Skip to Main Content

Touch of The Light, menyentuh lewat perpaduan suara dan visual

Ilustrasi artikel: Touch of The Light, menyentuh lewat perpaduan suara dan visual tentang Inspirasi
Ilustrasi artikel: Touch of The Light, menyentuh lewat perpaduan suara dan visual tentang Inspirasi
Author
isti
Published date
Estimated reading time
2 min read
Views count
15 kali dibaca
WhatsApp X

Category: Inspirasi

Taiwan baru saja merilis film bertemakan disabilitas September lalu. Film ini diangkat dari sebuha film pendek yang dibuat di tahun 2008 oleh Chang Jung-chi, yang kemudian dibuat menjadi film panjang dengan cerita yang menyentuh oleh Wong Kar-Wai, seorang filmmaker asal Hongkong. Film ini menceritakan mengenai mahasiswa tunanetra pertama di Taiwan  yang berhasil menyelesaikan program sarjana di fakultas music dengan jurusan piano di universitas Taipei, bernama Huang Yu-Hsiang.

Film ini mendapat sambutan baik dari masyarakat Taiwan, bukan saja karena peran Huang Yu-Hsiang diperankan oleh dirinya sendiri, tetapi juga film ini berhasil mengemas dengan baik perjuangan seorang tunanetra pertama yang mendapat gelar sarjana di bidang musik. Berkat film ini pula, Chang Jung-Chi mendapat penghargaan  sebagai sutradara baru terbaik pada Horse Golden Awards, penghargaan tertinggi perfiman mandarin.

Bukan saja menyuguhkan tampilan gambar yang baik, film ini juga memanjakan pendengaran kita dengan tata suara yang baik. Salah satu alasannya adalah tokoh dalam film ini adalah tunanetra, sehingga keindahan suara adalah salah satu yang ditekankan agar penonton juga dapat merasakan pengalaman tokoh utama.

Lawan main Huang Yu-Hsiang adalah aktris Sandrinne Pinna, aktris yang telah dua kali mendapatkan penghargaan pada penghargaan film Taipei sebagai aktris terbaik salah satunya pada film ini. Sadrinne Pinna berperan sebagai Chieh, seorang penjaga kedai kopi yang bermimpi menjadi penari professional.

Film ini mampu mengetuk hati berbagai lapisan masyarakat di Taiwan. Boleh jadi, Taiwan berbangga diri mengenai infrastruktur yang telah dibangun bagi aksesibilitas disabilitas, tetapi diskriminasi tetaplah terjadi. Disabilitas tidak dipandang setara dengan non-disabilitas, begitu juga yang dirasakan Huang Yu-Hsiang, ia sempat ditolak pada kelas music karena dianggap tidak dapat melihat not balok.

Melalui perannya dalam film ini, Huang Yu-Hsiang berjuang membuktikan bakat dan kemampuaanya, sebagai usaha pengentasan diskriminasi terhadap disabilitas. Usaha tersebut tidak sia-sia, Huang Yu-Hsiang dinominasikan sebagai Outstanding Filmmaker Taiwan pada Horse Golden Award. (Isti)

Browse other interesting articles in the topics of film and resensi buku.

Contribute to Kartunet: Have a story, opinion, or interesting experience regarding disability and inclusion? We would love to publish your work! You can submit your writing easily and read the complete guidelines on the Write for Us page.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika