Banyak orang bilang, cinta pada pandangan pertama itu sering kali berawal dari hal-hal yang teramat sederhana. Mungkin dari sentuhan kulit yang tak disengaja saat bersinggungan di jalan, atau dari tatapan mata yang saling mengunci barang sedetik. Dari sanalah, dua anak manusia bisa saling meyakinkan diri bahwa mereka telah menemukan belahan jiwanya.
Perlahan-lahan mereka saling memahami, mengisi ruang kosong di hati, berkomitmen, hingga akhirnya memutuskan untuk menua bersama sebagai suami istri. Menggemaskan, bukan? Hanya karena sebuah sentuhan dan tatapan, dua orang bisa menjelma layaknya sepasang burung yang ingin terus terbang beriringan.
Namun
Namun, lupakan sejenak romansa picisan semacam itu. Ada sebuah kisah cinta yang jauh lebih dalam dan tak biasa. Ini adalah kehidupan tentang sahabatku, Riyan, dan wanita luar biasa yang menjadi belahan jiwanya, Viona.
Viona bukanlah wanita sembarangan. Ia adalah seorang penyandang disabilitas tangguh yang hanya memiliki satu tangan. Di masa lalunya, sebuah kecelakaan tragis merenggut tangan kirinya, sekaligus merenggut nyawa sang ayah. Tragedi itu rupanya terlalu berat, hingga menyebabkan ibunda Viona jatuh sakit dan mengalami stroke.
Keadaan itu memaksanya putus sekolah di bangku SMP demi merawat sang ibu tercinta. Namun, Viona tak pernah membiarkan nasib buruk mengalahkan semangatnya. Di tengah keterbatasan ekonomi dan fisik, ia menolak untuk berputus asa. Ia putar otak, memaksimalkan ketajaman penglihatannya dan sisa satu tangan kanannya untuk belajar secara autodidak hingga berhasil menjadi seorang ilustrator digital yang andal.
Di Saat Itulah Riyan Hadir
Di saat itulah Riyan hadir dalam hidupnya. Awalnya, Riyan memang jatuh hati karena melihat kecantikan paras Viona. Namun, seiring berjalannya waktu, Riyan menyadari bahwa pesona sejati Viona terletak pada etos kerjanya yang keras dan pikirannya yang cerdas. Riyan pun masuk ke dalam kehidupannya, memberikan rasa aman, perlindungan, dan dukungan relasi yang membuat karir Viona sebagai ilustrator digital semakin bersinar.
Riyan sangat mencintainya dan rela melakukan apa saja demi wanita itu. Impian mereka saat itu sangat sederhana namun manis: menikah, hidup bahagia, dan saling memanggil dengan sebutan Ayah dan Bunda.
Namun, badai besar tiba-tiba menghantam. Karena sebuah kecerobohan medis, Riyan terpaksa kehilangan penglihatannya secara permanen. Ia resmi menyandang status sebagai disabilitas netra. Saat mengetahui hal itu, emosiku meledak tak terkendali. Aku melabrak sang dokter yang menangani Riyan, menumpahkan segala amarah dan kekecewaan atas kelalaiannya yang telah menghancurkan masa depan sahabatku.
Setelahnya
Setelahnya, kakiku terasa lemas. Aku jatuh tersungkur, meraung-raung dan menangis sejadi-jadinya di lorong rumah sakit yang dingin. Dunia Riyan yang mendadak gelap benar-benar meremukkan perasaanku.
Masa-masa itu sangatlah kelam. Riyan hancur secara mental dan memilih menutup pintu dunianya rapat-rapat. Ponselnya yang dulu tak pernah sepi dari tawaran pekerjaan atau sapaan rekan, perlahan membisu. Teman dan relasi bisnis yang dulunya bermanis-manis perlahan menjauh, meninggalkannya di titik terendah.
Dalam pusaran rasa tidak berguna itu, Riyan mengambil langkah paling menyakitkan: ia menghilang. Ia memutus semua akses komunikasi dan dengan sengaja melakukan ghosting meninggalkan Viona, merasa dirinya tak lagi pantas mendampingi wanita sehebat itu.
Di Waktu Yang Nyaris Bersamaan
Di waktu yang nyaris bersamaan, pukulan telak kembali menghantam Viona. Sang ibunda yang selama ini ia rawat, mengembuskan napas terakhirnya. Sebatang kara, kehilangan tumpuan hidup, dan ditinggalkan oleh pria yang ia cintai membuat Viona terpuruk.
Tak tega membiarkannya sendirian dalam kesedihan yang bertumpuk, aku pun membawanya pindah. Sejak saat itu, Viona tinggal bersamaku di rumah, menata perlahan kepingan hatinya yang berserakan.
Waktu berlalu tanpa suara. Di tempat yang berbeda, Riyan ternyata juga tengah berperang dengan egonya sendiri. Ia mulai belajar menerima lembaran barunya, memunguti sisa-sisa semangatnya untuk bangkit menjadi seorang tunanetra yang mandiri.
Beberapa Waktu Kemudian
Beberapa waktu kemudian, ketika pijakannya dirasa mulai stabil, Riyan akhirnya mengumpulkan keberanian yang sempat hilang. Ia kembali menghubungi Viona. Melalui sebuah pesan yang canggung namun sarat penyesalan, Riyan meminta maaf atas pelariannya.
Ia menyadari satu hal: dunianya mungkin gelap, tapi ia benar-benar tidak bisa berjalan tanpa Viona di sisinya.
Viona, dengan kelapangan hati yang selalu membuatku kagum, menyambutnya kembali. Ia membuktikan bahwa cintanya tak butuh syarat kesempurnaan fisik.
Kini
Kini, Riyan perlahan mengambil alih kembali kendali hidupnya. Di tengah gulita, indra perabanya menjelma menjadi mata yang baru. Ujung-ujung jarinya dengan lincah meraba dan menari di atas senar-senar gitar, menciptakan melodi yang menjadi sumber penghidupannya.
Tidak hanya itu, dengan ketekunan dan bantuan aplikasi pembaca layar yang berbicara dengan cepat di telinganya, Riyan merangkai kata demi kata di atas keyboard. Ia membuktikan dirinya mampu bangkit sebagai penulis lepas yang cerdas menggaet klien-klien luar negeri.
Beberapa waktu lalu, saat kami tengah bersantai di rumahku, ada rasa iri yang hangat menjalar di dadaku melihat interaksi mereka. Mereka memang belum resmi menjadi sepasang suami istri, namun segala usaha dan kerja keras mereka saat ini bermuara pada satu tujuan: mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk melangkah ke pelaminan.
Di Dapur
Di dapur, Viona dengan ceria dan penuh cinta memasak makanan kesukaan mereka menggunakan satu tangannya, sementara Riyan yang tak bisa melihat, duduk menemaninya dengan senyuman yang tak pernah luntur.
Dulu, aku selalu bertanya-tanya dan protes kepada diri sendiri, bagaimana mereka bisa melawan badai kehidupan yang begitu berat. Namun, sekarang aku tahu jawabannya. Mereka tidak melawan badai, melainkan mereka berdua menjadi badai itu sendiri.
EASTER EGG DITEMUKAN!
Ketik kode ADAPTIF-KREATIF-1767
Buruan! Sisa kuota hanya untuk 19 orang tercepat.

