Lompat ke Konten Utama

Mencari Ketenaran di Tengah Keterbatasan

Teman-teman tunanetra menciptakan konten yang inspiratif
Teman-teman tunanetra menciptakan konten yang inspiratif
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
4 menit baca
Jumlah pembaca
19 kali dibaca
WhatsApp X

Anak muda zaman sekarang sangatlah mudah jika ingin mencari ketenaran secara cepat. Mereka hanya perlu memiliki beberapa modal berikut. Khusus wanita, fenomena yang sering terlihat adalah mereka hanya perlu memiliki wajah cantik, berani mengekspos bentuk tubuh, serta tidak malu jika diserbu komentar mesum oleh banyak netizen. Untuk kaum pria sendiri, mungkin ini sedikit berbeda. Mereka hanya perlu memamerkan deretan mobil mewah seperti Lamborghini maupun Ferrari yang terparkir di garasi, menunjukkan aset ratusan miliar, atau gemar mengadakan konten bagi-bagi uang kaget. Jika pembuat konten memiliki modal seperti yang aku sebutkan, dijamin pengikut mereka akan naik secara cepat tanpa perlu repot membeli pengikut robot yang seringkali dijual di website-website penyedia.
Harus diakui, algoritma sosial media memanglah sangat menyukai konten kreator yang menyajikan konten hedonisme dan bersenang-senang. Ambil saja contoh platform seperti TikTok maupun Instagram. Banyak konten kreator yang alih-alih menunjukkan bakat atau karyanya, justru lebih memilih memamerkan tubuh dan kekayaan mereka. Anehnya, para netizen sangat menyukai hal tersebut dan menganggapnya sebagai sarana hiburan serta penghilang stres dari tekanan pekerjaan.
Namun, bagaimana halnya dengan para penyandang disabilitas? Contohnya seorang tunanetra yang bahkan tidak memiliki penglihatan untuk mengarahkan pandangannya ke kamera, atau teman-teman tunadaksa yang sering disebut CP (Cerebral Palsy), yang kesulitan menggerakkan kakinya untuk berjoget ria di depan kamera. Mereka jelas tidak memiliki kesempatan yang sama seperti orang-orang yang bisa melihat atau berjalan pada umumnya.
Lagi pula, menurutku kaum disabilitas juga tidak tertarik akan hal-hal viral yang sekadar sensasi. Tunanetra, misalnya, tidak bisa melihat wanita-wanita yang berjoget viral di TikTok maupun Instagram. Mereka lebih memilih menikmati konten kreator yang memiliki suara indah dan merdu untuk didengar.
Berbicara soal konten kreator, kaum disabilitas juga banyak yang terjun menjadi konten kreator seperti orang-orang pada umumnya. Namun, tentu saja pendekatan isi konten mereka agak berbeda. Mereka lebih fokus pada konten kehidupan sehari-hari (daily life), tips dan trik menggunakan alat-alat bantu, dan lain sebagainya. Bahkan, banyak sekali konten kreator disabilitas netra wanita yang membuat konten menyanyi untuk menunjukkan bakat alami serta suara merdu yang mereka miliki.
Banyak kaum disabilitas yang membuat konten yang cukup sederhana bagi mereka, namun sangat berharga untuk orang lain yang membutuhkan. Ambil contoh panduan bagaimana cara menggunakan aplikasi pembaca layar untuk pemula yang baru kehilangan penglihatan, ataupun cara mengatasi keterbatasan dalam berkomunikasi khusus bagi teman-teman tunawicara.
Sayangnya, niat baik ini tidak selalu berbuah manis. Ada pola miris di mana streamer disabilitas yang melakukan siaran langsung untuk membagikan konten malah mendapati komentar-komentar buruk dari para netizen. Mereka seringkali disebut cacat, pengemis, dan dianggap sekadar meminta dikasihani. Padahal, sama seperti orang pada umumnya, mereka hanya ingin membagikan konten dan menunjukkan bakat mereka.
Para kreator disabilitas ini tidak sama dengan orang-orang yang sekadar bermain game seperti Mobile Legend atau game tembak-tembakan, ataupun mereka yang membuat konten kasar dan hanya mementingkan kesenangan daripada kemutuan. Justru, para konten kreator disabilitas memiliki niat dan tujuan yang jelas: menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki bakat serta karya yang bisa ditunjukkan. Lalu, mereka juga membawa misi untuk menghapus stigma masyarakat bahwa kaum disabilitas bukanlah orang lemah yang selalu perlu dikasihani. Kenyataannya, boro-boro dikasihani, yang ada mereka hanya dijadikan bahan gunjingan dan makian oleh orang-orang zaman sekarang.
Meski demikian, kita bisa mencontohkan Putri Ariani, sosok yang sukses membawa harum nama Indonesia dan membanggakan para kaum disabilitas netra. Dia berhasil membuat dunia melihatnya serta berkolaborasi dengan penyanyi terkenal seperti Alan Walker. Aku masih ingat di salah satu video yang dia unggah, dia memberikan kata-kata yang sangat memotivasi: jika dia tidak bisa melihat dunia, maka dia yang akan membuat dunia melihatnya.
Sayang seribu sayang, ada satu penyesalan di hatiku. Aku belum pernah melihat bagaimana wajahnya secara langsung sewaktu aku masih bisa melihat. Dulu saat mataku masih berfungsi, aku belum mengetahui sosoknya, dan aku baru mengetahui bahwa ada sosok sehebat dia justru di saat aku pun telah menjadi seorang tunanetra.
Maka dari itu, aku sangat ingin menjadi konten kreator dan membuktikan pada dunia bahwa kehilangan penglihatan tidak membatasiku dalam berkarya atau menunjukkan eksistensiku. Jika dunia tidak mau melihatku, maka aku ingin para penyandang disabilitas melihatku. Jika mereka juga tidak menaruh perhatian, maka aku akan menunjukkannya pada keluargaku dan orang-orang yang aku kasihi. Dan jika mereka semua tetap tidak ingin melihat karya serta bakatku, maka setidaknya aku membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku masih mampu menciptakan apa yang aku inginkan. Setidaknya, ini berharga dan berguna untuk diriku sendiri.

EASTER EGG DITEMUKAN!

Ketik kode BRAILLE-INSPIRASI-1810

pada Menu Game Si Paling Inklusif (membuka tab baru) di WA Avika untuk mengklaim 10 Koin!

Buruan! Sisa kuota hanya untuk 19 orang tercepat.

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik penyandang disabilitas, disabilitas, inspirasi, konten kreator, dan inclusif.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Anda dapat mengirimkan tulisan dengan mudah serta membaca panduan selengkapnya di halaman Kirim Naskah.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika