Lompat ke Konten Utama

Keajaiban di Hari Kemenangan

Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
15 menit baca
Jumlah pembaca
3 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: KARFIKSI

Tag: cerpen

Di Indonesia, terdapat sebuah tradisi yang nyaris tidak pernah tertinggal dalam perayaan hari besar keagamaan, terutama Idul Fitri. Tidak lain dan tidak bukan, acara tersebut adalah pertemuan keluarga. Setiap kali hari raya, khususnya Lebaran stasiun, terminal, dan bandara selalu dipadati oleh pemudik yang akan pulang kampung. Di jalan-jalan, kemacetan pun bukan pemandangan aneh lagi. Di seluruh penjuru terlihat kesibukan yang meningkat dalam nyaris segala bidang kehidupan, baik itu transportasi, perekonomian, dan sederet hal lainnya. Tujuannya hanya satu, yaitu untuk merayakan Lebaran bersama keluarga di kampung halaman.

Termasuk di dalam keluargaku, dimana acara kumpul keluarga sudah menjadi tradisi. Sejak dulu saudara-saudaraku nyaris selalu berkumpul setiap kali menjelang Lebaran, termasuk yang tinggal di luar kota. Terutama ketika nenekku masih hidup.

Karena itulah, tidak mengherankan jika saat itu rumah selalu ramai setiap kali Lebaran tiba. Saudara-saudara akan berdatangan, terutama kedua pamanku yang tinggal di Bogor. Dan mereka pun tentu tidak sendirian, melainkan membawa serta istri dan anak-anak mereka, membuat suasana rumah yang semula tenang berubah meriah.

Belum lagi dengan kedatangan budeku yang tinggal di Bandung. Karena itulah, rumah selalu ramai setiap kali Lebaran tiba.

Otomatis, setiap kali menjelang Lebaran, kesibukan di rumah selalu meningkat. Nenek, bude, pakde, paman, dan anggota keluarga yang lain tidak akan diam saja menghadapi hari yang penting ini. Berbagai kegiatan terlihat di segala penjuru rumah baik itu memasak, mengecat rumah, maupun menata ulang dekorasi rumah. Dalam hal dekorasi, ada hal khusus yang tidak pernah hilang dari ingatanku, aku masih ingat persis bahwa ketika itu udara malam takbiran di rumah selalu dipenuhi wangi bunga sedap malam.

Memang, ketika itu di Subang penjual bunga potong marak dijumpai, terutama di akhir Ramadan. Tak pelak, keluargaku pun turut menjadi salah satu dari deretan pelanggan bunga potong tersebut, terutama bunga sedap malam. Bunga berwarna putih yang muncul bergerombol di ujung tangkai panjang ini akan ditaruh di jambangan-jambangan berisi air, dimana aromanya yang semerbak akan menyebar di udara rumah setiap kali malam tiba.

Tidak hanya sedap malam, bunga melati pun tidak ketinggalan menyemarakkan kenanganku akan suasana Lebaran ketika itu. Bahkan, khusus untuk melati keberadaannya di rumah tidak terbatas hanya pada saat Lebaran. Pada hari-hari lain pun nenekku selalu memetik bunga-bunga melati dan menaruhnya di mangkuk kecil sebagai pengharum ruangan.  

Entah sejak kapan bunga yang berukuran mungil ini tumbuh di halaman rumah, bahkan hingga saat ini. Bahkan, tanaman yang dinobatkan sebagai Puspa Bangsa ini adalah satu-satunya tanaman dari masa lalu rumahku yang masih bertahan. Tanaman-tanaman lain, bahkan yang lebih besar seperti pohon rambutan, nangka, jambu air, dan sirsak sudah lebih dulu tiada, meninggalkan sang melati menjadi penghuni halaman rumahku yang paling setia.

Tidak hanya bunga, dekorasi khas Lebaran lainnya yang selalu ada adalah ketupat. Memang, sebenarnya ini bukan benar-benar dekorasi, karena ketupat yang merupakan anyaman daun kelapa yang berisi nasi ini adalah bagian dari hidangan hari raya.

Namun, hidangan yang populer sebagai hidangan hari raya sejak zaman Sunan Kalijaga ini juga lekat dalam ingatanku sebagai dekorasi khas Lebaran di rumah nenek. Ketika itu, beberapa buah ketupat akan disatukan menjadi satu ikatan dan digantung di berbagai tempat. Khususnya di seputar ruang makan, dimana sepulang shalat Id ketupat-ketupat itu akan bertransformasi menjadi potonganpotongan dalam piring-piring di meja makan, melengkapi acara makan  bersama seluruh anggota keluarga.

Tentu saja, hidangan pendampingnya pun tidak ketinggalan, seperti opor ayam, sambal goreng kentang, acar, dan ase cabe. Bahkan, seringkali rendang,  gulai, kerupuk udang, bistik, atau semur daging pun turut pula menjadi pelengkap meja makan kami.

Di samping itu, beragam kudapan pun selalu turut memeriahkan suasana Lebaran di zaman nenek. Sebut saja kastengels, nastar, dan aneka kue kering lainnya yang merupakan warisan zaman kolonial pun selalu tertata rapi di dalam deretan toples yang menghiasi meja tamu, siap menyambut setiap tamu yang datang untuk bersilaturahmi.

Melompat ke zaman sekarang, suasana Lebaran di rumah tentulah sudah jauh berbeda.    Sejak Nenek meninggal pada 2012 lalu, para saudara tidak lagi berdatangan ke rumah. Kini, aku dan Mama yang masih tinggal di rumah Neneklah yang harus pergi berkunjung ke rumah-rumah saudara pada saat Lebaran.  

Tidak terkecuali pada Lebaran tahun ini.

Sesuai dengan yang telah disepakati beberapa hari sebelum akhir bulan Ramadan, acara kumpul keluarga akan diselenggarakan di rumah Bude Yuli yang terletak di Bandung. Itupun tidak semuanya hadir, karena sebagian saudara akan tetap tinggal di rumahnya masing-masing dan menyelenggarakan acara silaturahmi sendiri. Karena itulah, Bude Yuli dan Pakde Iman sebagai tuan rumah memutuskan bahwa acara kumpul keluarga akan diselenggarakan pada hari kedua Lebaran. Dengan begitu, saudara-saudara yang tinggal di luar kota akan berkesempatan untuk bersilaturahmi dengan kerabat dan saudara yang tinggal di kotanya masingmasing sebelum berangkat ke Bandung.

Dan itulah yang kami lakukan.  Setelah malam yang semarak dengan gema takbir yang terdengar di berbagai penjuru, hari Idul Fitri pun datang, membuka bulan Syawal dengan kemenangan atas perjuangan menahan hawa nafsu di bulan Ramadan.

Pagi itu pun tidak bisa dikatakan sepi, karena semarak gema takbir masih terus berlanjut. Setelah shalat Id di masjid depan rumah, aku dan Mama sibuk bersalaman dengan para tetangga yang juga shalat di masjid yang merupakan masjid pertama yang dibangun di kompleks tempat tinggal kami. Dalam sekejap, suasana khidmat yang terasa ketika shalat yang disambung dengan khutbah pun langsung berubah seratus delapan puluh derajat setelah khutbah selesai.

Suasana pun langsung dimeriahkan oleh suara obrolan yang terdengar di berbagai penjuru. Orang-orang berseliweran mencari tetangga yang belum mendapat giliran bermaaf-maafan. Tidak terkecuali pula aku dan Mama, yang turut berlalu-lalang menjelajahi masjid yang cukup luas. Tidak terhitung berapa kali aku bersalaman dengan para warga kompleks, yang jujur saja tidak semuanya kukenal.

Tentu saja, kesempatan ini terasa sangat istimewa bagiku, karena aku bisa bertemu lagi dengan Ibu Juwita dan Ibu Meti, dua orang guru yang pernah mengajarku di bangku SMP dulu. Ibu Juwita, sang guru bahasa Indonesia  yang kini sudah berusia sangat lanjut memang jarang sekali keluar dari rumahnya.

Karena itulah, sejak sebelum Ramadan aku berharap agar dapat shalat Id di masjid depan rumah, dengan harapan akan bertemu dengan Ibu Juwita di sana. Dan, tanpa disangka angan-anganku pun menjadi kenyataan. Syukur alhamdulillah, Allah memang Maha Pengasih. Harapanku terkabul, padahal aku tidak pernah mengatakannya pada siapapun.

Jujur saja, selalu ada semacam rasa haru di hatiku setiap bertemu dengan Ibu Juwita yang juga kerap disapa sebagai Ibu Kusbini ini. Mungkin perasaan seperti ini muncul karena beliau adalah guruku, namun bisa jadi juga karena beliau mengingatkanku pada Nenek. Memang, Ibu Juwita dan Nenek termasuk warga senior di kompleks tempat tinggalku, meskipun tentu saja Nenek-lah yang lebih senior.

Berbeda halnya dengan Ibu Meti. Guruku yang dulu mengajar geografi ini masih terbilang muda, bahkan lebih muda dari Mama.  Jika dibandingkan dengan Ibu Juwita yang sudah tinggal di kompleks ini sejak sebelum aku lahir, Ibu Meti masih terhitung warga baru. Beliau dan keluarganya baru pindah ke kompleks kami saat aku sudah memasuki dunia ketunanetraan, yaitu pada dekade 2000-an. Aku masih ingat persis bahwa ketika itu aku benar-benar terkejut, sekaligus gembira ketika mendapat kabar bahwa warga baru yang menghuni rumah di ujung jalan tidak lain adalah guru SMP-ku sendiri. Hingga kini beliau pun masih aktif mengikuti pengajian dan kepengurusan masjid. Bahkan, suami beliau kini menjabat sebagai ketua dewan keluarga masjid di masjid depan rumahku yang bernama Masjid Miftahussa’adah.

Setelah selesai bermaaf-maafan dengan para tetangga yang hadur di masjid, kami pun pulang ke rumah. Namun, itu sama sekali tidak berarti bahwa acara silaturahmi sudah berakhir.

Setelah makan, rencananya kami akan pergi ke rumah salah satu kakak Mama yang juga tinggal di Subang, yaitu Uwa Tati. Beliau sangat pandai memasak, bahkan pada waktu aku masih duduk di TK beliau pernah pula membuka kedai lontong kari di kawasan pusat kota Subang.

Lucunya, pada saat kami bersiap-siap untuk pergi ke rumah Uwa yang terletak tidak jauh dari kompleks pemakaman umum itu, secara kebetulan salah satu putra Uwa menelepon untuk bermaaf-maafan. Karena itulah, beliau sangat gembira ketika Mama berkata akan berangkat ke rumah Uwa Tati. Karena itulah, kakak sepupuku yang akrab kupanggil dengan sebutan A Luki ini lalu menawarkan diri utuk menjemput kami.

Secara kebetulan, ketika itu sudah sulit untuk memesan taksi online, karena para driver sudah mudik sejak jauh-jauh hari. Karena itulah, tawaran dari A Luki itu pun kami sambut dengan sukacita.

Tidak lama kemudian A Luki pun datang.  Dengan gembira aku dan Mama pun naik ke mobilnya. Tentu saja aku sangat antusias, karena setiap kesempatan keluar dari rumah memang kesempatan langka bagiku. Apalagi, saat itu perjalanan tersebut bertujuan untuk bersilaturahmi dengan saudara.

Singkatnya, setelah berjalan-jalan keliling kota Subang kami pun tiba di rumah Uwa. Meskipun begitu, ternyata dugaanku sedikit meleset. Saudara-saudara lainnya yang merupakan anak, cucu, dan cucu buyut Uwa belum semuanya datang. Selain A Luki yang tinggal berdekatan dengan rumah Uwa, baru putra tertua Uwa-lah yang sudah datang.

Namun, tidak masalah. Setelah melakukan tradisi Lebaran berupa bermaafmaafan kami pun duduk bersama-sama, tenggelam dalam obrolan yang dipenuhi keakraban. Suasana pun semakin ramai ketika salah seorang putri Uwa datang bersama suami dan kedua anaknya.

Namun sayangnya, suasana penuh keakraban itu tidak berlangsung lama. Kondisi langit yang kian mendung pun membuat Mama memutuskan untuk pulang. Apalagi, keesokan harinya kami harus berangkat ke Bandung untuk menghadiri pertemuan keluarga di rumah Bude Yuli.

Sama seperti sebelumnya, A Luki pun kembali berbaik hati untuk mengantarkan kami pulang. Dalam suasana mendung yang kian pekat kami pun pulang. Sebenarnya, menurut rencana masih ada beberapa saudara lagi yang harus dikunjungi, yaitu kakak sulung Mama, adik bungsu Nenek, dan beberapa saudara sepupu Mama.

Namun, kondisi cuaca tidak memungkinkan, hingga kami memutuskan untuk pulang, dengan harapan untuk melanjutkan rencana silaturahmi ini di lain hari. Keesokan harinya, semarak perayaan Lebaran pun masih berlanjut. Dengan antusiasme yang meledak-ledak seperti kembang api yang dulu selalu kunyalakan di malam takbiran, aku pun memulai ritual pagi hari yang sudah menjadi rutinitas. Singkatnya, pagi itu terasa berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kendati gema takbir tidak lagi berkumandang semeriah malam sebelumnya.

Di benakku tergambar kebersamaan yang hanya bisa kurasakan setahun sekali, yang akan bisa kunikmati kembali beberapa jam lagi. Memang, saudara-saudara yang akan kutemui hari itu adalah sosok-sosok inspiratif yang telah menorehkan warna dominan di kanvas kehidupanku sejak awal, bahkan sejak aku belum bisa berjalan lebih dari tiga dekade lalu.

Termasuk pula para adik sepupu dan para keponakan yang baru muncul belakangan. Kendati begitu, sosok-sosok yang baru saja kusebutkan ini pun tidak kalah mewarnai hidupku dengan makna-makna yang tidak akan dapat dituliskan hanya dalam deretan huruf.

Setelah menikmati sarapan yang berupa sepiring spagetti aku dan Mama pun menunggu jemputan berupa mobil travel yang sudah menjadi langganan kami sejak bertahun-tahun lalu. Sesuai jadwal, kendaraan tersebut pun datang saat jam bicaraku memberitahukan bahwa waktu telah menunjukkan pukul sembilan pagi.

Perjalanan pun dimulai. Syukur alhamdulillah, kondisi jalan relatif lancar. Tidak ada kemacetan, kendati hari itu adalah hari kedua Lebaran. Bahkan, di dalam mobil pun hanya ada empat penumpang, yaitu Mama, aku, dan seorang ibu muda dan anak balitanya.

Setelah melalui rangkaian perjalanan yang memakan waktu sekitar dua jam itu tibalah kami ke tempat tujuan, yaitu rumah Bude Yuli.Tanpa kuduga, kedatangan kami disambut suara riuh dari dalam rumah. Ternyata, semua orang sudah berkumpul.

Bahkan, tidak hanya keluarga dari pihak Bude Yuli saja yang datang. Keluarga dari pihak Pakde Iman pun turut hadir, menambah semarak suasana. Kami pun segera terlibat dalam ritual jabat tangan yang selalu terjadi sevagai pembuka pertemuan.

Sama seperti ketika berada di masjid, riuhnya suara-suara yang terdengar dari segala penjuru membuatku agak bingung dan tidak bisa mengenali milik siapa tangan yang kusalami. Memang, kadang-kadang ada juga yang menyebutkan namanya, terutama saudara-saudara dekat yang sudah sangat mengenalku. Terharu juga aku mendengar suara-suara yang jarang sekali terdengar, bahkan ada pula yang terakhir kali kudengar setahun lalu. Ya, kesibukan kami masing-masing memang membuat komunikasi kami sangat terbatas, bahkan melalui telepon sekalipun.

Setelah selesai bersalaman entah dengan berapa puluh pasang tangan itu, kami pun duduk. Pakde pun segera memberikan pidato singkat sebagai pembuka acara, disambung dengan serangkaian doa yang dibacakan oleh salah satu keponakan Pakde yang belum kukenal.

Keriuhan suasana langsung padam, digantikan oleh aura khidmat yang menggantung di udara saat kami semua mengikuti suara saudara kami yang sedang membacakan doa. Namun, suasana khidmat itu tidak berlangsung lama. Setelah acara doa selesai suasana langsung terasa seperti botol yang ditarik sumbatnya.

Entah siapa yang memulai, dengung percakapan pun kembali terdengar, membuatku sedikit bingung bercampur ingin tertawa, sekaligus penasaran dalam waktu bersamaan. Percakapan itu berlangsung serentak, seakan tanpa jeda.  Apa saja sih yang dibicarakan orang-orang?

Jujur, aku tidak bisa mengidentifikasinya satu persatu, karena suara-suara yang terdengar di sekitarku begitu bercampur-baur. Kadang-kadang ada yang terdengar lebih jelas dari yang lainnya sehingga bisa kukenali, namun dengan segera ditenggelamkan oleh suara-suara lainnya.

Namun, itu tidak berarti bahwa aku hanya bisa menyimak tanpa dapat turut terlibat percakapan. Beberapa saudara dekatku langsung mengambil tempat di dekatku, sehingga aku bisa mendengarkan, dan tentunya menimpali cerita-cerita mereka.

Dan yang lebih menyenangkan, saudara-saudaraku tidak henti-hentinya mengambilkan kudapan yang tersedia. Kurma, kastengels, nastar, dan kudapan khas Lebaran lainnya susul-menyusul masuk ke mulutku, membuatku tidak putusputusnya mengunyah.

Namun, ternyata yang tersedia tidak hanya itu. Seorang kakak sepupuku yang akrab dengan sebutan Teh Intan tiba-tiba menyela kesibukanku mengunyah dengan menyajikan toples-toples berisi kudapan. Katanya, kudapan-kudapan itu adalah camilan asli India. Tidak mengherankan, karena Teh Intan yang bekerja di salah satu perusahaan multinasional memang kerap bertugas ke berbagai negara, di antaranya ke negeri anak benua yang terletak di kawasan Asia Selatan itu. Dengan penasaran bercampur antusias aku mencomot isi toples-toples yang disodorkan padaku. Dalam hati aku tersenyum sendiri, membayangkan bahwa aku sedang menyantap camilan yang sama dengan yang sering dinikmati oleh Shah Rukh Khan atau Kajol.

Namun, dari segi rasa kudapan-kudapan itu memamgg terasa asing di lidah Indonesia-ku. Kendati begitu, ada satu yang familiar, yaitu coklat yang berasal dari Dubai.

Keriuhan pun terus berlangsung, hingga tibanya waktu makan siang. Dengan ceria Pakde Iman menyela dengungan suara percakapan dengan mengumumkan bahwa menu makan siang hari itu adalah nasi briani, nasi mandi, dan ayam panggang. Derajat antusiasmeku pun melonjak. Aku tidak mengira bahwa itulah hidangan yang akan disediakan. Di keluarga kami, dan barangkali di keluarga-keluarga lainnya di berbagai penjuru negeri ini, hidangan Lebaran seperti opor dan kawankawan sudah sedemikian melekat, sehingga tak urung menu yang disebutkan Pakde itu adalah sebuah kejutan, setidaknya bagiku.   

Selain itu, terakhir kalinya aku mencicipi nasi mandi adalah pada libur Lebaran dua tahun lalu, ketika Teh Intan membelikanku nasi mandi yang dilengkapi ayam panggang. Rasanya benar-benar lezat, sehingga tak urung aku menjadi tidak sabar untuk mencicipinya lagi.

Tiba-tiba suara Pakde kembali terdengar, membuat perhatianku teralih dari kenangan itu. Tanpa diduga Pakde Iman bertanya siapa yang akan mendapat giliran pertama mencicipi hidangan.  Namun, tidak ada yang berani mengajukan usul, mungkin karena malu. Karena itulah, maka Pakde sendiri yang mengambil inisiatif. Beliau pun menanyakan siapa yang berulang tahun bulan Maret. Namun, tidak ada yang menjawab. Karena itulah , maka pertanyaan yang sama kembali diulangi, namun kali ini  bulan April-lah yang disebut. Entah siapa yang menjawab, dengan penuh semangat ia menyebutkan namaku. Para sepupuku pun menyambung dengan menyebutkan dua nama adik sepupuku yang juga berulang tahun di bulan yang sama.

Pakde pun tertawa, dan tanpa kuduga beliau memberikan sebuah piring berisi nasi dan ayam panggang padaku, hingga aku terkejut. Sungguh kejutan ulang tahun yang luar biasa, karena tanpa kuduga sedikitpun hari istimewaku akan dirayakan. Dan bukan sekedar dirayakan oleh seorang dua orang, peristiwa itu dirayakan di antara keluarga besar, dalam acara pertemuan yang langka. Sungguh hari yang tidak terlupakan. Bahkan, perayaannya pun dilakukan sebulan lebih awal. Tanpa pikir panjang kuterima piring itu, dan kunikmati hidangan di dalamnya.   Salah seorang adik sepupuku yang bernama Fina lantas membantuku memotongmotong daging ayam di piringku. Alhamdulillah, rasanya tepat seperti yang kuingat. Lezat. Eksotisme rasa rempah-rempah dalam tiap suapan nasi berbaur dengan empuknya daging ayam di dalam mulutku, membuatku semakin bersemangat mengunyah. Padahal, tidak terhitung berapa butir camilan yang sudah kulahap lebih dulu.

Di sekitarku, saudara-saudara lainnya pun menikmati makanan mereka. Suasana pun terus berlangsung dalam keceriaan, hingga tiba-tiba seorang adik sepupuku berpamitan. Katanya, ia harus segera kembali ke tempat kerjanya di Tegal sore itu. Kami pun terkejut dan agak kecewa, terutama Mama, Pakde, dan Bude. Tidak seorang pun di antara kami yang menduga bahwa liburan yang diberikan hanya sesingkat itu.

Namun, untuk mengurangi kekecewaan kami Bude Novi lalu mengusulkan untuk membuat video ucapan hari raya, yang selanjutnya akan diunggah di grup keluarga besar di WhatsApp. Tepat seperti yang diharapkan, suasana pun kembali ceria.

Kami pun segera bersiap. A Dimas, putra bungsu Bude Novi pun ditunjuk untuk membawakan bagian pertama ucapan, disambung oleh saudara-saudaraku yang lain. Gelak tawa pun tercipta, karena proses pengambilan video tentu saja tidak hanya satu kali. Berkali-kali proses itu diulangi, hingga kami pun mendapatkan satu rekaman utuh, yang sesuai rencana langsung diunggah ke grup keluarga. Sambil bercanda aku berkata pada Bude bahwa bukan tidak mungkin saudarasaudara lainnya pun akan turut membuat video seperti itu, mengikuti jejak kami. Setelah itu Farrand, adik sepupuku itu pun berangkat, dengan diantar salah seorang kakaknya.  Namun, kejutan belum berakhir. Tiba-tiba Bude Novi yang rupanya sempat memeriksa WhatsApp mengumumkan bahwa ternyata saudarasaudara lainnya banyak yang terinspirasi oleh video yang kami unggah , tepat seperti yang kuperkirakan. Hanya saja, gaya yang digunakan berbeda-beda. Aku pun bersyukur, karena ternyata kebersamaan kami telah pula memantik kreativitas saudara-saudara lainnya, setidaknya untuk meramaikan grup keluarga kami. Hingga acara berakhir suasana tetap diliputi keceriaan.  Syukur alhamdulillah, acara hari ini sungguh indah, melengkapi deretan keajaiban yang tidak habishabisnya di dalam kehidupanku.

Setelah meneguk segelas besar teh yang disajikan oleh menantu Bude Yuli, para saudara kami berangsur-angsur bubar. Aku dan Mama pun bersiap untuk ikut pulang ke rumah Bude Novi, melanjutkan liburan yang masih tersisa. Keceriaan hari itu pun tidak akan hilang, membekas dalam di benakku. Semoga saja di tahun mendatang keceriaan seperti ini akan terus bertahan, mengiringi kebersamaan kami di hari kemenangan.

Subang, 29 Maret 2026

Tentang Penulis

chrysanovastar

Bio penulis belum tersedia.

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

  • The Secret Admirer

    Kisah seorang pemuda yang menjadi pemuja rahasia seorang gadis di sekolahnya. Hingga pada suatu saat ia memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya. Selamat membaca.

    Dimas P. Muharam

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.