Puisi: Oh Beit Hanoun
- Penulis
- nurulrahmah
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 2 menit baca
- Jumlah pembaca
- 2 kali dibaca
Kategori: KARFIKSI
Di tempat ini,
Ribuan nyawa melepaskan diri dari kurungan.
Batu dan dinding, jatuh berserakan.
Angin berhembus meniup sisa-sisa kehidupan.
Darah dan air mata, berguguran ke atas tanah.
Pohon bergoyang, jatuh berdebam
Seperti orang yang terjerembab.
Debu-debu menjadi saksi
Batu-batu berbicara
Dari semua kenyataan
Yang berlalu sepanjang ribuan masa
Yang dilewati jutaan manusia.
Beit Hanoun…
Oh, kota indah nan suci
Di kejauhan kulihat dirimu.
Indahmu mempesona mata yang memandang.
Kilaumu menebar sejuta gemerlap
Di balik dirimu yang kini telah menjadi serpihan
Tersimpan berjuta kenangan.
Beit hanoun…
Oh, kota yang mulia.
Di sinilah mereka berpijak
mengukir setiap cerita
Yang kelak menjadi sejarah dunia.
lukiskan segala asa
Mengembangkan miliaran kehidupan
Tentang cinta dan keindahan.
Beit Hanoun…
Oh, kota tua nan penuh kisah.
Kini kenanganmu terkubur
Bersama ribuan jiwa yang melayang pergi
Bersama hari-hari yang tak lagi berwarna.
Hancur, tiada berdaya.
Hilang, entah ke mana rimbanya.
Layu, tak tahu lagi mekarnya.
Sunyi, tak ada lagi ramainya.
Hanya ada angin yang berduka
meniup sisa-sisa batu yang saling tumpang tindih
Bersama raga yang tak bernyawa.
Beit Hanoun…
Oh, kota kecil yang menjadi dambaan hati.
Dapatkah aku berpijak di atasmU?
Dapatkah aku merasakan dibelenggu di antara tubuhmU?
Dapatkah aku melihat kemilaumu lagi?
Sedang kini kau telah retak,
Menjadi serpihan puing-puing yang tak tampak bentuk aslimu.
Langit biru, bagimu tak lagi berarti.
Matahari pagi kekuningan bagimu hampa.
Kini kau kosong tak berpenghuni.
Siapa yang akan mengembalikanmu padaku?
Adakah yang sanggup membuatmu kembali berdiri?
Butuh jutaan hari untuk itu.
Walau kau telah bangkit,
Semuanya tak lagi saMa.
Akan ada air mata yang menetes,
Akan ada duka di rongga dada,
akan ada sakit di setiap hati.
Namun rengkuhanmu akan tetap sama.
Karena di tempatmu, cinta tetap tumbuh.
Di tempatmu, kasihmu masih abadi.
Beit Hanoun…
Wajahmu mungkin telah berubah,
namun senyumanmu akan tetap sama
Seperti kau yang dulu.
walau harus ada tetesan keringat
Demi membangunmu kembali,
Namun Allah yang maha pengasih tak akan membiarkanmu,
Membiarkanmu tak lagi bernama.
Dengan kemurahan_Nya, kau akan kembali.
Dan aku percaya itu.
Beit Hanoun…
Walau seporakporanda apa pun dirimu,
Hatiku masih terpaut padamu.
Ragaku masih mendambakan rangkulanMu,
Walau kini akan terasa dingin dan hampa.
Namun cinta ini masih sama.
Masih ada rindu atas dirimu.
Tentang Penulis
Bio penulis belum tersedia.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Artikel Terkait
Belajar dari Certificate of Visual Impairment untuk Tata Kelola Layanan Disabilitas di Inggris
Birokrasi layanan disabilitas di Indonesia masih rumit dan sering kali salah sasaran. Pelajari bagaimana sistem Certificate of Visual Impairment (CVI) di Inggris mengintegrasikan data rumah sakit langsung ke layanan sosial, dan mengapa sistem ini penting diadopsi untuk memperbaiki pendataan disabilitas (DTKS) di Indonesia.
Pentingnya Profesi Pendamping Klinik Mata (ECLO): Menjembatani Pasien Tunanetra dari Rumah Sakit ke Layanan Sosial
Setelah didiagnosa kehilangan penglihatan, pasien kerap bingung mencari rehabilitasi. Kenali profesi Eye Clinic Liaison Officer (ECLO) dari sistem CVI Inggris yang bertugas menjembatani medis dan layanan sosial, serta pentingnya adaptasi peran ini di rumah sakit Indonesia.