Skip to Main Content

Satu Rumah, Empat Cerita: Kenangan Indah Seorang Cerebral Palsy Tinggal Bareng 3 Tunanetra Masa Kuliah

Berbagi kehidupan di rumah bersama teman tunanetra
Berbagi kehidupan di rumah bersama teman tunanetra
Published date
Estimated reading time
3 min read
Views count
30 kali dibaca
WhatsApp X

Bayangkan tinggal satu atap dengan teman-teman berkondisi fisik berbeda selama masa kuliah. Bukan sekadar berbagi kamar kost, tapi menjalani hidup sehari-hari bersama: berbagi tugas rumah, menghadapi momen konyol, sampai merasakan asam manis hidup berempat.

Kini kami sudah lulus dan menempuh jalan masing-masing. Tapi ada satu fase yang selalu bikin saya tersenyum sendiri kalau diingat: pengalaman saya, seorang penyandang Cerebral Palsy, tinggal serumah dengan tiga teman tunanetra.

Ini kenangan jujur tentang bagaimana kami berempat mematahkan stigma, tertawa bersama, dan menghadapi pandangan miring masyarakat di bawah satu atap.

Dari Dunia Maya ke Rumah Kontrakan Kampus
Awalnya sederhana. Sebelum kuliah, kami berempat sudah saling kenal dan berteman di dunia maya, di lingkungan komunitas tunanetra. Saya senang bergaul dengan teman-teman tunanetra sejak dulu, dan di sana saya menemukan ruang pertemanan yang hangat dan tanpa batas.

Takdir membawa kami ke titik yang sama: kami berempat, dari daerah berbeda, diterima di kampus yang sama. Daripada mencari tempat tinggal sendiri-sendiri, kami sepakat menyewa rumah kontrakan dan tinggal bersama selama kuliah. Dari situ perjalanan dewasa muda kami dimulai.

Pembagian Tugas yang Alami: Saling Jadi 'Mata' dan 'Langkah'
Orang sering bertanya, "Gimana cara kalian membagi tugas rumah?" Jawabannya: seperti anak kost pada umumnya, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Saya punya penglihatan baik, jadi saya mengambil peran untuk urusan luar rumah: navigasi jalan, belanja bahan makanan, sampai ke warung. Teman-teman tunanetra, yang punya ketahanan fisik kuat, memegang peran penting di dalam rumah. Tidak ada yang merasa lebih dominan. Kami saling mengisi kekosongan.

Momen Pahit di Tempat Baru: Sering Dikira Pengemis
Kehidupan kami saat itu tidak selalu mulus. Ada momen yang cukup mengelus dada ketika kami melangkah ke tempat baru yang belum mengenal kami, seperti toko, kios, atau mall.

Penampilan saya yang mengarahkan langkah, dan teman-teman tunanetra yang memegang pundak atau berjalan di samping saya, membuat beberapa orang mengira kami pengemis yang sedang meminta-minta.

Ada masa kami dipandang sebelah mata, bahkan pernah diusir secara halus sebelum sempat menjelaskan bahwa kami hanya ingin berbelanja. Rasa nyesek itu ada, tapi dari situ kami belajar tetap tenang, tersenyum, dan membuktikan lewat komunikasi yang sopan bahwa kami pembeli dan mahasiswa dengan martabat yang sama.

Tragedi Sandal Hanyut dan Beli Beras Bertiga
Momen kocak juga melimpah. Suatu kali kami bertiga, saya dan dua teman tunanetra, keluar rumah untuk membeli beras. Satu teman lagi kebetulan tidak ikut.

Jalan sedang banjir karena hujan deras. Sandal saya terlepas dan hanyut terbawa arus. Saya panik ingin menyelamatkannya, hilang keseimbangan, dan jatuh terjerembap di tengah genangan air.

Dari kami bertiga yang jalan beriringan di tengah banjir itu, cuma saya yang jatuh. Kami menertawakannya sepanjang jalan pulang. Di rumah kami dulu, bercanda dengan kondisi fisik masing-masing adalah hal biasa, karena kami tahu candaan itu lahir dari rasa percaya yang mendalam.

Pelajaran Berharga yang Terbawa Sampai Lulus
Masa kuliah itu sudah berlalu, tapi pelajarannya tetap membekas. Saya belajar bahwa kepedulian dan rasa sayang yang sejati ditunjukkan lewat tindakan nyata, bukan kata-kata manis.

Masyarakat sering menganggap disabilitas sebagai "keterbatasan" yang harus dikasihani. Dari rumah kontrakan kami dulu, saya belajar bahwa setiap orang lahir dengan kelebihan dan kekuatannya sendiri.

Saya bukan yang paling dibutuhkan karena mata saya sehat. Mereka juga bukan yang paling dibutuhkan karena fisik mereka kuat. Kami saling membutuhkan, menyatukan kekuatan masing-masing menjadi satu kesatuan yang utuh.

EASTER EGG FOUND!

Type the code TEKNOLOGI-KARYA-1784

in the Inclusive Game Menu (opens in a new tab) to claim 10 Coins!

Hurry! Only 17 quota left.

Browse other interesting articles in the topics of penyandang disabilitas, teman serumah, stigma, inklusif, disabilitas, and tunanetra.

✨ Contribute to Kartunet: Have a story, opinion, or interesting experience regarding disability and inclusion? We would love to publish your work! Submit your writing via email to redaksi@kartunet.com. You can read the complete guidelines on the Writing Guide page.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika