Lompat ke Konten Utama

Puisi: Oh Beit Hanoun

Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
2 menit baca
Jumlah pembaca
6 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: KARFIKSI

Unduh Artikel PDF

Di tempat ini,

Ribuan nyawa melepaskan diri dari kurungan.

Batu dan dinding, jatuh berserakan.

Angin berhembus meniup sisa-sisa kehidupan.

Darah dan air mata, berguguran ke atas tanah.

Pohon bergoyang, jatuh berdebam

Seperti orang yang terjerembab.

 

Debu-debu menjadi saksi
Batu-batu berbicara

Dari semua kenyataan

Yang berlalu sepanjang ribuan masa

Yang dilewati jutaan manusia.

 

Beit Hanoun…

Oh, kota indah nan suci

Di kejauhan kulihat dirimu.

Indahmu mempesona mata yang memandang.

Kilaumu menebar sejuta gemerlap

Di balik dirimu yang kini telah menjadi serpihan

Tersimpan berjuta kenangan.

 

Beit hanoun…

Oh, kota yang mulia.

Di sinilah mereka berpijak
mengukir setiap cerita

Yang kelak menjadi sejarah dunia.
lukiskan segala asa

Mengembangkan miliaran kehidupan

Tentang cinta dan keindahan.

 

Beit Hanoun…

Oh, kota tua nan penuh kisah.

Kini kenanganmu terkubur

Bersama ribuan jiwa yang melayang pergi

Bersama hari-hari yang tak lagi berwarna.

Hancur, tiada berdaya.

Hilang, entah ke mana rimbanya.

Layu, tak tahu lagi mekarnya.

Sunyi, tak ada lagi ramainya.

Hanya ada angin yang berduka
meniup sisa-sisa batu yang saling tumpang tindih

Bersama raga yang tak bernyawa.

 

Beit Hanoun…

Oh, kota kecil yang menjadi dambaan hati.

Dapatkah aku berpijak di atasmU?

Dapatkah aku merasakan dibelenggu di antara tubuhmU?

Dapatkah aku melihat kemilaumu lagi?

Sedang kini kau telah retak,

Menjadi serpihan puing-puing yang tak tampak bentuk aslimu.

Langit biru, bagimu tak lagi berarti.

Matahari pagi kekuningan bagimu hampa.

 

Kini kau kosong tak berpenghuni.

Siapa yang akan mengembalikanmu padaku?

Adakah yang sanggup membuatmu kembali berdiri?

Butuh jutaan hari untuk itu.

Walau kau telah bangkit,

Semuanya tak lagi saMa.

Akan ada air mata yang menetes,

Akan ada duka di rongga dada,
akan ada sakit di setiap hati.

Namun rengkuhanmu akan tetap sama.

Karena di tempatmu, cinta tetap tumbuh.

Di tempatmu, kasihmu masih abadi.

 

Beit Hanoun…

Wajahmu mungkin telah berubah,
namun senyumanmu akan tetap sama

Seperti kau yang dulu.
walau harus ada tetesan keringat

Demi membangunmu kembali,

Namun Allah yang maha pengasih tak akan membiarkanmu,

Membiarkanmu tak lagi bernama.

Dengan kemurahan_Nya, kau akan kembali.

Dan aku percaya itu.

 

Beit Hanoun…

Walau seporakporanda apa pun dirimu,

Hatiku masih terpaut padamu.

Ragaku masih mendambakan rangkulanMu,

Walau kini akan terasa dingin dan hampa.

Namun cinta ini masih sama.

Masih ada rindu atas dirimu.

Tentang Penulis

nurulrahmah

Bio penulis belum tersedia.

Reaksi Artikel

Bagikan respon Anda setelah membaca artikel ini.

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Suka artikelnya?

Bantu sebarkan agar makin banyak orang mendapatkan manfaatnya.

WhatsApp X
  • Lembaran Kegelisahan Hari Ini, Kumpulan Puisi

    Empat puisi dalam Lembaran Kegelisahan Hari Ini membedah dinamika batin manusia dari sudut yang berbeda. Menambang Teori menyoroti pencarian pengetahuan, Telinga yang Gelisah mempertanyakan cara memahami realitas, Paradox Berdikari mengulas ketangguhan dan kemandirian, sedangkan Menyimpan Senyumanmu merekam jejak kenangan yang memberi kekuatan dalam menjalani kehidupan.

    Akbar Ariantono Putra
  • Merah Matahari #3

    Tidak semua keraguan lahir dari kebohongan atau pertengkaran. Kadang, ia datang diam-diam lewat jeda yang terlalu panjang, suara yang terdengar berbeda, atau perasaan ganjil yang tak bisa dijelaskan. Dan malam itu, Senja mulai merasakannya.

    fMahardini

Artikel terpopuler berdasarkan jumlah pembaca dan reaksi positif komunitas.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.