Lompat ke Konten Utama

PENUNGGU POHON BERINGIN

Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
3 menit baca
Jumlah pembaca
2 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: KARFIKSI

Pada hari Kamis sore. Nisa pergi ke masjid. Melewati pohon beringin.
Setibanya di masjid. Nisa diintrogasi sama salah satu temannya. Namanya, Santi.
"Nis."
"Iya, San."
"Kamu tadi berangkat lewat mana?"
"Aku tadi berangkat lewat pinggir kebun. Yang ada pohon beringinnya."
"Kamu memangnya tidak takut? Lewat pinggir kebun itu?"
"Emangnya apa yang harus ditakuti orang di sana tidak ada penjahat kok. Soalnya waktu maghgrib sudah dekat. Kalau lewat jalur lain. Yang depan warung lumayan jauh. Yang ada terlambat mahgriban, aku. Soalnya, tadi main sampai lupa waktu. Kalau lewat pinggir kebun lebih cepat. Aku tidak terlambat magriban, dan masih bisa berbincang denganmu."
"Hati-hati aja, kamu. Soalnya ada penunggunya di pohon beringin itu."
"Yang benar aja, kamu. Kamu emang pernah lihat?"
"Aku sih belum pernah lihat. Cuma pas waktu itu. Aku diceritain sama sepupuku."
"Kan itu baru diceritain. Gimana kalau nanti sehabis ngaji! Kita buktikan!"
"Ayo. Siapa takut."
Nisa dan Santi. Tidak langsung pulang.
"Pulangnya nanti, ya, San? Biar sekalian isyaan."
Santi hanya manggut-manggut.
Mereka pulang dari masjid sehabis isya. Melewati kebun yang ada pohon beringinnya.
"Sriwing-sriwing."
Bau aroma melati.
Padahal jaraknya dengan pohon beringin. Masih sekitar 2 meter.
"San. Kok bau melati, ya? Kamu merasakan baunya atau tidak?"
"Iya, Nis. Aku juga merasakan."
Nisa dan Santi. Mempercepat langkahnya. Karena, rasanya sangat merinding.
Ketika di pinggir pohon beringinnya. Ada suara orang menangis.
"Hik-hik! Hik-hik! Hik-hik!"
Mereka mencari suara tersebut. Siapa tahu ada yang sedang menangis di pinggir kebun.
Setelah lingak-linguk ke kanan dan ke kiri. Hasilnya nihil. Akhirnya mereka pulang.
Berhubung rasa penasarannya belum terjawab. Pada minggu berikutnya. Yaitu sekitar jam 09.00. pada malam Jumat.
Dirinya mengajak, Santi. Untuk berjalan-jalan melewati pohon beringin.
Mentang-mentang kediaman Santi. Bersebelahan dengan tempat tinggalnya.
"Ngapain kita jalan-jalan ke sini, Nis?"
"Ya tidak apa-apa sih. Siapa tahu bisa lihat penunggu yang sesungguhnya."
Saat tepat di samping pohon beringin. Ada yang bertanya dengan suara sayup-sayup. Dari atas pohon.
"Ini sudah malam. Mengapa kalian masih berkeliaran?"
Mendengar hal itu. Nisa bertanya.
"Kamu siapa?"
"Namaku Kun. Lengkapnya kuntilanak."
Jawabnya. Sambil tertawa.
Dalam keadaan gemetar yang luar biasa.
Santi menyambung.
"Kita tadi habis cari angin. Sekalian refreshing agar tidak jenuh."
Nisa berkata. Dengan tenang.
"Iya benar itu. Apa yang dikatakan oleh, temanku. Sekarang kita mau pulang dulu. Soalnya rasa jenuhnya sudah hilang."
Kilah, Nisa.
Sesampainya di teras rumah.
Nisa berucap.
"Ternyata, benar apa katamu. Kalau ada penunggunya di pohon beringin. Sudah gitu matanya melotot lagi. Mukanya terlihat hancur."
"Dia korban kecelakaan, Nis."
"Kamu tahu dari mana, San?"
"Menurut kata orang-orang. Yang tersebar dari mulut ke mulut. Dia mau menyeberangi jalan Raya. Dia tidak sadar ada truk yang mau lewat. Gara-gara jalan sambil melamun. Alhasil dirinya tertabrak. Wajahnya hancur. Karena, yang terlindas bagian kepala. Tadinya tinggal di pohon rambutan. Akibat pohon rambutannya ditebang. Dia pindah ke pohon beringin."
"Oh gitu, San."
"Iya, Nis. Makanya kalau jalan jangan sambil melamun."
Tutur Santi.
Setelah mengobrol sekitar setengah jam. Mereka pulang ke rumah masing-masing.
Selesai

Tentang Penulis

linatunnisa

Bio penulis belum tersedia.

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.