagian besar sudah retak-retak. Semuanya berbeda 180º. Kiri kanan jalan yang biasanya berderet-deret kios-kios, sekarang hanya reruntuhan puing-puing yang tidak bernilai. Tak ada lagi orang-orang yang lalu lalang ramai dengan cerianya di pinggir jalan, sekarang hanya terlihat manusia-manusia yang terkulai tak berdaya terluka atau mati karena reruntuhan bangunan. Mobil yang Pras tumpangi berhenti di pinggir sebuah lapangan yang di sana terdapat tenda-tenda darurat. Saat Pras menginjakan lagi kakinya di tanah Yogya, Hatinya sakit. Kesedihan yang luar biasa menerpanya. Bukan hanya karena pemandangan yang baru saja dilihatnya, tapi karena penyesalannya yang dibuat terhadap Nadia.
*****
Hampir genap empat tahun sudah Pras studi di Yogya. Sekarang ia sudah lulus dan diwisuda dengan titel sarjana sastra. Wisudanya juga berbarengan dengan Nadia yang berhasil pula menjadi seorang sarjana. Kakek neneknya dan Ibu dari Nadia datang untuk menyaksikan acara tersebut. “Bagaimana rencanamu setelah ini?” tanya Nadia setelah acara wisuda itu berlangsung. “Mungkin Aku akan tinggal di sini kira-kira satu bulan untuk cari pekerjaan, atau..”, “Atau apa?” cemas Nadia. “Atau, Aku akan kembali ke Jakarta untuk cari pekerjaan di sana”. “Aku akan membantumu mencari pekerjaan di sini Pras. Supaya Aku bisa selalu dekat denganmu!”, “Terima kasih Dia!” Ujar Pras sambil menggenggam tangan Nadia.
Selama waktu satu bulan itu Pras terus mondar-mandir mencari pekerjaan. Ia mencoba melamar pekerjaan sebagai translater di berbagai perusahaan asing, tetapi semua pekerjaan itu sudah penuh. Dalam keadaan yang sulit itu dan keuangan yang semakin menipis, Pras mulai merasa frustasi. Ia jadi jarang berkomunikasi dengan Nadia apa lagi main ke rumahnya. Akhirnya Ia membuat suatu keputusan untuk berangkat ke Jakarta dan mencari pekerjaan di sana. Dibelinya tiket pesawat untuk tiga orang dengan maksud mengajak Nadia dan Ibunya ke Jakarta pula.
Setelah membereskan semua barang-barangnya, Ia berangkat ke rumah Nadia dengan perasaan yang sudah agak baikan dari sebelumnya. Ia tiba di jalan depan rumah Nadia. Di sana Ia melihat sebuah mobil yang parkir di situ. Tak lama kemudian, Seorang pemuda yang usianya kira-kira lebih tua sedikit darinya keluar diikuti dengan seorang perempuan cantik yang sudah dikenalnya. “Ada apa Nadia dengan orang itu?” curiga Pras sambil mengikuti dari belakang. Mereka berjalan berdua beriringan menuju rumah Nadia. Di tempat agak licin yang sudah mendekati pintu rumah, tiba-tiba Nadia tergelincir. Tubuh indah itu segera ditangkap dan dipeluk oleh pemuda yang berjalan dengannya barusan. Melihat adegan itu, Pras dengan fikiran yang sedang tidak karuan langsung terbakar hatinya. “Nadia!!!” teriaknya tidak terkendali. Nadia menoleh dan terlihat ekspresi sangat terkejut di situ. Tanpa berkata apa-apa lagi, Pras segera membalikan badan dan berjalan menjauh dari rumah Nadia.*
Di bandara Maguo, Pras duduk pada ruang tunggu pemberangkatan. Di sana Ia menatapi handphonenya yang sedari tadi berdering dan menampakan nama serta wajah Nadia yang cantik sedang tersenyum padanya. Pras tidak memperdulikannya. Ia menggenggam dua tiket pesawat yang sekarang tidak terpakai dan merobek lalu membuangnya dalam tong sampah. Saat pengumuman bahwa pesawat akan segera berangkat, Pras mengnon aktifkan handphonenya dan bergegas menuju pesawat terbang.
Ia melirik jam tangannya setelah mengenakan seat belt. 11:30 PM, 26 Mei 2006. Hari ini hari jum’at tepat empat tahun lebih sedikit yang mengawali pertemuan antara mereka. Hari yang mengawali dan mengakhiri semua. “Nadia, kau tetap mutiaraku, Kau tetap yang terindah.” Sesal Pras dalam hati. Pras menyandarkan kepalanya ke kursi pesawat yang empuk. Dicobanya untuk mengistirahatkan fikirannya dari segala kepenatan yang merusak segala keindahan selama empat tahun terakhir ini. Ia tidak mengetahui hal besar apa yang akan terjadi beberapa jam setelah pendaratannya di Jakarta. Hal sangat besar yang merenggut semua kenangannya.
*****
Pras melaksanakan tugasnya sebagai seorang relawan di daerah bencana. Ia membantu mengevakuasi korban baik yang luka-luka atau yang sudah meninggal. Setelah Ia merasa sudah cukup melakukan tugasnya, Ia menyelinap dari pekerjaan itu untuk melakukan maksud utamanya datang kembali ke kota ini. Langkah-langkahnya cepat menyusuri jalan-jalan yang sudah rusak di bawah teriknya terpaan sinar mentari. Ia sangat hafal sekali jalan-jalan itu semenjak empat tahun yang lalu.
Ia tiba di depan halaman sebuah rumah yang keadaannya tidak terlampau parah. Tetapi ada kerusakan yang cukup berarti di bagian samping kanan rumah itu. Bagian itu yang baru disadarinya adalah tempat kamar Nadia. Dalam hati ia berdo’a agar tidak terjadi apa yang sedari tadi dikhawatirkannya. Terlintas lagi kenangan-kenangan manis bersama Nadia ketika mulai ditapakinya halaman rumah yang kelihatannya sepi. Dibayangkannya rumah itu masih utuh dan terngiang suara-suara ceria dari Nadia di telinganya. Lamunannya terpecah ketika Ia rasakan ada orang yang memeluknya erat. “nak Pras, Ibu senang masih bisa bertemu dengan nak Pras!” terdengar isak tangis histeris dari seorang Ibu yang dikenalnya sebagai Ibu dari nadia. “Alhamdulillah Ibu tidak apa-apa. Di mana Nadia bu?” tanya Pras terburu-buru tak bisa menyembunyikan keriangannya. “nadia, Nadia nak Pras. Ia sudah….” Tak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi, Ibu itu memberikan sebuah lipatan kertas dari saku dasternya. Pras menerima kertas itu dan bergerak membelakangi Ibu Nadia. Kertas itu sebenarnya masih baru dipakai, tetapi keadaannya lusuh karena kotoran debu batu bata. Mulai dibukanya lipatannya. Tertuliskan huruf-huruf rapi tulisan tangan Nadia. Di bagian akhir dari surat itu, huruf-hurufnya agak berantakan sepertinya ditulis dengan terburu-buru, dan terdapat juga beberapa bercak darah di situ.
Dear Pras,
Maafkan aku jika telah menyakiti hatimu. Aku belum sempat mengatakan yang sebenarnya padamu, dan aku harap semuanya belum terlambat.
Saat kau melihatku yang terakhir kalinya itu, laki-laki itu adalah sepupuku yang mengepalai sebuah biro perjalanan. Aku bermaksud untuk mengenalkannya denganmu agar Ia mau memberikan pekerjaan. Aku tahu kamu sedang kesulitan dalam mencari pekerjaan, jadi aku putuskan karena kamu ahli dalam beberapa bahasa asing dan punya pengetahuan yang cukup luas, jadi menjadi seorang guide adalah pekerjaan yang cocok menurutku.
Aku akan ke Jak…
Pras, aku harap kita akan dapat bertemu lagi, yang aku juga tidak yakin dengan hal itu. Walaupun aku harus pergi untuk selamanya, hanya satu pintaku. Maafkan aku dan kenanglah aku untuk selamanya. Aku yakin kamu akan membaca surat ini, walaupun aku tak di sisimu, tapi cintaku akan tetap abadi.
Na di a.
Kata-kata yang terakhir itu sudah sangat tidak terlihat jelas. Banyak sekali bercak darah yang menutupinya. Sekarang tulisan-tulisan itu makin kabur setelah air mata Pras jatuh satu per satu membasahinya. Air mata yang sudah ditahannya sedari tadi yang Ia sendiri tak ingin melakukannya. Penyesalannya sekarang sangat menyiksanya. Ia telah menyakiti hati Nadia yang sangat baik itu. Nadia tahu semua yang Ia butuhkan. Menjadi seorang pemandu wisata adalah satu-satunya pekerjaan yang tidak terlintas di fikirannya sebelumnya. Ia menguasai 4 bahasa yaitu perancis, spanyol, jerman, dan Jepang. Tentunya bahasa Indonesia dan Inggris tidak masuk dalam hitungan bahasa yang sulit baginya. Ia juga hobi jalan-jalan ke tempat-tempat yang unik. Dirinya sendiri tidak menyadari, tapi malah Nadialah yang lebih mengerti. 27 Mei 2006, puncak cinta Pras terhadap Nadia yang tidak dapat dipisahkan oleh maut sekalipun. Ia akan tetap mengenang mutiara itu, mutiara terindah dalam samudera yang luas.
*****
Pengganti Hidup
Pras harus kembali ke Jakarta setelah menjadi relawan salama 2 minggu. Telah diajaknya Ibu dari Nadia untuk pergi bersamanya ke Jakarta. Tapi Ia menolak. Masih cukup banyak sanak saudaranya yang ada di sini, katanya. Tapi Ibu itu berjanji suatu saat nanti akan ke Jakarta menemuinya. Pras tidak bisa memaksa Ibu yang telah dianggap seperti Ibu kandungnya itu. Dengan naik bis malam Ia kembali ke jakarta. Sebelumnya Ia menyerahkan hampir seluruh uang yang dibawanya sebagai bentuk perhatian untuk meringankan beban atas semua kerusakan yang telah terjadi. Di saat hari mendekati siang Pras menaiki bis malam yang akan segera berangkat. Penumpang di dalamnya sudah hampir penuh dengan orang yang mau balik ke Jakarta. Mungkin mereka datang ke sini untuk mengkonfirmasi bagaimana keadaan keluarga di sini. Diambilnya deretan kursi posisi agak belakang yang ternyata salah satu kursinya telah terisi oleh seorang perempuan. Setelah menyesalkan tas bawaannya di bawah jok kursi, Ia mulai merebahkan dirinya di situ. Sedikit mencuri-curi pandang, Ia mengamati perempuan yang duduk di sebelahnya. Ia kelihatannya sangat pemalu sekali. Sedari tadi wajahnya dipalingkannya ke arah kaca jendela bis yang mulai berjalan. Dari pantulan kaca, Pras dapat melihat samar-samar wajah dari perempuan itu. Sepertinya Ia mengenalnya. Karena penasaran, Pras mulai membuka percakapan. “Maaf mbak, mau ke Jakarta juga?” tanya Pras sekedar basa-basi. “Sudah tahu ini bis jurusan Jakarta, jadi mau kemana lagi!” jawab perempuan itu dengan memandang wajah Pras sebentar yang kemudian kembali menatap keluar melalui jendela. Pras terkesiap ketika melihat sekilas wajah itu. Benar-benar mirip dengan Nadia. Tidak satu milimeter pun yang berbeda. Sesaat Ia berfikir bahwa Nadia masih hidup dan berada di hadapannya sekarang. Tapi Ia segera dapat mengontrol kegembiraannya itu dan sadar bahwa Nadia memang sudah tiada. Ia melihat sendiri makam Nadia walaupun tidak ingin lama-lama di sana karena akan membuat rasa penyesalannya semakin menyakitkan. Pras nekad untuk dapat mengajak perempuan di sebelahnya berbicara dengannya. Usahanya cukup berhasil. Walau gaya bicaranya masih tetap jutek, tapi Ia sudah banyak beradu pandang dengan Pras. Pras memang masih belum berhasil mengetahui siapa nama perempuan itu, tapi Ia merasa seperti sudah menemukan pengganti hidupnya yang sekarang ada di sebelahnya, tetapi dengan sifat yang 180º berbeda.
S E L E S A I
Tentang Penulis
Editor-in-chief Kartunet.com. Hobi baca, menulis, dan mendengarkan audiobook.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Artikel Terkait
The Secret Admirer
Kisah seorang pemuda yang menjadi pemuja rahasia seorang gadis di sekolahnya. Hingga pada suatu saat ia memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya. Selamat membaca.