Lompat ke Konten Utama

Fan Fiction: Harry Potter, Kematian Fred Weasley

Penulis
riqo
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
2 menit baca
Jumlah pembaca
1 kali dibaca
WhatsApp X

Hi Kartunetters, kali ini saya mau posting sebuah karya fan fiction Harry Potter yang sudah lama terpendam di komputer. Pendek sih, tapi lumayan dari pada membusuk di sini. Semoga bisa terhibur!

***

Harry tertunduk lemas, lututnya yang kurus tak kuasa menopang tubuhnya yang kecil untuk tetap berdiri. Kepalan tangannya terurai, menjatuhkan tongkat Feenix yang penuh debu dan darah pertempuran. Mata hijau cerah-nya mulai berkaca-kaca, memantulkan bayangan sesosok tubuh yang terbujur di hadapannya.

"Fred!"

Teriakan itu bukan miliknya, namun tubuhnya yang mati rasa mulai bisa menyadari orang-orang lain yang berdatangan di sekelilingnya. Sosok-sosok berambut merah itu mulai mengitari tubuh gempal di hadapan Harry, tubuh yang telah kaku, tetapi tetap menyunggingkan senyum jenaka di akhir hidupnya.

"Fred!"

Kembali suara itu terdengar, kali ini disertai isakan. Harry mendongak ke sumber suara, berfikir dia telah berhalusinasi, mengira Fred Weasely telah kembali. Tetapi ketika yang dikira belakangan menoleh ke arah adik laki-lakinya yang paling muda, Ron, dari ketiadaan daun telinga kirinya, Harry baru menyadari, bahwa sosok itu adalah George Weasley, kembar identik Fred.

Harry menoleh saat didengarnya suara dengusan bagai terompet di belakangnya. Terlihat Hagret sedang berdiri dengan saputangan sebesar telapak meja yang menutupi wajah brewoknya.

Lalu Harry memungut tongkatnya seraya berdiri, ia memandang sekeliling kehancuran, dan ia baru menyadari, bukan kesedihan yang membuat ia kini kaku berdiri, tetapi api kemarahan yang berkobar, yang kembali mengeratkan pegangan tongkatnya sekaligus tekatnya yang semula mengendur, , karena bukan hanya Fred yang terbunuh dalam peperangan ini, tapi juga: Lupin, Tongs, Collen, dan masih banyak orang-orang lain yang dikenalnya. Harry menyelipkan tangan kiri ke balik juba, kemudian mengeluarkan jubah yang lain, yang lembut mengalir bagai air, lalu mengerudungkan di atas kepalanya sebelum berdisaperate.

Tentang Penulis

riqo

Bio penulis belum tersedia.

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.