Lompat ke Konten Utama

Judul: “Pajak Waktu”: Biaya Tersembunyi di Balik Aplikasi yang Makin Rumit Oleh : Ica Fitriani

Gadis menggunakan aplikasi di laptop dengan fokus
Gadis menggunakan aplikasi di laptop dengan fokus
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
4 menit baca
Jumlah pembaca
0 kali dibaca
WhatsApp X

Pernahkah Anda merasa kesal saat membuka sebuah aplikasi, lalu disambut oleh tiga jendela *pop-up* promo, satu video iklan yang otomatis terputar, dan deretan tombol yang tidak jelas fungsinya? Kita biasanya mendengus, menutupnya dengan sekali ketuk, dan melupakannya dalam hitungan detik. Bagi kita, itu hanyalah gangguan kecil—sebuah keributan visual yang bisa kita abaikan begitu saja.

Tapi, apa yang terjadi jika Anda tidak bisa melihat "tombol silang" untuk menutup iklan itu? Apa yang terjadi jika *screen reader* (pembaca layar) di ponsel Anda terpaksa membacakan setiap baris kode iklan, setiap *tracker* analitik, dan setiap elemen sampah yang sebenarnya tidak perlu ada di sana?

Kita sering membicarakan inklusivitas digital hanya sebatas "apakah teman tunanetra bisa menggunakan aplikasi ini?" Padahal, ada masalah yang lebih mendasar dan belum pernah kita hitung: adanya "Pajak Waktu".

**Apa Itu Pajak Waktu?**

Pajak waktu adalah selisih durasi yang harus dihabiskan oleh seorang tunanetra untuk melakukan hal yang sama dengan pengguna awas, akibat adanya "sampah digital" dalam aplikasi.

Jika seorang pengguna biasa membutuhkan waktu 1 menit untuk memesan kopi lewat aplikasi, seorang tunanetra mungkin butuh 10 menit. Kenapa? Bukan karena mereka lambat, tapi karena aplikasi kita sangat *berisik*.

Bagi mereka, *screen reader* tidak bisa "melompat" langsung ke tombol "Beli". Perangkat itu harus membacakan urutan elemen dari atas ke bawah. Ketika pengembang aplikasi memasukkan fitur-fitur yang tidak perlu—seperti animasi dekoratif yang tidak berlabel, *banner* promo yang tumpang tindih, atau struktur menu yang kacau—perangkat pembaca layar akan membacakan semuanya. Teman tunanetra harus "mendengarkan" sampah-sampah digital itu sampai mereka menemukan apa yang mereka cari.

Itulah pajaknya. Mereka dipaksa membayar dengan waktu dan energi kognitif yang jauh lebih besar hanya untuk menyelesaikan tugas sederhana. Sering kali, sebelum sampai ke tombol "Bayar", mereka sudah kelelahan karena harus memilah-milah informasi sampah yang tidak berguna bagi siapa pun.

**Kesalahan Kita: Menganggap "Keren" Berarti "Kompleks"**

Masalah utama di dunia teknologi kita adalah obsesi pada kerumitan. Banyak *developer* dan desainer merasa bahwa aplikasi yang "canggih" adalah aplikasi yang penuh fitur. Mereka ingin aplikasi terlihat sibuk, penuh warna, dan responsif.

Sayangnya, dalam proses membuat aplikasi terlihat "keren", kita justru menciptakan polusi digital. Kita memasang *tracker* iklan di mana-mana, kita membuat alur navigasi yang dipenuhi dengan jebakan visual, dan kita membiarkan desain antarmuka menjadi berantakan demi mengejar metrik *engagement*.

Kita lupa satu hukum desain yang paling jujur: **Aplikasi yang bersih adalah aplikasi yang cepat.**

Ketika kita menuntut aplikasi yang ramah bagi tunanetra, kita sebenarnya menuntut aplikasi yang efisien bagi *semua orang*. Siapa sih, yang benar-benar menikmati aplikasi yang lemot karena terlalu banyak memuat elemen sampah? Siapa yang suka dengan antarmuka yang membingungkan? Dengan menyederhanakan desain demi teman tunanetra, kita sebenarnya sedang melakukan detoksifikasi digital untuk diri kita sendiri.

**Inklusivitas Bukan Amal, Tapi Optimalisasi**

Selama ini, kita terjebak dalam narasi bahwa membuat aplikasi yang inklusif adalah "kebaikan hati" atau "proyek sosial". Kita menganggap aksesibilitas sebagai fitur tambahan yang bisa dikerjakan belakangan setelah aplikasi rilis.

Padahal, pola pikir inilah yang menjadi akar masalah. Aksesibilitas adalah soal optimalisasi sistem. Kalau Anda membangun aplikasi dengan struktur navigasi yang logis (karena Anda memikirkan pengguna tunanetra), Anda secara otomatis membuat aplikasi yang lebih stabil dan lebih mudah dikembangkan untuk jangka panjang. Anda mengurangi "Pajak Waktu" bagi mereka, sekaligus mengurangi penggunaan memori ponsel dan data bagi seluruh pengguna lainnya.

Jadi, ketika kita bicara soal "kemajuan teknologi", mungkin kita perlu menanyakan kembali: apakah kita benar-benar maju, atau kita hanya membuat dunia digital menjadi semakin berisik dan semakin melelahkan?

**Saatnya Kita "Diet" Digital**

Sudah saatnya perusahaan teknologi berhenti memandang jumlah fitur sebagai tolok ukur keberhasilan. Kita butuh keberanian untuk mengatakan "tidak" pada elemen-elemen yang tidak perlu. Kita butuh desain yang berani tampil minimalis, bukan karena mengikuti tren, tapi karena menghargai waktu pengguna.

Bayangkan dunia di mana setiap aplikasi yang kita buka terasa tenang, lurus ke tujuan, dan tidak mencoba mencuri perhatian kita dengan hal-hal yang tidak penting. Itu bukan cuma mimpi bagi teman tunanetra, itu adalah standar kenyamanan yang layak didapatkan oleh siapa saja.

Mari kita berhenti menagih "Pajak Waktu" yang tidak masuk akal ini kepada mereka yang paling rentan. Karena pada akhirnya, teknologi yang paling cerdas bukan yang paling banyak fiturnya, tapi yang paling bisa membuat hidup penggunanya menjadi lebih sederhana. Jika aplikasi kita masih membutuhkan waktu 10 menit untuk hal yang seharusnya selesai dalam 1 menit, mungkin bukan pengguna yang perlu belajar, tapi kitalah yang perlu mendesain ulang.

EASTER EGG DITEMUKAN!

Ketik kode KREATIF-AKSES-1787

pada Menu Game Si Paling Inklusif (membuka tab baru) di WA Avika untuk mengklaim 10 Koin!

Buruan! Sisa kuota hanya untuk 20 orang tercepat.

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik pajak waktu, aksesibilitas, disabilitas, teknologi inklusif, dan inklusivitas digital.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika