PEGERAKAN ERA 5.0
- Penulis
- banyu
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 3 menit baca
- Jumlah pembaca
- 4 kali dibaca
Kategori: Opini
Era teknologi 5.0 yang sedang dialami pada masa ini, menjadi solusi untuk banyak permasalahan. Seperti editing foto/video, audio, memudahkan dalam pencarian, datang dan akan terus berkembang.
Tanpa terkecuali, termasuk bagi disabilitas, teknologi kini menjadi subtitusi bagi banyak pekerjaan, yang dulunya harus dilakukan secara manual, kini bisa dilakukan secara digital
Kartuneters, Sebagai orang dengan disabilitas penglihatan seperti saya, kemajuan teknologi sangat banyak membantu. Sebagai contoh, dengan smarphone yang ada digenggaman tangan hampir semua manusia, termasuk saya bisa menggunakannya sebagai alat untuk membantu dalam banyak hal. Memesan transportasi online, mengetahui nominal uang, mengetahui warna benda yang ingin diketahui, mendeskripsikan segala sesuatu yang saya foto, berkomunikasi secara langsung dengan relawan jika ada sesuatu yang harus dideskripsikan secara rinci, dan masih banyak hal lainnya.
Begitu cepat teknologi berkembang. Saya merasa 10 tahun lalu, begitu sulitnya akses yang bisa dilakukan. Dari mulai harus menghafalkan nomor kendaraan dan ciri-ciri tempat jika ingin bepergian. Apa bila diperlukan tulisan tangan saat sekolah, saya harus mencari relawan untuk menulis atau membaca buku.
Dari semua perkembangan teknologi yang secepat ini, apakah yang dibutuhkan disabilitas dengan penglihatan saat ini? Apakah dengan teknologi semua permasalahan bisa terselesaikan? Apakah isu disabilitas sudah tidak menarik lagi?
Bagi saya ,menarik untuk mencari tahu keresahan apa saja yang kini menjadi trend bagi disabilitas. Agar mengetahui apakah movemen pemuda disabilitas yang paling tepat untuk dilakukan di era ini? Mungkin ada banyak hal yang sudah tidak relevan untuk anak muda. Saya rasa itu merupakan hal yang wajar, mengingat ada banyak hal yang berubah sejak teknologi berkembang. Awareness terhadap kebutuhan dan potensi disabilitas dari masyarakat dan pemerintah juga sudah lebih membaik dibandingkan dua dasa warsa lalu. Terakhir, tentu saja teknologi yang sudah disampaikan pada awal tulisan ini.
Kartuneters, Setiap orang atau pun kelompok, pasti memiliki hal yang ingin dan sedang diperjuangkan. Ada banyak yang memiliki tujuan sama, namun juga ada yang memiliki perbedaan. Akan tetapi, saya pikir seharusnya ada transparansi untuk sama-sama berbicara tentang mimpi dan tujuan yang ingin dicapai. Dengan media teknologi yang sudah maju ini. Untuk kita saling membantu, mendukung dan beradu gagasan dalam satu gerbong yang sama. Pergerakan bagi Indonesia yang inklusi, bagi semua orang tanpa harus dibedakan karena memmiliki disabilitas atau tidak.
Pergerakan yang masih ingin beradu siapa yang ada di depan, saling sikut kiri dan kanan untuk menunjukkan dominansi diri/kelompoknya sendiri, sejujurnya tidak akan pernah menyelesaikan apa pun.
Hal ini pula yang akhirnya membuat anak muda kehilangan minat untuk melakukan pergerakan atau hanya sekedar memahami bahwa masih banyak sesuatu yang harus diperjuangkan. Sebagai contoh, ada berapa banyak anak muda yang kini berbicara tentang inklusifitas atau kegiatan dan tujuan OPD? Atau sederhananya, berapa banyak anak muda yang tergabung sebagai anggota/pengurus sebuah OPD?
Dalam beberapa kesempatan, saya berdiskusi dengan rekan-rekan disabilitas gen Z, untuk mencari tahu apakah mereka memiliki awareness terhadap pergerakan Indonesia yang inklusi ini? Dan ternyata ada banyak yang tidak memahami apa pentingnya pergerakan ini. Jangankan untuk bergabung dan ikut menjadi pionir, bahkan untuk tahu pun mereka menolaknya.
Zaman sudah berbeda, Kawan. Saya meyakini: Indonesia yang inklusi, lebih mudah tercapai jika pergerakan ini dilakukan lewat kekuatan kolektif dengan satu kepentingan (Indonesia dan disabilitas) tanpa harus memikirkan nama indifidu atau nama organisasi yang tercetak pada judul headline media mainstream.
Salam akselerasi
Tentang Penulis
Bio penulis belum tersedia.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Artikel Terkait
Belajar dari Certificate of Visual Impairment untuk Tata Kelola Layanan Disabilitas di Inggris
Birokrasi layanan disabilitas di Indonesia masih rumit dan sering kali salah sasaran. Pelajari bagaimana sistem Certificate of Visual Impairment (CVI) di Inggris mengintegrasikan data rumah sakit langsung ke layanan sosial, dan mengapa sistem ini penting diadopsi untuk memperbaiki pendataan disabilitas (DTKS) di Indonesia.
Pentingnya Profesi Pendamping Klinik Mata (ECLO): Menjembatani Pasien Tunanetra dari Rumah Sakit ke Layanan Sosial
Setelah didiagnosa kehilangan penglihatan, pasien kerap bingung mencari rehabilitasi. Kenali profesi Eye Clinic Liaison Officer (ECLO) dari sistem CVI Inggris yang bertugas menjembatani medis dan layanan sosial, serta pentingnya adaptasi peran ini di rumah sakit Indonesia.